Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Hua Mei dan Gui Wu


__ADS_3

"Gui Wu si Hantu Seribu Wajah?"


"Benar Pendekar Thee..


Kita memasuki wilayah Lembah Hantu. Itu artinya kita memasuki daerah kekuasaan GUI Wu si Hantu Seribu Wajah. Selama puluhan tahun, tak sedikit para prajurit kekaisaran yang tewas sia-sia saat mencoba menahklukan tempat ini.


Tempat ini selalu menjadi tempat yang liar di wilayah Kekaisaran Song", jawab Jenderal Liu King sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat yang berkabut ini.


"Semuanya waspada!!


Terus maju tapi jangan kendor kewaspadaan terhadap keadaan sekitar kalian!", teriak Jenderal Liu King keras.


Suasana langsung berubah menjadi tegang. Pergerakan prajurit-prajurit pengawal pimpinan Jenderal Liu King dan para pengikut Panji Tejo Laksono pun menjadi lambat. Mereka melangkah selangkah demi selangkah memasuki wilayah Lembah Hantu dengan penuh kewaspadaan.


Suara burung yang aneh di tambah kabut asap yang entah datang dari mana semakin membuat suasana semakin terasa menakutkan.


Gumbreg yang naik kereta kuda bersama seorang prajurit Panjalu yang menjadi kusir, mulai mengeluarkan keringat dingin. Si prajurit kusir yang juga ketakutan pun sedikit heran melihat sikap Gumbreg.


"Gusti Demung kog pucat gitu kenapa? Apa Gusti Demung Gumbreg sedang sakit?", tanya si prajurit Panjalu yang juga ketakutan.


"Tutup mulut mu!


Aku baik baik saja hanya saja...", Gumbreg tak meneruskan omongan nya.


"Hanya apa Gusti Demung?", sahut si kusir prajurit Panjalu ini segera.


"Bukan urusan mu!


Sekarang perhatikan saja jalan di depan. Jangan banyak tanya", bentak Gumbreg sambil melotot ke arah si prajurit kusir itu segera. Takut Gumbreg semakin kesal, si prajurit memutuskan untuk tidak melanjutkan omongan nya lagi.


Suasana semakin terasa menegangkan. Kabut tebal membuat jarak pandang jadi terbatas. Teriakan burung gagak yang tiba-tiba terdengar dari balik tebing batu semakin membuat suasana semakin mengerikan apalagi setelah terdengar lolongan serigala yang aneh di siang bolong itu.


Aaaauuuuwwwwww....!!!


Dari balik kegelapan rimbun pepohonan di sepanjang jalan yang membelah lembah itu, ratusan pasang mata mengintai rombongan Panji Tejo Laksono. Seorang gadis bercadar hitam menarik busur panah nya dan dua anak panah melesat cepat kearah Jenderal Liu King.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg !!


Panji Tejo Laksono yang berkuda perlahan di belakang sang pimpinan pengawal Putri Song Zhao Meng, mendengar desir angin kencang kearah Jenderal Liu King langsung menghantamkan tangan kanannya ke arah dua anak panah yang melesat cepat dari sisi samping kanan.


Whuuthhh!


Blllaaaaaarrr thraakkkk !!


Ledakan keras terdengar bercampur dengan hancur nya anak panah di udara, membuat kuda Jenderal Liu King meringkik keras dan ketakutan. Sang pimpinan pasukan pengawal segera mengendalikan kudanya dan sadar bahwa nyawanya tertolong oleh Panji Tejo Laksono.


Belum sempat Jenderal Liu King mengucapkan terima kasih, dari arah pekatnya kabut tebal yang menutupi seluruh kawasan Lembah Hantu, muncul ratusan orang bertopeng tengkorak manusia yang langsung mengepung mereka.


Para prajurit yang mengawal Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan langsung bersiaga penuh dengan mengacungkan senjata mereka ke arah ratusan orang bertopeng menyeramkan.


Dari atas pepohonan yang rimbun, seorang wanita bercadar hitam melayang turun dari atas dan mendarat di atas pundak dua lelaki bertubuh gempal yang sepertinya merupakan tempat nya berpijak. Di tangan kirinya, busur panah terpegang erat yang menunjukkan bahwa dialah pelaku penyerangan terhadap Jenderal Liu King baru saja.


"Siapa kalian? Ada urusan apa menghadang kami ha?", hardik Jenderal Liu King yang memegang erat-erat tombak pedang di tangan kanannya sembari menatap tajam ke arah si gadis bercadar hitam.


"Huhhhhh...


Berani beraninya kalian memasuki wilayah Sekte Lembah Hantu tanpa permisi dengan kami. Apa kalian sudah bosan hidup?", tanya si gadis bercadar hitam itu segera.


"Ini adalah wilayah Kekaisaran Song. Semua orang bebas berjalan di tempat ini. Atas dasar apa kau mengatakan bahwa ini adalah wilayah Sekte Lembah Hantu? Dasar bedebah", maki Jenderal Liu King yang kesal dengan sikap gadis bercadar hitam.


"Hahahaha...


Sejak kapan wilayah Lembah Hantu menjadi kekuasaan Dinasti Song? Bukankah semua orang Dinasti Song berani mengusik ketenangan Lembah Hantu pulang tinggal nama? Apa kalian juga ingin bernasib sama ha? Huahahahahahaha...", tawa keras terdengar dari si gadis bercadar hitam itu sembari menatap ke arah Jenderal Liu King.


Phhuuuiiiiiihhhhh...


"Sombong sekali kau!!


Aku Liu King, pimpinan tertinggi para jenderal Kegubernuran Yingtian sama sekali tidak pernah takut dengan seseorang yang memakai topeng seperti kalian. Majulah, biar Tombak Pedang Naga Langit ku akan meminum darah kalian", ujar Jenderal Liu King sembari mengacungkan tombak pedang di tangan kanannya ke arah gadis bercadar hitam.

__ADS_1


Seorang lelaki yang sepertinya sudah berusia sepuh, menghormat pada si gadis bercadar hitam itu segera.


"Nona Hua Mei..


Tunggu apa lagi? Kita musnahkan saja para prajurit sombong ini segera. Tangan ku sudah gatal ingin menebas leher mereka", ucap si lelaki bertubuh kekar itu sembari mengacungkan pedangnya ke arah Jenderal Liu King.


Gadis yang di panggil dengan sebutan Nona Hua Mei itu menyeringai lebar dari balik cadar hitam nya lalu berteriak keras, "Habisi mereka semua!".


Para prajurit Jenderal Liu King yang merupakan lapis terluar dari pengawalan ini langsung menerima terjangan dari anggota Sekte Lembah Hantu begitu Hua Mei memberikan perintah. Pertarungan sengit segera terjadi di kesempatan siang bolong itu tanpa menunggu waktu lagi.


Puluhan orang langsung menyerang ke arah Jenderal Liu King. Nampaknya tujuan mereka yang utama adalah melemahkan semangat para pengawal Putri Song Zhao Meng dengan membunuh pimpinan mereka lebih dahulu. Namun Jenderal Liu King bukanlah perwira tinggi prajurit yang mendapat jabatan hanya mengandalkan hubungan keluarga dan harta. Dia adalah seorang prajurit terlatih yang sudah berpengalaman di medan perang beberapa kali dan pulang dengan membawa kemenangan.


Secepat kilat dia memutar tombak pedang yang merupakan senjata andalannya.


Whhhhuuuuggghhh !


Chhrrrraaaaaassss!!


Seorang anggota Sekte Lembah Hantu langsung tewas dengan kepala terpisah dari badan setelah senjata Jenderal Liu King menebas batang leher nya. Sang pimpinan pasukan pengawal ini dengan lincah menghadapi sepuluh orang yang mengepungnya tanpa sedikitpun kesulitan.


Di sisi lain, dua orang lelaki berpakaian hitam yang menjadi pijakan kaki Hua Mei langsung melompat ke arah Panji Tejo Laksono setelah mendapat arahan dari Hua Mei. Bersenjatakan kapak besar, mereka berdua langsung membabatkan kapak besar mereka ke arah Panji Tejo Laksono. Dengan menekan punggung kudanya, Panji Tejo Laksono melenting tinggi ke udara.


Whhhuuutthh !!


Chhhrraaassshhhh!!


Hiiieeeekkkkkkk!!


Kuda tunggangan Panji Tejo Laksono langsung tewas dengan tubuh terpotong menjadi 3 bagian. Melihat Panji Tejo Laksono lolos dari sergapan mereka, dua orang bertubuh besar itu segera merubah gerakan tubuhnya dan kembali memburu ke arah sang pangeran muda dari Kadiri dengan serangan cepat yang mematikan. Kepandaian bela diri dua orang bertubuh gempal itu memang diatas rata-rata orang orang anggota Sekte Lembah Hantu.


Sadar bahwa dua orang ini sengaja di pergunakan untuk merepotkan dirinya, Panji Tejo Laksono yang baru mendarat segera menggunakan Ajian Sepi Angin nya untuk mengatasi serangan cepat mereka.


Setelah menyambar sebuah pedang yang menancap di tanah, Panji Tejo Laksono langsung bergerak cepat sembari mengayunkan pedangnya ke arah salah seorang dari dua orang bertopeng tengkorak manusia ini.


Thhraaaangggg !!


Mereka berusaha menyudutkan gerakan Panji Tejo Laksono dengan sergapan serangan kapak besar mereka namun putra sulung dari Prabu Jayengrana ini justru semakin memperlihatkan keunggulan nya dalam ilmu bela diri berpedang nya.


Thrrriiinnnggggg!


Whheeeetttthhh !!


Aaauuuuggggghhhhh !!


Seorang diantara mereka langsung terjatuh ke tanah saat Panji Tejo Laksono yang berhasil menghindari sabetan kapak, menghantam punggung sang lelaki bertubuh gempal itu dengan keras.


Melihat kawannya jatuh, sang lelaki bertubuh gempal lainnya mengayunkan kapak besar nya ke arah leher Panji Tejo Laksono dari belakang.


Shhrreeettthhh!


Hawa dingin berdesir kencang kearah leher di rasakan oleh Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda dari Kadiri itu langsung menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara sembari bersalto sekali di udara. Bersamaan dengan itu, pedang di tangan sang putra tertua Prabu Jayengrana menebas leher lawan dengan cepat.


Whuuuggghh !


Aaaarrrgggggghhhhh !


Darah segar muncrat keluar dari luka di leher sang lelaki bertubuh gempal itu yang nyaris membuat lehernya putus. Dia roboh dengan kepala hampir terpisah dari badan. Tanah di bawah tubuhnya langsung berwarna merah akibat darah segar yang masih keluar dari luka.


Tanpa menunggu lama, Panji Tejo Laksono kembali melesat cepat kearah seorang lawan yang masih hidup. Sang lelaki bertubuh gempal yang baru saja berdiri setelah di jatuhkan oleh Panji Tejo Laksono benar benar terkejut bukan main melihat Panji Tejo Laksono yang tiba-tiba muncul di hadapan nya.


Belum sempat dia mengayunkan pedangnya, pedang Panji Tejo Laksono telah lebih dahulu menembus ulu hati tembus punggung.


Jllleeeeeppppphhh !


Aaaarrrgggggghhhhh !


Si lelaki bertubuh gempal itu menjerit keras lalu roboh ke tanah setelah Panji Tejo Laksono mencabut pedang nya. Dia tak menyangka kalau hari ini nyawanya melayang di tangan seorang pemuda yang tidak di kenal di dunia persilatan Tanah Tiongkok. Dia tewas bersimbah darah.


Panji Tejo Laksono yang baru saja menghabisi nyawa lawannya, melihat Luh Jingga yang terluka di keroyok oleh beberapa orang bertopeng tengkorak manusia. Sembari mendengus keras, sang pangeran dari kerajaan Panjalu ini melesat cepat kearah Luh Jingga sembari membabatkan pedang ke arah salah seorang pengeroyok.

__ADS_1


Chhreepppppph !


Aaauuuuggggghhhhh !


Seorang lelaki bertopeng tengkorak manusia langsung tersungkur ke tanah setelah kepalanya menggelinding ke tanah akibat tebasan pedang Panji Tejo Laksono. Sementara itu Panji Tejo Laksono sendiri segera mendekati Luh Jingga yang membekap lengan kiri nya yang berdarah.


"Kau tidak apa apa Luh?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Jangan pikirkan aku, Gusti Pangeran..


Ada sesuatu yang telah terjadi. Mohon bantu aku habisi para pengacau ini lebih dulu", balas Luh Jingga sembari menata nafasnya yang tersengal.


Mendengar perkataan itu, Panji Tejo Laksono segera berdiri tegak setelah melemparkan pedangnya kearah seorang lelaki bertopeng tengkorak manusia.


Whuuthhh !


Jllleeeeeppppphhh !


Si lelaki bertopeng tengkorak yang sial itu segera tersungkur ke tanah dengan pedang menancap di perutnya.


Tangan Panji Tejo Laksono seketika berubah warna menjadi merah menyala seperti api dengan di selingi warna biru. Rupanya dia menggabungkan Ajian Tapak Dewa Api dengan Ajian Dewa Naga Langit andalannya. Secepat kilat, Panji Tejo Laksono langsung melepaskan serangan tapak beruntun ke arah para anggota Sekte Lembah Hantu.


"Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat....!!!"


Delapan larik sinar merah menyala seperti api berhawa panas menyengat langsung menerabas cepat kearah para anggota Sekte Lembah Hantu.


Whhhuuuuusssshhh...


Blllaaammmmmmmm blllaammm...


Dhuuaaaaaaarrrrrr !!!


Ledakan dahsyat beruntun terdengar. Jerit jerit kesakitan terdengar berikut beberapa tubuh manusia yang hancur berserakan dimana-mana. Sang pangeran muda dari Kadiri ini tidak mengendurkan serangan nya dan terus menerus melancarkan serangan-serangan tapak tangan yang menakutkan. Beberapa anggota Sekte Lembah Hantu mulai merasakan sesuatu kekuatan yang menakutkan. Mereka berusaha menjauhi Panji Tejo Laksono.


Saat Panji Tejo Laksono mengamuk dengan Ajian Tapak Dewa Api nya, beberapa pisau belati berwarna keperakan melesat ke arah sang pangeran muda.


Luh Jingga yang sedang terluka, dengan cepat mengeluarkan Ajian Tapak Dewa Bayu dengan memutar telapak tangan kanannya dan menghantamkan tapak tangan kanan itu kearah serangan senjata rahasia yang mengancam nyawa Panji Tejo Laksono.


Whuuussshh !!


Angin kencang menderu layaknya badai menerjang maju ke arah serangan senjata rahasia yang ternyata di lepaskan oleh seseorang dari jarak yang cukup jauh. Pisau pisau belati itu segera bermentalan saat terkena hantaman Ajian Tapak Dewa Bayu milik Luh Jingga.


Rupanya Hua Mei dan seorang lelaki sepuh berjenggot panjang dengan wajah yang tak jelas karena tertutup oleh rambut yang panjang dan acak acakan, menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga dari kejauhan. Lelaki tua itu adalah Gui Wu, seorang pendekar sesat yang di juluki sebagai Si Hantu Seribu Wajah karena tak seorang pendekar pun yang pernah melihat wajah aslinya.


"Guru,


Anggota Sekte Lembah Hantu banyak yang terbunuh oleh mereka berdua. Apa guru tahu siapa mereka?", tanya Hua Mei seraya menatap ke arah Gui Wu yang terus menatap ke arah Panji Tejo Laksono.


"Ilmu beladiri mereka aneh, Ah Mei..


Sepertinya mereka bukan dari Daratan Tengah. Si gadis berbaju kuning kemerahan itu aku masih sanggup menghadapi nya tapi kalau pemuda berbaju biru tua itu....


Hemmmmmmm...


Sepertinya dia lah yang paling menakutkan di rombongan ini", ujar Gui Wu tanpa mengalihkan pandangannya pada Panji Tejo Laksono yang masih mengamuk.


"Lantas, apa yang sebaiknya kita lakukan Guru?", Hua Mei menunggu ucapan gurunya.


"Mundur saja..!!


Lagi pula kita sudah dapat apa yang kita cari. Cepat lakukan sebelum korban di pihak kita semakin banyak!", perintah Gui Wu sembari melesat cepat kearah barat.


Hua Mei langsung meniup peluit nyaring. Suara tanda rahasia yang hanya bisa di mengerti oleh para anggota Sekte Lembah Hantu itu pun sontak membuat para anggota sekte langsung melarikan diri meninggalkan arena pertarungan.


Para prajurit pengawal Putri Song Zhao Meng yang dipimpin oleh Jenderal Liu King pun menarik nafas lega karena para pengepung itu mundur. Tapi sekejap kemudian, teriakan keras Qiao Er langsung membuat Panji Tejo Laksono dan para pengawal Putri Song Zhao Meng tersadar.


"Jangan biarkan mereka kabur,


Putri Meng Er diculik mereka!!"

__ADS_1


__ADS_2