Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Padepokan Ular Siluman ( bagian 3 )


__ADS_3

Ki Samparjagad menyeringai lebar dari balik rambutnya yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Pimpinan ketiga Kelompok Bulan Sabit Darah itu nampak sudah siap untuk bertarung dengan sepenuh tenaga karena merasa sudah mengetahui kekuatan Panji Tejo Laksono.


"Ayo maju anak muda..


Sudah waktunya aku mengantar mu menemui Dewa Yamadipati di neraka", ucap Ki Samparjagad sembari sedikit menyibakkan rambutnya hingga wajah lelaki tua itu terlihat. Ada dua bekas luka yang menyilang dari ujung dahi kiri hingga pipi kanan lelaki tua itu. Mungkin itu juga yang menyebabkan lelaki tua itu tak pernah menampakkan wajah nya.


Panji Tejo Laksono perlahan melepas caping bambu yang hampir menutupi seluruh wajahnya. Melihat wajah tampan Panji Tejo Laksono, Ki Samparjagad terperangah seketika.


"Kau ..kau kenapa wajahmu mirip sekali dengan Panji Watugunung ha?", tanya Ki Samparjagad segera.


"Hehehehe kenapa memangnya? Kau kenal dengan Panji Watugunung, kakek tua??!!


Ya agar kau tidak penasaran, perkenalkan aku adalah putra sulung Panji Watugunung atau kini orang mengenalnya sebagai Prabu Jayengrana. Nama ku adalah Panji Tejo Laksono, Adipati Seloageng", jawab Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis.


Mendengar jawaban itu, Ki Samparjagad segera teringat akan kejadian 20 tahun yang lalu saat dia datang ke Tanah Jawadwipa bersama dengan rombongan pelarian dari Sriwijaya yang ingin merebut kembali Tanah Jawadwipa dari keturunan Prabu Airlangga.


Bersama dengan Dyah Wijayawarman selaku pimpinan kelompok ini, Ki Samparjagad yang memiliki nama asli Kundalaseta ikut membentuk kelompok pemberontakan yang berpusat di Lwaram yang berada di bantaran Sungai Wulayu atau juga dikenal sebagai Sungai Bengawan Sore ( Bengawan Solo sekarang ). Saat itu Kundalaseta alias Ki Samparjagad adalah seorang pengawal pribadi Mpu Danda, salah satu kaki tangan Dyah Wijayawarman.


Sesaat setelah penyerbuan Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana ke Lwaram, Kundalaseta yang berhasil menyelamatkan diri dari penyergapan itu meski dengan keadaan luka parah, melarikan diri ke wilayah Jenggala dengan membawa beberapa kitab dan senjata pusaka yang dia ambil dari kamar tidur Mpu Danda.


Kundalaseta muda terus bergerak agar tidak tertangkap oleh pasukan pemburu Panjalu yang di pimpin oleh Senopati Muda Jarasanda hingga sampai di Gunung Kawi. Disana Kundalaseta mengasingkan diri dari dunia persilatan di sebuah goa dan mempelajari kitab pusaka yang di dapatnya dari kamar tidur Mpu Danda. Selama hampir sepuluh tahun, Kundalaseta belajar siang dan malam hanya untuk menjadi lebih kuat agar suatu saat nanti bisa membalas dendam kematian saudaranya yang terbunuh oleh penyergapan Prabu Jayengrana.


Dari dua kitab pusaka yang di ambilnya, Kundalaseta akhirnya menguasai Ajian Sigar Gunung, Ajian Panglimunan dan Ajian Janjang Gagar Mayang. Dengan 3 ajian ini, di tambah dengan senjata pusaka Cambuk Api Angin, menjadikan Kundalaseta yang mengubah namanya menjadi Ki Samparjagad menjadi pendekar pilih tanding di kawasan sekitar barat daya Jenggala. Namanya begitu terkenal karena dia tidak segan-segan untuk menghabisi nyawa lawannya meskipun mereka sudah tak berdaya. Hingga para pendekar dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah timur memberikan julukan "Iblis Gunung Kawi".


Ketenaran Ki Samparjagad membuat banyak pendekar dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah timur ingin sekali menjajalnya. Dari ratusan orang yang akhirnya mati di tangan nya, Ki Samparjagad akhirnya di taklukkan oleh Maharesi Bayubuana dari Gunung Mahameru. Karena terikat dengan perjanjian sebelum pertarungan, Ki Samparjagad akhirnya bergabung dengan Malaikat Bertopeng Emas dan Bidadari Bertopeng Perak yang merupakan murid dari Maharesi Bayubuana membentuk sebuah kelompok yang ingin menegakkan kembali Kerajaan Kahuripan sebagai penguasa tunggal Tanah Jawadwipa wilayah timur dan tengah. Inilah cikal bakal berdirinya Kelompok Bulan Sabit Darah yang terus menjadi duri dalam daging bagi hubungan Panjalu dan Jenggala.


"Pucuk dicinta ulam tiba..


Hehehehe... Anak muda, kau benar-benar mempermudah jalan ku untuk menghancurkan Panjalu. Setelah menghabisi mu, aku akan segera menghancurkan Panjalu sampai ke akar-akarnya.


Bersiaplah untuk mati!", ujar Ki Samparjagad segera.


"Perkara hidup mati manusia itu ada di dalam garis takdir Dewata Yang Agung, kakek tua..


Siapa yang akan mati masih belum tahu, jadi jangan menjadi dewa sebelum kau menginjak kahyangan", balas Panji Tejo sembari tersenyum tipis.


"Hehehehe.. Kalau begitu, cobalah kau tahan Ajian Sigar Gunung ku ini bocah tengik!!", Ki Samparjagad langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono yang masih berdiri di tempatnya. Tangan kanannya di lambari cahaya biru keabu-abuan yang berhawa panas menyengat.


Panji Tejo Laksono langsung memejamkan matanya sesaat dan segera menatap tajam ke arah Ki Samparjagad yang melesat cepat kearah nya. Tubuh putra sulung Prabu Jayengrana itu segera di lingkupi oleh cahaya kuning keemasan yang membungkus setiap jengkal tubuh sang pangeran muda.


"Matilah kau, bangsat...!!


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt..!!!!"


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!


Ledakan dahsyat terdengar saat tapak tangan Ki Samparjagad yang berwarna biru keabu-abuan menghantam dada Panji Tejo Laksono. Ledakan itu menimbulkan gelombang kejut yang luar biasa dan menyebar ke seluruh tempat itu. Para anak murid Padepokan Ular Siluman yang masih menyaksikan langsung pertarungan itu dari jarak yang cukup jauh harus menerima pil pahit setelah tubuh mereka terlempar akibat gelombang kejut yang menyebar luas.


Ki Samparjagad bersalto mundur dua kali di udara dan mendarat dengan satu kaki berlutut di tanah. Dari jarak 4 tombak di depannya, tubuh Panji Tejo Laksono terbungkus oleh asap tebal dan debu yang beterbangan. Pimpinan ketiga Kelompok Bulan Sabit Darah ini langsung menyeringai lebar. Dia begitu yakin dengan kemenangan nya.


Angin berhembus perlahan dari arah Utara. Menerbangkan asap tebal dan debu beterbangan yang menutupi seluruh tempat Panji Tejo Laksono berdiri. Saat asap tebal itu mulai menghilang, senyum lebar yang terukir di wajah tua Ki Samparjagad langsung menghilang.

__ADS_1


Bagaimana tidak, sosok lawan yang di kira sudah mati, nyatanya masih tegak berdiri di atas tanah. Bahkan wajah tampan Panji Tejo Laksono menyunggingkan senyuman manis nya.


"Bangsat bau kencur!!


Bagaimana kau mampu menahan Ajian Sigar Gunung ku ha? Ilmu apa yang kau pakai?", teriak Ki Samparjagad setengah tak percaya melihat apa yang terjadi di depannya. Selama ini, tak seorangpun pendekar yang sanggup menahan Ajian Sigar Gunung andalannya.


"Diatas langit masih ada langit, kakek tua..


Ilmu kanuragan mu memang hebat tapi ada ajian lain yang sanggup untuk mengalahkan nya", ujar Panji Tejo Laksono segera.


"Bangsat kecil, kau belum pantas sombong di depan ku keparat!!


Aku ku hancurkan batok kepala mu sekarang!!", Ki Samparjagad kembali melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono dan segera menghantamkan tapak tangan kanan dan kiri nya yang di lambari Ajian Sigar Gunung bertubi-tubi kearah sang Adipati baru Seloageng ini.


Blllaaammmmmmmm blllaaammmm..


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr !!!


Ledakan dahsyat beruntun terdengar, menciptakan gelombang kejut berulang ulang yang membuat seluruh tempat itu porak poranda. Pagar Padepokan Ular Siluman roboh berikut beberapa bangunan yang ada di dekat tempat pertarungan antara Panji Tejo Laksono dan Ki Samparjagad.


Pimpinan ketiga Kelompok Bulan Sabit Darah itu sampai ngos-ngosan mengatur nafasnya usai melancarkan serangan bertubi-tubi kearah Panji Tejo Laksono. Sedangkan sang Adipati baru Seloageng masih tegak berdiri sambil tersenyum lebar.


"Sekarang giliran ku, kakek tua!", setelah berkata demikian, Panji Tejo Laksono yang menggunakan Ajian Sepi Angin, melesat cepat kearah Ki Samparjagad yang masih mengatur nafasnya. Tangan kanannya yang di lambari cahaya merah kekuningan seperti nyala api yang berkobar akibat Ajian Tapak Dewa Api langsung menghantam ke arah dada Ki Samparjagad.


Pimpinan ketiga Kelompok Bulan Sabit Darah yang sudah kenyang makan asam garam dunia persilatan ini segera memapak serangan cepat Panji Tejo Laksono dengan tangan kanan nya yang berwarna biru keabu-abuan dari Ajian Sigar Gunung.


Blllaaammmmmmmm !!!


Ki Samparjagad segera menginjak tanah dengan keras. Tanah di bawah kakinya retak dan terangkat ke atas. Dengan secepat kilat, Ki Samparjagad segera menendang tanah itu ke arah Panji Tejo Laksono.


Dhhaaaassshhh !!


Sebongkah tanah seukuran kerbau melayang ke arah Panji Tejo Laksono. Tak ingin membuang waktu lagi, Panji Tejo Laksono langsung menghantam tanah yang dilemparkan oleh Ki Samparjagad.


Blllaaaaaarrr !!


Tanah itu langsung meledak dan hancur lebur menjadi debu. Namun saat Panji Tejo Laksono menembus debu yang menghalangi jalan nya, Ki Samparjagad sudah tidak ada lagi di tempatnya.


Panji Tejo Laksono segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu namun sosok yang dicari nya tidak ada. Dia tidak merasakan hawa keberadaan pimpinan ketiga Kelompok Bulan Sabit Darah itu.


Namun tak disangka, dari arah belakang nya, Ki Samparjagad muncul seolah membelah udara dan dengan cepat menghantam bahu kiri Panji Tejo Laksono.


Blllaaaaaarrr !!


Panji Tejo Laksono langsung terdorong maju nyaris terjungkal. Namun sang pangeran muda dari Kadiri itu dengan cepat merubah gerakan tubuhnya menjadi berguling ke tanah dan berlutut dengan satu dengkul diatas tanah. Dengan cepat ia menoleh ke arah belakang, namun lagi-lagi Ki Samparjagad sudah tidak ada lagi di tempatnya.


Hemmmmmmm


'Mau main petak umpet rupanya.. Baik, akan ku ladeni keinginan mu kakek tua", batin Panji Tejo Laksono sambil merapal mantra Ajian Halimun nya. Sekejap kemudian, kabut asap putih tipis menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono dan sang pangeran muda ini menghilang dari pandangan mata semua orang.


Ki Samparjagad yang berada di balik udara merasa bingung saat merasakan hawa keberadaan Panji Tejo Laksono menghilang. Sekalipun jika Panji Tejo Laksono kabur dari tempat itu, dia akan tetap merasakannya. Namun hawa keberadaan lawannya itu kini benar-benar tidak tersisa.

__ADS_1


"Bajingan kecil itu pasti kabur.. Huhhhhh, akan ku kejar dia!", umpat Ki Samparjagad sembari melangkah keluar dari balik udara. Namun belum genap selangkah dia keluar, Panji Tejo Laksono tiba-tiba muncul di sampingnya dan menghantam punggung Ki Samparjagad dengan keras.


Blllllllaaaaaaaaaaaarrrrrrrr !!


Aaaarrrgggggghhhhh !!!


Ki Samparjagad menjerit keras saat itu juga. Tubuh lelaki tua itu segera terjungkal ke depan dan menyusruk tanah hampir sejauh 2 tombak. Ini membuat pakaian nya langsung penuh dengan rerumputan. Pimpinan ketiga Kelompok Bulan Sabit Darah itu segera muntah darah segar. Tapi dia segera bangkit dari tempat jatuhnya dan menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono dengan penuh nafsu membunuh.


"Kurang ajar!!!!


Akan ku buat bapak mu tidak mengenali jasad mu saat kau mampus nanti!!", teriak Ki Samparjagad segera.


Mulut kakek tua berjanggut lebat itu segera komat-kamit merapal mantra. Tiba-tiba saja munculnya ratusan bunga mayang ( bunga pinang ) berguguran dari langit. Bau harum nya yang khas langsung membuat siapapun terlena. Inilah Ajian Janjang Gagar Mayang, puncak ilmu kanuragan warisan dari Bumi Andalas. Sebuah ilmu ilusi yang sanggup membuat lawannya terlupa dengan apa yang sedang dia alami saat ini. Hanya satu orang saja yang pernah lolos dari ilmu ilusi ini.


Panji Tejo Laksono yang terjebak dalam ilusi bunga mayang yang berguguran dari langit, tak mempersiapkan diri sama sekali saat Ki Samparjagad melesat cepat kearah nya dan segera menghantam dada Panji Tejo Laksono dengan Ajian Sigar Gunung nya.


Blllaaammmmmmmm..


Aaauuuuggggghhhhh !!!


Panji Tejo Laksono terpelanting jauh ke belakang. Nyaris hampir 4 tombak jauhnya dia menyusruk tanah. Dadanya hangus seperti terbakar api. Ki Samparjagad segera tersenyum penuh kemenangan.


"Huhhhh akhirnya kau mampus juga bocah tengik!!", maki Ki Samparjagad sembari meludahkan sisa darah segar di mulutnya.


Namun muncul keanehan. Dari tubuh Panji Tejo Laksono, dua orang raksasa putih bertubuh kerdil seperti seorang manusia muncul. Makhluk menyeramkan itu terus bermunculan hingga jumlahnya mencapai puluhan orang. Para raksasa putih bertubuh kecil itu langsung bergegas menuju ke arah Ki Samparjagad.


Ki Samparjagad terkejut bukan main melihat itu semua. Buru-buru pimpinan ketiga Kelompok Bulan Sabit Darah ini meloloskan sebuah cambuk yang melingkar di sekitar bahu dan pinggangnya. Dengan cepat, Ki Samparjagad segera menarik pangkal cambuk itu hingga ke ujungnya yang menciptakan api yang berkobar di cambuk itu.


Dengan cepat, Ki Samparjagad langsung melecutkan Cambuk Api Angin di tangan kanannya ke arah para makhluk menyeramkan itu segera.


Cheeettttttttaaaaaaaaaarrrrrrrrr!!!!


Satu orang raksasa putih itu langsung tersungkur ke tanah setelah terkena cambukan Ki Samparjagad. Namun itu tidak berlangsung lama. Dari satu jasad makhluk menyeramkan itu, tercipta dua makhluk menyeramkan serupa dan mereka langsung melesat cepat kearah Ki Samparjagad.


Cetthhhaaaarrrr... ceeettttaaaaarrrrr ...


Ceeettttaaaaarrrrr !!!!!


Ki Samparjagad terus mengayunkan cambuknya agar makhluk menyeramkan yang muncul dari tubuh Panji Tejo Laksono itu musnah. Namun semakin lama justru kemunculan makhluk menyeramkan itu semakin banyak.


Di saat Ki Samparjagad yang kelelahan pertahanan nya terbuka, dua orang makhluk menyeramkan itu segera melompat dan menggigit pinggang dan kaki kanan nya.


"Enyah kalian setan alas! Menjauh dari ku!!", teriak Ki Samparjagad sembari terus berupaya untuk melepaskan diri dari cengkeraman makhluk menyeramkan itu. Semakin lama kekuatan Ki Samparjagad semakin melemah akibat banyaknya luka yang diakibatkan oleh gigitan dan cakaran para raksasa kerdil ini.


Dua orang makhluk menyeramkan yang melihat Ki Samparjagad semakin melemah segera melompat ke arah lehernya dan keduanya segera menggigit leher Ki Samparjagad.


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Teriakan keras terdengar mulut Ki Samparjagad saat taring salah satu makhluk menyeramkan itu menembus urat nadi lehernya. Darah segar langsung muncrat di leher Ki Samparjagad.


Saat yang bersamaan, Panji Tejo Laksono yang masih tengkurap bergerak bangkit dari tempat jatuhnya. Sang pangeran muda dari Kadiri ini segera berjalan mendekati Ki Samparjagad yang sedang di kerubungi makhluk menyeramkan. Sambil menatap tajam ke arah Ki Samparjagad, Panji Tejo Laksono berkata,

__ADS_1


"Ini adalah hari kematian mu"


__ADS_2