Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Perempuan Cantik Berkemben Hijau


__ADS_3

Sontak saja, Dyah Kirana, Luh Jingga dan Gayatri terkejut mendengar teriakan keras dari luar. Ketiganya saling berpandangan sejenak sebelum bergegas keluar dari dalam bilik kamar tidur. Gayatri yang sempat lemas tadi, entah mendapat tenaga darimana, ikut melesat bersama dua orang wanita cantik lainnya yang sudah lebih dulu bergerak.


Di luar rumah, semua pandangan mata orang-orang terpaku pada seseorang mahkluk yang terbang melayang di atas kediaman Lurah Wanua Ranja. Matanya menyala dalam kegelapan malam tubuhnya berwarna hitam legam tertutup oleh bulu tebal yang berwarna serupa. Mahkluk menyeramkan itu terus berputar-putar di atas kediaman Lurah Wanua Ranja, seolah sedang mengincar sesuatu.


Panji Tejo Laksono sedang bersiap untuk bertarung melawan makhluk halus itu saat tiga orang wanita cantik itu mendekati nya. Ketiganya segera ikut melihat ke arah makhluk menyeramkan yang kini sedang menjadi perhatian semua orang yang ada di tempat itu.


"Genderuwo.. Itu adalah makhluk halus utusan dari seseorang, Gusti Pangeran", ujar Dyah Kirana tanpa mengalihkan pandangannya pada sosok makhluk menyeramkan yang kini terbang berputar-putar di atas rumah Ki Lurah Wanua Ranja. Cahaya bulan yang mendekati purnama membuat mata semua orang bisa melihat jelas makhluk halus ini.


Dyah Kirana segera meraih sejumput tanah di halaman rumah Ki Lurah Wanua Ranja. Mulut putri Resi Ranukumbolo itu segera komat-kamit merapal mantra. Entah apa yang sedang dibacanya, namun berikutnya muncul asap putih tipis dari tanah yang ada di genggaman tangan Dyah Kirana. Panji Tejo Laksono, Luh Jingga dan Gayatri terpana melihat itu semua.


Selanjutnya, Dyah Kirana menjejak tanah dengan keras lalu tubuh nya melenting tinggi ke udara. Saat sampai di dekat makhluk menyeramkan itu, Dyah Kirana segera menaburkan tanah di genggaman tangannya ke arah makhluk halus itu.


Whhhuuuggghhhh...


Hoooaaarrrrrrggggghhhhh !!!


Teriakan keras terdengar dari mulut genderuwo saat terkena lemparan tanah dari Dyah Kirana. Sepercik api segera berkobar di tubuh genderuwo itu yang dengan cepat membakar seluruh tubuh mahkluk halus itu. Sang Genderuwo meraung-raung kesakitan lalu makhluk halus itu segera menghilang seperti tersapu angin.


Dyah Kirana menepuk-nepuk telapak tangannya yang kotor terkena debu sesaat setelah mendarat di tanah. Panji Tejo Laksono, Gayatri dan Luh Jingga buru-buru mendekati cucu Maharesi Padmanaba ini.


"Makhluk menyeramkan itu sudah pergi, Gusti Pangeran. Malam ini dia tidak akan kembali lagi. Tapi jika pengirim nya tidak juga ditemukan malam ini, besok pasti orang itu akan mengirimkan prewangan lain untuk menculik gadis-gadis di Wanua Ranja ini lagi", ucap Dyah Kirana sembari tersenyum menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono.


"Darimana kau tahu kalau ada orang yang mengirim makhluk halus itu, Kirana?", sahut Luh Jingga segera sebelum Panji Tejo Laksono sempat menjawab. Mendengar pertanyaan itu, Dyah Kirana mengalihkan pandangannya pada Luh Jingga.


"Pada dasarnya, semua jenis makhluk kasat mata itu tidak bisa berurusan dengan manusia tanpa ada yang meminta, Kangmbok Luh Jingga. Mereka hanya bisa menakuti manusia dengan kemunculan nya yang tiba-tiba, itu pun jika mereka merasa terganggu dengan kehadiran manusia di sekitar tempat tinggalnya. Sedangkan untuk menculik gadis-gadis di Wanua ini, harus ada orang yang mengendalikan mereka agar bisa berbuat sesuai dengan keinginan sang pengirim", urai Dyah Kirana panjang lebar mengenai perihal apa yang terjadi. Mpu Anggada dan para sesepuh desa yang turut mendengar ucapan Dyah Kirana langsung saling berpandangan.


"Jadi menurut Nini Dewi, mereka adalah kiriman seseorang?", tanya salah seorang sesepuh Wanua Ranja.


"Benar Ki..


Makhluk halus itu bergerak atas dasar perintah. Berarti ada seseorang yang sengaja ingin mengacaukan keamanan dan ketertiban di wanua ini", mendengar jawaban Dyah Kirana, kasak kusuk di antara para hadirin yang ada di tempat itu segera terdengar. Mereka semua langsung menerka-nerka siapa pelaku di balik hilangnya para gadis di wanua tempat tinggal mereka.


Ehemmm eheemmmm..


Deheman keras dari Panji Tejo Laksono seketika membuat kasak kusuk itu berhenti. Mereka semua langsung mengalihkan pandangannya pada sosok Adipati muda yang kini ada di antara mereka.


"Semuanya dengarkan aku..

__ADS_1


Pemerintah Kadipaten Seloageng tidak akan berpangku tangan menghadapi kejadian ini. Untuk sementara, biarkan para gadis itu tinggal di rumah Ki Lurah Mpu Anggada. Sedangkan penjagaan keamanan di tempat ini akan diambil alih oleh para prajurit Seloageng di bawah pimpinan Senopati Gardana. Kalian yang tidak ada kepentingan lain, diperbolehkan untuk ikut membantu pengamanan sedangkan yang punya kerepotan, silahkan kembali ke kediaman masing-masing. Tapi aku minta agar setiap terdengar bunyi titir kentongan, secepatnya kalian semua berkumpul di pendopo kelurahan.


Apa kalian sudah mengerti?", Panji Tejo Laksono mengedarkan pandangannya ke arah para sesepuh Wanua Ranja dan para pemuda yang berkumpul di situ.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran Adipati ", ucap kompak mereka semua sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono. Beberapa orang tua dan pemuda mundur dari tempat itu, sementara para pemuda lainnya dan dua sesepuh Wanua Ranja memilih untuk ikut berjaga di pendopo kelurahan.


Sementara Panji Tejo Laksono sibuk dengan pengaturan di kelurahan, seorang wanita cantik dengan rambut panjang bergelung samping yang penuh dengan tatanan bunga melati terpelanting ke belakang setelah belanga berisi darah segar di hadapannya meledak saat genderuwo di kelurahan terbakar api.


Perempuan cantik berkemben warna hijau itu muntah darah segar. Tadi dia duduk bersila di hadapan kuali, tidak menduga bahwa prewangan yang dia kirim akan di basmi oleh Dyah Kirana. Perempuan cantik itu segera bangkit dari tempat jatuhnya dan dengan cepat menyeka sisa darah yang mengalir keluar dari sudut bibirnya.


"Kurang ajar!!


Siapa yang berani mengganggu kesenangan ku? Bangsat keji, akan ku balas perbuatan mu!!", maki perempuan cantik itu sembari melotot geram. Segera dia berjalan mendekati sebuah lemari kayu dan meraih sebuah cermin yang terbuat dari kuningan. Tangan kanannya segera memutar di depan cermin rias itu.


"Kaca Benggala, tunjukkan pada ku siapa yang berani mengacaukan acara ku?!"


Dengan ajaib, sebuah gambar tercipta di atas cermin rias itu. Terlihat disana Dyah Kirana sedang menaburkan tanah yang sudah dimantrai nya ke arah genderuwo hingga menyebabkan makhluk halus itu terbakar. Dari kaca itu terlihat jelas Panji Tejo Laksono dan orang-orang Wanua Ranja sedang berkumpul bersama.


"Bangsawan muda ini? Hemmmmmmm..


Tidak ! Ini tidak boleh dibiarkan begitu saja! Aku harus minta tolong kepada guru ku untuk menghadapi Adipati Seloageng dan perempuan sialan ini", ucap si perempuan cantik itu sembari meletakkan kembali cermin hias yang disebutnya sebagai Kaca Benggala itu pada lemari kayu sederhana yang ada di ruangan itu.


Perempuan cantik itu segera duduk bersila di depan sebuah anglo tanah liat yang mengepulkan asap putih berbau kemenyan dan setanggi. Mulutnya segera komat-kamit membaca mantra dengan mata terpejam rapat.


"Eyang Guru Kalawisesa yang mulia, hadirlah kemari. Aku sedang ada masalah. Hadirlah kemari, Eyang Guru. Hadirlah.."


Asap putih kemenyan dari anglo tanah liat tiba-tiba membesar dan memenuhi ruangan tempat perempuan cantik berkemben hijau itu berada. Dari dalam kepulan asap tebal yang menutupi seluruh tempat itu, seorang lelaki bertubuh gempal dengan pakaian pertapa namun dengan warna hitam legam muncul. Sorot mata lelaki berjanggut panjang dan berkepala botak atas dengan rambut putih panjang yang terikat di belakang kepala itu terlihat bengis apalagi dengan kalung berbandul tengkorak kepala manusia kecil di lehernya yang membuat penampilan lelaki tua itu terlihat menakutkan.


Lelaki tua itu segera berjalan mendekati sosok perempuan cantik berkemben hijau itu.


"Ada apa kau memanggilku kemari, Wigati? Kau mengganggu pertapaan ku saja", ucap lelaki tua itu segera. Mendengar suara lelaki tua berjanggut putih panjang itu, perempuan cantik berkemben hijau itu segera membuka matanya kemudian dia segera berlutut di hadapan sang lelaki tua.


"Ampuni murid mu yang tidak berguna ini, Guru. Maaf, aku terpaksa harus mengganggu tapa brata guru dengan panggilan ku.


Begini guru, aku sedang mengumpulkan sembilan perawan sebagai tumbal Ilmu Teluh Pring Sedapur yang guru ajarkan kepada ku. Aku sudah mengumpulkan 8 orang perawan, kurang satu lagi. Tapi kini ada yang menghalangi jalan ku, Guru. Mereka adalah orang-orang Kadipaten Seloageng yang dipimpin oleh Adipati baru Seloageng yang bernama Panji Tejo Laksono. Mereka kini bercokol di kediaman Lurah Wanua Ranja", perempuan cantik yang bernama Wigati itu segera menghormat pada lelaki tua bertubuh gempal yang bernama Ki Kalawisesa ini.


"Adipati Seloageng ya? Bukankah dia adalah putra sulung Prabu Jayengrana dari Daha?

__ADS_1


Hemmmmmmm...


Tak ku sangka akhirnya kesempatan untuk membalas dendam kematian kakak seperguruan ku yang dibunuh suaminya sendiri karena hasutan dari Prabu Jayengrana ketika muda. Membunuh Prabu Jayengrana tidak akan bisa ku lakukan karena dia memiliki Rajah Kalacakra Buana yang melindunginya dari segala ilmu hitam. Tapi membunuh Panji Tejo Laksono pasti akan mudah. Hehehehe, Prabu Jayengrana kau akan menangis darah atas kematian putra sulung mu", Ki Kalawisesa menyeringai lebar.


"Jadi guru akan membantu mengatasi orang orang Kadipaten Seloageng itu?", Wigati menatap wajah gurunya.


"Eh eh hehehe..


Tentu saja murid kesayangan ku. Guru mu ini tentu tidak akan membiarkan siapapun menghalangi jalan nya untuk belajar ilmu pangiwa", jawab Ki Kalawisesa sembari menepuk pundak Wigati.


Mendengar jawaban itu, Wigati tersenyum lebar. Niatnya untuk belajar Ilmu Teluh Pring Sedapur supaya bisa membunuh seluruh anggota keluarga Mpu Anggada tidak lama lagi akan menjadi kenyataan. Dendam nya atas penghinaan yang dia terima dulu dari keluarga Mpu Anggada sebentar lagi akan terlampiaskan.


Asal tahu saja, dulu Wigati tidak secantik sekarang ini. Perempuan itu bahkan di kenal sebagai perempuan biasa saja di Wanua Ranja. Hingga suatu hari dia bertemu dengan Anggara yang sedang berburu babi hutan, sang putra sulung Mpu Anggada yang merupakan lelaki pujaan hati setiap gadis di wanua yang terletak di Utara sungai Brantas ini.


Dengan sedikit rayuan gombal dari mulut Anggara, Wigati menyerahkan kehormatannya pada pemuda tampan itu. Namun setelah menikmati tubuh Wigati, Anggara meninggalkannya begitu saja hingga Wigati mengandung jabang bayi hasil perbuatan Anggara. Begitu tahu dia hamil, Wigati segera mencari Anggara untuk meminta pertanggungjawaban. Namun apa lacur yang terjadi bukan hal indah seperti harapan Wigati.


Setelah sampai di kelurahan Wanua Ranja, Wigati justru mendapat perlakuan buruk dari keluarga Mpu Anggada. Ibu Anggara bahkan menuduhnya sebagai perempuan penjual diri dan menjebak Anggara untuk melakukan hubungan badan dengan nya. Anggara sendiri tidak membela nya sama sekali bahkan turut menghina Wigati. Lelaki yang sempat mereguk kenikmatan tubuh Wigati itu bahkan tega menyuruh para penjaga rumah nya untuk menganiaya Wigati hingga perempuan yang tengah hamil muda itu mengalami keguguran setelah di pukuli habis-habisan.


Di bawah guyuran air hujan deras yang turun di Wanua Ranja, Wigati tertatih-tatih meninggalkan Wanua Ranja menuju ke Sungai Brantas untuk bunuh diri dengan menceburkan dirinya ke sungai berarus deras itu. Rupanya Dewa masih menyelamatkan nyawa Wigati.


Di perbatasan wilayah Kadipaten Karang Anom dan Tanah Perdikan Lodaya, Ki Kalawisesa yang sedang mandi menemukan Wigati mengapung dalam keadaan pingsan. Ki Kalawisesa menolong Wigati dan mengangkatnya menjadi murid. Pria tua yang merupakan salah satu dari sekian banyak tokoh ilmu hitam yang jarang muncul di dunia persilatan ini mengajarkan berbagai ilmu hitam pada Wigati yang ingin membalas dendam pada keluarga Mpu Anggada.


Setelah beberapa tahun berlalu, Wigati yang kini menjelma menjadi seorang wanita cantik karena susuk intan yang di tanam pada dahinya oleh Ki Kalawisesa, kembali ke bekas kediaman nya yang terletak di dekat hutan sebelah barat Wanua Ranja untuk memulai balas dendam nya. Sepekan ini, dia dengan mudahnya mendapatkan para gadis desa yang akan dijadikan sebagai tumbal Ilmu Teluh Pring Sedapur yang akan di gunakan untuk membunuh seluruh anggota keluarga Mpu Anggada. Hingga munculnya Panji Tejo Laksono bersama para pengikutnya yang membuat rencana nya berantakan.


Dengan cepat, Wigati segera menyiapkan uborampe untuk membantu Ki Kalawisesa menghabisi nyawa Panji Tejo Laksono dan orang-orang Kadipaten Seloageng. Bunga tujuh rupa, anglo tanah liat berisi arang, kemenyan dan setanggi segera di tata Wigati di atas sebuah tikar daun pandan lusuh di tengah ruangan itu.


Begitu selesai persiapan, Ki Kalawisesa segera duduk di depan anglo tanah liat yang berisi arang membara. Tangan kanan lelaki tua itu segera meremas kemenyan dan menaburkannya di atas anglo tanah liat. Asap putih tebal berbau harum segera memenuhi tempat itu. Ki Kalawisesa segera mencabut keris yang ada di depan nya dan menaruh bilah keris itu diatas asap kemenyan yang mengepul. Mulut lelaki tua berpakaian serba hitam itu nampak komat-kamit membaca mantra.


Whuuussshh...!!


Tiba-tiba saja angin berhembus kencang sesaat dan bersamaan dengan itu muncul dua makhluk menyeramkan di hadapan Ki Kalawisesa. Keduanya segera menghormat pada lelaki tua berjanggut panjang itu.


"Ada apa Ki Kalawisesa memanggil kami kemari? Apa ada tugas untuk kami?", suara menakutkan terdengar dari kedua makhluk menyeramkan itu segera. Mendengar pertanyaan mereka, Ki Kalawisesa segera berkata,


"Pergilah ke kediaman Lurah Wanua Ranja,


Dan bunuh Adipati Seloageng!".

__ADS_1


__ADS_2