Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Menuju Ke Barat


__ADS_3

Rombongan Panji Tejo Laksono terus memacu kuda kuda tunggangan mereka ke arah barat. Melewati puluhan wanua yang tersebar di barat perbatasan wilayah Lodaya dan Karang Anom. Dari kejauhan, terlihat sebuah pertarungan tidak seimbang antara Woro dan Wati melawan para perwira prajurit Kadipaten Karang Anom. Ini langsung memantik perhatian dari sang pangeran muda.


Tanpa menunggu kuda nya berhenti, sang pangeran muda dari Kadiri itu segera melenting tinggi ke udara usai menggunakan pelana kuda tunggangan nya sebagai tumpuan. Tubuhnya seketika melesat cepat ke langit. Dari atas, Panji Tejo Laksono melihat sikap Bekel Pranata dan Bekel Gayam yang ingin bertindak kasar pada Woro dan Wati.


Seketika itu juga Panji Tejo Laksono langsung merapal mantra Ajian Tapak Dewa Api milik nya dan menghantamnya ke arah dua orang perwira rendah prajurit Kadipaten Karang Anom itu.


Whhhuuuggghhhh....


Blllaaammmmmmmm!!


Melihat anak buah nya tewas dengan satu kali serangan, Juru Wibisana langsung mendelik kereng pada arah Panji Tejo Laksono yang meluncur turun ke arah mereka.


"Bajingan darimana ini? Kenapa tiba-tiba ikut campur dalam urusan ku ha?", teriak Juru Wibisana keras.


Tak terima dengan omongan kasar Juru Wibisana, Tumenggung Ludaka yang sudah berada tak jauh dari tempat itu langsung melesat cepat kearah sang perwira menengah itu sambil melemparkan beberapa pisau belati kecil berwarna putih yang menjadi senjata rahasia nya ke arah sang perwira prajurit Kadipaten Karang Anom.


Shhhrriinggg shhhrriinggg shhhrriinggg!!!


"Kau belum pantas untuk bicara tentang junjungan ku!!", bentak Tumenggung Ludaka keras.


Juru Wibisana memutar telapak tangannya cepat dan mengarahkannya ke arah serangan cepat Tumenggung Ludaka. Gelombang cahaya merah redup berhawa panas menghantam serangan senjata rahasia dari Tumenggung Ludaka.


Blllaaaaaarrr trrakkk!!!


3 pisau belati kecil milik Tumenggung Ludaka langsung bermentalan setelah terkena gelombang cahaya merah redup berhawa panas itu. Tumenggung Ludaka pun segera menjajari Panji Tejo Laksono yang lebih dulu mendarat tak jauh dari Woro dan Wati yang berusaha bangkit dari tempat jatuhnya.


"Terimakasih atas ban-bantuan nya Ndoro uhukkk uhukkk..", ucap Wati sambil terbatuk-batuk dan memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Sudahlah..


Aku cuma penasaran kenapa kalian berdua bisa menjadi sasaran para prajurit ini?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Kami tidak tahu apa-apa, Ndoro. Tiba-tiba saja mereka muncul dan menyerang kami", sahut Woro yang berdiri sempoyongan di samping Wati.


Sedangkan Juru Wibisana melompat turun dari kudanya seketika berteriak keras menyahut omongan Woro, " Bohong!! Mereka berdua adalah telik sandi yang sedang memata-matai kami".


"Mana buktinya??


Kami hanya para pencari kayu bakar yang tersesat di dekat tempat latihan kalian. Tapi kalian malah mengejar-ngejar kami seperti maling. Siapa yang tidak takut dengan kepungan para prajurit yang berjumlah puluhan ribu orang?", balas Wati sengit.


Panji Tejo Laksono dan Tumenggung Ludaka segera saling berpandangan seolah saling berbicara satu sama lain. Melihat anggukan halus Panji Tejo Laksono, Tumenggung Ludaka pun mengerti.


"Menuduh orang tanpa bukti, itu bisa menjadi fitnah tanpa alasan. Kalau tidak bisa menunjukkan bukti-bukti yang kuat, jangan menuduh orang sembarangan..", ucap Tumenggung Ludaka sambil menatap ke arah Juru Wibisana.


"Berani sekali kau menceramahi ku tentang bukti. Aku perwira prajurit Kadipaten Karang Anom. Aku bisa saja menjebloskan orang ke penjara sesuka hati ku karena aku adalah hukum di wilayah Kadipaten Karang Anom.


Sebaiknya kau tidak perlu ikut campur urusan ku jika tidak ingin ikut terseret ke dalam masalah ini", ucap Juru Wibisana keras.


"Aku adalah pendekar. Tugas ku menegakkan keadilan di atas muka bumi. Jika ada pejabat negara yang berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat, maka aku akan ikut campur di dalamnya..", mendengar jawaban Tumenggung Ludaka itu, Juru Wibisana mendengus keras.


"Dari awal kau memang mengganggu keinginan ku!!

__ADS_1


Kalau begitu, aku akan menangkap mu sekalian!!"


Setelah melakukan beberapa kembangan ilmu silat nya, Juru Wibisana menerjang maju ke arah Tumenggung Ludaka. Tangannya dengan cepat menghantam ke arah sang perwira tinggi prajurit Panjalu.


Whhhuuuggghhhh!!


Tumenggung Ludaka segera berkelit menghindar. Adu kepandaian ilmu silat pun segera terjadi.


Whhhuuuggghhhh whhhuuuggghhhh..


Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh!!


Dalam sepuluh jurus berlalu, sudah terlihat kemampuan beladiri Tumenggung Ludaka lebih unggul dibandingkan dengan Juru Wibisana. Pengalaman nya sebagai pengiring Prabu Jayengrana dalam berbagai peperangan menjadi guru tersendiri bagi sang perwira. Setidaknya ada 4 pukulan keras yang mendarat di tubuh Juru Wibisana. Sedangkan Juru Wibisana belum satupun bisa melakukannya.


Demung Gumbreg dan Endang Patibrata yang membawa kuda-kuda mereka, langsung melompat turun dari atas kuda mereka masing-masing dan mendekati Panji Tejo Laksono yang berdiri di depan Woro dan Wati.


"Ndoro, bagaimana situasinya?", tanya Demung Gumbreg segera.


"Paman Ludaka masih mengatasi permainan silat perwira Karang Anom itu. Kita lihat saja dulu dari sini", ujar Panji Tejo Laksono tanpa mengalihkan pandangannya pada pertarungan sengit antara Juru Wibisana dan Tumenggung Ludaka.


"Lalu bagaimana dengan para perempuan desa ini Kakang?", sahut Endang Patibrata sembari melirik ke arah Woro dan Wati.


"Mereka masih baik-baik saja. Hanya luka dalam ringan. Kau coba urusi mereka", mendengar jawaban Panji Tejo Laksono, Endang Patibrata mengangguk mengerti dan bergegas mendekati Woro dan Wati untuk membantu mengobati luka dalam mereka.


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Juru Wibisana terhuyung huyung mundur setelah tendangan keras kaki kiri Tumenggung Ludaka telak menghajar wajah nya. Setelah berdiri tegak, dia mengusap darah segar yang meleleh keluar dari bibirnya yang pecah sembari menatap tajam penuh amarah pada Tumenggung Ludaka.


"Tua bangka!!


Kedua tangan Juru Wibisana merentang lebar di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Cahaya merah redup berhawa panas muncul di dada nya yang kemudian bergulung pada lengan sang perwira.


"Pukulan Api Neraka...


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat!!!"


Whhhuuutthh whhhuuutthh...!!!


Dua larik cahaya merah redup berhawa panas menerabas cepat kearah Tumenggung Ludaka. Melihat itu, sang perwira tinggi prajurit Panjalu itu segera berjumpalitan menghindari cahaya merah redup ini dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh nya yang tinggi.


Blllaaaaaarrr blllaaammmmmmmm!!


Dua batang pohon yang tumbuh di tepi hutan kecil dekat sungai yang menjadi perbatasan wilayah Pakuwon Ngrowo itu langsung meledak saat dua larik cahaya merah redup menghajarnya. Melihat lawannya lolos dengan mudah, Juru Wibisana mendengus keras dan kembali melepaskan tembakan ilmu kanuragan andalannya ke arah lawan.


Whhhuuummmm..


Blllaaaaaarrr blllaaammmmmmmm!!


Ledakan keras terdengar beruntun di sekitar tempat itu. Tempat yang semula indah ini langsung menjadi porak poranda akibat amukan Juru Wibisana yang ingin menghabisi nyawa Tumenggung Ludaka. Namun tak satupun serangannya yang berhasil menjatuhkan perwira tinggi prajurit Panjalu ini.


Semakin lama tenaga dalam Juru Wibisana semakin terkuras habis. Ini semua adalah taktik yang di gunakan oleh Tumenggung Ludaka. Begitu melihat celah pertahanan lawan yang rapuh, Tumenggung Ludaka langsung memasukkan kedua telapak tangannya ke balik baju. Lalu...

__ADS_1


Shhhrriinggg shhhrriinggg shhhrriinggg!!


Delapan pisau belati kecil melesat cepat dari lemparan tangan sang perwira sepuh ini. Juru Wibisana terkejut juga melihat itu semua dan segera melompat mundur sambil menghantamkan tapak tangan kanan. Namun itu semua belum berakhir.


Setelah melihat perhatian Juru Wibisana terpecah, Tumenggung Ludaka bergerak cepat ke arah samping kiri pergerakan Juru Wibisana. Perwira prajurit Karang Anom itu yang tak menyangka kalau akan ada serangan cepat itu, langsung meraung keras saat pedang pendek Tumenggung Ludaka menembus pinggangnya.


Jllleeeeeppppphhh ..


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Saat Tumenggung Ludaka mencabut pedang pendek nya, Juru Wibisana langsung roboh sambil memegangi pinggangnya yang bolong dan mengucurkan darah segar.


"Ba..ji...ngggannn.. k-kau tu..a bang...kaaa", hanya itu saja yang terucap dari mulut Juru Wibisana sesaat sebelum dia kelojotan dan tewas kemudian.


Melihat lawannya sudah tak bernyawa, Tumenggung Ludaka segera meninggalkannya dan berjalan mendekati tempat Panji Tejo Laksono dan Demung Gumbreg berada. Perwira bertubuh tambun itu langsung mengacungkan jempol nya sebagai pujian untuk sang kawan karib.


Panji Tejo Laksono mengangguk pelan dan Tumenggung Ludaka langsung mengerti apa yang di maksud oleh sang pangeran muda.


Tumenggung Ludaka pun segera mendekati Woro dan Wati bersama dengan Panji Tejo Laksono dan Demung Gumbreg.


"Apa kalian berdua dari Pasukan Lowo Bengi?", pertanyaan Tumenggung Ludaka langsung membuat Woro dan Wati kaget setengah mati.


"Da-darimana Ndoro tahu k-kalau kami adalah anggota Pasukan Lowo Bengi?", tanya Woro gagap karena cemas akan terjadi sesuatu pada dirinya dan Wati. Bagaimanapun kemampuan beladiri mereka bukanlah lawan tanding yang sepadan dengan kemampuan Tumenggung Ludaka yang bisa membunuh Juru Wibisana dengan mudah.


"Setiap anggota Pasukan Lowo Bengi memiliki sebuah rajah yang tersembunyi di balik pakaiannya. Untuk lelaki biasanya di pergelangan tangan sebelah kiri, sedangkan perempuan biasanya di buat pada paha kiri.


Aku sudah melihatnya saat kalian jatuh tadi. Jadi tidak perlu repot-repot lagi mencari alasan untuk tidak mengakuinya", ucap Tumenggung Ludaka yang membuat Woro dan Wati tersentak mendengarnya.


"Sudah tenang saja..


Lelaki ini adalah bekas pimpinan Pasukan Lowo Bengi saat awal di bentuk. Jadi tentu saja dia tahu tentang seluk beluk dunia telik sandi dari Pasukan Lowo Bengi..", sahut Demung Gumbreg yang membuat Woro dan Wati langsung menarik nafas lega.


"Kami memang anggota Pasukan Lowo Bengi, Ndoro..


Saya Wati dan ini Woro. Kami di tugaskan oleh Gusti Tumenggung Landung untuk menyelediki desas-desus bahwa ada pasukan besar yang sedang berlatih di kawasan hutan Karang Anom. Kamu berhasil menemukannya tapi terpergok oleh para prajurit Karang Anom hingga sampai di tempat ini. Begitulah kejadiannya ", ucap Wati sambil menghormat pada Tumenggung Ludaka.


"Jadi rupanya benar ada hal seperti itu. Ndoro, bagaimana mengatasinya?", Tumenggung Ludaka menoleh ke arah Panji Tejo Laksono yang terlihat sedang berpikir keras.


"Begini saja, kalian berdua segera menemui Tumenggung Landung di Kotaraja Daha. Katakan padanya semua hal yang kalian tahu tentang para prajurit yang berlatih ini. Tapi minta pada Tumenggung Landung untuk tidak melaporkan hal ini pada Gusti Prabu Jayengrana.


Sampaikan pesan ini dari ku, Panji Tejo Laksono ", ucap Panji Tejo Laksono segera. Woro dan Wati kembali terhenyak mendengar ucapan itu.


Dengan penuh ketakutan, Wati pun berlutut dihadapan Panji Tejo Laksono bersama Woro.


"Sembah kami Gusti Pangeran.."


"Sudah jangan menarik perhatian, lakukan perintah ku secepat mungkin. Ingat pesan ku tadi", ucap Panji Tejo Laksono segera.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran..


Kalau begitu kami mohon pamit untuk segera ke Kotaraja Daha", ujar Wati yang segera bangkit dari tempat menyembahnya diikuti oleh Woro. Keduanya segera meninggalkan tempat itu menuju ke arah Utara. Setelah Woro dan Wati menghilang dari pandangan, Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya segera melanjutkan perjalanan ke arah barat.

__ADS_1


Sementara itu, sepasang mata yang terus mengawasi seluruh kejadian itu segera menghela nafas panjang sebelum bergegas menuju ke arah semak-semak dimana seekor kuda tertambat pada batang pohon perdu.


"Akan ku laporkan ini pada Gusti Adipati Windupati...."


__ADS_2