Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Setan Gunung Wilis


__ADS_3

"Jangan terburu buru pendekar muda..


Santai saja sedikit. Kawan mu aman bersama kami. Kau tidak perlu khawatir. Aku hanya ingin tahu siapa namamu dan dari mana asal mu sebelum syaratnya aku bicarakan", ujar Dewi Ambarwati sembari tersenyum manis.


Hemmmmmmm..


Terdengar suara dengusan nafas panjang sebelum Panji Tejo Laksono mulai bicara. Dia tidak suka dengan sikap Dewi Ambarwati yang sengaja mengulur-ulur waktu.


"Nama ku Taji Lelono, asal ku dari wilayah Kotaraja Kadiri.


Sekarang katakan syaratnya Gusti Dewi, aku tidak punya banyak waktu", ujar Panji Tejo Laksono dengan cepat.


"Sabar sebentar pendekar muda, huh anak muda jaman sekarang susah sekali untuk bersabar..


Apa kau tidak menyembunyikan sesuatu tentang jati diri mu, pendekar muda? Kawan perempuan mu yang menyamar sebagai laki laki saja sudah mengakui kalau dirinya adalah putri dari Kadipaten Seloageng. Tentu kau pun tak lebih rendah derajatnya di banding dia bukan?", kembali Dewi Ambarwati memamerkan senyum manis nya.


'Huh dasar Gayatri bodoh! Bisa bisanya dia membuka jati diri nya ', gerutu Panji Tejo Laksono dalam hati.


"Aku hanya seorang anak saudagar kaya di Kotaraja Kadiri, Gusti Dewi. Bukankah teman ku tadi sudah menjelaskan pada kalian bahwa aku hanya anak orang kaya saja?


Kenapa Gusti Dewi masih memaksa saya untuk mengakui sesuatu yang bukan milik saya?", Panji Tejo Laksono menatap ke arah Dewi Ambarwati.


"Wajah mu mirip sekali dengan wajah seseorang yang pernah dekat di hati ku, pendekar muda.


Itu sebabnya mengapa aku yakin sekali kau pasti punya hubungan darah dengan nya", Dewi Ambarwati berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah samping Keputren. Mata perempuan cantik itu nanar menatap langit yang mulai menurunkan gerimis.


"Siapa orang yang Gusti Dewi maksud? Aku sama sekali tidak mengerti ", Panji Tejo Laksono penasaran.


"Dia adalah Pangeran Panji Watugunung yang sekarang menjadi Raja di Kerajaan Panjalu", jawab Dewi Ambarwati sembari menatap ke arah rintik gerimis yang turun membasahi bumi.


Panji Tejo Laksono sedikit terkejut namun cepat cepat ia menyembunyikan kekagetannya. Hingga saat Dewi Ambarwati meliriknya, air muka kaget nya sudah tidak ada.


"Gusti Dewi bercanda dengan saya. Mana mungkin rupa ku yang pas-pasan begini di samakan dengan Gusti Prabu Jayengrana, seorang raja besar yang memerintah negeri Panjalu?


Saya tidak memiliki hubungan apapun dengan Yang Mulia Raja Panjalu itu, Gusti Dewi", ujar Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada Dewi Ambarwati.


Hemmmmmmm...


"Baiklah, aku percaya padamu pendekar muda.


Sekarang kau dengarkan syarat dari ku. Aku bisa membebaskan mu jika kau bisa menangkap kepala perampok Setan Gunung Wilis untuk menyatakan teman mu bukan mata-mata mereka. Kalau kau tidak bisa menangkap nya, bawa kepalanya kemari dengan begitu aku tidak perlu mencurigai kawan mu itu", ucap Dewi Ambarwati sembari kembali duduk di kursi kayu kebesarannya.


"Kau jangan kuatir...


Pasukan Pakuwon Sukowati akan membantu mu menangkap mereka. Selain kamu bisa membebaskan kawan mu, kau juga akan mendapat hadiah besar. Tawaran yang menggiurkan bukan?", imbuh Dewi Ambarwati segera.


"Baik, aku bersedia untuk melakukan pekerjaan ini, Gusti Dewi..


Tapi ingat janji mu untuk membebaskan kawan ku dari segala tuduhan yang dialamatkan kepada nya", ujar Panji Tejo Laksono dengan cepat.


"Aku berjanji pada mu pendekar muda.


Puspa Putih, Puspa Abang...


Kalian kawal pendekar muda ini untuk menyerbu markas Setan Gunung Wilis. Cepat laksanakan!", Dewi Ambarwati menoleh ke arah dua pengawal setia nya itu segera.


"Sendiko dawuh Gusti Dewi"


Puspa Abang dan Puspa Putih segera menghormat pada Dewi Ambarwati. Mereka berdua segera mundur dari Keputren diikuti oleh Panji Tejo Laksono.


Dewi Ambarwati menatap punggung Panji Tejo Laksono hingga menghilang ke balik gerbang dalam istana Pakuwon Sukowati.


Di alun alun Kota Pakuwon Sukowati, sekitar 150 orang prajurit yang di pimpin oleh dua orang Bekel nampak sudah bersiap menunggu perintah. Begitu kedua Bekel Prajurit yang bernama Purusanta dan Jemparing itu melihat kedatangan Puspa Abang dan Puspa Putih beserta Panji Tejo Laksono, mereka berdua segera mendekati mereka.


"Purusanta,


Mereka semua sudah siap?", tanya Puspa Abang dengan cepat.


"Kami sudah siap Nyi", balas Purusanta sembari menghormat pada Puspa Abang.


"Bagus kalau begitu.. Pimpin jalan nya, aku mau kita cepat sampai kesana sebelum tengah hari", perintah Puspa Putih segera.


"Baik Nyi", jawab Purusanta sembari menghormat lalu berbalik arah ke arah para anggota prajurit.


Pasukan Pakuwon Sukowati itu segera bergerak cepat menuju ke arah markas kelompok perampok Setan Gunung Wilis yang sudah mereka ketahui dua hari ini. Kuda mereka melesat cepat melewati jalan berbatu yang becek akibat genangan air dari gerimis yang cukup lebat tadi pagi.


Para penduduk yang kebetulan berpapasan dengan mereka, memilih untuk minggir ke tepi jalan. Takut kalau kena terjangan kuda para prajurit Pakuwon Sukowati yang berlari kencang.


Setelah meninggalkan kawasan pemukiman warga Wanua terakhir, para prajurit Pakuwon Sukowati yang dipimpin oleh Puspa Abang dan Puspa Putih memasuki wilayah hutan lebat di kaki Gunung Wilis. Semakin lama jalan yang mereka lewati semakin menyempit hingga menjadi jalan setapak yang membelah hutan. Mereka terus bergerak.


Sebuah pemukiman kecil terlindung oleh rimbun pohon bambu di lereng Gunung Wilis. Pagar bambu betung setinggi 2 tombak nampak mengelilingi tempat itu. Dua orang lelaki berpakaian serba merah layaknya seorang pendekar dengan sebilah golok tersandang di pinggang, nampak menjaga pintu gerbang pemukiman kecil yang menjadi markas kelompok perampok yang di sebut sebagai Setan Gunung Wilis.

__ADS_1


Kelompok perusuh keamanan ini di pimpin oleh sepasang suami istri yang dijuluki sebagai Sepasang Setan Gunung Wilis. Nama asli mereka adalah Ki Baratwaja dan Nyi Urwasi. Dua orang ini adalah bekas pelarian dari Kadipaten Bhumi Sambara yang kini di kenal dengan sebutan Kadipaten Mataram.


Di Kadipaten Mataram, mereka menjadi buronan pemerintah Kadipaten Mataram setelah membunuh pangeran Ganarbhaya yang merupakan calon Adipati Mataram selanjutnya. Meski padepokan tempat mereka menuntut ilmu kanuragan di hancurkan oleh pasukan Kadipaten Mataram, dua orang ini berhasil meloloskan diri.


Setelah sampai di bawah Gunung Wilis, mereka kemudian mengumpulkan para kecu ( copet ), berandal pasar, maling dan rampok menjadi satu kelompok perampok yang cukup ditakuti di wilayah Kadipaten Kurawan. Tak kurang 80 orang ada di bawah kendali mereka.


Ki Baratwaja dan Nyi Urwasi nampak sedang duduk bersantai di rumah paling besar yang ada di tengah pemukiman kecil itu. Perampokan besar yang mereka lakukan tempo hari di kota Pakuwon Sukowati cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh perkampungan kecil itu selama 1 purnama. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.


Seorang lelaki bertubuh kekar yang menggunakan pakaian merah terburu-buru berlari memasuki serambi kediaman Sepasang Setan Gunung Wilis.


"Sangkur,


Kenapa kau datang tanpa ada perintah?", tanya Ki Baratwaja sembari menatap tajam ke arah anak buah nya itu.


"Ampun Lurah e..


Para prajurit Pakuwon Sukowati menyerbu kemari. Mereka membawa tak kurang 100 prajurit Lurah e. Saat ini mereka sudah sampai di depan pintu gerbang markas kita", lapor lelaki yang di panggil dengan nama Sangkur itu segera.


"Huhhhhh...


Kroco kroco Pakuwon Sukowati tak ada yang memiliki ilmu kanuragan tinggi. Tidak perlu takut menghadapi mereka", sahut Nyi Urwasi.


"Kau benar Nyi..


Hanya Puspa Abang dan Puspa Putih saja yang cukup punya kemampuan. Lainnya cuma kroco kroco. Ayo kita hadapi mereka", ujar Ki Baratwaja sembari berdiri dari tempat duduknya.


Kentongan bertalu-talu tanda adanya bahaya terdengar keras hingga para penghuni markas Kelompok Perampok Setan Gunung Wilis segera berkumpul sembari bersiap siaga. Mereka langsung mengenakan topeng kayu bergambar wajah setan setengah wajah yang bercat merah dan mencabut senjata mereka masing-masing.


Ki Baratwaja dan Nyi Urwasi langsung melesat cepat kearah gerbang markas mereka. Gerakan tubuh mereka berdua begitu ringan karena ilmu meringankan tubuh mereka berdua yang tinggi. Bagai burung walet, mereka berdiri di atas gerbang markas sembari menatap ke arah ratusan prajurit Pakuwon Sukowati yang berdiri dengan senjata terhunus.


"Puspa Abang, Puspa Putih..


Kalian cukup punya nyali juga rupanya. Berani sekali kalian datang ke tempat ini. Apa kalian sudah bosan hidup?", ujar Ki Baratwaja sembari menatap ke arah dua pentolan prajurit Pakuwon Sukowati itu.


"Jadi kau rupanya Setan Gunung Wilis..


Menyerahlah agar mayat mu tetap utuh saat di bakar nanti", balas Puspa Putih sembari mengacungkan pedangnya ke arah Ki Baratwaja.


Hahahahahahaha...!!


"Menyerah??


"Jumawa...


Rupanya kau masih mau membandel juga. Baiklah, sesuai permintaan mu Setan Gunung Wilis.


Prajurit pemanah,


Tembak......!!!!", perintah Puspa Abang sembari memberikan isyarat para prajurit pemanah untuk menyerang. Dua puluh prajurit pemanah langsung maju ke depan dan membidikkan panahnya ke arah markas kelompok perampok Setan Gunung Wilis.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg shriingg!!


Dua puluh anak panah melesat cepat kearah Ki Baratwaja dan Nyi Urwasi. Dengan cepat, Ki Baratwaja langsung menghirup udara sebanyak mungkin lalu menghantamkan kedua telapak tangan nya ke arah anak panah yang menuju ke arah nya.


Whhhhuuuuggghhh...


Blllaaaaaarrr thraakkkk!!!


Sepuluh anak panah langsung hancur berantakan di udara sedangkan sisanya meluncur ke dalam markas mereka.


Chhreepppppph chhreepppppph!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Jerit jerit kesakitan terdengar dari dalam markas kelompok perampok itu segera. Ki Baratwaja mendengus keras melihat itu semua lalu dengan lantang bicara.


"Buka pintu gerbang, habisi para prajurit Sukowati!!!"


Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh!!!


Pintu gerbang markas Kelompok Setan Gunung Wilis terbuka, dan puluhan orang berbaju merah menerjang keluar dari dalam pintu gerbang markas yang terbuka lebar.


Pertarungan sengit antara mereka segera terjadi.


Bersamaan dengan para anggota Setan Gunung Wilis maju, Ki Baratwaja dan Nyi Urwasi langsung melesat cepat mendahului langkah mereka. Panji Tejo Laksono langsung melompat tinggi ke udara setelah menggunakan pelana kuda nya sebagai tumpuan.


Tujuan nya jelas, kepala Ki Baratwaja.


Puspa Abang pun ikut melompat maju menerjang ke arah Nyi Urwasi sedangkan Puspa Putih langsung melesat ke arah salah seorang bawahan Sepasang Setan Gunung Wilis.


Ki Baratwaja melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono dengan tapak tangan kanan mengarah ke dada. Panji Tejo Laksono pun menyambut serangan Ki Baratwaja dengan tangan kanan nya.

__ADS_1


Blllaaammmmmmmm!!


Ledakan dahsyat terdengar. Ki Baratwaja terpelanting ke arah belakang, namun dia segera bersalto sekali kemudian mendarat dengan selamat. Sedikit rasa sesak terasa di dada nya akibat benturan tadi.


Panji Tejo Laksono pun langsung bersalto dua kali dan mendarat dua tombak ke belakang.


Ki Baratwaja menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono. Dia tak menyangka bahwa pemuda tampan itu mampu menahan serangan nya.


"Bocah tengik!


Tak ku duga sebelumnya jika Pakuwon Sukowati mampu menggaet bocah hebat seperti mu. Siapa kau?", tanya Ki Baratwaja.


"Aku Taji Lelono dari Kotaraja Kadiri.


Menyerahlah orang tua. Jika tidak aku tidak akan sungkan lagi pada mu", jawab Panji Tejo Laksono dengan tenang.


"Huhhhhh kau pikir setelah mampu menahan serangan ku sekali, kau sudah menang.


Aku masih belum mengeluarkan separuh kemampuan kanuragan ku bocah. Bersiaplah untuk mati!"


Usai berkata demikian, Ki Baratwaja langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari melayangkan serangan tapak tangan bertubi-tubi.


Panji Tejo Laksono langsung melayani permainan silat Ki Baratwaja dengan ilmu silat Padas Putih andalan nya.


Plakkkk plllaaakkkkk!!


Terdengar dua tapak tangan beradu. Ki Baratwaja terus memburu Panji Tejo Laksono dengan gerakan cepat yang mematikan namun murid Warok Suropati itu tetap lincah dan gesit meladeni permainan silat nya.


Sepuluh jurus telah terlewati.


Ki Baratwaja mengayunkan tangan kanannya ke arah bahu Panji Tejo Laksono dengan cepat. Pangeran muda itu merendahkan tubuhnya lalu melayangkan pukulan cepat bertubi-tubi kearah dada dan perut Setan Gunung Wilis itu segera.


Dhheeepppphh dhasshh!!


Dua serangan cepat itu membuat Ki Baratwaja terhuyung mundur beberapa langkah. Panji Tejo Laksono tidak membuang kesempatan ini. Dengan cepat ia memutar tubuhnya dan kembali melayangkan tendangan keras kearah perut Ki Baratwaja.


Dhiiieeeessshh..


Oooouuuugggghhhhhh!!


Lelaki tua berjanggut dan berbaju merah itu terpental ke belakang dan jatuh terduduk. Namun dia segera kembali bangkit sembari meremas dadanya yang terasa remuk bagai di timpa balok kayu besar. Darah segar keluar dari sudut bibirnya.


Melihat itu, Ki Baratwaja mendengus keras sambil mengusap sisa darah segar yang keluar.


"Kau jangan senang dulu, bocah tengik!


Aku ku buat kamu menyesal karena telah berani menantang ku", teriak Ki Baratwaja sembari membentangkan kedua tangan nya. Dengan cepat kedua tangan berputar di depan dada. Seberkas sinar merah kekuningan keluar bersamaan dengan angin kencang menderu di sekitar tubuh nya. Dia mengeluarkan Ajian Tapak Geni Neraka andalannya.


"Mati kau bocah tengik!"


Selarik sinar merah kekuningan melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono dari tangan kanan yang di hantamkan Ki Baratwaja.


Whhhhuuuuggghhh...


Panji Tejo Laksono yang menggunakan Ajian Sepi Angin langsung berjumpalitan beberapa kali ke samping menghindari hantaman Ajian Tapak Geni Neraka.


Blllaaammmmmmmm!!!


Sebatang pohon randu alas langsung meledak dan terbakar setelah terkena Ajian Tapak Geni Neraka. Melihat itu, Ki Baratwaja kembali menghantamkan tangan kanannya ke arah Panji Tejo Laksono yang mendarat di atas cabang pohon.


Blllaaaaaarrr!!!


Cabang pohon itu langsung hancur berantakan dan roboh ke tanah namun Panji Tejo Laksono telah menghindari serangan itu. Usai menjejak tanah, Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah Ki Baratwaja sembari mengayunkan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah menyala seperti api. Dia menggabungkan Ajian Tapak Dewa Api dengan Ajian Sepi Angin nya.


Kecepatan tinggi Panji Tejo Laksono membuat Ki Baratwaja tersentak ketika melihat pemuda tampan itu sudah mengayunkan tapak tangan kanannya ke arah dada pria yang berjuluk Setan Gunung Wilis ini. Lelaki paruh baya itu segera memapak serangan itu dengan tapak tangan kanan nya karena sudah tidak memiliki ruang untuk menghindar.


Dhuuaaaaaaarrrrrr!!


Panji Tejo Laksono terdorong mundur beberapa langkah sedangkan Ki Baratwaja terpelanting jauh ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Baju merah nya kotor dengan lumpur dan rumput.


Huuuuooogggghhh!!


Ki Baratwaja muntah darah segar pertanda dia menderita luka dalam yang cukup parah. Melihat itu, Panji Tejo Laksono bermaksud mengakhiri pertarungan lebih cepat dengan melesat ke arah Ki Baratwaja. Namun satu hawa pedang memotong gerakan tubuhnya.


Whhhhuuuuggghhh...!!


Panji Tejo Laksono langsung mengurungkan niatnya untuk mendekati Ki Baratwaja yang berusaha untuk bangkit karena hawa pedang itu dengan membuat gerakan jungkir balik ke belakang beberapa kali.


Nyi Urwasi mendekat ke arah Ki Baratwaja sembari menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.


"Sebentar lagi kau akan mati!"

__ADS_1


__ADS_2