
Perang yang semula tidak seimbang antara pasukan Jenggala yang berjumlah 60 puluh ribu orang prajurit menggempur pertahanan Panjalu yang hanya berjumlah sekitar kurang dari 50 ribu orang prajurit, kini berbalik arah.
25 ribu orang prajurit Panjalu yang di pimpin oleh Senopati Tunggul Arga lah yang menjadi penyebab utama nya.
Kedatangan mereka di tambah lagi dengan munculnya Prabu Jayengrana di tengah medan laga sontak membuat keadaan berubah total. Jika sebelumnya para prajurit Panjalu hanya bertahan sekuat tenaga untuk menahan laju gempuran pasukan Jenggala, kini mereka mulai mendesak para prajurit Jenggala untuk mundur.
Kematian Senopati Mpu Balitung di tangan Panji Tejo Laksono di tambah tewasnya Wong Agung Pucangan yang selama ini selalu menjadi andalan mereka, benar-benar memukul semangat juang prajurit Jenggala. Meski para perwira tinggi prajurit Jenggala yang masih hidup mencoba sekuat tenaga untuk menahan serangan balik dari para prajurit Panjalu, namun usaha mereka sia-sia belaka karena mental bertarung para prajurit Jenggala sudah runtuh.
Gayatri dan Dyah Kirana segera mendekati Panji Tejo Laksono yang kini berdiri di samping sang ayahanda. Dua perempuan cantik itu segera menghormat pada Sang Maharaja Panjalu.
"Sembah bakti saya Gusti Prabu...", ujar kedua perempuan cantik itu bersamaan.
"Ini medan perang, tak perlu bersopan santun di sini. Waspada terhadap segala sesuatu, itu lebih berguna. Bangunlah", Prabu Jayengrana segera mengangguk. Luh Jingga dan Dyah Kirana segera berdiri mendengar perintah dari penguasa besar ini.
Pandangan Prabu Jayengrana langsung tertuju pada Dyah Kirana. Setelah itu ia menoleh ke arah Panji Tejo Laksono yang masih berdiri di samping nya.
"Siapa gadis ini? Kenapa aku baru melihat nya?", tanya Sang Maharaja Panjalu itu segera.
"Eh itu Kanjeng Romo Prabu, dia adalah calon selir ku. Dia adalah cucu Maharesi Padmanaba dari Pertapaan Gunung Mahameru", Panji Tejo Laksono memerah wajahnya sambil tersenyum tersipu.
"Cucu Maharesi Padmanaba??!!
Wah kau pasti beruntung bisa menjadi cucu menantu nya, Tejo Laksono. Bagaimana keadaan orang tua itu sekarang?", kembali Prabu Jayengrana bertanya. Bagaimanapun juga, dulu Maharesi Padmanaba lah yang menjadi penengah saat terjadi perang antara Panjalu dan Jenggala saat masih di bawah kepemimpinan Maharaja Mapanji Alanjung. Andai tidak ada dia, pasti Prabu Jayengrana yang dalam wujud Butha Agni sudah menggilas habis pasukan Jenggala yang mencoba untuk mengganggu waktu kelahiran Panji Manggala Seta di Wanua Karang Pulut.
Panji Tejo Laksono lalu secara singkat menceritakan tentang pertemuan nya dengan pertapa tua itu. Prabu Jayengrana menghela nafas panjang mendengar kisah itu.
Hemmmmmmm..
"Jadi orang tua itu sudah tiada dan mewariskan Ajian Chanda Bhirawa pada mu, Tejo Laksono?", Prabu Jayengrana menatap ke arah putra sulung nya ini.
"Benar Kanjeng Romo Prabu..
Sekalian dia mewanti-wanti agar ananda menjaga cucu kesayangannya ini untuk seterusnya", Panji Tejo Laksono tersenyum simpul begitu mengucapkan kata kata yang membuat Prabu Jayengrana geleng-geleng kepala.
"Dasar bandel...
Tau begitu ku biarkan saja kau menghadapi Wong Agung Pucangan tadi. Toh dengan ilmu kanuragan itu, kau tidak akan kalah dari wong tua keblinger itu", ucap Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana sambil tersenyum.
Sementara itu, para prajurit Jenggala semakin banyak yang terbunuh. Mereka semakin terdesak oleh serangan para prajurit Panjalu. Beberapa orang pimpinan yang tersisa sudah berpikir untuk mundur.
Tumenggung Ranasuta, sang pimpinan keenam Kelompok Bulan Sabit Darah yang juga menjadi salah satu pucuk pimpinan prajurit Jenggala pun mulai berpikir untuk mundur. Tapi itu semua tidak luput dari perhatian Panji Manggala Seta yang menjadi lawannya.
"Apa sekarang kau berfikir untuk mundur, Wong Jenggala? Sudah terlambat!!", ujar Panji Manggala Seta sembari menghantamkan tapak tangan kanan.
Whhuuusshhh !!
Segumpal cahaya putih kebiruan berhawa panas yang menakutkan tercipta di tangan kiri Panji Manggala Seta. Putra Dewi Srimpi sang selir ketiga Prabu Jayengrana itu rupanya juga menguasai Ajian Tinju Petir yang merupakan ilmu kanuragan andalan sang selir ketiga Prabu Jayengrana.
"Waktunya kau untuk mati, Wong Jenggala!!
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat..!!!"
Whhhuuuuummmmmmm.....
__ADS_1
Selarik sinar putih kebiruan melesat cepat kearah Tumenggung Ranasuta yang terpecah konsentrasi nya. Pimpinan keenam Kelompok Bulan Sabit Darah itu mengumpat keras saat melihat cahaya putih kebiruan itu bergerak cepat kearah nya.
"Bajingan tengik....!!!"
Blllaaammmmmmmm!!!!
Tepat sesaat sebelum cahaya putih kebiruan Ajian Tinju Petir menghantam nya, Tumenggung Ranasuta berhasil lolos dengan melompat ke arah samping. Namun itu semua rupanya bukan akhir dari serangan Panji Manggala Seta.
Sang pangeran muda dari Kadiri itu melesat cepat kearah samping kiri lawannya sembari mengibaskan tangan kiri nya yang sudah menjepit beberapa jarum berwarna merah hitam yang mengandung Racun Kelabang Neraka.
Shhhrriinggg shhhrriinggg!!
Empat jarum beracun milik Panji Manggala Seta melesat cepat kearah Tumenggung Ranasuta yang bersenjatakan keris besar berlekuk 13 yang memiliki pamor hijau tua keunguan. Dengan cepat, Tumenggung Ranasuta menyilangkan keris besarnya untuk menahan lemparan jarum merah hitam yang di lemparkan ke arah nya.
Thrrriiinnnggggg thhhrrriiiiinnnnngggg!!
Empat Jarum Racun Kelabang Neraka bermentalan setelah tertangkis oleh keris besar sang perwira Jenggala. Melihat lawannya masih mampu bertahan, Panji Manggala Seta langsung melenting tinggi ke udara dan meluncur turun sambil membabatkan Pedang Kelabang Neraka di tangan kanannya ke arah kepala Tumenggung Ranasuta.
Shhrreeettthhh!!
Tumenggung Ranasuta yang sadar akan bahaya yang mengancamnya, langsung menjatuhkan diri ke tanah untuk menghindari sabetan pedang beracun itu. Tebasan pedang Panji Manggala Seta hanya menusuk tanah tempat perwira prajurit Jenggala itu berdiri.
Melihat itu, Tumenggung Ranasuta segera berguling ke depan dan mengayunkan keris besarnya ke arah kaki Panji Manggala Seta yang baru saja menjejak tanah.
Whhhuuutthh!!
Menggunakan Pedang Kelabang Neraka yang ujungnya masih menancap di tanah, Panji Manggala Seta segera mengangkat kedua kaki nya tinggi-tinggi lalu kepalan tangan kiri nya yang di lambari Ajian Tinju Petir segera menghantam ke arah Tumenggung Ranasuta.
Shiiuuuuuuttttt..
Blllaaammmmmmmm!!!
Oouuugghhhhhh!!!
Tumenggung Ranasuta terpental ke belakang hampir 4 tombak jauhnya. Dia menjerit keras dan tubuhnya menyusruk tanah dengan keras. Dari sudut mulut nya, ada darah segar yang meleleh keluar. Meskipun keris besar berlekuk 13 itu mampu menahan hantaman Ajian Tinju Petir, namun kuatnya pengaruh hantaman ilmu kanuragan tingkat tinggi itu membuatnya luka dalam cukup parah.
Tangan kiri Tumenggung Ranasuta segera merogoh balik bajunya dan melemparkan dua gumpalan berbentuk bola berwarna kuning ke arah Panji Manggala Seta saat putra Dewi Srimpi itu melesat ke arah nya.
Melihat itu, Panji Manggala Seta segera menghantamkan tapak tangan kiri nya ke arah dua bola kuning itu.
Blllaaaaaarrr!!
Dua bola kuning itu langsung meledak, menciptakan asap tebal berwarna kuning yang menghalangi pandangan mata. Khawatir asap itu beracun, Panji Manggala Seta segera membanting tubuhnya ke arah samping.
Begitu asap kuning itu menghilang tertiup angin, Tumenggung Ranasuta sudah tidak ada lagi di tempat itu. Rupanya dia kabur dari medan perang.
"Huhhh, dasar perusuh laknat!!
Dia lari rupanya. Kalau sampai ketemu lagi, jangan harap kau bisa lolos bajingan", umpat Panji Manggala Seta sembari menatap ke arah para prajurit Jenggala yang mulai bergerak mundur.
Para prajurit Panjalu langsung bersorak gembira begitu melihat para prajurit Jenggala yang tersisa lari tunggang-langgang meninggalkan tempat itu.
Demung Gumbreg yang melihat mundur nya para prajurit Jenggala, langsung bergegas mendekati Panji Tejo Laksono dan Prabu Jayengrana yang ada di tempat itu. Sambil memanggul pentung sakti andalannya, dia segera bicara.
__ADS_1
"Ayo kita kejar mereka, Gusti Pangeran!!
Habisi saja mereka semuanya. Jangan ada yang tersisa".
Prabu Jayengrana tersenyum simpul melihat ulah bawahannya yang satu ini.
"Baik Mbreg..
Kau kejar mereka. Jangan sampai lolos. Tapi hanya kau saja yang berangkat", ucap Prabu Jayengrana segera. Demung Gumbreg segera melangkah hendak bergerak maju. Baru satu langkah, dia berhenti.
"Kog sepertinya tadi ada yang salah ya? Apa aku yang salah dengar?", gumam Demung Gumbreg sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Kenapa berhenti Paman Gumbreg? Katanya tadi mau mengejar mereka. Monggo silahkan berangkat", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum geli.
"Eh anu tadi perintah Gusti Prabu katanya cuma aku sendiri ya, Gusti Pangeran?
Kalau begitu tidak usah. Kali ini biar mereka hidup saja. Masih ada hal lain yang lebih penting hehehehe ", Demung Gumbreg tersipu-sipu sambil cengengesan.
"Kau ini Mbreg Mbreg...
Dari muda sampai setengah umur begini masih saja tidak berubah. Sudah mundur sana, urus pekerjaan mu", ujar Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan abdi setia Kerajaan Panjalu ini.
Demung Gumbreg segera menghormat pada Prabu Jayengrana dan Panji Tejo Laksono lalu bergegas meninggalkan mereka.
'Huh untung saja aku cepat sadar. Kalau sampai nekat mengejar para prajurit Jenggala itu, bisa bisa aku mampus di keroyok mereka.
Slamet slamet Slamet......'
Sepanjang sore itu, para prajurit Panjalu sibuk merayakan kemenangan mereka sambil berbenah Kota Kunjang yang hancur akibat perang ini. Ribuan mayat prajurit Jenggala bergelimpangan tak tentu arah langsung di singkirkan ke dalam hutan di timur tapal batas Kota Kunjang. Di bantu para penduduk Kota Kunjang yang baru kembali dari pengungsian, mereka membakar mayat-mayat itu agar tidak menjadi sarang penyakit. Sedangkan mayat mayat para prajurit Panjalu yang gugur di medan laga, di buatkan satu kuburan massal yang ada di selatan kota. Semuanya bahu membahu untuk menata kembali Kota Kunjang.
Akuwu Manik Badra dan Ki Lurah Mpu Tolu langsung berlari mendekati Prabu Jayengrana begitu mereka tahu sang Maharaja Panjalu itu ada di tempat itu.
"Sembah bakti kami Gusti Prabu", ujar Mpu Tolu dan Akuwu Manik Badra sambil menyembah pada raja mereka.
"Hemmmmmmm...
Sembah bakti kalian aku terima. Sekarang berdirilah", ujar Prabu Jayengrana segera.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu", jawab kedua orang itu bersamaan. Saat itu juga, Panji Manggala Seta juga berjalan mendekati mereka. Putra Dewi Srimpi itu segera berlutut dihadapan sang ayah sambil menyembah.
"Sembah bakti ananda, Kanjeng Romo Prabu".
"Hehehehe, putra ku Manggala Seta.. Romo senang sekali melihat mu. Aku sungguh berterimakasih atas surat yang kau kirimkan tempo hari. Tanpa nawala yang kau kirim mungkin saat ini Kotaraja Daha pasti sedang mengalami pralaya besar.
Kau sungguh berjasa besar kali ini. Berdirilah putra ku", ujar Prabu Jayengrana sambil tersenyum tipis. Lelaki bertubuh kekar dengan kumis tebal itu segera menepuk pundak Panji Manggala Seta.
"Saya hanya sekedar membantu Kanjeng Romo Prabu..
Yang paling berjasa besar dalam hal ini adalah Kangmas Tejo Laksono, bukan saya Kanjeng Romo", jawab Panji Manggala Seta sembari bangkit dari tempat berlutut nya.
"Kalian berdua memang yang terbaik. Aku bangga memiliki putra seperti kalian berdua", imbuh Prabu Jayengrana sesaat sebelum menghela nafas panjang sebelum kembali melanjutkan omongan nya.
"Yang menjadi pikiran ku sekarang adalah keadaan saudara kalian, Jayagiri, yang baru saja berangkat ke medan perang di Bojonegoro.
__ADS_1
Semoga dia baik-baik saja".