Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Putri Lan


__ADS_3

Dua sosok bayangan melesat cepat kearah Wang Chun Yang yang masih berdiri di tempatnya. Tak lain mereka berdua adalah Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga. Sebenarnya Wang Chun Yang tidak menyadari kehadiran mereka berdua jika Luh Jingga yang merasa pelukan Panji Tejo Laksono terlalu erat hingga membuat gadis cantik berbaju kuning kemerahan itu menggeliat perlahan untuk melonggarkan pelukan hangat sang pangeran muda.


Wang Chun Yang sedikit terkejut juga melihat tinggi nya kemampuan ilmu meringankan tubuh Panji Tejo Laksono yang kini berdiri di hadapannya.


"Mohon maaf Tuan, kami tak sengaja lewat dan mendengar suara pertarungan jadi kami penasaran dan ingin menonton.


Tidak ada maksud mengganggu ataupun ikut campur dalam urusan pribadi Tuan Pendeta", ujar Panji Tejo Laksono dengan sopan.


Melihat Panji Tejo Laksono bermata lebar dan kurang fasih berbahasa Tionghoa, Wang Chun Yang langsung menyadari bahwa mereka adalah pendatang dari luar Daratan Tengah.


"Tidak ada masalah, saudara ku...


Kenapa kalian berdua sampai di tempat ini? Darimana asal kalian?", tanya Wang Chun Yang segera. Panji Tejo Laksono segera tersenyum tipis sembari menatap ke arah pendeta Tao itu.


"Kami berasal dari sebuah negeri yang jauh di seberang Laut Selatan. Tujuan utama kami adalah ke Ibukota Kekaisaran Song untuk membalas kunjungan utusan Kaisar Song yang sudah sampai di negeri kami beberapa waktu yang lalu.


Namaku Tejo Laksono dan ini kawan ku Luh Jingga, Tuan Pendeta".


"Thee Jung Leuh Son? Lu Qing Gang?", Wang Chun Yang mencoba mengeja nama Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga dengan dialek khas nya. Tidak pas tapi malah terdengar aneh di telinga Luh Jingga.


"Bukan Thee Jung, Tuan Pendeta. Tapi Te Jo", Panji Tejo Laksono berusaha untuk membenarkan omongan Wang Chun Yang.


"Ah susah sekali. Aku panggil kau pendekar Thee saja dan dia nona Qing Gang saja biar aku lebih mudah mengucapkan nya.


Kalau kalian utusan dari negeri di seberang lautan, lantas dimana rombongan kalian?", Wang Chun Yang masih meragukan omongan Panji Tejo Laksono. Lelaki berpakaian pendeta Tao ini memang tak mudah percaya dengan orang yang baru saja di kenal.


Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga segera mengajak Wang Chun Yang ke arah kereta kuda nya yang sedang dalam perbaikan. Melihat itu Wang Chun Yang manggut-manggut karena bukti yang di tunjukkan oleh Panji Tejo Laksono.


Namun mata Wang Chun Yang sedikit melebar melihat sosok Huang Lung meski dengan cepat dia menguasai dirinya. Matanya yang tajam mampu melihat sosok sebenarnya Huang Lung tapi Ketua Aliran Chun Yang itu mencoba untuk berpura-pura seolah tidak tahu apa apa. Dia ingin menyelidiki keinginan Huang Lung sesungguhnya.


'Aku pasti akan tahu apa keinginan dan tujuan mu sebenarnya'


Mulai saat itu rombongan Panji Tejo Laksono bertambah besar dengan kehadiran sang Dewa Pedang Wang Chun Yang. Meski Huang Lung nampak keberatan dengan kehadiran Wang Chun Yang, namun karena dia juga hanya ikut rombongan itu maka akhirnya dia memilih untuk mengalah dan membiarkan Wang Chun Yang ikut serta dalam rombongan Panji Tejo Laksono.


Rombongan itu segera berangkat ke Utara. Melewati jalan yang membelah hutan bambu yang amat luas, mereka terus melanjutkan perjalanan. Setelah seharian penuh menempuh perjalanan, di tepi hutan bambu itu mereka menghentikan pergerakannya. Langit telah memerah pertanda sebentar lagi senja akan segera tiba. Panji Tejo Laksono selaku pimpinan kelompok memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan dan memilih berkemah di tepi hutan bambu.


Kereta kuda yang berisi aneka hadiah yang diberikan oleh Prabu Jayengrana menjadi pusat perhatian mereka. Dengan cekatan, beberapa tenda di dirikan oleh para prajurit Panjalu mengitari kereta kuda sebagai langkah pengamanan. Sebuah api unggun pun di buat tak jauh dari tempat kereta kuda berada.

__ADS_1


Saat semua orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing, Huang Lung diam diam keluar dari rombongan menuju ke arah selatan. Pendekar itu dengan cepat melesat melewati jalanan tanah yang telah mereka lewati. Namun itu semua tak lepas dari pengamatan Wang Chun Yang.


Pendekar berbaju pendeta Tao ini menguntit Huang Lung dari jarak yang cukup jauh. Gerakan tubuhnya yang ringan membuat Huang Lung tak sadar bahwa ia telah dibuntuti oleh Dewa Pedang sejak dia meninggalkan tempat bermalam rombongan Panji Tejo Laksono.


Di dekat sungai kecil di hutan bambu, Huang Lung menghentikan gerakannya. Setelah memastikan bahwa ia aman, Huang Lung segera dia bersiul nyaring sekali.


Shuuuiiiiittttttt.....!!


Tak berapa lama kemudian, dua orang berbadan besar muncul dari arah timur sungai kecil. Dua orang lelaki berpakaian serba gelap itu langsung menghormat pada Huang Lung.


"Hormat kami pada Tuan Putri Lan", ujar salah seorang diantara mereka sembari membungkuk hormat kepada Huang Lung.


"Zhonghan, Ziyin..


Ada perlu apa kalian mencari ku? Bukankah. aku sudah bilang bahwa aku tidak mau di ganggu dengan urusan Suku Jurchen?", ujar Huang Lung alias Wanyan Lan, putri ketiga dari Kepala Suku Wanyan, Helibo tanpa menoleh sedikitpun ke arah dua orang berbadan besar yang tak lain adalah Wanyan Zhonghan dan Wanyan Ziyin, sepasang pendekar dari daerah selatan Kekaisaran Liao yang berbatasan dengan Kekaisaran Song. Mereka berdua adalah pengikut setia Helibo yang di tugaskan untuk mengawal Putri Lan, putri ketiga Helinbao, Kepala Suku Wanyan yang merupakan salah satu dari 12 anggota Suku Jurchen yang tinggal di sekitar wilayah Sungai Songhua.


Meskipun masih satu marga dengan Wanyan Lan, mereka berdua berasal dari keluarga cabang hingga memiliki kedudukan yang lebih rendah di banding keluarga inti seperti Huang Lung alias Wanyan Lan. Sehingga mereka harus selalu patuh pada perintah keluarga inti. Inilah aturan yang berlaku di Suku Jurchen.


"Ampuni kami, Tuan Putri..


Kepala suku meminta Tuan Putri untuk pulang ke wilayah suku kita. Yang Mulia ingin meminta bantuan dari Tuan Putri untuk membujuk Aguda. Kakak Tuan Putri, Pangeran Wanyan Min ingin mengumpulkan kekuatan suku Jurchen untuk menantang kekuatan Dinasti Liao.


Mohon Tuan Putri bersedia untuk membantu keinginan Kepala Suku Wanyan", Wanyan Zhonghan mengakhiri omongannya dengan menghormat pada Huang Lung alias Wanyan Lan.


Hemmmmmmm..


.


"Aku tahu kalian sengaja merusak roda kereta kuda milik rombongan pendekar Thee untuk bicara kepada ku bukan?


Dengarkan aku, Zhonghan dan Ziyin..


Segala bentuk keputusan yang diambil oleh kakak ku Wanyan Min adalah urusannya sendiri, bukan urusan ku. Ayah seharusnya mendukung apapun keputusan kakak kedua karena aku yakin sekali bahwa kakak ku sudah mempertimbangkan segala sesuatu nya sebagai persiapan untuk menghadapi kemarahan Kaisar Liao jika Suku Jurchen memberontak terhadap kekuasaan mereka.


Selama ini, Suku Jurchen memang selalu ditindas oleh Dinasti Liao. Kita di jadikan sapi perah yang harus memenuhi beberapa kebutuhan mereka sedangkan mereka sama sekali tidak bisa memenuhi kewajiban mereka.


Secara pribadi, aku mendukung keputusan kakak untuk melawan penindasan terhadap suku kita ", ujar Huang Lung alias Wanyan Lan sembari menoleh ke arah Wanyan Zhonghan dan Wanyan Ziyin.

__ADS_1


"Tapi Tuan Putri,


Kepala Suku Wanyan ingin bertemu dengan Tuan Putri. Mohon sudi untuk pulang bersama kami ke Sungai Emas", ujar Wanyan Ziyin dengan penuh hormat.


"Aku akan pulang ke Sungai Songhua saat sudah sampai pada waktunya, Ziyin..


Sebaiknya kalian tidak menemui ku lagi. Pulanglah ke Sungai Songhua. Bantu kakak kedua ku untuk menyusun kekuatan Suku Jurchen sebelum kita berperang melawan Kaisar Liao


Aku masih punya sesuatu yang perlu ku selesaikan di Kaifeng".


Setelah berkata demikian, Huang Lung alias Wanyan Lan segera melesat cepat meninggalkan tempat itu. Wanyan Zhonghan dan Wanyan Ziyin saling berpandangan sejenak tanpa sempat bicara lagi pada Huang Lung.


"Kakak, sekarang kita harus bagaimana?


Apa perlu kita paksa Putri Lan dengan kekerasan agar dia patuh dan mau pulang ke Jurchen?", tanya Wanyan Ziyin sembari terus menatap ke arah Huang Lung yang semakin terlihat menjauh.


"Apa kau sudah bosan hidup, Ziyin?


Jika Putri Lan sampai kita paksa pulang ke wilayah Suku Jurchen, bukan nya kita dapat hadiah tapi pasti kita di pancung oleh Kepala Suku.


Sudahlah, sebaiknya kita kembali ke tempat Pangeran Wanyan Min sesuai dengan perintah Putri Lan. Sebaiknya kita bergegas sebelum hari semakin gelap", usai berkata demikian, Wanyan Zhonghan segera melesat cepat kearah timur diikuti oleh Wanyan Ziyin.


Dari balik gundukan tanah tempat pertemuan mereka, Dewa Pedang yang mendengar semua pembicaraan mereka akhirnya mengerti tujuan Dua Pedang Gurun Utara itu datang ke Dataran Tengah.


'Si perempuan menyamar ini masih punya satu tujuan lain datang ke Kaifeng. Aku akan terus mengawasi nya'


Di perkemahan para prajurit Panjalu, suasana sibuk sudah selesai. Sebuah api unggun menyala tepat setelah matahari terbenam di langit barat. Para prajurit Panjalu membuat lingkaran besar mengelilingi api unggun untuk menghangatkan badan dari dinginnya udara malam. Aneka makanan yang bisa di bakar seperti singkong dan jagung terlihat sudah terpanggang panas api unggun mereka.


Malam itu langit terlihat cerah dengan bulan purnama yang nampak bulat sempurna seperti wajah seorang wanita cantik dengan senyum manis nya. Cahaya bintang bintang berkelap-kelip seakan menari menyambung kedatangan sang penguasa malam.


Saat mereka tengah asyik mengobrol sembari berdiang, tiba tiba terdengar suara lolongan serigala yang terdengar cukup dekat dengan tempat perkemahan mereka.


Auuuuuuuwwwwww...!!


Suasana yang semula gembira dan ceria, langsung berubah menjadi tegang. Apalagi suara lolongan serigala itu mulai bersahutan pertanda bukan hanya satu serigala saja yang muncul. Suara lolongan serigala ini seperti mengepung tempat berkemah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya. Panji Tejo Laksono yang baru berganti baju di dalam kereta kuda, langsung keluar dari dalam kereta kuda.


"Siapkan senjata kalian,

__ADS_1


Kita sedang di kepung!"


__ADS_2