
"Kangmas Adipati !
Jangan terlalu kasar dengan putra mu sendiri. Dia adalah darah daging mu sendiri Kangmas", ucap permaisuri Kembang Kuning, Dyah Lembayung yang duduk di sebelahnya.
"Huhhh...
Jika bukan anak ku, sudah ku penggal kepala nya dari kemarin kemarin Dinda Lembayung. Ini sudah waktunya kita kirim upeti dan pajak bumi ke Kadiri sedangkan kas istana Kadipaten Kembang Kuning sedang kosong seperti ini.
Mau di taruh dimana muka ku kalau sampai mengecewakan Gusti Prabu Jayengrana?", Adipati Dewangkara mendengus keras sambil melirik ke arah Raden Sindupati yang masih menunduk.
"Kangmas Adipati terlalu takut pada Gusti Prabu Jayengrana. Kalau sekali kali telat membayar upeti, bukankah manusiawi Kangmas?", Dyah Lembayung mencoba mencari celah untuk meredam emosi sang penguasa Kadipaten Kembang Kuning.
"Apa katamu? Kau perempuan mana bisa merasakan pahit getirnya perjuangan ku sebelum aku duduk di singgasana Kadipaten Kembang Kuning ini?
Ini adalah jabatan pemberian dari Gusti Prabu Jayengrana. Kalau bukan karena dia, mungkin aku masih di Kadipaten Lasem dan hanya menjadi seorang senopati saja. Aku hanya membalas budi baik pada Gusti Prabu Jayengrana yang telah memberikan anugerah jabatan ini pada ku, Dinda Lembayung.
Kalau kau tidak ingin aku marah sebaiknya tidak usah ikut campur dalam urusan ku dengan istana negara.
.
Sekarang urus itu anak mu. Kalau sampai besok tidak ada pengembalian khas istana Kadipaten Kembang Kuning, jangan salahkan aku bertindak tegas pada nya. Ini akibatnya jika kau terlalu memanjakan nya", usai berkata demikian, Adipati Dewangkara langsung beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah kepergian Adipati Dewangkara, Dyah Lembayung segera mendekati Raden Sindupati.
"Sindupati putra ku, apa sebenarnya tujuan mu mengambil uang dari bendahara istana?
Kalau kau jujur, ibu bersedia untuk membantu mu mencari jalan keluar nya. Kau tahu Romo mu bukan hanya marah di mulut saja jika sampai pergi seperti itu", ucap Dyah Lembayung dengan lembut. Raden Sindupati memang putra kesayangannya.
"Kanjeng Ibu,
Uang itu sudah Sindupati habiskan untuk membantu padepokan silat tempat ku belajar ilmu kanuragan. Guru ku membutuhkan banyak uang untuk perbaikan padepokan yang hampir rubuh.
Karena tak ada jalan lain, terpaksa Sindupati melakukan cara itu", Raden Sindupati berbohong pada ibunya.
"Kau sudah jujur sejujur-jujurnya pada ibu? Kau tidak sedang membohongi ibu mu bukan?", Dyah Lembayung menatap wajah Raden Sindupati seolah mencoba mencari tahu apa yang disembunyikan oleh putra kesayangannya itu.
"Sungguh Kanjeng Ibu, Sindupati tidak akan berani bohong pada Kanjeng Ibu", wajah Raden Sindupati terlihat sungguh sungguh. Dia benar-benar pintar bersandiwara.
Hemmmmmmm
Meski masih merasa kurang percaya dengan omongan Raden Sindupati, Dyah Lembayung segera tersenyum tipis.
"Baiklah putra ku, kali ini aku akan membantu mu. Kau tunggu sebentar disini", setelah berkata seperti itu, Dyah Lembayung segera melangkah menuju ke arah kamar tidur nya. Tak berapa lama kemudian dia kembali sambil membawa sebuah kotak kayu hitam berukir indah. Begitu sampai di depan Raden Sindupati, Dyah Lembayung segera membuka kotak kayu hitam itu di hadapan Raden Sindupati.
Mata Raden Sindupati langsung melebar saat melihat isi dalam kotak hitam itu. Puluhan perhiasan, mutiara dan intan permata ada di dalam nya.
"Jual ini semua, lalu ganti semua uang yang kau berikan untuk guru mu. Aku hanya mampu sekali ini menolong mu putraku. Ini semua adalah simpanan ku, Romo mu tidak mengetahuinya", ujar Dyah Lembayung sembari menutup kotak kayu hitam itu lalu memberikannya pada Raden Sindupati.
"Terimakasih atas bantuannya, Kanjeng Ibu.
Dengan ini Sindupati selamat dari murka Kanjeng Romo.
Sindupati pamit undur diri ", Raden Sindupati segera menghormat pada Dyah Lembayung sebelum mundur dari ruang pribadi Adipati.
Dyah Lembayung hanya menghela nafas panjang saat menatap Raden Sindupati yang kemudian menghilang di balik gapura istana. Permaisuri Adipati Dewangkara itu segera berbalik badan dan kembali ke Keputren.
Sementara itu Raden Sindupati segera bergegas menuju ke rumah Juragan Ki Kromo. Rumah pria paruh baya yang biasanya berdagang perhiasan itu terletak di timur kota Kadipaten Kembang Kuning. Bersama dengan 4 prajurit pengawal pribadi nya, Raden Sindupati berkuda kesana.
Sesampainya di sana, 4 centeng berbadan besar terlihat berjaga-jaga di depan kediaman sang juragan.
__ADS_1
Begitu melihat kedatangan sang putra Adipati, para centeng itu segera menghormat lalu memberi jalan pada Raden Sindupati.
Seorang lelaki bertubuh tambun dengan perut sedikit buncit nampak sedang duduk di kursi kayu jati yang cukup besar di joglo besar kediaman sang juragan perhiasan. Pakaian nya yang terbuat dari sutra mahal berwarna merah berhias sulaman benang indah menghiasi tubuhnya yang tambun. Sederet perhiasan emas nampak menghiasi leher Juragan Ki Kromo. Pria paruh baya beristri 4 ini memang pria kaya di wilayah Kota Kadipaten Kembang Kuning.
Melihat kedatangan Raden Sindupati, Juragan Ki Kromo langsung berdiri dari tempat duduknya. Dengan segera dia menyambut kedatangan sang putra Adipati Kembang Kuning dengan penuh hormat.
"Selamat datang di gubuk hamba, Gusti Pangeran..
Kog tumben sekali Gusti Pangeran bersedia datang ke tempat buruk milik hamba ini. Ada gerangan apa yang membuat Raden Sindupati bersedia meluangkan waktu?", tanya Juragan Ki Kromo dengan cepat.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu, Juragan Ki Kromo.
Tapi aku hanya ingin bicara empat mata saja", jawab Raden Sindupati segera.
Mendengar jawaban itu, Juragan Ki Kromo segera menoleh ke arah dua pelayan nya. Dua perempuan muda yang sedang duduk bersimpuh di lantai joglo besar itu langsung mengerti dengan isyarat sang majikan. Mereka segera menghormat dan bergegas menuju ke arah belakang. Pun Raden Sindupati segera mengibaskan tangannya pada para prajurit pengawal. Keempat orang prajurit itu segera mundur usai menghormat pada Raden Sindupati.
Setelah semuanya pergi, Raden Sindupati segera meletakkan buntalan kain hitam yang membungkus kotak kayu hitam berukir indah itu di meja.
"Bukalah Ki..."
Mendengar perintah Raden Sindupati, Juragan Ki Kromo segera membuka kain hitam lalu menemukan kotak kayu hitam berukir indah itu. Segera dia membuka tutup kotak kayu hitam itu.
"Apa maksud ini semua, Gusti Pangeran?", tanya Juragan Ki Kromo setelah melihat isi kotak kayu hitam.
"Aku ingin menjualnya, Ki..
Aku butuh uang banyak. Coba kau hitung berapa banyak jumlah uang yang aku dapat dari perhiasan itu?", ucap Raden Sindupati segera.
Dengan cekatan, Ki Kromo langsung menaksir jumlah semuanya. Setelah berhitung beberapa saat, Ki Kromo segera menoleh ke arah Raden Sindupati.
"Semuanya bernilai 300 kepeng emas, Gusti Pangeran. Itu adalah harga tertinggi yang bisa hamba berikan. Dan hamba rasa tak satupun pedagang perhiasan di Kota Kadipaten Kembang Kuning ini yang berani memberikan harga setinggi itu selain hamba", ucap Ki Kromo sembari tersenyum tipis.
Apa tidak bisa kau tambahi jadi 500 kepeng emas Ki?", tanya Raden Sindupati segera.
"Itu harga tertinggi Gusti Pangeran. Lebih dari itu hamba tidak berani. Kalau Gusti Pangeran ingin mencoba pada pedagang lainnya, silahkan saja", jawab Ki Kromo seraya menutup tutup kotak kayu hitam itu.
Hemmmmmmm...
Terdengar suara dengusan nafas panjang dari mulut Raden Sindupati. Ki Kromo yang melihat itu, langsung bertanya kepada sang pangeran istana Kadipaten Kembang Kuning.
"Mohon maaf jika hamba lancang. Sepertinya Gusti Pangeran sedang ada masalah. Kalau berkenan, bisa Gusti Pangeran cerita? Mungkin saja hamba bisa membantu", ucap Ki Kromo segera.
"Aku menjual perhiasan ini karena butuh uang untuk mengembalikan nya pada bendahara istana Kadipaten Kembang Kuning, Ki..
Setidaknya aku butuh 500 kepeng emas. Kalau aku tidak bisa mengembalikan nya, Kanjeng Romo Adipati akan menghukum ku. Kau bisa bantu aku Ki?", Raden Sindupati menatap wajah Ki Kromo dengan penuh harap. Mendengar itu, Ki Kromo langsung tersenyum lebar. Kesempatan yang di tunggu-tunggu nya akhirnya tiba.
"Aku bisa saja membantu Gusti Pangeran. Itu perkara mudah. Tapi ada syaratnya jika Gusti Pangeran menginginkan bantuan hamba", ujar Ki Kromo seraya melangkah memutari meja besar di joglo besar kediaman nya.
"Apa syaratnya Ki? Cepat katakan", tanya Raden Sindupati segera.
"Gusti Pangeran harus mengawini putri ku, Roro Pujawati. Jangankan 500 kepeng emas, 1000 kepeng emas pun akan ku sediakan bagi Gusti Pangeran asal Gusti Pangeran bersedia", jawab Ki Kromo seraya tersenyum lebar.
Mendengar jawaban itu, sontak Raden Sindupati terkejut namun dengan cepat ia menguasai dirinya.
'Keparat tua ini rupanya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menjadi kerabat istana Kadipaten Kembang Kuning.
Baiklah,
Tak ada ruginya jika aku punya mertua kaya raya seperti dia. Nanti jika aku sudah berhasil menguasai harta nya, akan ku buat kau jadi gembel', batin Raden Sindupati. Putra kedua dari Adipati Kembang Kuning itu menyeringai tipis.
__ADS_1
"Baiklah, aku bersedia.
Sekarang tolong bantu aku Ki. Aku harus cepat mengembalikan uang itu ke istana. Setelah urusan ini beres aku akan segera menikahi putri mu", ucap Raden Sindupati yang segera membuat Ki Kromo langsung tersenyum lebar.
Lelaki bertubuh tambun itu segera bergegas membawa kotak kayu hitam itu ke dalam rumah nya. Lalu kembali ke hadapan Raden Sindupati sembari membawa 5 kantong kain berwarna hitam yang berisi ratusan kepeng emas.
Raden Sindupati segera mengambilnya dan cepat cepat meninggalkan tempat itu menuju ke arah Istana Kadipaten Kembang Kuning. Sementara itu Ki Kromo yang merasa bahagia karena sebentar lagi punya menantu seorang pangeran langsung tertawa bahagia.
Di jalan menuju ke arah Istana, tiba-tiba Raden Sindupati teringat pada janji nya untuk menemui Wasesodirjo di tepi hutan di selatan Kota Kadipaten Kembang Kuning. Setelah memerintahkan kepada para prajurit nya untuk kembali lebih dulu, Raden Sindupati segera memacu kuda nya ke arah hutan kecil. Begitu sampai di dekat tempat yang di maksud, Raden Sindupati segera mengganti pakaian nya dan mengenakan topeng besi separuh wajah.
Whhhhuuuuggghhh !
Jleeggg !
Raden Sindupati mendarat di dekat Wasesodirjo yang sedang duduk di bawah pohon rindang di tepi hutan kecil.
"Bagaimana rencana kita, Bongkok?".
"Setan Gendeng justru terbunuh oleh Utusan Istana Kadiri itu, pimpinan. Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?", Wasesodirjo membungkuk hormat kepada Raden Sindupati.
"Keparat!
Mampu menghabisi nyawa Setan Gendeng itu tandanya ilmu beladiri nya tidak bisa di anggap enteng. Kau terus awasi pergerakan mereka. Besok sore temui aku di rumah pelacuran Ki Wongsorejo", usai berkata demikian Raden Sindupati segera melesat cepat meninggalkan Wasesodirjo yang masih terdiam di tempatnya.
"Hah dasar orang aneh", maki Wasesodirjo sembari melesat ke arah yang berlawanan dengan arah kepergian Raden Sindupati.
****
"Denmas Panji,
Sebentar lagi kita akan sampai di Kota Kadipaten Kembang Kuning. Mumpung masih siang, kita lanjutkan ke barat atau berhenti dulu di kota ini Denmas?", tanya Tumenggung Ludaka sambil menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang berkuda di samping nya.
"Kita perlu beristirahat Paman Ludaka..
Lihatlah bagaimana keadaan Paman Gumbreg. Sepertinya sakitnya kumat lagi", ujar Panji Tejo Laksono sembari menoleh ke arah Demung Gumbreg. Kuda mereka berjalan pelan saja saat memasuki tapal batas Kota Kadipaten Kembang Kuning.
"Ah kalau itu bukan sakit Denmas Panji", sergah Tumenggung Ludaka sambil tersenyum penuh arti.
"Loh kog bisa begitu, Paman? Apa yang bisa membuat Paman Gumbreg sampai pucat begitu kalau bukan sakit?", Panji Tejo Laksono menatap heran kearah Demung Gumbreg yang hanya cemberut saja.
"Dia kalah taruhan dengan saya, Denmas Panji.
Taruhan nya adalah membelikan makanan untuk semua orang yang ikut dalam perjalanan kita begitu sampai di kota besar.
Nah kalau cuma kita berdelapan orang masih enteng, lha sekarang anggota rombongan kita mencapai 20 orang Denmas. Kan lumayan menguras isi kantong kepeng nya hehehehe ", Tumenggung Ludaka terkekeh geli.
"Sialan kau Lu..
Teman lagi susah kau malah tertawa. Benar benar tidak punya rasa kemanusiaan ", gerutu Demung Gumbreg.
"Sudah perjanjian, tak ada lagi tawar yang. Kawan-kawan, siang ini kita makan sepuasnya. Kawan kita, Gumbreg sedang syukuran menyambut hari kelahiran nya. Dia yang akan mentraktir kita semua ", ucap Tumenggung Ludaka dengan lantang. Semua orang langsung sumringah mendengar suara itu terkecuali dengan Demung Gumbreg.
Setelah cukup lama memasuki wilayah Kota Kadipaten Kembang Kuning, Panji Tejo Laksono menarik tali kekang kudanya di halaman sebuah warung makan yang cukup ramai dikunjungi oleh pelanggan nya. Segera pangeran muda dari Kadiri itu melompat turun dari kudanya diikuti oleh seluruh anggota rombongan. Mereka segera mengikat tali kekang kudanya pada geladakan kuda yang ada di pinggir halaman rumah makan itu.
Saat memasuki ruangan warung makan, mata Tumenggung Ludaka tertuju pada seorang lelaki bertubuh bungkuk yang sedang menikmati makanan nya di sudut ruangan. Segera dia menyikut perlahan pinggang Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda itu segera menoleh ke arah Tumenggung Ludaka. Dari isyarat yang di berikan, mata Panji Tejo Laksono langsung tertuju pada Wasesodirjo alias Pendekar Bongkok dari Goa Karang Pulut yang tengah asyik mengunyah daging ayam bakar pesanan nya.
Panji Tejo Laksono langsung berjalan menghampiri meja tempat Wasesodirjo alias Pendekar Bongkok dari Goa Karang Pulut itu berada.
Kedatangan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya tentu saja membuat Wasesodirjo terkejut bukan main, apalagi dengan santainya Panji Tejo Laksono menyapanya dengan ramah.
__ADS_1
"Kita bertemu lagi Pendekar Bongkok!"