Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Perompak Bendera Hitam


__ADS_3

Suasana di atas kapal jung besar itu tegang seketika. Semula segera bersiap untuk menghadapi situasi terburuk.


Kapal jung cepat yang berukuran lebih kecil dari perahu jung besar mereka bergerak cepat mendekat. Sepertinya mereka memang handal dalam gerakan cepat di laut lepas. Satu lagi muncul dari arah yang berlawanan. Sepertinya mereka sengaja mengepung kapal jung besar Panji Tejo Laksono.


Semakin lama, perahu itu semakin nampak jelas dan sebuah bendera hitam nampak berkibar jelas di atas tiang layar. Rakryan Purusoma tahu bahwa mereka adalah para perompak laut yang sangat meresahkan para pelaut di perairan laut China Selatan, Perompak Bendera Hitam.


Begitu mereka memepet, puluhan orang langsung menembakkan panah bertali kearah badan kapal. Setelah panah bertali itu mengait kapal jung besar milik rombongan Panji Tejo Laksono, puluhan orang berperawakan besar dan menakutkan itu langsung menggunakan tali untuk melompat ke arah kapal .


Melihat itu, Tumenggung Rajegwesi langsung melepaskan anak panah nya kearah para bajak laut itu.


Shrrriinnnggg !


Chhreepppppph !


Teriak kesakitan langsung terdengar saat anak panah menembus tubuh salah satu anggota Perompak Bendera Hitam. Orang itupun langsung terjatuh ke dalam laut dan tewas. Berulang kali Tumenggung Rajegwesi melepaskan anak panah nya ke arah para anggota perompak, namun rupanya mereka terus berdatangan seolah tidak kenal takut. Meskipun Tumenggung Rajegwesi berhasil menjatuhkan beberapa dari mereka namun yang lainnya tetap berhasil memasuki geladak kapal jung besar yang berbendera merah itu.


Para pengikut Panji Tejo Laksono langsung membuat pagar betis untuk melindungi sang junjungan mereka. Para anggota Perompak Bendera Hitam tak peduli langsung menerjang maju ke arah mereka.


Pertarungan sengit antara mereka segera terjadi.


Dua orang anggota perompak mencoba untuk membongkar pagar betis yang di buat oleh para prajurit Panjalu untuk melindungi Panji Tejo Laksono. Belum sempat mereka berhasil mendekati Panji Tejo Laksono, dua buah tombak langsung melesat ke arah perut mereka.


Jllleeeeeppppphhh jleeppph !


Kerasnya lemparan tombak langsung menembus perut hingga punggung mereka. Melihat kawan nya tewas, bukannya takut malah anggota Perompak Bendera Hitam semakin beringas maju.


Seorang lelaki bertubuh gempal dengan mata sebelah picak, berjanggut hitam panjang di kepang dengan kaki kiri cacat dan di sambung kayu mengacungkan sebilah pedang nya ke arah kelompok Panji Tejo Laksono.


"Tahan semua nya! Jangan ada yang bergerak!"


Usai berkata demikian, lelaki bertubuh gempal yang berusia sekitar tiga setengah dasawarsa itu menjejak lantai milik nya dengan keras, melompat tinggi ke udara dan mendarat di geladak kapal jung besar dari Panjalu.


"Gusti Pangeran, berhati-hati lah!


Berdasarkan ciri-ciri nya dia adalah perompak yang di juluki sebagai Si Janggut Hitam, wakil pimpinan kelompok Perompak Bendera Hitam. Hamba dengar dia sangat tangguh namun suka sekali menyiksa orang ", bisik Rakryan Purusoma pada Panji Tejo Laksono sembari melirik ke arah si lelaki yang berjalan sedikit pincang itu dengan penuh kebencian.


"Aku mengerti Paman!", jawab Panji Tejo Laksono sembari mengangguk.


Lelaki berkaki kayu itu berjalan maju ke arah kelompok Panji Tejo Laksono yang bersiaga penuh. Matanya yang tinggal sebelah kanan melotot lebar ke arah kelompok Panji Tejo Laksono.


"Kalian bukan orang Sriwijaya ya? Baru kali ini ada orang dengan pakaian aneh seperti kalian.


Kalian darimana?", tanya Si Janggut Hitam sedikit keras.


"Kami datang dari Pulau Jawadwipa di Laut Selatan. Berniat untuk melakukan perjalanan ke Negeri Tiongkok.


Sekiranya saya mohon tuan tidak menghalangi jalan kami untuk melaksanakan tugas yang diberikan kepada kami", ujar Panji Tejo Laksono dengan santun dan tenang.


"Jawadwipa? Jadi kalian berasal dari tanah leluhur Paduka Dewaraja Jayavarman, Raja Negeri Khmer dulu?


Hemmmmmmm..


Aku dengar dari cerita orang orang kalau orang-orang Tanah Jawadwipa punya kemampuan beladiri yang aneh dan misterius. Kebetulan sekali aku penasaran ingin menjajal kemampuan beladiri yang diagungkan itu. Kalau kau bisa mengalahkan ku, maka kapal mu bebas untuk meneruskan perjalanan ke Tanah Tiongkok", ujar Si Janggut Hitam sambil menyeringai lebar.


Semua awak kapal jung besar langsung menoleh ke arah Panji Tejo Laksono, menunggu keputusan yang akan di ambil oleh Panji Tejo Laksono selaku pimpinan kelompok duta besar ini.


"Semuanya minggir..


Orang Tanah Jawadwipa pantang mundur jika mendapat tantangan. Tapi apa kau bisa menepati janji mu?", Panji Tejo Laksono menatap tajam ke arah Si Janggut Hitam.


"Itu semua tergantung pada kemampuan mu", balas Si Janggut Hitam sembari menyeringai buas dan menyarungkan pedang nya.


Panji Tejo Laksono segera melangkah maju dan memberikan isyarat kepada para pengawal nya untuk mundur. Begitu juga dengan Si Janggut Hitam yang maju dengan langkah kaki pincang nya.


Begitu berhadapan, Si Janggut Hitam langsung menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono tanpa menunggu lawan bersiap.

__ADS_1


Whuuthhh whuuthhh !


Plakkkk plllaaakkkkk !


Dua hantaman beruntun di lepaskan So Janggut Hitam ke arah Panji Tejo Laksono. Pangeran muda dari Kadiri itu dengan cepat menangkis dua pukulan keras beruntun kearah nya.


Melihat lawan nya bisa menangkis serangan nya, Si Janggut Hitam segera merendahkan tubuhnya lalu menyapukan kaki palsunya ke arah Panji Tejo Laksono dengan cepat.


Dhasshhh !


Tubuh Panji Tejo Laksono langsung oleng. Namun sang pangeran muda itu segera berjumpalitan mundur beberapa kali saat serangan beruntun di lancarkan oleh Si Janggut Hitam yang mengincar tubuh bagian bawah.


Setelah satu salto terakhir Panji Tejo Laksono yang mendarat di dekat buritan kapal, langsung menjejak lantai kapal dengan keras dan melenting tinggi ke udara menghindari hantaman kaki kayu Si Janggut Hitam sembari menghantam bahu kanan sang pimpinan perompak.


Dhiiieeeessshh !


Aaauuuuggggghhhhh!


Si Janggut Hitam terjungkal ke depan dan menyusruk lantai kapal jung. Dadanya sesak akibat hantaman tapak tangan kanan Panji Tejo Laksono yang terasa seperti di kepruk balok kayu besar. Segera dia berdiri sembari mengusap darah yang menetes dari sudut bibirnya.


Phhuuuiiiiiihhhhh !


Dengan kasar Si Janggut Hitam meludahkan darah di mulut nya ke lantai kapal. Perlahan ia mencabut sepasang pedang pendek melengkung dari pinggang lalu melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono yang mendarat sekitar 3 tombak di belakangnya.


Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh !


Dua tebasan pedang Si Janggut Hitam langsung mengincar nyawa Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda dengan lincah bergerak menghindari serangan demi serangan yang dilancarkan oleh Si Janggut Hitam. Ini membuat wakil pimpinan Perompak Bendera Hitam itu semakin gusar karena Panji Tejo Laksono bisa dengan mudah menghindari setiap serangan yang dia lakukan.


Si Janggut Hitam segera menjatuhkan tubuhnya di hadapan Panji Tejo Laksono lalu mengayunkan pedang pendeknya ke arah kaki sang pangeran muda.


Whuuthhh !


Shrraaaakkkkhhhh !


Panji Tejo Laksono bergerak mundur sembari terus menghindari sabetan pedang pendek si Janggut Hitam. Saat tebasan pedang pendek terakhir di lakukan, Panji Tejo Laksono melompat ke atas bilah pedang pendek Si Janggut Hitam dan melenting tinggi ke udara, bersalto dua kali dan mendarat di atas geladak kapal para perompak laut itu dengan ringannya.


Si Janggut Hitam yang semakin murka langsung mengejar Panji Tejo Laksono untuk membunuhnya. Satu sabetan pedang pendeknya langsung terarah ke arah leher sang pangeran muda. Namun kali ini dia sama sekali tidak bergerak hingga tebasan pedang pendek Si Janggut Hitam menebas leher Panji Tejo Laksono yang berwarna kuning keemasan.


Thrrraaannnnggggg !


Mata Si Janggut Hitam yang tinggal satu melotot lebar saat melihat pedang pendek nya tidak mampu menggores kulit leher Panji Tejo Laksono yang berwarna kuning keemasan dari Ajian Tameng Waja. Malah lebih terasa seperti membabat lembaran logam keras. Panji Tejo Laksono tersenyum simpul sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya yang sudah berwarna merah menyala seperti api ke arah dada Si Janggut Hitam.


Wakil pimpinan Perompak Bendera Hitam itu menyadari bahaya yang mengancamnya. Segera dia menyilangkan kedua pedang pendek melengkung nya di depan dada untuk bertahan.


Blllaaammmmmmmm !!


Tubuh Si Janggut Hitam terlempar ke belakang sejauh hampir 4 tombak ke belakang dan menghantam lantai geladak kapal perompak laut nya. Dia muntah darah segar saat mencoba untuk duduk.


Melihat jatuhnya pimpinan mereka, para anggota kelompok Perompak Bendera Hitam langsung menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono. Pun yang di atas kapal jung besar mereka juga ikut menyerang ke arah para pengawal pribadi sang pangeran muda dari Kadiri itu.


Pertarungan sengit antara mereka kembali terjadi.


Kali ini Panji Tejo Laksono mengamuk dengan melepaskan Ajian Tapak Dewa Api nya kearah anggota Perompak Bendera Hitam yang mengepungnya.


Blllaaammmmmmmm !


Dhuuaaaaaaarrrrrr !


Serangan Panji Tejo Laksono yang seperti orang ngawur ini menghantam beberapa bagian kapal perompak. Sepertinya dia sengaja menghancurkan beberapa bagian kapal seperti tiang dan kemudi.


Kraaatttaaakkkk....


Brrruuuaaaaakkkkh !


Tiang layar utama kapal para perompak laut itu berderak dan ambruk saat sinar merah menyala berhawa panas menyengat Ajian Tapak Dewa Api yang di lepaskan oleh Panji Tejo Laksono menghantamnya. Si Janggut Hitam yang masih hidup namun terluka dalam serius tak bisa berbuat apa-apa saat tiang layar utama kapal itu roboh menimpa tubuhnya. Dia tewas dengan kepala hancur berlumuran darah.

__ADS_1


Tindakan ini di sadari oleh Tumenggung Ludaka yang dengan cepat memotong tali kait yang mengekang kapal jung mereka.


Setelah di rasa cukup, Panji Tejo Laksono langsung melompat tinggi ke udara dan menghantam lambung kapal perompak laut itu dengan Ajian Tapak Dewa Api tingkat akhirnya.


Hiyyyyaaaaaaaatttttt!


Selarik sinar merah menyala berhawa panas menyengat langsung menerabas cepat kearah lambung kapal perompak.


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr !


Ledakan dahsyat kembali terdengar. Lambung kapal perompak laut hancur berkeping keping. Potongan kayu kapal berhamburan menyebar ke sekeliling tempat itu. Sisa perompak laut yang masih hidup di atas geladak kapal jung besar milik rombongan Panji Tejo Laksono memilih melompat ke laut setelah tali tambang yang mengait terakhir di putuskan oleh Tumenggung Ludaka. Panji Tejo Laksono mendarat dengan selamat di geladak kapal jung besar mereka.


Kapal jung besar itu lalu segera meninggalkan kapal milik perompak yang rusak parah. Di saat mereka sudah merasa lega karena terbebas dari para perompak laut itu, Rakryan Purusoma menunjuk ke arah haluan kapal dimana terlihat sebuah kapal berbendera hitam juga menghadang laju pergerakan kapal mereka.


"Itu kawan mereka!


Semuanya bersiap untuk bertahan!"


Benar saja, sebuah kapal layar yang lebih besar dari kapal Si Janggut Hitam bergerak cepat menuju ke arah kapal jung yang di kemudikan oleh Rakryan Purusoma.


Nahkoda kapal itu menciptakan gerakan mengecoh lawan dengan memutar kemudi kapal. Alhasil kapal jung besar itu langsung menikung tajam dan berhasil lolos dari tabrakan dengan kapal Perompak Bendera Hitam.


Gerakan ini tentu saja membuat seorang lelaki berjanggut merah yang memakai baju sutra halus warna hitam langsung murka. Pria paruh baya yang memiliki bekas luka robek pada pipi kanannya itu langsung berteriak lantang.


"Kejar mereka!


Jangan sampai lolos!!!"


Rupanya dia adalah Si Janggut Merah, pimpinan utama Perompak Bendera Hitam yang di takuti oleh para pelaut di lepas pantai Negara Khmer. Markas besar mereka terletak di sebuah pulau kecil yang berada di tengah Laut China Selatan.


Perompak Bendera Hitam memiliki 4 kapal yang masing-masing di pimpin oleh seorang wakil pimpinan seperti Si Janggut Hitam. Dua kapal lainnya di pimpin oleh seorang wakil pimpinan yang di juluki Si Kumis Putih dan seorang wanita yang menakutkan yang biasa di sebut sebagai Nyonya Ching. Sedangkan kapal terbesar di pimpin langsung oleh Ketua Perompak Bendera Hitam, Si Janggut Merah.


Kelompok ini sering melakukan perampasan barang dagangan baik dari Negeri Tiongkok maupun sebaliknya. Mereka terkenal kejam dan tidak kenal ampun terhadap siapapun yang berani melawan.


Kerajaan Khmer sendiri sudah beberapa kali melakukan perburuan terhadap mereka namun selalu saja mereka berhasil meloloskan diri. Kerajaan lain seperti Champa juga kerap memburu mereka tapi tetap saja mereka muncul kembali setelah beberapa waktu tenang. Ini yang menyebabkan bahwa Laut China Selatan tidak sepenuhnya aman dari perompakan.


Perahu jung besar yang di tumpangi oleh Panji Tejo Laksono terus berupaya keras untuk meloloskan diri dari kejaran Perompak Bendera Hitam yang di pimpin langsung oleh Si Janggut Merah.


Namun kemampuan mengemudikan kapal jung Rakryan Purusoma nampaknya masih kalah dengan juru mudi kapal Perompak Bendera Hitam itu. Setelah terjadi kejar-kejaran antara mereka, akhirnya kapal Perompak Bendera Hitam menghentikan pergerakan kapal jung besar milik rombongan Panji Tejo Laksono.


Dengan penuh kemarahan, Si Janggut Merah langsung melompat tinggi ke udara dan mendarat di geladak kapal jung milik Kerajaan Panjalu. Segera para anak buahnya menyusul ke arah geladak kapal.


Pertarungan sengit kembali terjadi di tengah laut.


Kali ini perlawanan lebih sengit di tunjukkan oleh para pengikut Panji Tejo Laksono. Mereka bertarung mati-matian berusaha untuk mempertahankan kapal jung mereka dari perompakan yang terjadi.


Gumbreg, Ludaka dan Rajegwesi memimpin para prajurit pengawal pribadi sang pangeran muda bahu membahu bertarung melawan para Perompak Bendera Hitam yang di pimpin oleh Si Janggut Merah.


"Kau sudah membunuh adik ku.. Saatnya kau menemani nya di neraka!", teriak Si Janggut Merah sembari terus mengayunkan pedangnya kearah Panji Tejo Laksono.


Putra sulung Prabu Jayengrana itu dengan lincah berkelit menghindari tebasan pedang Si Janggut Merah lalu menyikut rusuk kiri lawannya dengan cepat.


Bhhuukh !


Ouuuuggghhhh !


Si Janggut Merah nyaris terjungkal andai saja tidak menggunakan pedangnya sebagai tumpuan. Namun sialnya pedang besar itu menancap di lantai kapal yang terbuat dari kayu hingga tak bisa di cabut. Panji Tejo Laksono memanfaatkan kesempatan ini dengan melayangkan tendangan keras kearah dada Si Janggut Merah.


Bhhhuuuuuuggggh !


Kerasnya tendangan Panji Tejo Laksono membuat Si Janggut Merah terpelanting ke belakang bersamaan dengan tercabut nya pedang besar dari lantai kapal.


Saat mereka tengah sengit bertarung, dari arah barat muncul sebuah kapal jung berbendera segitiga kuning dengan tepi hijau. Kapal itu melaju kencang kearah pertarungan sengit antara rombongan Panji Tejo Laksono dan Perompak Bendera Hitam.


Rakryan Purusoma yang baru saja menebas leher seorang anggota Perompak Bendera Hitam, langsung tersenyum lebar ketika melihat kedatangan kapal itu.

__ADS_1


"Semua nya, jangan menyerah. Kita tertolong.


Kapal itu milik Kerajaan Khmer".


__ADS_2