Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou


__ADS_3

Suara langkah kaki terdengar mendekati tempat Panji Tejo Laksono. Wanyan Lan buru buru bergegas pergi bersembunyi di balik lorong pintu lantai dua Penginapan Bunga Naga untuk bersembunyi untuk melihat siapa yang datang.


Suara langkah kaki ini terdengar semakin mendekat dan dari cahaya lilin yang menjadi penerang senja itu, Wanyan Lan dapat melihat jelas siapa yang berkunjung ke arah kamar tidur Panji Tejo Laksono. Putri Song Zhao Meng berjalan menuju ke tempat itu disertai Qiao Er yang setia menemani nya.


Satu isyarat tangan dari Song Zhao Meng membuka Qiao Er mengerti. Pelayan itu segera mendorong pintu kamar tidur Panji Tejo Laksono. Kemunculan Qiao Er langsung membuyarkan suasana romantis antara Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga. Pasangan ini segera menoleh ke arah pintu kamar.


Di belakang Qiao Er, muncul wajah cantik Song Zhao Meng yang tersenyum manis ke arah Panji Tejo Laksono.


"Kakak Thee,


Disini kau rupanya. Aku ingin mengajak mu berkeliling kota Luoyang, tapi ini sudah cukup sore untuk jalan jalan", sapa Song Zhao Meng sembari berjalan mendekati Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga. Tanpa menunggu persetujuan, Song Zhao Meng segera duduk di samping kanan Panji Tejo Laksono dan menyenderkan kepalanya di bahu kanan sang pangeran muda.


Qiao Er langsung menutup pintu kamar tidur Panji Tejo Laksono dari luar dan bergegas meninggalkan tempat itu.


"Gusti Pangeran, katakan pada nya..


Kalau dia sudah mau berbagi hati dengan para istri mu, sebaiknya dia bisa menghargai waktu yang sudah di sepakati. Kalau sikapnya seenak jidat nya seperti ini, bukan cuma aku yang akan kesal tapi Ayu Ratna dan Gayatri pun tidak akan tinggal diam", ujar Luh Jingga dengan nada ketus.


"Lha memang kemarin belum di bagi ya jatah waktu nya?", Panji Tejo Laksono menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.


"Belum Gusti Pangeran..


Sebaiknya Gusti Pangeran segera tentukan. Kalau tidak, sikapnya ini akan membuat kesal para istri mu", sahut Luh Jingga sembari melirik ke arah Song Zhao Meng dengan penuh amarah.


"Iya iya sabar Luh sabar.. Dia akan segera aku beritahu..


Meng Er,


Mulai dari sekarang, sebaiknya aku membagi waktu untuk mu dan Luh Jingga. Ini agar tidak terjadi permasalahan dan aku juga harus bersikap adil kepada kalian. Perhitungan nya, selama di sini, Meng Er ada jatah waktu selama 4 hari dan Luh Jingga 3 hari. Dilarang saling menganggu selama waktu yang di berikan, jadi ku minta kau juga menghargai tata cara yang aku tentukan", Panji Tejo Laksono mengalihkan pandangannya pada Song Zhao Meng yang masih setia menggelayut di bahu kanan nya.


"Aku mengerti Kakak Thee..


Tapi pembagian waktu itu baru berlaku besok bukan? Jadi untuk malam ini biarkan aku bersama dengan Kakak Thee disini. Kalau Luh ingin juga, aku tidak keberatan jika berbagi ranjang tidur dengan nya", jawab Song Zhao Meng tanpa sedikitpun bergeser dari tempatnya. Putri Kaisar Huizong itu justru semakin membenamkan wajahnya di dada bidang Panji Tejo Laksono.


"Apa katanya Gusti Pangeran?", tanya Luh Jingga segera. Panji Tejo Laksono pun segera menjelaskan pada Luh Jingga tentang omongan Song Zhao Meng barusan. Mendengar ucapan itu, Luh Jingga mendengus dingin sembari berkata, " Kalau itu yang jadi kemauannya, baik... Aku juga akan tidur di kamar ini".


Panji Tejo Laksono menghela nafas berat. Kalau di pikir pikir, memang beginilah resikonya bila punya pasangan lebih dari satu. Masalah keadilan waktu untuk semuanya akan sangat terasa. Ayahnya Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana pun masih sering mendapatkan protes dari para istri nya yang lain jika terlalu sering bersama dengan salah satu dari mereka.


Semangat itu di luar pintu kamar tidur Panji Tejo Laksono, Wanyan Lan yang sedari tadi mengintip percakapan mereka hanya bisa mengelus dada. Andai saat ini Panji Tejo Laksono sudah memiliki tempat di hatinya untuk Wanyan Lan, tentu putri Kepala Keluarga Wanyan ini akan bisa berebut tempat dengan Luh Jingga maupun Song Zhao Meng. Sembari menahan perasaannya, Wanyan Lan meninggalkan luar kamar Panji Tejo Laksono dengan segala kegundahan hati.


Siang dengan cepat digantikan oleh malam. Rembulan malam yang separuh lebih mendekati purnama bersinar indah di langit seolah menerangi seluruh langit malam yang gelap. Beberapa burung malam terdengar bersuara dari balik gelapnya ranting pepohonan seakan menyambut kedatangan sang dewi bulan yang tersenyum indah di langit.


Malam itu, Panji Tejo Laksono tidur dengan diapit oleh Luh Jingga dan Song Zhao Meng hingga membuat sang putra tertua Prabu Jayengrana ini sama sekali tidak bisa bergerak bebas. Dalam hati dia menyesal karena telah mengijinkan dua perempuan cantik itu berbagi tempat tidur bersamaan.


Di halaman samping penginapan, Demung Gumbreg yang masih belum bisa tidur memaksa Tumenggung Ludaka untuk menemaninya membuat api unggun. Entah kemana pikiran nya Gumbreg, yang jelas dia sedang tidak enak hati.


"Lu,


Menurut mu kita masih lama tidak di negeri ini?", tanya Gumbreg sambil memutar ayam yang dia panggang di atas perapian. Tak tanggung-tanggung, perwira tinggi prajurit Panjalu bertubuh tambun ini meminta tiga ekor ayam sekaligus. Mumpung ada yang membayarkan katanya.


"Memangnya kenapa? Tumben kau bertanya seperti itu. Apa kau sudah kangen dengan Panjalu?", tanya Ludaka sambil melemparkan potongan kayu kering ke perapian.


"Ya kalau itu sih iya..

__ADS_1


Aku kangen sama Dhek Jum, Besur sama Kresnawati Lu. Sudah lewat dua purnama kita di negeri asing ini", jawab Gumbreg dengan memelas. Dia segera memuntir paha ayam yang dia panggang untuk mencicipi kematangannya. Sambil mengunyah daging ayam yang masih sedikit alot, Gumbreg duduk di samping Ludaka sahabat karibnya sambil menyambar cawan arak untuk menghangatkan badan.


"Tambahan lagi, kalau kelamaan disini aku takut kita tidak akan pulang ke Kadiri lagi Lu", imbuh Gumbreg segera.


"Pikiran darimana itu? Kau jangan sok ngawur Mbreg", sergah Ludaka sambil menenggak arak di cawan miliknya.


"Lha buktinya..


Sekarang saja Putri Kaisar Huizong itu sudah tidur sekamar dengan Gusti Pangeran. Jelas jelas ini akan menjadi penghalang kita untuk pulang ke Kadiri. Belum lagi si gadis cantik yang menyamar sebagai laki-laki itu, si Buang siapa sih namanya susah banget untuk di ingat.. Buang buang...", Gumbreg terlihat berpikir keras.


"Buang angin alias kentut Mbreg..


Namanya Huang Lung. Tapi sekarang dia di panggil dengan nama Nona Lan Er. Kau ini begitu saja tidak bisa. Memalukan para pejabat tinggi Istana Kotaraja Kadiri saja", omel Ludaka sambil mengambil seekor ayam panggang yang terlihat sedikit gosong.


"Ya itu, Si Nona Lan Er..


Seperti nya dia akan menjadi orang berikutnya yang akan menghalangi kepulangan kita ke Tanah Jawadwipa. Dari penglihatan batin ku, dia suka dengan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono Lu", ujar Gumbreg sok mirip dengan ucapan peramal buta yang tadi mereka temui tadi siang setelah keributan di depan Penginapan Bunga Naga bersama Rakryan Purusoma.


"Sompret..


Kau sudah mulai ikutan gila ya Mbreg? Mana bisa kau mengukur masa depan lewat ramalan peramal buta penipu di depan tadi. Ada ada saja", tukas Tumenggung Ludaka sambil mulai menggigit daging ayam panggang buatan Gumbreg.


"Darimana kau tahu kalau peramal buta itu penipu? Kau jangan asal bicara ya Lu", Gumbreg masih tak percaya.


"Eh tolol, buka kuping mu lebar lebar ya..


Tadi sore aku melihat dia pulang ke arah timur tanpa menggunakan tongkat. Berarti dia bisa melihat. Kalau dia bisa melihat, untuk apa dia berpura-pura menjadi buta kecuali untuk menipu orang?", Ludaka mendengus keras.


HAAAAAHHHHHHHH...!!


"Makanya jangan mudah percaya dengan omongan peramal, dukun atau orang pintar.


Ada yang memang bisa melakukan ilmu di luar nalar manusia, tapi banyak juga yang hanya mencari uang untuk mengisi perut. Kau harus pintar pintar melihat nya Mbreg. Ini semua adalah pelajaran agar kau hati hati ", balas Ludaka sambil tersenyum simpul melihat tingkah Gumbreg yang tampak menyesali kehilangan nya.


"Uangku....."


Keesokan paginya, setelah sarapan pagi bersama di rumah makan Penginapan Bunga Naga, rombongan Putri Song Zhao Meng dan Panji Tejo Laksono meninggalkan Penginapan Bunga Naga untuk melanjutkan perjalanan ke arah Kaifeng. Han Mo Gei dan istri nya mengantar mereka hingga ke depan halaman penginapan. Ada dua orang lagi yang merasa lega dengan keberangkatan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan. Tentu saja mereka adalah Fan Zhong Yan dan ayahnya Walikota Luoyang Fan Huo Liang.


Perjalanan mereka ke timur terlihat lancar tanpa halangan. Melewati puluhan desa yang ada di sepanjang perjalanan, mereka menyaksikan kehidupan sehari-hari masyarakat Tionghoa. Rumah rumah mereka tampak berjajar rapi dengan beberapa pernak pernik warna merah yang menurut mereka adalah lambang kebahagiaan.


Setelah melewati beberapa desa di selatan Sungai Yi He, akhirnya mereka memasuki hutan bambu lebat yang ada di timur wilayah Kota Beishan.


Jenderal Liu King yang memimpin rombongan, tiba tiba saja menghentikan kudanya saat memasuki hutan bambu ini. Telinga nya yang peka, menangkap suara pertarungan dan bunyi denting pedang beradu.


Para pengawal yang lain turut menghentikan gerakan kuda mereka termasuk Panji Tejo Laksono yang berkuda di depan kereta kuda. Dengan mengerahkan tenaga dalam nya, Panji Tejo Laksono pun dapat mendengar suara orang bertarung tak jauh dari tempat mereka berhenti. Panji Tejo Laksono segera memajukan kuda tunggangan nya ke arah Jenderal Liu King.


"Jenderal Liu..


Lindungi Tuan Putri Song Zhao Meng dengan seluruh kekuatan pengawal. Aku akan melihat apa yang terjadi di depan sana", ujar Panji Tejo Laksono yang segera melenting tinggi ke udara dengan bertumpu pada punggung kudanya kemudian melesat cepat kearah rimbun pohon bambu yang tumbuh subur di lereng gunung batu itu. Gerakan tubuh Panji Tejo Laksono begitu lincah dan ringan seperti kapas yang terbawa hembusan angin.


'Sungguh pendekar muda yang luar biasa. Pantas saja Tuan Putri tergila-gila kepada nya', batin Jenderal Liu King yang semakin mengagumi sosok Panji Tejo Laksono. Sesuai dengan petunjuk dari sang pangeran muda dari Kadiri, Jenderal Liu King segera membentuk pagar betis perlindungan bagi Putri Kaisar Huizong ini.


Sementara itu Panji Tejo Laksono dengan gerakan tubuh seringan kapas menjejak pucuk pucuk pohon bambu besar yang ada di hutan bambu ini. Dalam jarak sekitar 100 depa di depan nya, ada sebuah pertarungan sengit yang sedang terjadi. Panji Tejo Laksono segera duduk di atas pucuk pohon bambu itu sembari mengamati situasi yang terjadi.

__ADS_1


Sekelompok gadis muda berbaju putih yang terlihat seperti dari satu perguruan, terlihat mengeroyok sepasang paruh baya yang memakai pakaian berwarna hitam dan hijau memang lebih unggul dibandingkan dengan mereka. Meski jumlah mereka banyak, namun sepertinya kemampuan beladiri kelompok gadis muda berbaju putih ini lebih rendah di banding dua orang lelaki paruh baya itu.


Beberapa orang anggota kelompok gadis muda berbaju putih ini terlihat sudah terluka dalam yang cukup serius namun mereka masih terus berupaya untuk mengalahkan sepasang lelaki paruh baya yang bersenjatakan tongkat besi dengan ujung atas bergambar tanduk rusa yang lancip dan dua palu besar bergagang pendek.


Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh..


Aaaarrrgggggghhhhh !!


Lagi, dua orang gadis muda berbaju putih terpental jauh ke belakang sembari meraung keras. Baju putih mereka langsung kotor saat tubuh mereka menghantam tanah dengan keras. Dari mulut mereka darah segar mengalir keluar.


Hahahaha...


Terdengar suara tawa keras dari mulut lelaki berpakaian hijau yang memegang sepasang palu besar bergagang pendek ini. Dengan senyum nya yang menjijikan, dia berjalan mendekati para wanita muda berbaju putih ini yang segera mundur beberapa langkah.


"Para murid Perguruan Er Mei..


Kalian bukan lawan kami, Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou. Jangankan kalian, menghadapi guru kalian saja kami tidak takut, apalagi hanya tingkat murid rendahan seperti kalian.


Menyerahlah,


Kami akan lembut saat bersama kalian hahahaha", gelak tawa keras keluar lagi dari mulut si lelaki berpakaian hijau yang mengaku bergelar Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou. Kawannya yang berbaju merah juga ikut tergelak mendengar omongan lelaki berpakaian hijau itu.


Phhuuuiiiiiihhhhh..


"Kami delapan murid Perguruan Er Mei lebih baik mati daripada harus menjadi pemuas nafsu bejat para penjahat cabul seperti kalian.


Adik seperguruan,


Ayo kita berjuang sampai titik darah penghabisan", perintah seorang wanita muda berbaju putih dengan tusuk konde giok yang memiliki hiasan indah. Sepertinya dia adalah kakak seperguruan bagi ketujuh gadis muda lainnya. Ketujuh gadis muda berbaju putih itu segera bangkit sembari mengangkat pedangnya dan melesat cepat kearah Sepasang Bandit Gunung Zhengzhou.


Melihat sikap keras kepala para murid Perguruan Er Mei, si baju hijau menggeram keras sembari memukulkan kedua palu besar nya satu sama lain.


Dhhhaaaaaaannnnnggggggg !


Gelombang kejut tercipta dari benturan dua senjata di tangan Bandit Baju Hijau yang di aliri tenaga dalam tingkat tinggi. Kedelapan murid Perguruan Er Mei langsung terlempar ke segala arah dan menghantam tanah dengan keras. Luka dalam yang mereka terima semakin parah setelah serangan terakhir dari si Bandit Baju Hijau tadi.


"Adik,


Aku akan menikmati tubuh si cantik cerewet itu lebih dulu. Kau tidak masalah bukan?", ujar si Bandit Baju Hijau seraya menyeringai lebar menatap ke arah si gadis berbaju putih dari Perguruan Er Mei yang nampak mulai pucat pasi ketakutan.


"Tentu saja tidak Kakak..


Gadis cantik itu milik mu hehehehe", jawab Si Bandit Baju Merah sembari tersenyum licik. Mendengar jawaban itu, si Bandit Baju Hijau segera berjalan mendekati si kakak seperguruan yang mencoba untuk menjauh dengan menggeser tubuhnya.


Saat Si Bandit Baju Hijau hampir sampai di depan gadis cantik berbaju putih itu, tiba-tiba sebuah potongan ranting bambu melesat cepat kearah Si Bandit Baju Hijau. Desiran angin dingin tenaga dalam yang mengikuti lesatan ranting itu terasa menakutkan. Melihat kakaknya dalam bahaya, Si Bandit Baju Merah langsung menghantam potongan ranting bambu yang menuju ke arah Si Bandit Baju Hijau dengan tongkat berkepala rusa miliknya.


Bhuuukkkhhh... Chhreepppppph!


BLLLAAAAAARRR !!!


Serangan ini begitu cepat hingga membuat semua orang yang ada di situ terkejut bukan main. Si Bandit Baju Hijau langsung mendengus keras saat melihat Panji Tejo Laksono melayang turun dari atas pucuk pohon bambu. Sang pangeran muda dari Kadiri itu langsung memaki maki mereka.


"Tua bangka tak tahu diri,

__ADS_1


Apa kalian sudah bosan hidup ya?"


__ADS_2