
Nyi Urwasi yang baru saja mengalahkan Puspa Abang melihat sang suami dalam bahaya, mengurungkan niatnya untuk membunuh Puspa Abang yang sudah tidak berdaya. Gerakan cepat nya mengayunkan pedang berhasil menyelamatkan nyawa Ki Baratwaja dari Panji Tejo. Perempuan paruh baya itu segera membantu sang suami untuk berdiri tegak usai Panji Tejo Laksono mundur beberapa tombak ke belakang.
"Bedebah kecil ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, Nyi..
Sebaiknya kita gunakan gabungan Ajian Bayu Geni untuk menghabisi nya", ujar Ki Baratwaja sembari menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Aku mengerti Kakang..
Kalau kita telat menggunakan ilmu itu bisa bisa nyawa kita melayang di tangan pemuda itu", jawab Nyi Urwasi sembari menganggukkan kepalanya.
Ki Baratwaja dan Nyi Urwasi segera berdiri berjajar.Kedua tangan mereka memutar di depan tubuh lalu tapak tangan kiri Ki Baratwaja dan Nyi Urwasi segera menempel di antara tubuh mereka. Seberkas sinar merah kehitaman tercipta di kedua tubuh Sepasang Setan Gunung Wilis itu segera. Angin kencang menderu menerbangkan dedaunan kering di sekitar tempat mereka berdiri.
Bersama-sama mereka menghantamkan tangan kanannya ke arah Panji Tejo Laksono.
Whhhhuuuuggghhh...
Dua larik sinar merah kehitaman melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Pemuda tampan itu segera menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara menghindari sinar merah kehitaman yang mengincar nyawanya. Dengan ringan dia mendarat di atas tebing batu yang ada di samping kanan nya.
Blllaaammmmmmmm!!!
Hantaman sinar merah kehitaman menghajar sebongkah batu besar hingga batu sebesar kerbau itu meledak dan hancur berkeping keping. Kepulan asap tebal membumbung ke sekeliling tempat Ajian Bayu Geni menghantam.
Melihat Panji Tejo Laksono lolos, kembali Ki Baratwaja dan Nyi Urwasi menghantamkan kedua tangan mereka berdua ke arah Panji Tejo Laksono yang ada di atas tebing.
Whuuthhh...
Blllaaammmmmmmm!!
Tebing batu itu meledak dan sebongkah batu besar di gunakan sebagai pijakan kaki oleh Panji Tejo Laksono hingga batu besar itu melayang ke arah Ki Baratwaja dan Nyi Urwasi.
Serangan dadakan ini membuat Ki Baratwaja dan Nyi Urwasi segera berjumpalitan ke belakang dengan cepat.
Bhhuuuuummmmmmhh!!
Batu besar pijakan kaki Panji Tejo Laksono menghujam keras ke tanah tempat berdiri Sepasang Setan Gunung Wilis tadi dan meledak. Cipratan air dan rerumputan membuat tempat jatuhnya batu besar tempat pijakan kaki Panji Tejo Laksono tadi benar-benar berantakan.
Panji Tejo Laksono melompat mundur dengan bersalto beberapa kali ke belakang lalu mendarat dengan sempurna. Kali ini dia akan mengadu ilmu kesaktian dengan mereka. Kedua tangan Panji Tejo Laksono langsung menangkup di depan dada, seluruh tenaga dalam nya dia kerahkan untuk mengeluarkan Ajian Dewa Naga Langit. Mata pangeran muda ini terpejam sesaat sebelum terbuka kembali dengan manik mata yang berwarna merah. Seberkas sinar biru kemerahan melingkupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono.
Ki Baratwaja dan Nyi Urwasi segera menghantamkan kedua telapak tangan mereka berdua kearah Panji Tejo Laksono.
Dua larik sinar merah kehitaman melesat cepat mengincar nyawa Panji Tejo Laksono di sertai angin kencang menderu yang membuat bulu kuduk berdiri.
Whuuussshh!!
Panji Tejo Laksono menyambut serangan itu dengan hantaman tangan kanannya yang berwarna biru kemerahan.
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!
Ledakan dahsyat terdengar hingga tepi hutan yang jauhnya ribuan depa dari tempat pertarungan sengit antara mereka. Burung burung pun ikut ketakutan dan terbang karena kekagetan mereka.
Panji Tejo Laksono terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Seteguk darah segar mengalir keluar dari sudut bibirnya.
Di pihak lain, Ki Baratwaja dan Nyi Urwasi terpental jauh ke belakang. Darah segar muncrat keluar dari mulut mereka yang jatuh ke tanah dengan keras. Sepasang Setan Gunung Wilis yang selama ini terkenal digdaya harus mengakui keunggulan seorang anak muda yang sama sekali tidak terkenal di dunia persilatan.
Saat mereka masih kesakitan karena luka dalam parah yang mereka derita, Panji Tejo Laksono kembali melepaskan Ajian Dewa Naga Langit nya ke arah Sepasang Setan Gunung Wilis yang masih terkapar di atas tanah.
Whhhhuuuuggghhh..!!
Melihat keadaan mereka yang tengah terancam, Ki Baratwaja mengumpulkan seluruh tenaga dalam nya yang tersisa.
"Maafkan aku Nyi", ujar Ki Baratwaja sembari dengan cepat dia menyambar tubuh Nyi Urwasi yang masih tergolek tak berdaya di sampingnya. Dia segera melemparkan tubuh Nyi Urwasi ke arah serangan Panji Tejo Laksono.
Nyi Urwasi seakan tak percaya melihat suaminya sendiri tega menjadikan nya tumbal untuk melarikan diri.
Blllaaammmmmmmm!!!
Tubuh Nyi Urwasi hancur berantakan karena telak di hajar Ajian Dewa Naga Langit yang di lepaskan oleh Panji Tejo Laksono. Sedangkan Ki Baratwaja memanfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri.
Melihat gelagat mencurigakan itu, Panji Tejo Laksono menggunakan Ajian Sepi Angin nya dan mengejar Ki Baratwaja yang meninggalkan gelanggang pertarungan.
__ADS_1
Kecepatan tinggi Ajian Sepi Angin yang di miliki Panji Tejo Laksono benar benar mengagumkan. Hanya dua kali tarikan nafas, Ki Baratwaja sudah terkejar.
Dengan satu hentakan keras, Panji Tejo Laksono mencabut pedang nya.
Pangeran muda itu langsung menghantamkan tapak tangan kiri nya yang berwarna merah menyala seperti api pertanda Ajian Tapak Dewa Api sudah di rapal. Selarik sinar merah menyala berhawa panas menyengat menerabas cepat kearah Ki Baratwaja.
Shhiiiuuuuuuttttt!!
Serangan cepat itu langsung membuat Ki Baratwaja menjatuhkan diri nya ke tanah untuk menghindar. Dia berguling dua kali lalu hendak melompat untuk melanjutkan pelarian nya.
Namun rencananya tinggal rencana.
Di saat yang bersamaan, Panji Tejo Laksono yang gerakannya secepat kilat muncul di hadapan nya dan membabatkan pedang bilah dua warna nya kearah leher Ki Baratwaja.
Whhhhuuuuggghhh..
Chhrrrraaaaaassss!!!
Serangan yang begitu cepat langsung memenggal kepala Ki Baratwaja. Darah segar menyembur keluar dari tubuh Ki Baratwaja sedangkan kepalanya menggelinding ke tanah dengan mata melotot lebar seakan tak percaya bahwa hari ini hidupnya berakhir di tangan seorang pemuda yang tak punya nama di dunia persilatan.
Sisa sisa anggota Setan Gunung Wilis langsung berhamburan menyelamatkan diri setelah melihat kematian pimpinan mereka.
Panji Tejo Laksono mengambil bendera Pakuwon Sukowati dan membungkus kepala Ki Baratwaja.
"Maafkan aku karena terpaksa menggunakan kepala mu sebagai penukar nyawa kawan ku", ucap Panji Tejo Laksono yang segera berdiri sambil menenteng bungkusan kain yang masih mengeluarkan darah.
Puspa Putih segera memerintahkan kepada 2 orang prajurit nya untuk melaporkan hasil akhir penyerbuan itu pada Dewi Ambarwati. Dua orang prajurit itu langsung melompat ke atas kuda nya dan menggebrak hewan tunggangan itu menuju ke arah Kota Pakuwon Sukowati.
Dari pertarungan itu, sebanyak 60 orang anggota Setan Gunung Wilis terbunuh sedangkan dari pihak prajurit Pakuwon Sukowati 40 orang kehilangan nyawa. Puspa Putih segera memerintahkan kepada para prajurit Pakuwon Sukowati mengumpulkan mayat mayat anggota Setan Gunung Wilis untuk di bakar beserta pemukiman mereka. Yang lain mengambil harta benda hasil rampokan mereka untuk di bawa ke Pakuwon Sukowati.
Sebagian lagi membuat kuburan untuk para prajurit yang terbunuh pada pertarungan siang hari itu.
Asap hitam tebal membumbung tinggi ke udara bersamaan si jago merah yang melahap pemukiman kecil yang menjadi markas Setan Gunung Wilis. Panji Tejo Laksono menatap ke arah tempat itu sejenak sebelum melompat ke atas kuda nya bersama para prajurit Pakuwon Sukowati. Mereka segera meninggalkan tempat itu dengan membawa harta benda dan kepala Ki Baratwaja.
Begitu memasuki kota Pakuwon Sukowati, rombongan pasukan Pakuwon Sukowati mendapatkan sambutan yang meriah. Para warga kota berjajar di pinggir jalan raya memberikan jalan untuk mereka yang baru saja menumpas kelompok perampok yang meresahkan masyarakat sambil mengelu-elukan mereka. Meski mendung tebal menggelayut di langit, namun tidak menyurutkan semangat mereka untuk menyambut kedatangan para prajurit itu.
Begitu memasuki istana Pakuwon, rombongan itu langsung di sambut oleh Akuwu Ranawijaya yang masih berusia 1 dasawarsa. Di sampingnya, Dewi Ambarwati selaku wali sang Akuwu, nampak tersenyum penuh arti saat menatap Panji Tejo Laksono yang turun dari kudanya sembari menenteng bungkusan berlumur darah.
Ini kepala Ki Baratwaja, pemimpin kelompok Setan Gunung Wilis", ujar Panji Tejo Laksono sembari meletakkan bungkusan yang berisi kepala Ki Baratwaja ke depan Dewi Ambarwati.
Seorang prajurit penjaga segera membuka bungkusan itu setelah mendapat isyarat tangan dari Dewi Ambarwati.
Puas melihat potongan kepala itu, Dewi Ambarwati segera berucap lantang.
"Malam ini akan di adakan pesta perjamuan di dalam istana ini, pendekar muda. Datanglah!
Besok pagi kau bisa bertemu dengan kawan mu sesuai janji ku", Dewi Ambarwati segera berbalik badan dan melangkah menuju ke dalam istana.
Meski tidak senang dengan keputusan Dewi Ambarwati, namun Panji Tejo Laksono tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan janda cantik beranak dua itu. Dia segera kembali ke rumah Ki Wiryo untuk membersihkan diri sembari menunggu waktu perjamuan makan yang sudah di rencanakan.
Siang segera berganti malam. Rasa dingin angin yang berhembus dari Gunung Wilis membuat udara terasa lebih dingin dari biasanya. Gerimis yang turun membasahi wilayah Kota Pakuwon Sukowati semakin membuat suasana sepi dan sunyi.
Sebuah kereta kuda berhenti di depan istana Pakuwon setelah melewati pintu gerbang istana. Kereta kuda itu adalah kendaraan yang disiapkan oleh Dewi Ambarwati untuk menjemput Panji Tejo Laksono di kediaman Ki Wiryo.
Pintu kereta kuda terbuka dan seorang lelaki muda bertubuh tegap dengan wajah tampan bak Arjuna dalam pewayangan, turun dari sana. Meski hanya mengenakan pakaian biasa, namun aura kewibawaan dan ketampanan pemuda itu sama sekali tidak berkurang.
Dengan langkah kaki tegak, dia memasuki istana Pakuwon Sukowati.
Dua orang emban atau dayang istana yang menjadi penunjuk jalan, mengantar Panji Tejo Laksono masuk ke dalam sasana boga.
Di dalam sasana boga sendiri, ternyata hanya ada Dewi Ambarwati dan Puspa Abang serta Puspa Putih saja yang menunggu kedatangan Panji Tejo Laksono. Hal itu cukup mengherankan bagi sang pangeran muda.
"Silahkan duduk, pendekar muda..
Kau tidak perlu sungkan-sungkan", sambut Dewi Ambarwati sembari tersenyum simpul menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono.
"Aku berterimakasih kepada mu pendekar muda. Kau benar benar hebat. Sanggup mengalahkan Setan Gunung Wilis tanpa terluka sedikitpun", sambung Dewi Ambarwati segera setelah Panji Tejo Laksono duduk bersila di samping mereka.
"Tanpa bantuan dua orang mu ini dan para prajurit Sukowati, aku tidak bisa berbuat banyak Gusti Dewi", balas Panji Tejo Laksono.
__ADS_1
"Kau sungguh rendah hati..
Kalau begitu, mari kita nikmati makanan yang sudah di siapkan ini. Semoga rasanya tidak mengecewakan mu", sambut Dewi Ambarwati sembari tersenyum penuh arti.
Mereka berempat segera menyantap hidangan yang disajikan dengan lahap. Habis setengah piring makan, tiba tiba Panji Tejo Laksono ambruk tak sadarkan diri. Melihat itu, Dewi Ambarwati tersenyum lebar.
"Bawa dia ke Keputren, Puspa Abang Puspa Putih!
Cepatlah!!", ujar Dewi Ambarwati segera. Dua orang abdi setia nya itu hanya menghela nafas panjang sebelum mulai memapah tubuh Panji Tejo Laksono ke dalam Keputren.
Rupanya, di hidangan itu sudah di campurkan obat tidur tanpa bau yang banyak hingga Panji Tejo Laksono tidak sadar bahwa makanan yang dia makan itu sudah di racuni. Itu memang rencana Dewi Ambarwati untuk menaklukkan Panji Tejo Laksono. Hasrat terlarang Dewi Ambarwati benar benar membutakan mata dan hati janda cantik beranak dua itu.
Mata Panji Tejo Laksono perlahan terbuka saat merasakan sesuatu yang basah dan hangat tengah mencumbu leher dan dada nya. Setelah menggeliat perlahan, dia menemukan bahwa kaki dan tangan nya telah terikat pada ranjang tidur. Untung saja celana nya masih ada di tempat nya hingga dia hanya bertelanjang dada.
Seorang wanita cantik yang cukup berumur tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya tengah menggeluti nya dengan ******* nafsu dan nafas yang memburu.
"Gusti Dewi,
Apa yang sedang kau lakukan?
Mendengar suara Panji Tejo Laksono, Dewi Ambarwati menoleh ke arah wajah tampan sang pangeran muda itu sembari tersenyum penuh arti.
"Tentu saja bercumbu dengan mu, pendekar muda. Sejak pertama kali aku melihat mu, aku sudah jatuh hati padamu dan sangat ingin bercinta dengan mu.
Kalau kau tidak punya pengalaman, aku akan mengajari mu supaya kau menjadi lelaki sejati", jawab Dewi Ambarwati dengan genit menggoda.
"Ini tidak pantas dilakukan oleh seorang bangsawan seperti mu, Gusti Dewi..
Cepat lepaskan aku!", Panji Tejo Laksono mencoba untuk melepaskan diri dari ikatan tali yang mengikat pergelangan kaki dan tangan nya.
"Tidak usah mencoba untuk melepaskan diri dari ikatan ini, pendekar muda..
Nikmati saja apa yang akan kau terima", ujar Dewi Ambarwati sembari kembali mencumbu leher dan dada Panji Tejo Laksono. Perlahan tangan kanan janda beranak dua itu bergerak menuju sela paha Panji Tejo Laksono dan mengelus sesuatu yang ada di sana.
Panji Tejo Laksono sekuat tenaga menahan diri untuk tidak terbawa suasana namun sebagai lelaki, hasrat kelelakiannya mulai menguasai tubuhnya.
Saat kekuatan Panji Tejo Laksono menahan diri hampir sampai pada batasnya, sebuah ketukan keras terdengar dari pintu kamar tidur Dewi Ambarwati.
Thok thookkk thok thookkk!!
"Gusti Dewi, katiwasan Gusti...", ucap suara di luar pintu kamar dengan keras. Sepertinya itu adalah suara Puspa Putih.
Dewi Ambarwati mendengus keras lalu berteriak lantang.
"Sudah ku bilang untuk tidak menganggu ku malam ini, kenapa masih juga kau lakukan Puspa Putih?
Cepat katakan apa yang terjadi? Kalau tidak jangan salahkan aku jika aku menghukum mu", ujar Dewi Ambarwati sembari mendengus dingin.
"Mohon ampun Gusti Dewi,
Istana Pakuwon Sukowati di bakar orang Gusti Dewi. Api sudah membakar bangunan sisi barat", lapor Puspa Putih dengan nada terburu buru.
APPAAAAA??!!!
Mendengar laporan Puspa Putih, Dewi Ambarwati segera menyambar bajunya dan segera mengenakan nya. Usai berpakaian, Dewi Ambarwati segera mendekati Panji Tejo Laksono dan mencium pipi sang pangeran muda.
"Akan ku urus kau nanti"
Usai berkata demikian, Dewi Ambarwati segera bergegas keluar dari kamar tidur nya dan mengunci pintu kamar tidur dari luar.
Panji Tejo Laksono langsung memejamkan matanya sejenak lalu merapal mantra Ajian Ngrogoh Sukmo. Sukma Panji Tejo Laksono langsung keluar dari tubuhnya dan melihat keluar kamar. Dia segera mengganti tubuhnya dengan sesuatu yang dia temukan di luar kamar tidur Dewi Ambarwati dan bergegas keluar dari tempat itu menuju ke arah tempat Gayatri di kurung.
Gayatri yang masih terikat tali di dalam ruang penyekapan nya terlihat sedang tertidur saat sukma Panji Tejo Laksono datang. Sukma Panji Tejo Laksono langsung bersedekap tangan di depan dada hingga badan kasar nya kembali bersatu dengan sukma.
Merasakan sesuatu sedang melepaskan tali ikatan tangan nya, Gayatri yang di sumpal mulutnya langsung menoleh dan mendapati bahwa Panji Tejo Laksono sedang melepaskan tali. Usai terlepas dari ikatan, Gayatri langsung membuang kain yang menyumpal mulutnya.
"Kemana saja kau Taji?", tanya Gayatri sembari membersihkan sisa tali yang membelenggunya.
"Cerita nya panjang.
__ADS_1
Nanti aku ceritakan saat kita keluar dari sini", jawab Panji Tejo Laksono yang langsung menggelandang tangan Gayatri.
Mereka melesat ke arah luar istana.