
"Sembrono kau..
Kalau garam betulan pasti sudah di pakai untuk bumbu memasak istri mu di dapur, tolol. Ini bukan garam meski rasanya asin", sahut seorang prajurit yang berada di samping prajurit tadi.
"Lantas ini apa kalau bukan garam?", tanya si prajurit yang merasakan bubuk putih itu tadi.
"Mana aku tahu. Coba saja kau tanya pada perempuan berbaju putih itu", ujar si kawan nya sembari menunjuk ke arah Dyah Kirana. Semua prajurit bertanya-tanya apa yang baru saja di lemparkan oleh Dyah Kirana baru saja.
Sedangkan Ki Kalawisesa yang melihat ilmu hitam atau ilmu pangiwa nya di hancurkan oleh Dyah Kirana, menggeram keras.
"Bubuk Pemusnah Sihir??!
Bangsat kecil, siapa guru mu dan dari mana kau berasal ha?", hardik keras Ki Kalawisesa sembari mendelik kereng pada Dyah Kirana.
"Pengetahuan mu cukup luas juga, Dukun Tua.
Itu adalah Bubuk Pemusnah Sihir yang diciptakan dari cangkang keong laut 100 tahun dan air suci yang di berkati. Bukan hanya sihir murahan mu saja yang bisa hancur, bahkan genderuwo kiriman murid mu itu juga hancur menjadi abu jika terkena Bubuk itu.
Aku Dyah Kirana, putri Resi Ranukumbolo pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru di wilayah Kadipaten Dinoyo Kerajaan Jenggala.
Apa sekarang kau masih ingin meneruskan pertikaian antara kita ini lagi?", senyum lebar terukir di wajah cantik Dyah Kirana.
Ki Kalawisesa tertegun sejenak mendengar jawaban Dyah Kirana. Selama ini, Pertapaan Gunung Mahameru memang tersohor sebagai tempat pembelajaran ilmu sihir putih atau ilmu panengen yang menjadi lawan bagi semua penganut aliran sihir hitam atau ilmu pangiwa. Semua murid muridnya terkenal mampu menjadi lawan yang merepotkan bagi semua penganut ilmu sihir hitam. Yang paling kondang di antara mereka tentu saja Resi Ranukumbolo pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru yang terkenal dengan sebutan "Si Penyihir Putih dari Gunung Mahameru".
Gelar itu bukan sekedar isapan jempol belaka. Beredar kabar bahwa Resi Ranukumbolo berhasil menundukkan sang Raja Ilmu Santet dari Blambangan yang bernama Jajag Alun dalam sebuah sayembara untuk memperebutkan Niken Jaladri, putri Akuwu Jambewangi. Jajag Alun sangat terkenal di dunia sihir karena pernah memusnahkan sebuah perkampungan dalam waktu semalam di wilayah Lamajang. Karena kekalahan itu, Jajag Alun menyingkir ke daerah selatan Blambangan dan tidak muncul lagi di dunia persilatan sesuai dengan janji nya pada Resi Ranukumbolo. Sang Resi yang masih berusia muda kemudian memperistri Niken Jaladri, putri Akuwu Jambewangi yang cantik jelita dan memboyongnya ke Pertapaan Gunung Mahameru. Di sanalah lahir Jodang Aradea, Dyah Kirana dan Dyah Sawitri, tiga anak Resi Ranukumbolo yang terkenal memiliki bakat ilmu sihir sejak masih balita.
"Kau mau mengancam ku dengan nama besar ayahmu, setan cilik?
Huh, aku sudah membunuh puluhan penyihir putih saat kau masih ******* pada ibu mu dan aku tidak keberatan jika satu orang penyihir putih lagi mati di tangan ku!", ucap Ki Kalawisesa segera.
"Eyang Guru, urusan para prajurit Seloageng aku yang akan menangani. Eyang Guru cukup urusi perempuan itu", ujar Wigati sembari menghormat pada Ki Kalawisesa. Lelaki tua bertubuh gempal dengan dandanan mirip seperti pertapa namun dengan kain hitam itu mengangguk mengerti.
Mulut nya segera komat-kamit membaca mantra lalu di tangan kanannya muncul sebuah tongkat kayu dengan ujung berupa kepala ular. Sembari menyeringai lebar, Ki Kalawisesa segera melemparkan tongkat kayu berwarna hitam itu ke arah halaman pendopo kelurahan Wanua Ranja.
"Ular Sanca Keling,
Tunjukkan wujud mu sekarang dan habisi perempuan itu!", teriak Ki Kalawisesa dengan lantang.
Tongkat kayu itu langsung berubah menjadi seorang ular raksasa yang yang menatap tajam ke arah Dyah Kirana seolah sedang mengincar mangsa. Semua orang yang ada di halaman rumah Mpu Anggada segera menjauh karena takut menjadi mangsa makhluk menakutkan ini.
Melihat itu, Panji Tejo Laksono langsung menoleh ke arah Dyah Kirana.
"Kirana, apa kau sanggup menghadapi nya?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
__ADS_1
"Serahkan saja dukun teluh itu pada ku, Gusti Pangeran. Perempuan berkemben hijau itu sebaiknya kau tangkap saja", jawab Dyah Kirana sembari tersenyum manis. Setelah berkata demikian, Dyah Kirana merapal mantra sesuatu. Di tangannya muncul sebuah pedang dan sepasang sayap seperti milik burung merpati juga tercipta di punggung Dyah Kirana. Semua orang merasa takjub melihat pemandangan ini termasuk Luh Jingga dan Gayatri. Kedua selir Panji Tejo Laksono itu saling berpandangan sejenak.
"Saudari kelima kita rupanya punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh kita semua, Jingga..", ujar Gayatri sembari kembali menatap ke arah Dyah Kirana.
"Benar Kangmbok Gayatri..
Seperti nya semua saudari kita punya kelebihan sendiri-sendiri untuk melengkapi Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono", sahut Luh Jingga segera. Keduanya kembali menatap ke arah Dyah Kirana yang bersiap untuk bertarung melawan ular raksasa ciptaan Ki Kalawisesa.
Setelah menjejak tanah dengan keras, Dyah Kirana yang kini memiliki sayap melesat cepat kearah ular raksasa ciptaan Ki Kalawisesa sembari mengayunkan pedang di tangan kanannya.
Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh !!
Dua tebasan pedang dengan cepat ia ayunkan ke arah Ular Sanca Keling itu. Seolah bisa berpikir, Ular Sanca Keling segera berkelit menghindari tebasan pedang di tangan Dyah Kirana. Bahkan dengan cepat, ular raksasa ciptaan Ki Kalawisesa itu segera membuka mulut lebar-lebar untuk menerkam Dyah Kirana. Putri Resi Ranukumbolo itu segera menggunakan pedangnya untuk menahan serangan Ular Sanca Keling.
Thrrraaannnnggggg !!
Sementara Dyah Kirana disibukkan dengan Ular Sanca Keling, Panji Tejo Laksono menggunakan Ajian Halimun nya. Asap putih tipis segera menutupi seluruh tubuh nya dan sebentar kemudian dia sudah menghilang dari pandangan mata semua orang.
Ki Kalawisesa yang melihat Panji Tejo Laksono menghilang, langsung mencabut keris pusaka di pinggangnya. Segera dia mengayunkan keris pusaka itu ke samping kanan nya.
Shhrreeettthhh..
Thhraaaangggggggg !!
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat..
Whhuuuuuuuggggh whuuthhh!
Thhraaaangggggggg thrrriiinnnggggg!!!
Dengan kecepatan tinggi, Ki Kalawisesa segera mengayunkan kerisnya bertubi tubi ke arah Panji Tejo Laksono. Sedangkan Wigati langsung menjauh dari tempat pertarungan mereka.
Ki Kalawisesa segera mengayunkan kerisnya ke arah leher sang pangeran muda dari Kadiri. Panji Tejo Laksono mundur selangkah sembari menangkis sabetan senjata di tangan Ki Kalawisesa. Usai berhasil menahan serangan lawan, Panji Tejo Laksono segera memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras beruntun kearah punggung lelaki tua bertubuh gempal itu.
Dhiiieeeessshh !! dhesshhh!!
Oouuugghhhhhh !!!
Ki Kalawisesa melengguh saat tendangan keras kaki kiri dan kanan Panji Tejo Laksono telak mengenai punggungnya. Dia nyaris terjungkal ke depan andai tidak cepat menguasai dirinya. Lelaki tua berjanggut panjang itu segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono dengan tatapan mata seolah ingin menelannya hidup-hidup.
Setelah mengusap darah segar yang meleleh di sudut kiri bibirnya, Ki Kalawisesa segera mengusap keris pusaka di tangan kanannya dengan jari tangan kiri yang ada darahnya. Muncul seberkas sinar merah di bilah keris pusaka yang ada di tangan Ki Kalawisesa. Dengan cepat ia menyabetkan keris nya ke arah Panji Tejo Laksono. Seberkas sinar merah langsung terlontar dari sabetan keris Ki Kalawisesa.
Shhhiiiuuuuuuuutttttttth..
__ADS_1
Panji Tejo Laksono langsung bersalto beberapa kali ke arah samping hingga serangan sinar merah dari keris pusaka di tangan Ki Kalawisesa menghantam tanah tempat Panji Tejo Laksono berpijak.
Blllaaaaaarrr !!
Ledakan keras terdengar saat sinar merah keris pusaka Ki Kalawisesa menghantam tanah. Melihat Panji Tejo Laksono berhasil lolos, dengan cepat ia menghujamkan keris pusaka itu ke tanah.
Krrraaaakkkkkk !
Tanah di halaman pendopo kelurahan Wanua Ranja itu langsung terbelah menjadi dua bagian. Panji Tejo Laksono yang terlambat menghindar, ikut terjatuh ke dalam retakan tanah. Melihat putra sulung Prabu Jayengrana itu masuk ke dalam retakan tanah yang tercipta dari hujaman keris pusaka nya, Ki Kalawisesa segera mencabut kerisnya dan ajaibnya tanah di halaman depan pendopo kelurahan Wanua Ranja itu segera menutup kembali.
"Mampus kau, bocah keparat!", umpat Ki Kalawisesa sembari menyeringai lebar. Belum sempat dia berbalik badan, tiba-tiba saja..
Krraatttttaaaaaaakkkk...
Jeedddhhhhhaaaarrrrrrr!!!!
Ledakan keras terdengar untuk kesekian kalinya di tempat Panji Tejo Laksono terkubur hidup-hidup. Dari asap putih yang mengepul di tempat Panji Tejo Laksono, sang pangeran muda dari Kadiri itu melangkah keluar dari sana dengan tangan kanan memegang Keris Nagasasra yang bersinar kuning keemasan. Mata Panji Tejo Laksono menatap tajam ke arah Ki Kalawisesa yang terkejut bukan main.
"Saatnya aku mengakhiri petualangan mu, Ki Kalawisesa!", ucap Panji Tejo Laksono sembari bersiap untuk maju. Menggunakan Ajian Sepi Angin, Panji Tejo Laksono melesat cepat kearah Ki Kalawisesa. Kecepatan tinggi sang pangeran muda dari Kadiri ini membuat Ki Kalawisesa gelagapan juga. Dia dengan cepat membabatkan keris pusaka nya ke arah Panji Tejo Laksono, namun gerakan cepat sang pangeran yang berlari cepat mengitarinya membuat tebasan keris pusaka itu hanya menyambar angin.
Whhuuuuuuuggggh whuuthhh !!
Ki Kalawisesa terus mengayunkan keris pusaka itu ke segala arah. Namun tak satupun yang berhasil mengenai tubuh Panji Tejo Laksono. Hanya menciptakan ledakan keras di seluruh tempat itu. Melihat serangan ngawur Ki Kalawisesa, Panji Tejo Laksono yang khawatir dengan keselamatan orang orang yang ada di tempat itu, segera mencari celah pertahanan Ki Kalawisesa. Saat menemukan nya, Panji Tejo Laksono langsung menusukkan Keris Nagasasra ke pinggang kiri sang dukun teluh.
Jllleeeeeppppphhh !!!
AAAARRRGGGGGGHHHHH !!
Ki Kalawisesa segera menjerit keras saat Keris Nagasasra menghujam pinggang kiri nya. Lelaki tua berjanggut panjang itu terhuyung huyung mundur sambil memegangi pinggang nya yang bolong akibat tusukan Keris Nagasasra.
"Bajingan tengik!
Ka-kau cu..curang bangsaaaaattttt!!!", maki Ki Kalawisesa sambil menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono. Bersamaan dengan itu, Ular Sanca Keling pun ikut menghilang dari pandangan mata semua orang. Dyah Kirana segera melompat turun dari udara dan sayapnya pun ikut menghilang bersama dengan pedang di tangan nya.
Setelah mengejang hebat sebentar, tubuh tua Ki Kalawisesa yang bersimbah darah pun diam untuk selamanya. Namun dari luka menganga di tubuh Ki Kalawisesa, seekor tawon raksasa sebesar ayam jago keluar. Tawon raksasa itu segera terbang dan langsung menyerang Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana dengan sengatnya.
Panji Tejo Laksono menggeram keras sembari menghindari serangan hewan berbisa itu. Dia berjumpalitan mundur beberapa kali sebelum menusukkan Keris Nagasasra di tangan kanannya ke arah tawon raksasa itu. Sinar kuning keemasan dengan cepat terlontar ke arah tawon raksasa yang ganti menyerang ke arah Dyah Kirana.
Shhhiiiuuuuuuuutttttttth..
Blllaaaaaarrr !!!
Tawon raksasa itu meledak dan terbakar usai terkena sinar kuning keemasan yang keluar dari bilah Keris Nagasasra. Sebelum berbalik badan ke arah Dyah Kirana, Panji Tejo Laksono menggerutu dalam hati.
__ADS_1
'Huh mengganggu saja'