
Pasukan Panjalu di bawah pimpinan Panji Tejo Laksono yang baru saja memenangkan pertempuran, langsung bergerak menuju ke arah Kotaraja Daha. Berita yang disampaikan oleh dua orang pengikut setia mendiang Senopati Agung Jarasanda ini, membuat mereka yang sempat melonggarkan kewaspadaan nya seketika tegang bersiap untuk mengangkat senjata kembali. Mereka semua tahu sifat dan karakter Mapanji Jayawarsa. Sudah pasti akan terjadi keributan lagi di dalam Kotaraja Daha dan inilah alasan mengapa mereka bersiap siaga.
Dua puluh ribu orang prajurit Panjalu yang sebagian besar berasal dari Kadipaten Seloageng mulai masuk ke dalam kota. Saat sampai di alun-alun Kotaraja Daha, dari arah berlawanan muncul pasukan Kadipaten Bojonegoro yang dipimpin oleh Mapanji Jayawarsa.
Adipati Bojonegoro itu langsung mendengus keras saat melihat munculnya pasukan Panjalu dengan pimpinan Panji Tejo Laksono berkuda paling depan. Dari kemunculan pasukan Panjalu, dia langsung tahu bahwa kelompok pemberontak dari arah selatan yang di pimpin oleh Adipati Windupati, Mpu Gandasena dan Begawan Tanpa Wajah telah dikalahkan. Rencana besar nya telah separuh gagal.
"Kakak ku yang Perkasa...
Aku senang sekali bisa melihat mu di sini. Dengan begini, penobatan ku sebagai raja muda akan terasa lebih indah hehehehehe", basa-basi langsung terucap dari mulut Mapanji Jayawarsa saat dia berhadapan dengan Panji Tejo Laksono.
"Siapa yang telah menobatkan mu, Dhimas Jayawarsa?
Aku tidak merasa mendengar tentang berita itu sama sekali. Atau itu hanya ambisi mu saja yang ingin merebut kekuasaan dari tangan Kanjeng Romo Prabu Jayengrana?", ucap Panji Tejo Laksono tenang namun terdengar seperti suara petir menyambar di siang bolong.
"Apa maksud dari ucapan mu itu, Kangmas Tejo Laksono? Aku sama sekali tidak mengerti..", Mapanji Jayawarsa mencoba untuk berkelit menghindari masalah.
"Alah kau tidak akan bisa cuci tangan setelah apa yang sudah kau lakukan, Dhimas Jayawarsa. Prajurit mu telah menyerang para prajurit Panjalu. Kau juga mengadu domba para petinggi Istana Katang-katang untuk saling bertarung habis-habisan hingga akhirnya bidak catur mu kau bunuh untuk menghilangkan jejak.
Jangan kau pikir aku tidak tahu semua perbuatan jahat mu, Dhimas Jayawarsa. Ada saksi mata yang melihat semua perbuatan mu. Menyerahlah, hai saudara ku! Aku akan meminta keringanan hukuman dari Kanjeng Romo Prabu Jayengrana untuk semua kesalahan yang sudah kau lakukan ", ucap Panji Tejo Laksono sembari menatap tajam ke arah Mapanji Jayawarsa. Adipati Bojonegoro itu langsung terkejut bukan main mendengar uraian yang di sampaikan oleh kakak tirinya ini. Namun ia berusaha keras untuk menyembunyikan rasa keterkejutannya secepat mungkin.
"Jangan omong kosong belaka, Kangmas Tejo Laksono.
Bawa kemari saksi mu agar fitnah yang kau hembuskan akan menjadi senjata yang berputar menyerang tuannya. Ayo, mana saksi mata mu Kangmas Tejo Laksono?!", tantang Mapanji Jayawarsa segera.
Dia telah menyusun rencana itu selama hampir setengah dasawarsa namun semuanya tak sesuai dengan apa yang diharapkan nya. Merasa tidak punya pilihan selain menantang untuk menghadirkan saksi, Mapanji Jayawarsa memilih untuk melakukannya.
Plookkkk plllooookkk..
Dua kali Panji Tejo Laksono bertepuk tangan sebagai isyarat. Dua orang prajurit pengikut setia mendiang Senopati Agung Jarasanda menjalankan kudanya perlahan ke samping kiri Panji Tejo Laksono.
"Mereka berdua melihat Senopati Tunggul Arga membunuh mendiang Senopati Agung Jarasanda , setelah itu Senopati Tunggul Arga mendekati mu lalu kau membunuhnya untuk menghilangkan jejak.
Sekarang, apa kau masih perlu saksi lagi Dhimas Jayawarsa?!", teriak lantang Panji Tejo Laksono yang seketika membuat wajah Mapanji Jayawarsa pucat. Dia segera menoleh ke arah samping kanan nya.
"Sudah terlanjur basah, mandi saja sekalian..
Randusongo, bunuh dua orang itu sekarang!!!", perintah Mapanji Jayawarsa yang membuat Demung Randusongo yang berkuda di samping kanan belakang nya seketika melesat cepat kearah dua orang prajurit saksi mata perbuatannya.
Bersamaan dengan itu, Mapanji Jayawarsa mengayunkan tangan kanannya ke depan dan seluruh prajurit Kadipaten Bojonegoro pun langsung meluruk maju ke arah Panji Tejo Laksono dan para prajurit Panjalu. Pertempuran antar saudara ini tak bisa lagi dihindari.
Thhrraaanggg thhrraaanggg!!
Dhhaaaassshhh dhhiiieeeeesssshhh!!
Bunyi senjata beradu diikuti dengan teriakan keras kesakitan dari mulut prajurit yang terluka seketika terdengar di alun-alun Kotaraja Daha. Dalam waktu singkat, Alun-alun Kotaraja Daha banjir darah. 40 ribu orang prajurit dari dua kubu yang berseberangan, bertarung untuk memaksakan kehendak kepada yang lain.
Demung Randusongo segera melompat tinggi ke udara sambil mengayunkan pedangnya ke arah dua orang saksi mata yang berada di samping kiri Panji Tejo Laksono. Serangkum angin dingin berdesir kencang mengikuti hawa pedang tipis yang dilepaskan oleh Demung Randusongo.
Shhrreeettthhh!!!
Song Zhao Meng yang kebetulan sedang berada di samping mereka, segera memutar telapak tangannya di samping pinggang. Hawa dingin tercipta di depannya, lalu seketika membentuk bongkahan es tebal. Begitu serangan cepat itu datang, Song Zhao Meng segera mengangkat tangan kanannya ke depan dengan segera.
Balok bongkahan es setebal dua jengkal tangan orang dewasa ini pu seketika menghadang laju pergerakan hawa pedang yang dilepaskan oleh Demung Randusongo yang segera mendarat 6 tombak di depan Song Zhao Meng.
Whhhuuummmm..
Blllaaammmmmmmm!!!!
Dari arah belakang, Endang Patibrata melenting tinggi ke udara, melihat melompati ledakan bongkahan es dan meluncur cepat kearah Demung Randusongo sembari membabatkan pedang nya.
Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh!
Thhrraaanggg thhrraaanggg thhrraaanggg!!
Pertarungan sengit dengan pedang antara mereka menjadi pertarungan yang paling banyak mendapat perhatian. Mapanji Jayawarsa yang ingin bermain curang, memutar telapak tangan nya dan mengincar punggung Endang Patibrata. Selarik cahaya biru kehitaman mengelontor ke arah punggung putri Lurah Wanua Pulung ini.
Saat cahaya biru kehitaman itu hampir mengenai punggung sang selir Adipati Seloageng, sebuah bayangan dengan tubuh diliputi oleh cahaya kuning keemasan berkelebat cepat menghadang serangan bokongan itu.
Blllaaammmmmmmm!!!
__ADS_1
Endang Patibrata terkejut bukan main mendengar ledakan dahsyat di belakangnya. Namun saat tahu siapa orang yang ada di situ, dia langsung tersenyum lebar sembari meneruskan pertarungan nya melawan Demung Randusongo yang memiliki kemampuan beladiri jauh diatas rata-rata.
Mata Mapanji Jayawarsa membeliak lebar tatkala ia melihat sesosok lelaki bertubuh kekar sedang berdiri di tengah kepulan asap tebal dengan tubuh yang di lambari cahaya kuning keemasan. Mata orang itu menatap tajam ke arah nya.
"Dhimas Jayawarsa!!!
Kau benar benar tidak bisa di maafkan lagi!!!", teriak sosok lelaki di tengah kepulan asap yang tak lain adalah Panji Tejo Laksono. Penguasa Kadipaten Seloageng ini seketika menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah Mapanji Jayawarsa.
Whhhuuuggghhhh whhhuuuggghhhh..
Dhasshhh dhhaaaassshhh!!
Dua gerakan cepat Panji Tejo Laksono langsung menghajar rusuk adik tirinya ini. Meskipun sempat terhuyung mundur beberapa langkah ke belakang, Mapanji Jayawarsa menggeram keras sembari menerjang maju ke arah kakak tirinya.
Pertarungan sengit antara dua pangeran muda ini berlangsung alot. Panji Tejo Laksono cukup terkejut juga melihat kemampuan beladiri sebenarnya adik tirinya itu. Selama ini, Mapanji Jayawarsa memang tidak pernah sekalipun menunjukkan kemampuan beladiri nya namun kali ini, dia memiliki tenaga dalam tingkat tinggi dan kemampuan beladiri yang handal.
Blllaaaaaarrr!!!
Ledakan keras terdengar dari benturan kedua tangan para pangeran muda Panjalu. Baik Panji Tejo Laksono maupun Mapanji Jayawarsa sama-sama tersurut mundur beberapa langkah. Mapanji Jayawarsa merasakan kebas dan ngilu pada pergelangan tangannya sedangkan Panji Tejo Laksono hanya sedikit merasakan kesakitan. Dari adu tenaga dalam baru saja, bisa di lihat bahwa Panji Tejo Laksono unggul atas adik tirinya itu.
Sembari menggembor keras, Mapanji Jayawarsa rentangkan kedua tangan ke samping tubuhnya lalu bersilangan dengan tangan terkepal erat di depan dada. Cahaya biru kehitaman berkumpul di kedua kepalan tangannya. Ini adalah bentuk dari Ajian Pukulan Penghancur Sukma yang dia pelajari dari gurunya, Resi Baruna.
Melihat itu, Panji Tejo Laksono tak mau kalah dan segera mengeluarkan Ajian Mundri Sasongko Jati yang di peroleh dari Resi Gentayu alias Prabu Airlangga. Kedua kepalan tangannya bersinar terang dengan cahaya kuning keemasan. Begitu Mapanji Jayawarsa melesat cepat kearah nya dan menghantamkan kepalan tangannya ke arah kepala, Panji Tejo Laksono segera menyambut nya dengan ajian pamungkas nya.
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!!
Ledakan dahsyat terdengar saat kedua tangan mereka beradu. Mapanji Jayawarsa mencelat jauh ke belakang dan punggungnya menghantam arca Dwarapala yang ada di depan pintu gerbang Istana Katang-katang. Di langsung muntah darah segar.
Saat yang bersamaan, muncul sesosok kakek tua berjanggut pendek putih dengan gelung rambutnya yang miring ke kanan serta baju putih layaknya seorang resi. Mata kakek tua itu melirik kearah Mapanji Jayawarsa yang sedang bersimpuh tak berdaya sambil terus memuntahkan darah segar. Setelah itu, ia mendengus keras dan menerjang maju dengan cepat ke arah Panji Tejo Laksono. Dia adalah Resi Baruna, guru Mapanji Jayawarsa yang selalu berada tak jauh dari murid nya ini.
Gerakan tubuh lelaki tua ini sungguh di luar dugaan. Dengan sekali hentak, dia telah sampai di depan Panji Tejo Laksono dan langsung menghantam dada sang pangeran muda.
Dhhaaaassshhh!!
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Panji Tejo Laksono terdorong mundur beberapa tombak ke belakang. Sang resi sepuh terus memburu nya dan melihat itu Panji Tejo Laksono langsung merapal mantra Ajian Tameng Waja. Tubuhnya kembali diliputi oleh cahaya kuning keemasan.
Bhhhaammmmmmmm bhhuuuuummmmmmhh!!
Setelah menggunakan Ajian Tameng Waja, pukulan keras Resi Baruna hanya mampu mendorong tubuh Panji Tejo Laksono setengah langkah mundur ke belakang. Tak percaya mampu menjatuhkan Panji Tejo Laksono, Resi Baruna memutari tubuh Panji Tejo dengan gerakan yang sangat cepat sambil sesekali menghantam tubuh sang penguasa Kadipaten Seloageng dengan Ajian Pukulan Penghancur Sukma.
Perlahan, Panji Tejo Laksono yang masih dalam tekanan Resi Baruna mengambil Pedang Naga Api yang tersembunyi di balik celah dimensi lain. Setelah mencabut Pedang Naga Api dari sarungnya, Panji Tejo Laksono langsung membabatkan nya memutar ke sekeliling tempat nya berdiri.
Shhrrraaakkkkkhh!!
Lingkaran besar cahaya merah membesar cepat, menyebar ke segala arah. Dan..
Chhhrrraaaaaaasssssshhh!!!
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!
Terdengar jeritan keras dari arah sisi kiri belakang Panji Tejo Laksono. Saat Panji Tejo Laksono menoleh ke arah sana, seorang lelaki tua bertubuh kurus terjungkal menyusruk tanah dengan tubuh terpotong menjadi dua bagian. Tebasan Pedang Naga Api rupanya memotong tubuh Resi Baruna. Dia tewas dengan tubuh bersimbah darah.
Setelah menghabisi nyawa Resi Baruna, Panji Tejo Laksono berjalan mendekati Mapanji Jayawarsa yang sudah terluka parah sambil menenteng Pedang Naga Api.
Tiba-tiba..
"Hentikan Tejo Laksono, sudah cukup!!!!"
Panji Tejo Laksono seketika menghentikan langkah nya dan menoleh ke arah pintu gerbang istana Katang-katang dimana sosok Prabu Jayengrana yang berwajah pucat karena sakit, berjalan mendekati sang pangeran muda sambil di papah oleh Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka. Ayu Galuh, Dewi Srimpi, Dewi Anggarawati, Dewi Naganingrum dan Cempluk Rara Sunti mengikuti dibelakangnya. Juga Mapatih Warigalit ikut serta dalam pertemuan itu.
Peperangan sengit antara prajurit Panjalu dan Kadipaten Bojonegoro itu pun langsung terhenti seketika. Kedua pihak sama-sama menarik diri ke arah sisi yang berlawanan namun tetap bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan.
"Apa kau sudah gila, Tejo Laksono? Apa kau ingin membunuh adik mu sendiri?!!", nada keras terdengar dari mulut Ayu Galuh segera. Dia begitu tak terima melihat putranya terkapar tak berdaya di tanah.
"Sebuah negara akan santosa jika hukum ditegakkan, Bunda Ratu..
Saat ini, ada seseorang yang sudah menyalahgunakan kekuasaan nya, membuat persekongkolan jahat dengan maksud ingin merongrong kewibawaan pemerintah, menjatuhkan pemerintahan sah dengan jalan pemberontakan, bukankah sesuai dengan Kitab Undang-undang Kutara Manawa yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Panjalu maka orang itu harus di hukum mati.
__ADS_1
Apakah aku salah jika ingin menegakkan hukum dan kebenaran di negeri ini?", ucap Panji Tejo Laksono dengan tegas.
"Jangan asal bicara, Tejo Laksono..
Menuduh orang tanpa bukti adalah tindak kejahatan serius. Apa kau sudah siap dengan segala akibat yang mesti kau tanggung jika tuduhan mu tidak terbukti?", kembali Nararya Ayu Galuh bicara.
"Aku bicara bukan tanpa alasan, Bunda Ratu.
Kedua orang itu adalah saksi mata yang melihat langsung bagaimana Dhimas Jayawarsa mengadu domba para petinggi prajurit Panjalu, lalu membunuh Tumenggung Tunggul Arga untuk menghilangkan jejak", Panji Tejo Laksono menunjuk ke arah dua orang prajurit pengikut setia mendiang Senopati Agung Jarasanda.
Mereka berdua segera melangkah maju untuk bicara. Namun sebelum mereka bicara, Demung Randusongo yang bersembunyi dibalik para prajurit Kadipaten Bojonegoro segera menghantamkan tapak tangan kanan nya ke arah dua orang prajurit itu. Selarik cahaya hijau kehitaman berselimut angin kencang menerjang maju ke arah mereka.
Blllaaammmmmmmm!!
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Kejadian itu berlangsung begitu cepat hingga tak seorang pun menyadari serangan cepat itu. Dua orang prajurit pengikut setia mendiang Senopati Agung Jarasanda itu langsung tewas seketika dengan tubuh gosong dan sebagian tubuhnya hancur.
Nararya Ayu Galuh tersenyum sinis melihat itu semua, juga Mapanji Jayawarsa yang masih bersimpuh di tanah. Mereka merasa bahwa Mapanji Jayawarsa telah lolos dari maut.
Song Zhao Meng segera memutar kedua telapak tangannya. Hawa dingin berdesir kencang mengikuti kabut putih yang muncul di sekitar tubuh Demung Randusongo. Belum sempat Demung Randusongo bergerak, kaki nya telah membeku di tempatnya. Es terus bergerak ke atas, membekukan separuh kakinya. Sekuat apapun tenaga yang dia keluarkan, tak sedikitpun mampu menggerakkan kakinya yang membeku dalam bongkahan es ciptaan Song Zhao Meng.
"Sekarang, siapa lagi saksi yang ingin kamu hadirkan Tejo Laksono?", tantang Ayu Galuh segera.
Tumenggung Wirabuana bersama para prajurit Panjalu yang datang dari arah belakang, langsung berlutut.
"Hamba adalah saksi lainnya Gusti Ratu", ucap Tumenggung Wirabuana sembari menghormat pada Prabu Jayengrana, Ayu Galuh dan para istri Panji Watugunung lainnya.
"Kauuu...."
"Bukan dia saja, Gusti Ratu. Hamba juga membawa saksi mata yang melihat utusan dari Pangeran Mapanji Jayawarsa membocorkan rahasia prajurit Panjalu yang melawan para prajurit Jenggala hingga menyebabkan kematian Senopati Agung Narapraja. Ini dia orang nya", Tumenggung Ludaka menuntun Kenanga alias Pergiwa, istri muda Demung Gumbreg ke depan. Rupanya saat keributan mereda, Tumenggung Ludaka menyuruh Gumbreg untuk memanggil istri muda nya itu. Dan inilah rencana Tumenggung Ludaka kala menyetujui permintaan Demung Gumbreg untuk membawa Pergiwa ke Kotaraja Daha.
"Kalian semua!!!!
Huhhhhh, Kangmas Prabu Jayengrana jangan dengarkan ocehan mereka semua. Mereka semua telah bekerjasama untuk menghancurkan putra kita", Nararya Ayu Galuh segera menoleh ke arah Prabu Jayengrana, berharap suami nya akan membela Mapanji Jayawarsa.
Prabu Jayengrana yang berwajah pucat karena sakit, terdiam sejenak sebelum berbicara.
"Menurut Kitab Undang-undang Kutara Manawa, seorang pengkhianat negara akan mendapat hukuman mati.
Dharmadyaksa ring Kasaiwan, bawa Mapanji Jayawarsa ke penjara. Besok pagi, dia akan di hukum gantung di alun-alun ini! Dan para pengikutnya akan mendapatkan hukuman sesuai dengan kesalahan mereka masing-masing", ucap tegas Prabu Jayengrana.
Mendengar perkataan sang Maharaja Panjalu itu, Nararya Ayu Galuh langsung terduduk sambil menangis tersedu-sedu. Sementara itu, Mapanji Jayawarsa perlahan bangkit dari tempat duduknya. Diam-diam dia mencabut keris pusaka di pinggang nya. Sembari mengerahkan seluruh tenaga dalam yang tersisa, dia melesat cepat kearah Prabu Jayengrana sembari mengayunkan kerisnya.
Saat yang bersamaan, Panji Manggala Seta yang baru saja selesai mengakhiri perlawanan pemberontak di bawah pimpinan Mpu Kepung dan Mpu Sena memasuki Alun-alun Kotaraja Daha dari arah barat. Melihat itu, Panji Manggala Seta berkelebat cepat memotong pergerakan Mapanji Jayawarsa dengan membabatkan Pedang Kelabang Sewu miliknya ke arah leher Adipati Bojonegoro itu.
Chhhrrraaaaaaasssssshhh!!
Kepala Mapanji Jayawarsa langsung menggelinding ke tanah bersamaan dengan tubuhnya tepat di hadapan Nararya Ayu Galuh. Kejadian itu berlangsung sangat cepat hingga semua orang terkejut bukan main.
Muncratnya darah segar dari tubuh Mapanji Jayawarsa ke tubuh Nararya Ayu Galuh membuat perempuan itu bengong beberapa saat lamanya. Kemudian ia berteriak histeris sambil menyebut nama Jayawarsa sebelum roboh pingsan.
Namun semua itu membuat semua orang menarik nafas lega karena perebutan tahta kerajaan Panjalu telah berakhir dengan kematian Mapanji Jayawarsa.
****
Satu purnama kemudian, Panji Tejo Laksono diangkat menjadi Yuwaraja Panjalu. Seluruh warga Panjalu pada umumnya dan Kotaraja Daha khususnya menyambut kabar itu dengan penuh sukacita.
Tepat pada hari itu juga, sebuah kabar gembira bagi Panji Tejo Laksono datang. Dyah Kirana dinyatakan hamil muda, tepatnya usia kandungannya mencapai 1 purnama. Ini semakin melengkapi kebahagiaan sang Yuwaraja Panjalu itu.
Selepas pengangkatan Panji Tejo Laksono, keamanan dan kedamaian kerajaan Panjalu berangsur pulih kembali seperti semula. Tak ada lagi ketegangan yang menjadi momok bagi kehidupan masyarakat karena persaingan para pangeran dalam perebutan kekuasaan. Panji Tejo Laksono memegang langsung pemerintahan Panjalu karena sang ayahanda tercinta, Prabu Jayengrana tak kunjung sembuh dari penyakitnya.
8 purnama kemudian, Dyah Kirana melahirkan seorang anak laki-laki di tengah hujan deras yang mengguyur Kotaraja Daha. Guruh dan guntur saling bersahutan. Kilat menyambar kemana-mana. Ini seperti bencana alam yang melanda wilayah Kotaraja Daha.
Kelahiran sang pangeran kecil membuat Dyah menjadi satu-satunya istri Panji Tejo Laksono yang memiliki keturunan laki-laki. Dengan hadirnya sang pangeran kecil, Dyah Kirana langsung mendapatkan tempat sebagai permaisuri utama Panji Tejo Laksono.
Dua hari setelah kelahiran bayi laki-laki itu, Prabu Jayengrana yang sudah sakit-sakitan selama hampir 10 purnama lainnya, akhirnya meninggal dunia.
Sehari setelah upacara perabuan Prabu Jayengrana, pada tahun 1112 M atau tahun 1190 Saka Panji Tejo Laksono dinobatkan sebagai Maharaja Panjalu selanjutnya dengan gelar Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Sakalabhuwana Tustikarana Sarwaniwariwirya Parakrama Digjaya Uttunggadewa. Dia memakai gelar yang diberikan oleh para pemuja keturunan dari Airlangga agar diakui sebagai salah satu keturunan Kerajaan Medang. Juga tetap menggunakan gelar Parakrama untuk menegaskan bahwa dia adalah putra Prabu Jitendrakara.
__ADS_1
__________________TAMAT_____________________
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya author bisa menyelesaikan cerita ini. Semoga selalu terhibur dengan cerita yang author tulis. Dan dukung terus author berkarya di Noveltoon agar terus bisa memberikan bacaan yang menghibur. Salam silat Nusantara 🤲🤲🙏🙏😁😁