
Gadis cantik berbaju kuning kemerahan seperti warna senja itu menatap ke arah Panji Tejo Laksono. Dia lalu mengacungkan pedangnya ke arah Panji Tejo Laksono yang acuh tak acuh terhadap keberadaan orang lain di sekitarnya.
"Hai orang bercaping,
Apa benar kau ingin mencoba kemampuan beladiri ku?", tantang Luh Jingga dengan keras membuat semua mata tertuju pada Panji Tejo Laksono.
"Aku tidak punya urusan dengan mu, Nisanak. Buat apa aku bertarung dengan mu?
Kau cari orang lain saja. Aku tidak berminat", ujar Panji Tejo Laksono sambil meletakkan barang bawaan nya yang di bungkus kain hitam itu ke punggungnya.
"Huhhhhh..
Dasar pengecut! Sudah jelas jelas Palupi mengatakan bahwa kau mau melawan ku? Apa kau takut dengan ku?", Luh Jingga berjalan dengan Panji Tejo Laksono.
"Luh Jingga, kau jangan tidak sopan ya? Ini adalah tamu ku, kau tidak berhak untuk menantang nya", potong Mpu Hanggawira dengan cepat.
"Paman Hanggawira,
Apa salahnya jika mencoba satu dua jurus saja? Toh aku tidak akan membunuhnya. Paling paling aku cuma membuat nya terluka sedikit. Tapi kalau dia memang pengecut dan ingin bersembunyi di balik ketiak mu, aku bisa apa?", Luh Jingga menyeringai lebar penuh penghinaan.
"Luh Jingga, kau..."
Belum sempat Mpu Hanggawira menyelesaikan omongannya, Panji Tejo Laksono langsung mengangkat tangan nya hingga kakek tua itu segera menoleh ke arah nya. Rupanya ucapan pedas Luh Jingga membuat Panji Tejo Laksono naik darah juga.
"Paman Mpu Hanggawira,
Aku bukan orang yang suka bertarung hanya untuk menyombongkan diri tapi aku juga tidak suka jika ada orang yang menghina ku seenak udelnya. Mohon maaf Paman jika aku berbuat tidak sopan di sini.
Gadis sombong,
Aku temani kau bermain", ujar Panji Tejo Laksono sembari melangkah ke tengah halaman Padepokan Bukit Penampihan. Melihat itu, Palupi tersenyum licik karena siasat jitu nya berhasil.
'Rasakan itu, pemuda cabul. Kau pasti akan di hajar habis-habisan oleh setan betina itu', batin Palupi.
Sementara itu para murid Padepokan Bukit Penampihan langsung kasak kusuk di sekitar tepi halaman Padepokan Bukit Penampihan.
"Aku berani bertaruh Luh Jingga akan mengalahkan pemuda itu dalam 10 jurus", ujar seorang murid yang duduk berkerumun menonton.
"Kau jangan salah, Endrayana saja di hajar Luh Jingga tak sampai 10 jurus padahal kau tahu sendiri bagaimana kekuatan Endrayana yang merupakan murid terkuat di antara kita", jawab kawannya yang duduk di bawah nya.
"Sudah jangan berisik!
Lebih baik lihat saja hasil akhir nya nanti. Tuh lihat mereka mau mulai", sergah seorang yang lain seraya menunjuk ke arah halaman dimana Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga berhadapan.
"Sekarang cabut senjata mu, aku pengguna pedang hanya bertarung melawan orang yang memakai senjata untuk mengadu ilmu", ujar Luh Jingga sembari memutar pedang nya untuk bersiap menggunakan jurus pedang andalannya.
Panji Tejo Laksono mendengus dingin sembari menepak ujung sarung pedang nya. Pedang melesat keluar dari sarungnya dan meluncur turun ke arah Panji Tejo Laksono. Dengan cekatan, Panji Tejo Laksono menyambar gagang pedang bilah dua warna lalu bersiap untuk bertarung.
Melihat lawannya sudah mempersiapkan diri, Luh Jingga langsung melompat maju ke arah Panji Tejo Laksono sembari membabatkan pedang nya.
Shreeeeettttthhh...
Thhraaaanggggggg!!
Bunga api kecil tercipta dari benturan dua senjata tajam yang di genggam Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga. Saling serang antara mereka di awal adalah untuk menjajaki seberapa tinggi kemampuan beladiri dan tenaga dalam yang di miliki lawan.
Panji Tejo Laksono melompat mundur beberapa tombak ke belakang sebelum akhirnya mendarat dengan sempurna setelah bertarung Luh Jingga menghantam dadanya dengan tangan kiri. Pangeran muda ini sudah tahu kekuatan Luh Jingga.
Luh Jingga kembali melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sambil mengayunkan pedangnya. Kali ini dia menyalurkan tenaga dalam tingkat tinggi pada pedang di tangan nya.
Shhretttt!!
Selarik sinar kuning hawa pedang yang tajam menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono. Melihat nyawanya terancam bahaya, Panji Tejo Laksono menghentak tanah dengan keras lalu tubuhnya melenting tinggi ke udara menghindari sinar pedang yang mengancam nyawa. Tubuhnya yang ringan seperti kapas karena Ajian Sepi Angin, bersalto sekali di udara dan menyepak bahu kiri Luh Jingga.
Bhuuukkkhhh!!
Luh Jingga menjerit tertahan. Gadis cantik berkulit putih ini nyaris terjungkal ke depan tapi dengan cepat ia berguling ke tanah dan kembali berdiri tegak. Bahu kiri nya linu bukan main seperti baru di hantam batu besar.
'Brengsek!
Rupanya dia berilmu tinggi. Kalau aku tidak cepat menyerangnya, dia bisa mempermalukan ku', batin Luh Jingga sembari membalikkan badannya.
Sementara itu senyum tipis muncul di wajah tampan Panji Tejo Laksono yang sebagian tertutup oleh caping bambu.
__ADS_1
Melihat senyum itu, hati Luh Jingga geram bukan main.
Gadis cantik itu segera merapal mantra Ajian Langkah Kilat nya Setelah itu dia melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono yang sudah bersiap.
Melihat peningkatan kecepatan yang luar biasa, Panji Tejo Laksono sedikit terkejut juga. Namun dia yang sudah menggunakan Ajian Sepi Angin pun tak mau kalah. Dia segera menangkis sabetan pedang Luh Jingga yang mengincar lehernya.
Thhraaaanggggggg thrrriiinnnggggg!!
Sama sama mengandalkan kecepatan tinggi, dua orang itu bertarung dengan sengit. Hanya mereka yang memiliki ilmu kanuragan tinggi yang mampu mengikuti pergerakan Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga.
Gayatri yang berada di dekat Mpu Wanamarta sedikit khawatir dengan keselamatan Panji Tejo Laksono, sementara Mpu Wanamarta dan para murid Padepokan Bukit Penampihan merasa takjub dengan kemampuan Panji Tejo Laksono yang mampu mengimbangi gerakan cepat Luh Jingga yang merupakan putri dari pemimpin Padepokan Bukit Penampihan.
Palupi yang sempat yakin bahwa Luh Jingga mampu mengalahkan Panji Tejo Laksono pun mulai mencemaskan Luh Jingga.
Sabetan pedang Luh Jingga membuat Panji Tejo Laksono harus merendahkan tubuhnya dengan menekuk lutut sembari menangkis tebasan pedang.
Secepat kilat, Luh Jingga merubah gerakan tubuhnya dan kembali mengayunkan pedangnya kearah leher Panji Tejo Laksono yang masih belum berdiri.
Whuuthhh!
Panji Tejo Laksono langsung berguling ke tanah menghindari sabetan pedang. Namun tebasan pedang Luh Jingga masih menebas caping bambu nya hingga caping itu terlepas dari kepala Panji Tejo Laksono.
Kesal dengan ulah Luh Jingga, Panji Tejo Laksono yang setengah hati meladeni permainan pedang Luh Jingga langsung menghantamkan tangan kiri nya yang di lambari Ajian Tapak Dewa Api usai berbalik arah.
Whuuussshh!!
Selarik sinar merah menyala seperti api menerabas cepat kearah Luh Jingga. Gadis cantik berbaju kuning kemerahan itu yang hendak menerjang maju itu segera merubah gerakan tubuhnya lalu menyilangkan pedang nya untuk menahan sinar merah menyala berhawa panas yang dilepaskan oleh Panji Tejo Laksono.
Blllaaaaaarrr!!!
Luh Jingga terpental ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Gadis itu muntah darah segar.
Sebuah bayangan putih dengan selempang kuning langsung berkelebat cepat ke tengah pertarungan.
"Sudah cukup!
Jangan di teruskan lagi"
Mpu Hanggawira dan para murid Padepokan Bukit Penampihan langsung mendekat ke arah halaman setelah tahu bayangan putih itu adalah pimpinan Padepokan Bukit Penampihan, Resi Damarmoyo.
"Maafkan aku Kakang Damarmoyo..
Aku tidak sanggup mencegah terjadinya pertarungan antara mereka. Ini semua adalah salah ku", ujar Mpu Hanggawira dengan cepat.
"Sudahlah, adhi Hanggawira.. Aku tahu ini semua bukan kesalahan mu. Setidaknya Luh Jingga mendapat pelajaran berharga dari pertarungan kali ini", ujar Resi Damarmoyo sembari mengelus kumis nya yang berwarna putih.
"Aku ingin tahu, bagaimana seorang murid Padepokan Padas Putih bisa sampai kemari?", imbuh pimpinan Padepokan Bukit Penampihan itu segera.
"Aku yang mengundangnya Kakang.. Tadi aku bertemu dengannya di kaki bukit sewaktu dia berburu lantas terjadi salah paham dengan Palupi murid ku.
Aku mengajaknya kemari karena menurut cerita guru, Padepokan Bukit Penampihan pernah di selamatkan oleh murid Padepokan Padas Putih dulu. Aku ingin sekali berbincang dengan nya tentang Padepokan Padas Putih", ujar Mpu Hanggawira dengan cepat.
"Kau benar adhi Hanggawira, Padepokan Bukit Penampihan memang pernah di selamatkan oleh murid Padepokan Padas Putih dua puluh tahun yang lalu..
Aku sendiri bertarung bersama guru kita Resi Wanayasa melawan Tiga Iblis Goa Siluman. Jadi aku menyaksikannya sendiri, bagaimana kehebatan murid-murid Padepokan Padas Putih kala itu", pandangan Resi Damarmoyo menerawang jauh ke langit seolah peristiwa petaka itu masih tergambar di sana.
"Sebaiknya bawa mereka masuk ke serambi kediaman utama, Kakang..
Sekalian kita obati luka dalam Luh Jingga", ujar Mpu Hanggawira sembari tersenyum tipis.
"Ah benar juga, kenapa aku sampai lupa untuk tetap sopan pada tamu? Aku benar benar sudah tua..
Anak muda, ayo ikut aku ke serambi. Dan kau Palupi, antar Luh Jingga ke dalam ", ujar Resi Damarmoyo sembari melangkah masuk ke dalam rumah. Panji Tejo Laksono dan Gayatri mengikuti langkah Mpu Hanggawira yang lebih dulu masuk setelah Palupi memapah tubuh Luh Jingga ke dalam kediaman utama.
Semilir angin dingin berdesir lembut membawa uap air yang menandakan bahwa sebentar lagi hujan akan turun.
Begitu mereka sampai di dalam rumah, hujan perlahan turun membasahi wilayah lereng Bukit Penampihan.
"Pendekar muda, perkenalkan nama ku Resi Damarmoyo.
Ku lihat kau begitu mahir mengeluarkan Ajian Tapak Dewa Api tapi ilmu pedang mu bukan dari Padepokan Padas Putih, itu lebih mirip dengan jurus jurus Ilmu Pedang Tanpa Bayangan dari Pendekar Pedang Tanpa Tanding.
Kau ini sebenarnya dari perguruan mana?", tanya Resi Damarmoyo sembari menatap ke arah Panji Tejo Laksono setelah mereka duduk bersama di serambi kediaman utama Padepokan Bukit Penampihan.
__ADS_1
"Resi sama sekali tidak perlu bingung..
Aku memang punya banyak guru. Antara nya adalah Resi Mpu Sakri dari Padepokan Padas Putih dan Begawan Ganapati atau orang persilatan mengenali nya sebagai Pendekar Pedang Tanpa Tanding. Jadi jika Resi Damarmoyo menyebut mereka berdua, itu sama sekali bukan kekeliruan.
Aku Taji Lelono, dari Kadiri. Seorang pengelana yang ingin melihat keramaian kota dan wilayah sekitar Kotaraja", jawab Panji Tejo Laksono dengan sopan.
Hemmmmmmm..
"Pantas saja kau begitu hebat..
Kau bahkan belum mengeluarkan separuh kekuatan mu untuk melawan putri ku yang jumawa itu. Kalau kau sampai mengeluarkan tenaga penuh, Luh Jingga pasti tewas saat menerima Ajian Tapak Dewa Api tadi", ucap Resi Damarmoyo sembari menoleh ke arah Luh Jingga yang nampak kaget setengah mati mendengar penuturan Resi Damarmoyo.
"Hanya latihan Resi, tidak patut untuk mengeluarkan seluruh kemampuan.
Terimakasih kepada Resi karena tidak menyalahkan ku atas luka Luh Jingga ", Panji Tejo Laksono seraya menghormat pada Resi Damarmoyo.
"Selepas ini kalian hendak kemana?", tanya Resi Damarmoyo segera.
"Kami hendak pulang ke Kadiri, Resi..
Tapi sepertinya cuaca tidak mendukung keinginan kami. Maka dari itu kami mohon ijin untuk bermalam disini barang semalam saja menunggu hujan mereda", jawab Panji Tejo Laksono dengan santun.
"Kenapa tidak?
Biar nanti Adhi Mpu Hanggawira yang menyiapkan tempat untuk mu. Sekarang waktunya untuk makan siang. Kalian adalah tamu istimewa di tempat ini, mari kita makan bersama", ujar Resi Damarmoyo sembari menepuk tangan nya dua kali.
Dari arah belakang, para cantrik Resi Damarmoyo langsung keluar menghidangkan makanan untuk mereka. Pelbagai jenis hidangan ini benar benar menggugah selera. Mereka makan siang dengan lahap, kecuali Luh Jingga yang masih terluka dalam.
Usai bersantap siang bersama, Mpu Janggal mengajak Panji Tejo Laksono dan Gayatri ke tempat nya. Sedangkan Palupi menemani Luh Jingga yang sedang di obati oleh Resi Damarmoyo.
Kakek tua berkumis putih itu nampak menghela nafas panjang sambil menghapus bulir keringat yang membasahi keningnya usai menyalurkan tenaga dalam nya pada punggung Luh Jingga yang duduk bersila di lantai serambi kediaman utama.
"Untung saja pemuda itu menahan dua pertiga bagian tenaga dalam nya, kalau tidak kau pasti mati di tangan nya, Luh Jingga..
Semoga ini menjadi pelajaran berharga untuk mu agar kau tidak jumawa lagi dengan ilmu kanuragan mu. Ingat di atas langit masih ada langit", ujar Resi Damarmoyo sembari mengelus kumis tebal nya.
"Tapi Paman Guru,
Taji Lelono itu tadi sudah kurang ajar pada ku. Dia mengintip aku mandi di telaga bawah sana. Kangmbok Luh Jingga hanya menegakkan keadilan untuk ku ", sahut Palupi segera.
"Aku yakin itu hanya salah paham..
Kalaupun dia ingin berbuat tidak baik pada mu tadi, bahkan guru mu pun belum tentu bisa menyelamatkan mu.. Aku pun masih harus berpikir ulang jika ingin mengadu kesaktian dengan nya. Hanya sepertiga bagian tenaga dalam nya sudah mampu membuat Luh Jingga luka dalam separah ini, coba kau bayangkan jika dia tidak menahan tenaga nya Palupi..
Ah pemuda itu mengingatkan ku pada Panji Watugunung yang sekarang menjadi Raja Panjalu. Dulu dia begitu perkasa menghajar para Iblis Goa Siluman itu dan menyelamatkan Padepokan Bukit Penampihan dari pralaya.
Wajah tampan nya benar benar mirip. Andai saja Luh Jingga tadi tak bermasalah dengan nya, pasti dia akan ku jodohkan dengan nya hehehe ", ucap Resi Damarmoyo sembari tersenyum simpul.
Wajah Luh Jingga langsung memerah seperti kepiting rebus mendengar ucapan Resi Damarmoyo. Sejak pertama melihat wajah Panji Tejo Laksono tanpa caping bambu nya, Luh Jingga langsung jatuh hati pada pangeran muda dari Kadiri itu.
Palupi yang melihat perubahan warna kulit muka Luh Jingga yang putih, langsung tahu bahwa gadis itu memang menyukai Panji Tejo Laksono.
Setelah Resi Damarmoyo meninggalkan mereka berdua, Palupi segera menjawil lengan tangan Luh Jingga.
"Kangmbok,
Apa benar kau suka dengan pemuda itu?", ujar Palupi dengan cepat.
"Kau ini bicara apa, Palupi?
Kalaupun aku suka, belum tentu dia menyukai ku. Kau tahu sendiri bukan tadi kita sempat bertengkar dengan nya. Dia pasti membenci kita", jawab Luh Jingga yang kelihatan menyesal karena telah berani menghina Panji Tejo Laksono tadi.
"Aku juga merasa bersalah telah salah sangka tadi...
Sebaiknya kita meminta maaf kepada nya Kangmbok. Setidaknya kita tidak bermusuhan lagi dengan nya. Bagaimana menurut mu?", Palupi tersenyum tipis.
"Aku setuju tapi bagaimana caranya untuk meminta maaf?
Aku masih bingung, Palupi", Luh Jingga menatap ke arah Palupi yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Tiba tiba sebuah senyum terukir di wajah Palupi. Gadis cantik itu segera mendekati Luh Jingga dan membisikkan sesuatu di telinga Luh Jingga. Putri Resi Damarmoyo itu langsung tersenyum lebar dan mengangguk mengerti dengan maksud Palupi.
Panji Tejo Laksono sedang duduk di serambi depan kediaman Mpu Hanggawira sambil menatap rinai hujan deras yang mengguyur tempat itu. Gayatri yang baru selesai berganti baju perempuan nampak begitu cantik dengan balutan baju biru muda dengan selendang biru tua yang nampak serasi dengan celana selutut khas pendekar perempuan. Mulai hari ini dia bertekad untuk terus memakai pakaian perempuan agar bisa menarik perhatian Panji Tejo Laksono.
Dengan penuh semangat, Gayatri berjalan mendekati Panji Tejo Laksono. Di saat yang bersamaan, Palupi dan Luh Jingga juga berjalan menuju ke arah Panji Tejo Laksono. Melihat itu, Gayatri mendengus dingin sembari bergumam.
__ADS_1
"Mau apa lagi mereka?"