
Namanya adalah Resi Sanggabuana. Seorang pertapa tua yang memiliki sikap aneh yang tidak umum seperti orang kebanyakan. Dia gemar berdandan layaknya seorang pengemis agar jati dirinya tidak di kenali oleh banyak orang. Jadi hanya beberapa orang saja yang bisa mengenali sosok asli dari Resi Sanggabuana di balik bajunya yang berwarna hitam lusuh dan compang-camping itu.
Selama puluhan tahun, dia bertapa di kawasan pesisir pantai selatan Jawa tepatnya di wilayah Kadipaten Mataram. Dari hasil pertapaan nya, Resi Sanggabuana memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa. Salah satunya adalah Ajian Danawa yang akan membuat tubuh nya menjadi besar layaknya seorang raksasa dengan wajah yang menyeramkan. Ajian pamungkas inilah alasan mengapa banyak orang dari dunia persilatan Tanah Jawadwipa khususnya di wilayah Kadipaten Bhumi Mataram dan sekitarnya lebih memilih untuk menghindar dari pada harus beradu ilmu kanuragan dengan pertapa tua itu. Sudah cukup banyak pendekar baik dari golongan putih maupun hitam yang mencoba untuk mengadu kesaktian dengan Resi Sanggabuana namun tidak satupun dari mereka yang kembali dengan selamat. Itu karena Resi Sanggabuana tidak segan-segan untuk menghabisi nyawa siapapun yang mencoba untuk mencelakainya.
Resi Sanggabuana hanya memiliki dua murid. Satu bernama Wandana yang bergelar Si Kaki Kilat dari Selatan, sedangkan yang satunya adalah Tumenggung Gurunwangi sang otak pemberontakan terhadap Kerajaan Panjalu dari Kadipaten Rajapura. Tumenggung Gurunwangi pernah berguru kepada nya hampir 3 tahun lamanya. Ajian Tapak Penghancur Gunung yang menjadi ilmu kanuragan andalan Tumenggung Gurunwangi juga berasal dari Resi Sanggabuana.
Berita kekalahan Rajapura dari Panjalu berikut kematian Tumenggung Gurunwangi di tangan Panji Tejo Laksono telah menyebar ke seluruh wilayah Panjalu dari mulut ke mulut para pedagang yang sering bepergian ke antar daerah di Panjalu. Selalu saja mereka membicarakan tentang Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya saat berbincang dimana pun tempat nya hingga perlahan tapi pasti, berita hancurnya para pemberontak Rajapura di tangan sang pangeran muda dari Kadiri itu menyebar luas di kalangan masyarakat. Setelah sekian lama akhirnya berita itu sampai pula di telinga Resi Sanggabuana yang masih berada di pasar besar Kadipaten Bhumi Mataram. Saat mendengar berita itu, Resi Sanggabuana marah besar dan mengobrak-abrik seisi pasar besar Kota Bhumi Mataram tanpa ada yang bisa menghentikan. Bahkan Senopati Bhumi Mataram, Danureja harus bertekuk lutut di hadapan Resi Sanggabuana. Dengan amarah yang membara di dalam dada, Resi Sanggabuana bertekad untuk mencari Panji Tejo Laksono kemanapun sampai ketemu untuk membalas dendam. Kalau perlu sampai ke ujung dunia sekalipun akan dia kejar.
Semula dia menyusul ke Rajapura yang menjadi tempat tinggal sementara Panji Tejo Laksono namun ia terlambat datang karena Panji Tejo Laksono sudah meninggalkan Kota Rajapura untuk melangsungkan pernikahan dengan Ayu Ratna di Kalingga. Mendengar berita itu, Resi Sanggabuana segera menyusul Panji Tejo Laksono ke Kota Kadipaten Kalingga. Dan hari ini, satu hari menjelang pernikahan sang pangeran muda dari Kadiri itu, Resi Sanggabuana tiba di Kalingga.
Sekali hentak, tubuh Resi Sanggabuana melenting tinggi ke udara laksana sebuah anak panah yang lepas dari busurnya. Gerakannya begitu ringan selincah burung layang-layang yang cakap melintasi langit. Maklum saja, Resi Sanggabuana adalah salah satu tokoh besar dunia persilatan yang punya julukan Si Langkah Kilat dari Selatan.
Begitu ringannya, tubuh Resi Sanggabuana mendarat di atas pucuk pepohonan yang tumbuh di dekat Istana Kadipaten Kalingga. Matanya nanar menatap ke sekeliling tempat itu seakan menelisik seluruh tempat itu tanpa terkecuali.
Saat mata tua Resi Sanggabuana melihat sesosok wanita muda yang cantik sedang berbincang-bincang dengan seorang wanita lainnya, dia seketika menduga bahwa itu adalah putri Adipati Aghnibrata yang akan di nikahkan dengan Panji Tejo Laksono. Timbul niat jahatnya untuk menggagalkan rencana pernikahan Panji Tejo Laksono dengan menculik perempuan cantik yang dia duga adalah Ayu Ratna, sekar kedaton Istana Kadipaten Kalingga.
Secepat kilat dia melesat ke arah dua perempuan cantik yang sedang berbincang itu. Tangan tua nya nampak cepat menyambar ke arah leher perempuan cantik yang berpakaian serba kuning kemerahan itu.
Whhhuuuggghhhh !!
Sambaran angin dingin tenaga dalam tingkat tinggi berdesir kencang mengikuti gerakan tangan Resi Sanggabuana. Si perempuan cantik yang tak lain adalah Luh Jingga merasakan suatu bahaya tengah mengancam nyawa nya, langsung menjatuhkan tubuhnya demi menghindari sambaran cepat Resi Sanggabuana.
Namun, Karti, dayang istana yang di tugaskan khusus untuk nya oleh Ayu Ratna untuk melayani seluruh kebutuhan Luh Jingga selama di Kalingga langsung tertangkap oleh Resi Sanggabuana.
Melihat buruannya lepas, Resi Sanggabuana dengan cepat melemparkan tubuh Karti ke arah yang berbeda hingga tubuh mungil dayang istana itu terlempar hampir 2 tombak jauhnya dan menyusruk rerumputan di taman balai tamu kehormatan Kadipaten Kalingga.
Setelah melepaskan Karti, Resi Sanggabuana dengan cepat melesat ke arah Luh Jingga yang sudah bersiap untuk menghadapi serangan nya. Pertarungan sengit antara keduanya berlangsung seru.
Whuuthhh whuuthhh.. !
Plllaaaakkkkk plllaaaakkkkk..
Dhasshhh dhasshhh !!
Resi Sanggabuana sedikit kaget juga saat mengetahui bahwa gadis cantik yang dia incar ini memiliki kemampuan beladiri yang tinggi. Meskipun begitu, sebagai tokoh tua dunia persilatan, Resi Sanggabuana dengan cepat menyesuaikan diri terhadap kecepatan serangan balik yang di lancarkan oleh Luh Jingga.
__ADS_1
Melihat majikannya bertarung melawan musuh, Karti sang dayang istana segera bangkit dari tempat jatuhnya dan dengan tertatih berjalan keluar dari taman sari balai tamu kehormatan Kadipaten Kalingga untuk meminta pertolongan.
Di luar gapura, dua orang prajurit yang sedang berjaga melihat kedatangan Karti yang terseok-seok berjalan, buru-buru mendekati si dayang cantik ini.
"Karti, kau kenapa?", tanya salah seorang prajurit penjaga itu segera.
"Itu itu..
Ada orang jahat yang menyerang Gusti Putri Luh Jingga. Cepat cari bantuan sekarang!", ucap Karti segera. Mendengar perkataan Kartu, dua orang itu saling berpandangan sejenak sebelum bergerak cepat. Salah seorang diantara mereka langsung mengetok kentongan secepat mungkin sebagai tanda bahaya. Sedangkan salah satunya langsung masuk ke dalam balai tamu kehormatan untuk membantu Luh Jingga.
Thoongg thoongg thoongg!!
"Ada penyusup masuk ke dalam istana!", teriak si prajurit sekeras mungkin. Suara keributan itu segera memancing perhatian dari seluruh penghuni Istana Kadipaten Kalingga. Para prajurit Kalingga di bawah pimpinan Tumenggung Murdaya yang bertugas sebagai pengawal istana langsung mengepung tempat itu. Tumenggung Murdaya sendiri langsung melesat cepat kearah pertarungan sengit antara Resi Sanggabuana dengan Luh Jingga. Terlihat dari sudut bibir Luh Jingga ada darah segar mengalir keluar. Ini pertanda bahwa kemampuan beladiri putri Resi Damarmoyo dari Bukit Penampihan itu masih di bawah Resi Sanggabuana.
Whhhuuutthh..!!
Sabetan pedang Tumenggung Murdaya seketika membuat baik Resi Sanggabuana maupun Luh Jingga masing masing melompat mundur beberapa langkah ke belakang untuk menghindari sabetan pedang.
"Bedebah tengik!
"Aku Tumenggung Murdaya, penjaga istana Kadipaten Kalingga. Meski nyawa ku taruhannya, aku tidak akan mundur sedikitpun dari tugas ku", sahut Tumenggung Murdaya sembari menatap tajam ke arah Resi Sanggabuana. Lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal itu segera memutar gagang pedang di tangan nya.
"Bedebah!! Sudah cukup basa-basi..
Ku antar nyawa mu ke neraka!!", Resi Sanggabuana segera menyiapkan kuda-kuda ilmu silat andalannya, sementara itu Tumenggung Murdaya menoleh ke arah Luh Jingga yang sedang mengusap sisa darah segar yang meleleh keluar dari sudut bibirnya.
"Nini Luh Jingga..
Mundurlah biar aku saja yang menghadap nya. Jika dia begitu hebat, sebaiknya kau cepat pergi dari sini", selepas berkata demikian, Tumenggung Murdaya langsung melesat ke arah Resi Sanggabuana sembari membabatkan pedang nya. Sementara itu Luh Jingga mundur selangkah ke belakang untuk mengobati luka dalam nya.
Shhrreeettthhh..!!
Sabetan pedang Tumenggung Murdaya dengan cepat di hindari oleh Resi Sanggabuana. Resi tua itu sedikit menggeser posisi tubuhnya lalu segera memutar tubuhnya sambil melayangkan tendangan keras kearah punggung Tumenggung Murdaya.
Whhhuuuggghhhh!
__ADS_1
Dengan lincah, Tumenggung Murdaya berkelit ke samping sambil menebaskan pedangnya kearah perut lawan. Resi Sanggabuana langsung merubah gerakan tubuhnya dan menghantamkan tapak tangan kanan nya pada dada Tumenggung Murdaya. Serangkum angin dingin berdesir kencang mengikuti selarik sinar biru gelap menerabas cepat kearah dada sang penjaga istana Kadipaten Kalingga.
Whuuussshh !!
Karena tidak memiliki ruang untuk menghindar, Tumenggung Murdaya hanya bisa bertahan dengan memapak hantaman tenaga dalam Resi Sanggabuana dengan pedang nya.
Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !!!
Auuuggghhhhh !
Tumenggung Murdaya terlempar beberapa tombak ke belakang setelah ajian kanuragan milik Resi Sanggabuana menghantam pedang nya. Tubuhnya menyusruk tanah dengan keras. Melihat lawannya jatuh, Resi Sanggabuana segera menyeringai lebar menatap nya.
"Ckckckck..
Cuma segini saja kemampuan beladiri penjaga istana Kadipaten Kalingga. Memalukan..!! Lebih baik kau mati saja", sembari berkata demikian, Resi Sanggabuana segera menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara. Tubuh lelaki tua itu segera meluncur turun ke arah Tumenggung Murdaya yang baru saja berdiri meski sambil membekap dadanya yang sakit bukan main.
Karena tidak memiliki kesempatan untuk menghindar, Tumenggung Murdaya hanya menggunakan seluruh tenaga dalam nya yang tersisa untuk menyambut kedatangan serangan Resi Sanggabuana dengan kedua tangannya.
"Percuma saja bedebah!
Kau tetap akan mampus!!", ucap Resi Sanggabuana sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna biru redup berhawa dingin.
'Ajal ku rupanya sampai di sini saja. Swargaloka aku datang', batin Tumenggung Murdaya sembari memejamkan mata. Dia pasrah menyambut kematiannya.
Blllaaammmmmmmm !!
Ledakan dahsyat kembali terdengar saat tapak tangan kanan Resi Sanggabuana beradu dengan tapak tangan Tumenggung Murdaya. Saat Tumenggung Murdaya membuka mata nya, sesuatu yang dia harapkan tidak terjadi. Sesuatu yang ganjil justru terjadi di depan mata nya. Resi Sanggabuana terlempar hampir 2 tombak jauh nya setelah ledakan keras tadi. Kakek tua renta berjanggut putih panjang dengan beberapa bekas luka di wajahnya itu justru terlihat sedikit menahan sakit.
"A-apa yang sebenarnya telah terjadi?", tanya Tumenggung Murdaya dengan wajah penuh kebingungan.
Dari belakang punggungnya, sebuah suara seorang lelaki muda yang terdengar berat dan berwibawa terdengar.
"Terimakasih Tumenggung Murdaya sudah melindungi Luh Jingga..
Selanjutnya biar aku yang menghadapinya"
__ADS_1