
"Pemuda keparat !
Jangan ikut campur urusan kami. Apa kau tidak pernah mendengar nama Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou ha? Ini orangnya", bentak si Bandit Baju Hijau sembari menepuk dadanya.
Chuuuihhhhhh...
"Aku tidak peduli dengan siapa kalian. Mau kalian Bandit Gunung, Bandit Sawah, Bandit Sungai atau Bandit-bandit yang lain aku tidak peduli.
Yang aku tahu kalian hanya sepasang manusia bau tanah busuk yang sedang menebar petaka bagi umat manusia. Karena itu kalian wajib aku musnahkan", balas Panji Tejo Laksono acuh tak acuh terhadap omongan Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou itu.
"Kurang ajar !
Kau benar-benar sudah ingin menemui Raja Neraka rupanya. Akan ku antar kau kesana dengan tongkat ku! ", usai berkata demikian, Si Bandit Baju Merah langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan ujung tongkatnya yang berbentuk seperti kepala rusa ke arah Panji Tejo Laksono.
Brrreeeeeeeeetttthhhhhh...!!
Panji Tejo Laksono langsung menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara seringan kapas menghindari sabetan tongkat kepala rusa Si Bandit Baju Merah lalu mendarat di belakang tubuh lawan. Melihat serangan nya gagal, Si Bandit Baju Merah langsung memutar tongkat nya dan menghantamkan tongkat ke arah punggung Panji Tejo Laksono. Serangkum angin dingin berdesir kencang mengikuti gerakan Si Bandit Baju Merah.
Whhhuuuggghhhh...!
Kembali Panji Tejo Laksono melenting tinggi ke udara dan mendarat dua tombak di belakang lawannya. Dia benar benar memamerkan Ajian Sepi Angin tingkat tinggi untuk memancing kemarahan lawan. Si Bandit Baju Merah yang mulai tersulut emosi, langsung memburu Panji Tejo Laksono dengan serangan cepat dan membabi-buta.
Si Bandit Baju Hijau terus memperhatikan pertarungan antara Panji Tejo Laksono melawan Si Bandit Baju Merah dengan seksama. Dia mulai menata taktik untuk mengalahkan Panji Tejo Laksono.
Sementara itu para murid Perguruan Er Mei terutama si murid yang memakai tusuk konde giok terus memperhatikan pertarungan itu.
"Kak Xiao Mei,
Apa kau pernah mendengar atau melihat sosok pendekar muda yang sedang menolong kita saat ini? Apa Kak Xiao Mei mengenal nya?", tanya salah seorang murid Perguruan Er Mei yang bernama Hua Rong itu dengan penuh penasaran.
"Aku tidak pernah bertemu dengan dia sebelumnya, Hua Rong..
Dia masih begitu muda dan tampan, pasti seorang pendekar muda yang baru saja turun gunung. Melihat kemampuan beladiri nya yang begitu tinggi, sebentar lagi dunia persilatan Tanah Tiongkok akan mengenali nya", jawab Xiao Mei sembari terus memperhatikan pertarungan di depan mereka.
"Ah sayang sekali ya..
Andai saja dia mau mengenal ku, pasti aku akan sangat bahagia. Lihatlah, dia begitu tampan dan gagah, pasti banyak gadis lain yang akan iri melihat dia bersama ku", ujar Hua Rong yang memang terkenal centil dan sedikit tidak tahu malu.
"Kau ini benar-benar keterlaluan, Hua Rong..
Sempat-sempatnya kau memikirkan hal gila seperti itu di saat kita sedang dalam posisi sulit seperti ini. Benar benar menyebalkan ", maki Xiao Mei sembari melengos kesal kearah Hua Rong. Gadis centil itu segera menutup mulutnya karena tahu bahwa dia baru saja melakukan kesalahan. Dengan sedikit takut dia langsung beringsut mundur menjauhi Xiao Mei yang terlihat seperti hendak menelan orang.
Si Bandit Baju Merah mulai ngos-ngosan mengatur nafasnya karena Panji Tejo Laksono terus saja bergerak lincah menghindari setiap serangan yang dia lakukan secara gencar. Hanya sesekali saja Panji Tejo Laksono melakukan serangan namun hanya sebatas serangan tenaga luar yang sepertinya justru di gunakan untuk memancing emosi lawannya. Sudah lebih dari 15 jurus telah terlewati.
Melihat pasangan nya mulai kelelahan, Si Bandit Baju Hijau langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono yang baru saja menghindari sabetan tongkat besi Si Bandit Baju Merah. Dia segera mengayunkan palu besar bergagang pendek yang merupakan senjata andalannya ke arah kepala Panji Tejo Laksono.
Whhhhuuuuggghhh!!
Serangan bokongan ini lumayan cepat hingga nyaris tak bisa di hindari oleh Panji Tejo Laksono namun sekejap sebelum palu besar ini mengenai kepala Panji Tejo Laksono tiba-tiba saja muncul kabut putih tipis menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono yang langsung membuat tubuh sang putra tertua Prabu Jayengrana ini menghilang dari pandangan mata semua orang.
Menghilang nya Panji Tejo Laksono secara tiba-tiba membuat Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou kebingungan. Di saat mereka tengah mencari sosok Panji Tejo Laksono, tiba tiba pangeran muda dari Kadiri itu muncul tiba-tiba di samping Si Bandit Baju Merah sembari menghantam tulang rusuk lawan nya.
__ADS_1
Bhhuuuuggggghhh !
Aaauuuuuugggggghhhhhh !
Si Bandit Baju Merah terpelanting dan mengaduh keras saat terbanting ke tanah dengan keras. Pasangan nya, Bandit Baju Hijau langsung mengayunkan palu besar bergagang pendek nya ke arah Panji Tejo Laksono yang ada di dekat nya.
Whhuuuuuuuggggh...!!
Kembali Panji Tejo Laksono menghilang dari pandangan mata dan muncul tak jauh dari Si Bandit Baju Merah yang baru saja terjatuh ke tanah. Sepakan keras kaki kanan Panji Tejo Laksono menghajar punggung lelaki paruh baya itu segera.
Bhhhuuuuuuggggh...
Aaaarrrgggggghhhhh !!
Si Bandit Baju Merah kembali melayang ke arah saudara nya yang hendak menyerang kembali. Namun Panji Tejo Laksono sudah kembali lenyap dari pandangan mata. Dengan membabi-buta, Si Bandit Baju Hijau mengayunkan palu besar nya ke segala arah mirip tindakan orang gila.
Whuuthhh whuuthhh !!
"Bangsat !
Keluar dari persembunyian mu! Hadapi aku secara jantan!", teriak Si Bandit Baju Hijau sembari terus mengayunkan palu besar nya ke segala arah.
Para murid Perguruan Er Mei yang masih berdiri di tempatnya sambil berdecak kagum dengan kemampuan beladiri Panji Tejo Laksono yang tidak biasa, tiba-tiba saja Xiao Mei yang merupakan pimpinan kelompok ini mendengar suara berat Panji Tejo Laksono dari belakang, " Sebaiknya kalian pergi dari sini. Dua orang tua cabul itu biar aku urus".
Xiao Mei segera menoleh ke arah dan melihat sosok Panji Tejo Laksono yang tiba-tiba saja muncul di belakang nya. Meski sedikit kaget, Xiao Mei segera membungkuk hormat kepada Panji Tejo Laksono.
"Terimakasih Pendekar..
Setelah mendapat persetujuan Panji Tejo Laksono, Xiao Mei diam diam kabur dari tempat itu bersama ketujuh gadis muda berbaju putih yang merupakan anggota Perguruan Er Mei saat Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou itu di sibukkan dengan Panji Tejo Laksono yang menggunakan Ajian Halimun nya.
Saat melihat para murid Perguruan Er Mei sudah meninggalkan tempat itu, Panji Tejo Laksono muncul kembali di hadapan Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou sembari tersenyum tipis. Dua kakak beradik itu ngos-ngosan mengatur nafasnya yang tersengal.
"Akhirnya kau muncul juga bocah sialan!
Kali ini kau akan mampus di tangan kami karena berani bermain api dengan Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou", ujar Si Bandit Baju Hijau sembari mengacungkan palu besar bergagang pendek nya ke arah Panji Tejo Laksono.
"Siapa yang mampus juga belum tahu, tapi yang jelas para murid Perguruan Er Mei sudah terselamatkan hehehehe", Panji Tejo Laksono terkekeh geli.
Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu dan benar saja para murid Perguruan Er Mei sudah tidak ada disitu. Dengan muka merah padam menahan amarah karena merasa di tipu mentah mentah oleh pemuda tampan itu, Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou langsung mengumpat keras sembari melesat cepat kearah berlawanan. Mereka bermaksud untuk menyergap Panji Tejo Laksono dari dua sisi yang berbeda. Senjata mereka kini sudah di aliri tenaga dalam tingkat tinggi untuk membinasakan lawan.
Panji Tejo Laksono yang melihat pergerakan mereka, langsung memutar kedua telapak tangan nya di depan dada. Kali ini dia akan mencoba mengeluarkan ilmu baru nya yang baru saja dia dapat dari Kakek Yan Luo, Ilmu Sembilan Matahari jurus kedua yang dinamakan Matahari Tengah Malam. Hawa panas menyengat menyebar saat sinar berwarna merah kehitaman tercipta di sekitar tempat Panji Tejo Laksono berdiri.
Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou yang tidak pernah melihat pemandangan itu sama sekali tidak gentar. Mereka dengan cepat mengayunkan senjata mereka masing-masing ke arah tubuh Panji Tejo Laksono.
"Mampus kau bangsat!"
Whhhuuuggghhhh....
Panji Tejo Laksono dengan cepat memutar telapak tangan nya dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas kepala. Sinar merah kehitaman itu segera menyebar cepat ke sekeliling tempat itu dan menghantam tubuh Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou.
Blllaaammmmmmmm !
__ADS_1
Ledakan dahsyat terdengar. Dua orang lelaki paruh baya yang terkenal sebagai pendekar tua nan mesum itu segera menjerit keras sembari terpental hampir 4 tombak jauhnya ke arah sisi yang berbeda. Mereka langsung muntah darah segar saat masih di udara. Si Bandit Baju Merah yang naas menabrak ujung bambu yang runcing dan tewas dengan ujung bambu menembus dadanya. Sedangkan Si Bandit Baju Hijau menyusruk tanah dengan keras dan diam tak bergerak, entah pingsan atau tewas.
Panji Tejo Laksono menurunkan kedua telapak tangan sejajar pinggang sembari menghela nafas panjang. Sang pangeran muda dari Kadiri ini lalu melirik ke arah kedua pendekar penjahat ini sebelum akhirnya menghilang dari pandangan.
Setelah kepergian Panji Tejo Laksono, jemari Si Bandit Baju Hijau bergerak perlahan yang menunjukkan bahwa dia masih hidup.
Kepergian Panji Tejo Laksono membuat Putri Song Zhao Meng dan Luh Jingga serta Wanyan Lan tidak tenang. Hampir saja mereka menyusul ke arah perginya sang pangeran negeri Panjalu ini andai saja tidak melihat Panji Tejo Laksono melayang turun dari atas pucuk pohon bambu yang ada di depan mereka.
"Kakak Thee...
Kau tidak apa-apa bukan? Kenapa kau pergi lama sekali?", berondong pertanyaan terlontar dari mulut Putri Song Zhao Meng.
"Ada sedikit hal yang perlu di selesaikan dulu, Putri Meng Er. Sekarang sudah beres.
Ayo kita lanjutkan lagi perjalanan kita", jawab Panji Tejo Laksono sembari tersenyum simpul. Mendengar jawaban itu, baik Song Zhao Meng dan Wanyan Lan menarik nafas lega. Luh Jingga yang melihat Panji Tejo Laksono baik baik saja pun ikut senang dan perjalanan di lanjutkan kembali.
Sepasang mata terus mengawasi pergerakan mereka di balik rimbun pohon bambu.
Setelah melewati rimbunnya hutan bambu di timur Kota Beishan, rombongan itu sampai di kota kecil Beishan yang merupakan kota penghubung antara Luoyang dan Zhengzhou. Kota kecil ini walaupun tak semaju Luoyang, tapi masih memiliki sebuah penginapan yang cukup besar sebagai tempat untuk beristirahat. Chen Su Bing dan Cai Yuan yang mengenal baik tempat itu, langsung mendahului rombongan dan memesan tempat untuk tidur rombongan mereka. Seperti biasa, para pengawal pribadi Putri Song Zhao Meng yang berjumlah ratusan orang harus mendirikan tenda sebagai tempat untuk bermalam karena penginapan manapun tak kan cukup menampung mereka semua.
Menjelang sore, hujan deras tiba tiba saja turun membasahi bumi. Membuat udara di sekitar Kota Beishan menjadi dingin menusuk tulang.
Sementara itu, Si Bandit Baju Hijau yang baru saja menancapkan batu pusara di makam adiknya mengusap air mata yang membasahi pipinya yang mulai keriput.
"Adik..
Kau sekarang tenang saja di surga. Aku pasti akan membalaskan dendam mu. Aku akan meminta bantuan kepada saudara saudara kita ataupun ke guru kita di Gunung Zhengzhou", ujar Si Bandit Baju Hijau sembari mengusap sisa air mata yang bercampur hujan deras yang mengguyur kawasan hutan bambu ini.
Setelah mengelus batu pusara Si Bandit Baju Merah, Si Bandit Baju Hijau segera tertatih berjalan meninggalkan tempat itu menuju ke arah barat sembari membekap dadanya yang terasa sakit bukan main. Dengan langkah gontai di tengah deras hujan yang mengguyur, dia bertekad untuk sampai di Gunung Zhengzhou untuk menemui gurunya, Si Sesat Tua Guo Tian Yin.
Sepanjang malam, Si Bandit Baju Hijau terus berjalan setengah berlari menuju ke arah Gunung Zhengzhou yang ada di selatan Kota Zhengzhou. Meski terus meringis menahan rasa sakit dan terjungkal beberapa kali karena tubuhnya yang lemah karena luka dalam, Si Bandit Baju Hijau tak patah semangat untuk menemui sang guru demi membalas dendam.
Saat pagi hari tiba, Si Bandit Baju Hijau sampai di Gunung Zhengzhou dengan keadaan tubuh yang sangat lemah. Dia hampir jatuh pingsan di kaki gunung andai saja tidak bertemu dengan dua orang adik seperguruan nya yang baru saja hendak keluar membeli bahan makanan. Mereka segera memapah tubuh Si Bandit Baju Hijau dan membawanya ke kediaman guru mereka.
Dahi lelaki tua berjanggut panjang memutih itu mengkerut. Terlihat dua sedang menahan perasaan marah besar. Berita kematian murid kesayangannya sangat membuat nya gusar.
"Sekarang katakan pada ku, dimana orang yang telah membunuh Ah Hao (nama asli Si Bandit Baju Merah)?
Aku akan mencabut nyawa nya dengan tangan ku sendiri", tanya Si Sesat Tua Guo Tian Yin sembari mengepalkan tangannya erat-erat di hadapan Bandit Baju Hijau.
"Mereka menuju ke Kota Beishan, Gu-guru..
Tujuan mereka selanjutnya pasti Zheng.. Zheng... zhou", usai berkata demikian, Si Bandit Baju Hijau pingsan. Si Sesat Tua Guo Tian Yin langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Ah Yun,
Kau rawat kakak seperguruan mu baik baik. Aku dan Ah Seng akan pergi mencari keberadaan orang yang sudah membunuh Ah Hao dan melukai Ah Hung (nama asli Si Bandit Baju Hijau)".
Usai berkata demikian, Si Sesat Tua Guo Tian Yin langsung melesat cepat keluar dari dalam kediaman nya di ikuti oleh seorang murid nya yang bernama Ah Seng. Mereka berdua menuruni tangga Gunung Zhengzhou seperti orang kesetanan dengan kecepatan tinggi. Tujuan mereka hanya satu, menemukan pembunuh Si Bandit Baju Merah berdasarkan ciri-ciri yang di berikan oleh Bandit Baju Hijau,
Secepat mungkin.
__ADS_1