Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Adu Jago


__ADS_3

"Tunggu dulu..


Sebelum bertarung, akan lebih seru jika ada hadiah untuk setiap pemenang nya. Bagaimana menurut Gusti Putri Uttejana?", Adikara menoleh ke arah Putri Uttejana sembari tersenyum penuh arti.


'Dasar licik.. Dia ingin memanfaatkan aku untuk kepentingannya sendiri. Baiklah, aku akan ikuti permainan mu sampai sejauh mana kau akan berulah, Adikara..


Lagipula aku penasaran dengan kemampuan pengawal Rara Wandansari ini', batin Putri Uttejana.


"Aku sepakat dengan mu, Pangeran Adikara..


Kalau pengawal pribadi mu yang menang, apa yang kau inginkan?", ucap Putri Uttejana segera.


"Hehehehe, kalau Mpu Samparangin yang menang, aku ingin Rara Wandansari menjadi istri ku Gusti Putri", seringai lebar terukir di wajah Adikara.


"Aku tidak setuju!! Aku tidak mau menjadi bahan taruhan..!", teriak Rara Wandansari lantang.


Tidak suka dengan sikap Rara Wandansari yang membantah permintaan itu, Putri Uttejana segera menoleh ke arah Mpu Lodhang sang Akuwu Carat dengan pandangan mata penuh ancaman. Mpu Lodhang yang paham betul dengan sikap Putri Maharaja Jenggala itu segera mendelik ke arah Rara Wandansari.


"Wandansari..!!


Apa begini cara mu bersikap di depan Gusti Putri Uttejana ha? Romo tidak mendidik mu untuk menjadi perempuan bangsawan yang tidak tahu tata krama..!!", Mpu Lodhang kesal dengan sikap Rara Wandansari. Dia khawatir jika Putri Uttejana membatalkan kesepakatan yang telah di buat dengan nya hanya karena sikap Rara Wandansari yang membandel.


"Tapi Kanjeng Romo..."


"Tidak ada tapi-tapian. Kau patuh saja atau aku terpaksa mengusir mu dari istana Pakuwon Carat ini", ancam Mpu Lodhang yang seketika membuat Rara Wandansari terdiam.


Di sisi lain, Song Zhao Meng yang berdiri di samping Dyah Kirana langsung mengepalkan tangannya erat-erat. Teringat dia sikap orang-orang istana Kaifeng saat dia masih tinggal di sana.


"Dasar penindas!!", gerutu Song Zhao Meng lirih namun masih terdengar di telinga Dyah Kirana.


"Biarkan saja, Kangmbok Wulandari.. Aku yakin Kakang Tejo akan membalikkan keadaan. Tahan emosi mu", bisik Dyah Kirana perlahan. Song Zhao Meng mengangguk mengerti sambil terus menatap ke arah pembicaraan mereka.


Melihat sikap Rara Wandansari yang diam, Putri Uttejana tersenyum tipis. Dia kembali mengalihkan pandangannya pada Adikara dan para pengikutnya.


"Aku akan memastikan bahwa kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan jika pengawal pribadi mu yang menang Adikara.


Tapi bagaimana jika pengawal mu yang kalah? Kau juga harus memberikan hadiah kepada pemenangnya bukan?".


Adikara langsung tersenyum lebar ketika mendengar ucapan ini. Baginya, kekalahan Mpu Samparangin jelas tidak mungkin.


"Aku akan memberikan 300 kepeng emas kepada Rara Wandansari dan meminta maaf kepada Akuwu Mpu Lodhang di depan kalian semua.


Apa itu sudah cukup, Gusti Putri?", Adikara tersenyum lebar.


"Ku rasa itu sudah cukup adil. Sekarang kalian bisa mulai pertandingan nya", ucap Putri Uttejana segera.


Semua orang segera mundur ke tepi halaman pendopo pisowanan Pakuwon Carat setelah Putri Uttejana berkata demikian. Menyisakan Panji Tejo Laksono dan Mpu Samparangin disana. Suasana langsung hening dan berhawa tegang seketika terutama Rara Wandansari yang nasibnya di pertaruhkan.


"Anak muda..


Aku tidak ingin dikatakan sebagai penindas kaum muda. Ku berikan kesempatan pada mu untuk menyerang ku 3 jurus lebih dulu. Setelah itu kita akan bertarung dengan setara", ucap Mpu Samparangin sambil tersenyum tipis seperti merendahkan martabat Panji Tejo Laksono.


"Baiklah Kakek tua..


Aku tidak akan segan-segan untuk melawan mu. Bersiaplah!!", Panji Tejo Laksono segera mempersiapkan kuda-kuda ilmu silatnya.


Mpu Samparangin segera menarik tangan kiri nya ke samping pinggang sambil terkepal erat. Kedua kakinya membuka lebar dan sedikit tertekuk ke bawah. Tangan kanannya segera maju ke arah Panji Tejo Laksono sembari terbuka. Jari jemari tangan kanan kakek tua itu segera terbuka dan bergerak sebagai isyarat kepada Panji Tejo Laksono untuk maju menyerangnya.


Panji Tejo Laksono menghirup nafas panjang sebelum melesat cepat kearah Mpu Samparangin. Kecepatan gerak tinggi sang pangeran muda dari Kadiri ini sungguh luar biasa. Dia langsung menggunakan Ajian Sepi Angin nya.


Whhuuusshhh!!


Mpu Samparangin terkejut bukan main melihat Panji Tejo Laksono yang muncul tiba-tiba di hadapannya sembari menghantamkan tangan kanannya ke arah dada. Pimpinan Perguruan Pagar Bumi ini segera menyilangkan kedua tangan nya ke depan dada untuk menahan hantaman sang pangeran.


Dhhaaaassshhh!!!


Kuatnya tenaga dalam yang dimiliki oleh sang pangeran muda dari Kadiri ini sampai membuat Mpu Samparangin tersurut mundur beberapa langkah ke belakang.

__ADS_1


Belum hilang rasa keterkejutannya, Panji Tejo Laksono sudah memburu Mpu Samparangin dengan keras. Di depan sang pimpinan Perguruan Pagar Bumi, Panji Tejo Laksono merubah gerakan tubuhnya dan menyapu kaki kiri Mpu Samparangin yang sedikit goyah.


Bhhhuuuuuuggggh!!.


Tubuh Mpu Samparangin oleng ke kiri. Panji Tejo Laksono langsung menggunakan tangan kiri sebagai tumpuan dan kembali melayangkan tendangan keras kaki kanan ke arah perut lelaki tua berjanggut lebat itu dengan cepat.


Dhiiieeeessshh!!


Oouuugghhhhhh!!


Mpu Samparangin melengguh tertahan. Tubuh pimpinan Perguruan Pagar Bumi ini mencelat ke belakang dan menyusruk tanah halaman balai pisowanan Pakuwon Carat. Bajunya kotor penuh tanah dan rumput.


Namun lelaki tua itu segera bangkit dari tempat jatuhnya. Saat Panji Tejo Laksono hendak bergerak lagi, tangannya segera bergerak maju ke depan Panji Tejo Laksono sambil berkata, "Tunggu dulu anak muda!".


"Apalagi kakek tua? Ini masih satu jurus..


Katanya tadi kau memberiku kesempatan selama tiga jurus..", ucap Panji Tejo Laksono yang menghentikan pergerakan nya.


"Huhhhhh, dasar kurang ajar!!


Kali ini tidak ada lagi kata mengalah untuk mu. Aku akan melawan mu dengan kekuatan penuh ku", ucap Mpu Samparangin sambil mengerahkan tenaga dalam nya. Tiga hantaman Panji Tejo Laksono tadi sudah cukup untuk menyadarkan nya bahwa pemuda yang sedang dia hadapi bukanlah pendekar muda sembarangan.


"Kakek tua, apa kau ingin ingkar terhadap omongan mu baru saja?", Panji Tejo Laksono tersenyum tipis.


"Diam kau keparat!!", sambil berseru keras, Mpu Samparangin dengan cepat melesat ke arah Panji Tejo Laksono.


Dengan penuh amarah dan nafsu membunuh karena merasa di permalukan, Mpu Samparangin segera melayangkan serangan cepat bertubi-tubi kearah Panji Tejo Laksono.


Whhhuuutthh whhhuuutthh..


Dhasshhh dhasshhh!!


Dengan tenang, Panji Tejo Laksono meladeni permainan silat pimpinan Perguruan Pagar Bumi ini. Saling serang dan bertahan ilmu silat tangan kosong menjadi pemandangan seru di halaman pendopo pisowanan Pakuwon Carat.


Putri Uttejana mengelus dagunya sembari terus mengamati jalannya pertandingan.


'Pendekar muda ini tidak hanya cepat tapi juga memiliki pemahaman yang tinggi dalam ilmu silat. Siapa dia? Aku tidak pernah mendengar nama pesilat muda dengan kemampuan beladiri setinggi ini sebelumnya'.


Di lain sisi, Rara Wandansari yang sempat ketakutan setengah mati akan menjadi istri Adikara mulai tersenyum lebar ketika melihat Panji Tejo Laksono sanggup menghadapi serangan Mpu Samparangin.


Jika Rara Wandansari bisa tersenyum lebar, lain halnya dengan Adikara. Putra Adipati Adinata dari Kadipaten Hujung Galuh ini mulai was-was karena dia melihat Panji Tejo Laksono sama sekali tidak kerepotan mengatasi setiap serangan cepat Mpu Samparangin. Bahkan pemuda tampan itu telah beberapa kali mendaratkan hantaman dan tendangan keras ke tubuh jagoan nya.


"Mpu Samparangin!!


Jangan main-main lagi! Cepat kalahkan dia!!", teriak Adikara lantang.


Mpu Samparangin segera bersalto mundur dua kali ke belakang. Teriakan keras Adikara membuat pimpinan Perguruan Pagar Bumi itu mendengus geram. Dia yang penasaran dengan kemampuan beladiri tangan kosong milik Panji Tejo Laksono sebenarnya ingin lebih lama mengadu ilmu dengan sang pangeran muda namun teriakan keras dari Adikara memaksanya untuk segera mengakhiri pertarungan dengan pemuda itu.


"Bocah, aku akui kau memang hebat.


Sekarang cobalah untuk mempertahankan keunggulan mu dengan menghadapi ilmu kanuragan ku", setelah berkata demikian, Mpu Samparangin segera menyilangkan kedua tangan nya ke depan dada. Kedua tangan membentuk cakar.


Mulut Mpu Samparangin komat-kamit merapal mantra ajian andalannya. Perlahan seluruh jari jemari dan telapak tangannya memancarkan cahaya merah menyala bersemu hitam yang berhawa panas dan berbau busuk menyengat. Ini adalah bentuk dari Ajian Cakar Dewa Kematian yang selalu menjadi ilmu andalannya.


Secepat kilat dia segera mengayunkan cakar tangan kanan nya ke arah Panji Tejo Laksono. Lima larik cahaya merah kehitaman dengan cepat menerabas ke arah Panji Tejo Laksono.


Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh!!


Panji Tejo Laksono yang menggunakan Ajian Sepi Angin segera melesat cepat menghindari lima larik cahaya merah kehitaman itu. Akibatnya sebatang pohon sawo di belakangnya menjadi korban keampuhan Ajian Cakar Dewa Kematian.


Blllaaammmmmmmm..


Krraatttttaaaaaaakkkk brruuaaaakkkkkkkh!!


Pohon besar itu langsung meledak dan terbakar lalu roboh usai Ajian Cakar Dewa Kematian menghantamnya. Melihat lawannya mampu lolos dengan mudah, kembali Mpu Samparangin mengayunkan kedua cakar tangan nya ke arah Panji Tejo Laksono.


Shhheeetttthhh shhrreeettthhh!

__ADS_1


Blllaaaaaarrr blllaaammmmmmmm!!!


Dua ledakan dahsyat beruntun terdengar. Panji Tejo Laksono yang kembali lolos dari maut, langsung melesat cepat kearah Mpu Samparangin dengan gerakan memutari tempat pimpinan Perguruan Pagar Bumi itu berada.


Mpu Samparangin yang mulai kebingungan mencari sosok Panji Tejo Laksono saking cepatnya gerakan sang pangeran muda, dengan ngawur menghantamkan serangan ke segala arah. Akibatnya, lobang lobang sebesar kerbau bermunculan di halaman pendopo pisowanan Pakuwon Carat. Debu dan asap beterbangan dimana-mana.


Saat melihat celah pertahanan Mpu Samparangin yang terbuka, Panji Tejo Laksono tidak menyia-nyiakan kesempatan. Secepat kilat dia menerjang maju ke arah Mpu Samparangin sambil menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah kekuningan Ajian Tapak Dewa Api.


Munculnya serangan tiba-tiba itu tentu saja membuat Mpu Samparangin gelagapan. Tak ada ruang untuk menghindar, dia terpaksa mengadu ilmu kesaktian nya dengan hantaman Ajian Tapak Dewa Api.


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan keras terdengar saat Ajian Tapak Dewa Api beradu dengan Ajian Cakar Dewa Kematian. Mpu Samparangin terpelanting jauh ke belakang dan jatuh bergulingan di tanah. Tubuh pimpinan Perguruan Pagar Bumi itu baru berhenti tepat di depan Adikara dan para pengikutnya. Seketika itu juga, dia langsung muntah darah segar.


Sedangkan Panji Tejo Laksono hanya terdorong mundur dua langkah ke belakang saja. Sembari menghela nafas panjang, dia menatap ke arah Adikara dan para pengikutnya sambil berkata, " Apa masih mau di teruskan?".


Belum sempat Adikara menjawab, Putri Uttejana sudah lebih dulu angkat bicara.


"Sudah cukup!!


Mpu Samparangin bukan lawan mu pendekar muda. Dalam pertarungan ini, kau adalah pemenang nya", ucap Putri Uttejana segera.


"Tapi Gusti Putri.....", Adikara tak jadi meneruskan omongan nya karena Putri Uttejana sudah lebih dulu mendelik tajam ke arah nya. Meski dengan hati dongkol setengah mati, Adikara segera menoleh ke arah Rara Wandansari.


"Dalam adu jago kali ini, kau pemenangnya Wandansari", ucap Adikara sambil menepuk tangannya dua kali.


Dua orang pengikut Adikara segera melangkah maju sambil membawa sebuah peti kayu kecil. Di depan semua orang, keduanya segera membuka peti kayu kecil itu dan semua orang melihat ratusan kepeng emas ada di sana. Setelah itu, keduanya segera mundur.


"Mpu Lodhang, aku minta maaf pada mu karena sudah membuat kekacauan di tempat mu. Aku permisi", setelah berkata seperti itu, Adikara segera berbalik badan dan meninggalkan tempat itu. Bondol dan para murid Perguruan Pagar Bumi segera memapah guru mereka, menyusul Adikara yang sudah lebih dulu pergi.


Rara Wandansari, Bahuwirya, Ki Jatmika, Dyah Kirana dan Song Zhao Meng segera mengerubungi Panji Tejo Laksono begitu mereka telah pergi.


"Wah Pendekar Tejo memang hebat..


Orang sombong itu akhirnya tak punya muka juga sekarang hehehehe ", puji Bahuwirya sambil memperagakan cara Panji Tejo Laksono bertarung.


"Sudah kau jangan bertingkah aneh aneh, Bahuwirya..


Pendekar, aku tidak tahu lagi bagaimana cara untuk membalas kebaikan mu yang sudah berulang kali menolong ku. Aku hanya bisa menyediakan tempat bermalam untuk mu di tempat ini. Mohon pendekar tidak menolaknya", ucap Rara Wandansari sembari membungkuk hormat kepada Panji Tejo Laksono.


Dyah Kirana yang sedari tadi terus mengawasi gerak-gerik Putri Uttejana, segera berbisik di telinga Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda ini mengangguk mengerti.


"Baiklah, Gusti Putri..


Aku akan menerima tawaran mu. Malam ini tolong sediakan sedikit siddhu untuk ku", balas Panji Tejo Laksono sambil tersenyum penuh arti.


Waktu dengan cepat berganti. Siang dengan cepat berganti sore yang dengan cepat munculkan senja di cakrawala barat yang menjadi penanda bahwa sebentar lagi malam akan segera tiba.


Menjelang senja, Putri Uttejana berpamitan pada Akuwu Mpu Lodhang untuk pulang ke Kotaraja Kahuripan. Bersama dengan beberapa pengawal pribadi nya, mereka meninggalkan istana itu.


Setelah sampai di luar batas Kota Pakuwon Carat, Putri Uttejana segera memerintahkan kusir kereta kuda yang di tumpangi nya untuk berhenti. Seorang dayang kepercayaannya segera menghormat pada sang putri.


"Awasi gerak-gerik pendekar muda itu, Keswari..


Jika kau tahu sesuatu, cepat laporkan kepada ku", perintah Putri Uttejana segera.


"Sendiko dawuh Gusti Putri", setelah berkata demikian, dayang istana Kahuripan yang bernama Keswari ini segera turun dari kereta kuda. Rombongan itu segera meninggalkan tempat itu, meninggalkan Keswari yang segera melesat cepat kearah Istana Pakuwon Carat. Sebuah tudung merah darah segera membungkus kepalanya.


Malam pun hadir menyelimuti seluruh dunia. Cahaya bulan separuh yang menggantung di langit timur menjadi penerang malam yang gelap gulita itu.


Di serambi balai tamu kehormatan, Panji Tejo Laksono bersama Dyah Kirana dan Song Zhao Meng sedang asyik berbincang sembari menikmati siddhu yang di sediakan oleh Rara Wandansari. Sepasang mata terus memperhatikan mereka dari jarak yang cukup jauh.


Dari pembicaraan mereka, si pemilik sepasang mata yang menguping pembicaraan mereka ini akhirnya tahu bahwa Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya berencana untuk berangkat ke Kahuripan esok hari.


Setelah cukup puas menguping, si pemilik sepasang mata yang tak lain adalah Keswari si abdi setia Putri Uttejana ini pun perlahan beringsut menjauhi tempat itu.


'Akan ku laporkan ini pada pimpinan'

__ADS_1


__ADS_2