Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Stempel Giok Naga


__ADS_3

Dua orang anggota Klan Shui yang berhasil selamat langsung mengerahkan seluruh kemampuan mereka untuk melarikan diri. Mereka tidak mau mati konyol sia-sia.


Sementara itu, para penyerbu yang menyamar menjadi anggota kesenian barongsai akhirnya berhasil di tumpas, setelah perusuh terakhir tewas bersimbah darah oleh pedang Luh Jingga.


Gubernur Wu Ming pun menarik nafas lega karena lolos dari upaya pembunuhan. Dia segera mendekati Panji Tejo Laksono dan Pendeta Wang Chun Yang.


"Pendeta Wang,


Aku mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan yang kau berikan", Gubernur Wu menghormat pada Pendeta Wang Chun Yang sebagai tanda terima kasih.


"Bukan aku saja yang membantu mu, Gubernur Wu.


Ada pendekar Thee dan kawan kawan nya juga yang membantu mu mengusir para perusuh ini. Bahkan jika tidak ada bantuan tenaga darinya, aku tidak yakin bisa mudah mengalahkan para pembina itu", balas Pendeta Wang Chun Yang sembari menoleh ke arah Panji Tejo Laksono yang tengah membersihkan pakaian nya dari debu.


Wu Xiao Rong langsung mendekati Panji Tejo Laksono yang di temani oleh Luh Jingga membersihkan bajunya, " Pendekar Thee.. Aku mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan banyak yang kau berikan pada Paman ku".


Luh Jingga yang kurang suka dengan perilaku Wu Xiao Rong mendengus dingin meski tidak memahami apa yang diucapkan oleh keponakan Gubernur Wu Ming itu namun melihat wajah Wu Xiao Rong yang tersenyum manis sudah di pastikan bahwa dia sedang memuji Panji Tejo Laksono sedangkan sang pangeran muda sendiri hanya tersenyum tipis.


"Aku hanya membantu Pendeta Wang, Nona Muda..


Kalau itu juga termasuk membantu Gubernur Wu, maka itu hanya kebetulan semata".


Mendengar perkataan Panji Tejo Laksono, Wu Xiao Rong nampak kecewa dengan sikap Panji Tejo Laksono. Tapi sebagai putri bangsawan, Wu Xiao Rong dengan cepat tersenyum tipis untuk menutupinya.


Karena kejadian ini, Gubernur Wu Ming memutuskan untuk kembali ke Kediaman Gubernur Shou. Meski Feng Yin berusaha keras untuk meminta Gubernur Wu Ming tetap di tempat itu, namun karena Gubernur Wu masih merasa tidak nyaman dengan suasana di Desa Danau Naga, dia tidak mengindahkan permintaan Kepala Desa Feng. Malahan Gubernur Wu Ming mengajak rombongan Panji Tejo Laksono termasuk Huang Lung dan Pendeta Wang Chun Yang untuk datang ke kota Shou sebagai tanda ucapan terimakasih atas bantuan mereka. Wang Chun Yang pun tak keberatan dengan keinginan Gubernur Wu Ming karena rombongan Panji Tejo Laksono membutuhkan surat jalan mereka di stempel merah oleh Gubernur Wu.


Siang itu juga, rombongan Panji Tejo Laksono pun bertolak dari Desa Danau Naga menuju ke arah Kota Shou bersama para prajurit Gubernur Wu Ming.

__ADS_1


Saat sore menjelang tiba, mereka sampai di Kota Shou. Kota besar di tepi Sungai Huai ini nampak indah dengan pemandangan alam yang menakjubkan.


Karena anggota rombongan ini terlalu banyak, maka Gubernur Wu menyewakan sebuah penginapan besar di dekat Istana Gubernur Wu sebagai tempat peristirahatan untuk Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan. Penginapan besar berlantai dua ini nampak indah dengan hiasan kaligrafi huruf Tiongkok dan tiang penyangga yang di cat warna merah.


Tentu saja kedatangan Panji Tejo Laksono menarik perhatian para pengunjung lain yang ada di penginapan yang juga merupakan tempat makan bagi sejumlah pengelana dan orang orang yang kebetulan singgah sebentar untuk mengisi perut.


Diantaranya adalah beberapa orang berpakaian merah dan hijau. Salah satu diantaranya adalah seorang lelaki berpakaian warna hijau di lengan kanan dan putih di lengan kiri. Usia orang ini tidak kelihatan karena dia memakai riasan wajah tebal dan bibir hitam, jelas dia seorang lelaki tapi bergaya kemayu seperti seorang perempuan. Mata orang itu terus menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan yang tengah berbincang hangat dengan Gubernur Wu Ming dan Wu Xiao Rong.


"Xiao Xing,


Apa yang membuat mu terus menatap ke arah orang muda itu? Apa kau mengenal nya?", tanya seorang lelaki bertubuh tinggi gempal dengan kulit hitam. Kepalanya separuh botak dan rambut yang tersisa di biarkan memanjang begitu saja. Baju hampir sama seperti lelaki kemayu tadi namun hanya beda warna. Dia menggunakan kain berwarna merah pada baju sebelah kanannya.


"Kau tidak perlu ikut campur dalam urusan ku, Xiong Hu. Mau aku menatap nya, mencekiknya, membunuhnya kau tetap tidak berhak ikut campur..


Urus saja urusan mu sendiri", Xiao Xing mengalihkan pandangannya pada kawannya itu dengan cepat. Sepertinya dia kurang suka dengan sikap lelaki bertubuh gempal yang di panggil dengan sebutan Xiong Hu itu.


"Huh, dasar banci...


"Xiong Hu, Si Dewa Beruang Hitam!


Kalau kau masih ingin selamat, sebaiknya kau jaga baik baik mulut mu! Jika tidak, aku tidak akan segan segan untuk membunuh mu dengan racun ku!", Xiao Xing melotot garang ke arah Xiong Hu. Dia mulai marah pada kawan nya ini.


"Coba saja kalau kau berani!


Apa kau pikir karena kau punya julukan Racun Hijau maka aku takut pada mu? Di Sekte Bendera Tujuh Warna, Bendera Hijau yang kau pimpin tidak lebih baik dari Bendera Merah ku, jadi tidak perlu mengancam ku dengan racun mu, Xiao Xing!", balas Xiong Hu sembari mendelik tajam ke arah lelaki kemayu itu.


Hampir saja mereka bertarung hanya karena adu mulut yang tidak penting. Ya, mereka berdua adalah 2 tetua yang memimpin masing masing bendera pada Sekte Bendera Tujuh Warna. Keduanya memang terkenal tidak alur dan sering mengadu ilmu beladiri.

__ADS_1


Seorang perempuan cantik berpakaian serba putih, langsung mendekati mereka berdua.


"Apa kalian tidak bisa bersikap dewasa sedikit?


Dimana pun tempat nya selalu ribut karena hal kecil. Kalian ini merusak citra Sekte Bendera Tujuh Warna saja", mendengar ucapan si wanita cantik itu, Xiong Hu dan Xiao Xing langsung terdiam.


"Ingat, tugas kita belum selesai! Kalau sampai ketua tahu tugas kita gagal hanya karena sikap kekanak-kanakan kalian, bisa kalian bayangkan betapa murkanya dia", imbuh perempuan cantik berbaju putih itu dengan nada penuh ancaman.


Perempuan cantik itu adalah juga salah satu pimpinan Sekte Bendera Tujuh Warna. Dia adalah Dai Ruo Ruo, Si Dewi Tendangan Kilat dari Bendera Putih. Kali ini dia di tugaskan oleh Ketua Sekte Bendera Tujuh Warna, Pang He untuk mengejar pembawa stempel giok naga milik Kaisar Song terdahulu yang sempat di curi oleh seorang maling yang ingin menggagalkan rencana penobatan Kaisar Huizong beberapa waktu yang lalu. Meski desas-desus yang ada mengatakan, stempel giok naga berhasil di temukan namun setelah kabar munculnya stempel giok naga di wilayah selatan membuat semua orang berupaya untuk merebut stempel giok naga yang menjadi bukti kekuasaan Dinasti Song.


Yang tidak Panji Tejo Laksono ketahui, semua orang di dunia persilatan tahu bahwa stempel giok naga ada di tangan Huang Lung. Ini adalah penyebab utama kenapa banyak orang yang ingin membunuhnya untuk merebut stempel giok naga. Ada beberapa pihak memang yang melindungi Huang Lung diam diam seperti Sekte Macan Besi yang mendapat perintah dari Kasim Tong Guan yang merupakan tangan kanan Kaisar Huizong.


Namun beberapa pihak lain justru ingin merebut Stempel giok naga ini dengan segala cara, termasuk Sekte Bendera Tujuh Warna dan Aliran Ming yang ingin mendapatkan keuntungan dari kepemilikan stempel giok naga ini. Para keturunan raja yang lain pasti bersedia mengeluarkan banyak uang untuk bisa memiliki benda yang dianggap sebagai lambang kekuasaan tertinggi pada Dinasti Song ini.


Huang Lung sendiri membawa stempel giok naga setelah mengorbankan banyak nyawa kawan-kawannya yang terbunuh dalam pertarungan di Hutan Kematian. Dia adalah satu-satunya orang yang berhasil lolos dari maut dalam kepungan orang orang yang menginginkan stempel giok naga.


Paviliun Willow Hijau adalah milik Kasim Tong Guan, hingga saat Huang Lung menunjukkan lencana dari Kasim Tong Guan, Huang Lung diijinkan untuk masuk ke dalam tempat itu. Inilah rahasia terbesar Huang Lung yang tidak di ketahui oleh Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya.


"Ruo Ruo, kau tidak perlu mengingatkan kita pada tugas utama kita. Aku Xiong Hu selalu patuh pada perintah Ketua Pang..


Sekarang kita tahu dimana gadis itu berada.


Apa yang sebaiknya kita lakukan?", tanya Xiong Hu sembari menatap ke arah Dai Ruo Ruo segera.


"Huhhhhh, rupanya kau masih juga memandang pada Ketua kita.


Kita awasi terus mereka. Jangan sampai lolos sekejap mata pun dari pengawasan kita. Nanti malam, kita akan bergerak", ujar Dai Ruo Ruo setengah berbisik pada Xiong Hu dan Xiao Xing sembari menunjuk ke arah Huang Lung.

__ADS_1


Panji Tejo Laksono yang melihat mereka berbisik-bisik setelah Dai Ruo Ruo menunjuk ke arah Huang Lung, langsung mendengus perlahan.


'Ada yang harus di waspadai rupanya '


__ADS_2