Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Melawan Iblis Bukit Manoreh ( bagian 3 )


__ADS_3

Sebuah pemikiran tiba-tiba muncul di benak Panji Tejo Laksono kala bingung menghadapi Iblis Bukit Manoreh.


'Mungkin sebaiknya ku gunakan Pedang Naga Api ku untuk mengalahkan iblis tua ini', batin Panji Tejo Laksono sembari memejamkan matanya sebentar saja. Tangan kanannya terayun ke arah samping kanan tubuhnya. Terjadi sebuah retakan pada udara yang membuat celah pada dimensi yang berbeda.


Hal ini membuat Iblis Bukit Manoreh terperanjat melihat nya. Lelaki tua bertubuh gempal itu sampai mundur selangkah ke belakang, refleks dari ketakutan yang tak bisa terucapkan.


'Bocah busuk ini mau melakukan apa lagi?', batin Iblis Bukit Manoreh sembari terus memperhatikan gerak-gerik lawannya.


Dari dalam retakan udara, tangan Panji Tejo Laksono mengambil sesuatu. Begitu benda itu terlihat jelas oleh mata Iblis Bukit Manoreh, lelaki tua berjanggut putih itu terlonjak saking kagetnya.


"Pe-pedang Naga Api???!!!


Jadi kau penerus pemilik pedang pusaka itu?", ucap Iblis Bukit Manoreh sedikit gugup karena kagetnya.


"Kalau iya kenapa?


Saatnya aku mengakhiri hidup mu, iblis tua!", ucap Panji Tejo Laksono tegas. Perlahan, tangan kanan Panji Tejo Laksono mencabut Pedang Naga Api dari sarungnya.


Cahaya merah menyala menyilaukan mata berhawa panas yang menyengat langsung berpendar cepat ke seluruh tempat itu hingga udara di sekitar kediaman Iblis Bukit Manoreh ikut menjadi panas. Beberapa orang yang tidak tahan dengan panasnya udara di sekitar tempat itu langsung menjauh dari tempat itu.


Endang Patibrata langsung menyeret tubuh Cendana dan Cendani yang kini telah menjadi orang biasa. Tak kurang 10 tombak dia menjauh karena tak ingin nyawa mereka melayang karena panas yang keluar dari Pedang Naga Api. Demung Gumbreg pun sama. Meskipun tubuhnya tambun, dia mampu bergerak cepat menjauh dari arena pertarungan antara Panji Tejo Laksono dan Iblis Bukit Manoreh.


"Pedang Naga Api masih juga selalu membuat orang ketakutan ya Lu..", ucap Demung Gumbreg sembari mengusap peluh yang membasahi dahinya pada Tumenggung Ludaka yang menyeret tubuh Senopati Sembada yang sedang terluka dalam.


"Iya Mbreg...


Kalau pedang pusaka itu sudah keluar dari sarungnya, bisa di pastikan bahwa Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono sedang serius bertarung. Kita tidak boleh terlalu dekat dengan mereka..", balas Tumenggung Ludaka sambil meletakkan tubuh Senopati Sembada yang masih lemah tak bertenaga.


Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah Iblis Bukit Manoreh dan langsung menebaskan pedangnya kearah kakek tua bertubuh kekar itu.


Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh!!


Dua tebasan cepat bersilangan yang memunculkan cahaya merah menyilaukan mata menerabas cepat kearah Iblis Bukit Manoreh.


"Bangsaaaaaaaaattttt kau bocah busuk!!!", umpat Iblis Bukit Manoreh sesaat sebelum dua cahaya merah menyilaukan mata itu menghajar tubuhnya.


Blllaaammmmmmmm!!


Tubuh lelaki tua berjanggut putih itu langsung meledak dan terbakar lalu potongan tubuhnya berpencar ke segala arah. Panji Tejo Laksono menarik nafas lega melihat itu semua namun tidak juga mengendurkan kewaspadaan nya.


Perlahan satu demi satu, potongan tubuh Iblis Bukit Manoreh mengumpul kembali menjadi satu. Tubuh yang hancur ini seperti memiliki kemampuan untuk bersatu kembali. Hanya dalam hitungan beberapa kejap mata saja, sosok Iblis Bukit Manoreh telah kembali utuh seperti sedia kala.


"Hahahaha..


Aku adalah manusia abadi, keparat!! Kau tidak akan pernah bisa membunuh ku dengan senjata pusaka apapun yang kau miliki. Walaupun yang terakhir tadi terasa sangat menyakitkan!", ucap Iblis Bukit Manoreh sembari menyeringai lebar.


"Saat aku menyerang balik, Panji Tejo Laksono!!"


Iblis Bukit Manoreh langsung menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan cakar tangan nya ke arah sang pangeran muda.


Keanehan pun segera terjadi. Waktu tiba-tiba saja terasa berhenti. Panji Tejo Laksono yang lama tidak merasakan hal ini sedikit kaget namun saat melihat asap tebal berwarna merah muncul di sekelilingnya, dia langsung mengerti.

__ADS_1


Dari kepulan asap merah itu muncul sesosok tubuh naga berkulit merah dengan mulut yang sesekali menyemburkan api.


"Keturunan Lokapala...


Lama sekali kau tidak menggunakan aku. Apa sudah setinggi langit ilmu kanuragan yang kau miliki hingga aku kau lupakan?", ucap Roh Naga Api sembari menggerakkan badannya.


"Hormat ku, Roh Naga Api..


Bukan karena ilmu ku yang tinggi, akan tetapi yang menjadi lawan ku semuanya belum pantas untuk menjadi musuh mu..", balas Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada Roh Naga Api.


"Hemmmmmmm...


Jadi kau mengeluarkan ku karena kau tidak memiliki cara untuk melawan orang tua itu?", Roh Naga Api menunjuk ke arah Iblis Bukit Manoreh yang diam membeku di tempatnya.


"Benar, Roh Naga Api..


Iblis tua itu memiliki ilmu Ajian Rawa Rontek yang membuat nya tak bisa mati oleh ilmu kanuragan yang aku miliki. Pun tebasan menggunakan bilah wujud kasar mu juga tidak bisa membunuhnya.


Apa yang harus aku lakukan, Roh Naga Api?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Ajian Rawa Rontek adalah ilmu sesat yang di peroleh Begawan Pasangguhan dari Gunung Mandrageni setelah memuja Hyang Antaboga sang Dewa Bumi. Selama tubuhnya masih menyentuh tanah, maka pemilik Ajian Rawa Rontek tidak akan pernah bisa mati.


Satu-satunya cara yang bisa kau lakukan saat menghadapi pemilik Ajian Rawa Rontek adalah dengan tidak membiarkan tubuhnya menyentuh tanah lalu kau hancurkan, Keturunan Lokapala. Perkara bagaimana caranya, kau pikirkan saja sendiri tapi aku mengingatkan mu bahwa di sebelah timur sana ada sebuah tanah rawa..", ujar Roh Naga Api tegas.


"T-tapi bagaimana ca....", Panji Tejo Laksono tak menyelesaikan omongannya karena perlahan waktu yang berhenti kembali berjalan seperti semula setelah Roh Naga Api mulai menghilang.


Melihat Iblis Bukit Manoreh bergerak cepat menuju ke arah nya, Panji Tejo Laksono yang masih belum mengerti apa maksud omongan Roh Naga Api langsung melesat cepat kearah timur sembari menghindari serangan Ajian Sepuluh Cakar Kematian yang dilepaskan oleh Iblis Bukit Manoreh.


Pergerakan Panji Tejo Laksono yang terlihat seperti kabur dari medan pertarungan membuat Iblis Bukit Manoreh menggeram keras.


"Pengecut kau bocah kemarin sore!!


Sampai ke ujung neraka sekalipun, aku tidak akan melepaskan mu!!!", teriak Iblis Bukit Manoreh sembari bergerak cepat memburu Panji Tejo Laksono.


Di sisi timur Wanua Pajaran terdapat sebuah rawa luas yang di tumbuhi kangkung dan tanaman air lainnya. Banyak ikan air tawar yang hidup di tempat itu terutama ikan gabus dan lele yang menjadi ikan penghuni rawa yang dikenal luas sebagai Rawa Bening ini. Penduduk sekitar memanfaatkan tempat itu untuk mencari ikan sebagai lauk dan beberapa menjadikannya sebagai tempat mencari nafkah. Di sanalah Panji Tejo Laksono menghentikan pergerakannya.


"Rawa yang luas...


Cara apa yang harus ku pakai untuk menghadapi Iblis tua itu? Hemmmmmmm..


Eh seperti nya aku punya sebuah ide cemerlang untuk menghadapi masalah ini", Panji Tejo Laksono tersenyum tipis kala sebuah pemikiran tiba-tiba muncul di benaknya.


Dan pada saat itu, Iblis Bukit Manoreh datang dari arah barat dengan penuh nafsu membunuh yang pekat. Dia menyeringai lebar melihat Panji Tejo Laksono berdiri di tepi Rawa Bening.


"Bocah keparat!!


Rupanya kau sudah memutuskan untuk mati di tempat ini. Akan ku kabulkan keinginan mu bocah!!", sembari berteriak lantang, Iblis Bukit Manoreh mengayunkan cakar tangan kiri kanan ke arah Panji Tejo Laksono.


Shhrrraaakkkkkhh shhrrraaakkkkkhh!!


Sepuluh larik cahaya merah kehitaman menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara menghindari serangan Iblis Bukit Manoreh.

__ADS_1


Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!.


Tepian Rawa Bening langsung porak poranda terkena hantaman Ajian Sepuluh Cakar Kematian dari lelaki tua itu. Sembari mendengus keras, Iblis Bukit Manoreh melesat cepat kearah belakang Panji Tejo Laksono dan langsung mencekik leher sang pangeran muda dari samping. Panji Tejo Laksono langsung menebas lengan kanan Iblis Bukit Manoreh dengan Pedang Naga Api.


Chhhrrraaaaaaasssssshhh !!!


Auuuggghhhhh ...!!!


Dengan cepat Panji Tejo Laksono langsung menghantam perut Iblis Bukit Manoreh hingga lelaki tua berjanggut putih itu terpental ke atas Rawa Bening. Setelah itu, Panji Tejo Laksono langsung mengayunkan Pedang Naga Api ke arah tubuh Iblis Bukit Manoreh bertubi-tubi.


Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh!!!


Empat larik cahaya merah menyala menyilaukan mata menerabas cepat kearah Iblis Bukit Manoreh.


"Bangsat kauuuuu bocaaahhhhh..!!!"


Blllaaammmmmmmm blllaaammmm blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!!!


Ledakan keras beruntun terdengar di udara. Tubuh Iblis Bukit Manoreh meledak dan hancur berantakan. Namun itu masih belum selesai. Panji Tejo Laksono langsung melemparkan sebuah bola cahaya merah yang berisi 8 bola cahaya merah yang lebih kecil.


"Ilmu Sembilan Matahari...


Musnahlah kau iblis tua...!!!!!!"


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr !!!!


Ledakan mahadahsyat terdengar saat bola cahaya merah menyala berhawa panas seperti cahaya matahari di siang bolong itu meledak. Kuatnya ledakan dahsyat itu menyapu bersih seluruh tubuh Iblis Bukit Manoreh yang masih di atas Rawa Bening hingga hancur menjadi abu. Saat abu tubuh Iblis Bukit Manoreh jatuh ke atas Rawa Bening, langsung larut ke dalam air rawa.


Dengan itu, berakhirlah riwayat hidup Iblis Bukit Manoreh, sosok dedengkot pendekar dunia persilatan golongan hitam yang keberadaannya selalu menjadi momok menakutkan bagi semua orang. Dia tewas di tangan Panji Tejo Laksono.


Panji Tejo Laksono langsung menarik nafas lega karena telah memusnahkan Iblis Bukit Manoreh, menyisakan satu tangan kanannya yang masih mencekik leher sang pangeran muda. Tanpa mempedulikan itu semua, Panji Tejo Laksono langsung bergerak cepat menuju ke arah kediaman Iblis Bukit Manoreh dimana para pengikutnya masih berada di sana.


Di dekat rumah Iblis Bukit Manoreh yang rusak berat, Panji Tejo Laksono menghentikan pergerakannya. Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg dan Endang Patibrata pun segera mendekati sang pangeran. Juga Senopati Sembada dan para prajurit Kadipaten Lewa yang masih hidup.


"Gus-Gusti Pangeran i-itu hiiiiii...", ucap Demung Gumbreg bergidik ngeri menunjuk ke arah lengan kanan Iblis Bukit Manoreh yang masih menempel di lehernya.


Panji Tejo Laksono langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Demung Gumbreg. Sembari tersenyum tipis, dengan cepat ia menendang lengan kanan itu hingga mencelat tinggi ke udara.


"Paman Ludaka, tangkap!


Jangan sampai jatuh ke tanah!!", mendengar perintah dari sang pangeran muda, Tumenggung Ludaka menjejak tanah lalu melenting tinggi ke udara dan menyambar potongan lengan kanan Iblis Bukit Manoreh. Dengan gerakan lincah, Tumenggung Ludaka mendarat di samping Panji Tejo Laksono.


"Untuk apa potongan lengan ini Gusti Pangeran?", tanya Tumenggung Ludaka sedikit heran.


"Itu sebagai penukar informasi dari Adipati Sasrabahu, Paman..


Kita sebaiknya bergegas ke Kota Anjuk Ladang. Semakin cepat semakin baik", kata Panji Tejo Laksono yang langsung membuat semua orang mengangguk-angguk mengerti.


Endang Patibrata yang berdiri di samping kanan Panji Tejo Laksono lantas menunjuk ke arah Cendana dan Cendani yang duduk bersimpuh di tanah. Hilangnya tenaga dalam yang mereka miliki, membuat kedua orang murid Iblis Bukit Manoreh itu hanya pasrah saja pada nasib mereka berdua selanjutnya.


"Kalau dua orang itu bagaimana Kangmas?"

__ADS_1


__ADS_2