Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Menuju ke Kota Kaifeng


__ADS_3

Sosok lelaki bertubuh tegap yang tak lain adalah Panji Tejo Laksono sedikit kaget mendengar suara yang keluar dari bayangan hitam yang sedang memanggul sebuah kantong kain hitam besar ini.


'Kog seperti suara perempuan?', batin Panji Tejo Laksono sembari memperhatikan sosok bayangan hitam yang sedang berdiri di hadapannya.


Begitu Panji Tejo Laksono memperhatikan tubuh sosok hitam itu, terlihat jelas bahwa ia adalah seorang perempuan. Meski terangnya cahaya bulan tak mampu menerangi dengan jelas, namun dari sekilas saja sudah kelihatan bahwa ia adalah seorang wanita.


"Letakkan barang curian mu, kalau tidak jangan salahkan aku bertindak kasar pada seorang perempuan!", ujar Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah si bayangan hitam.


Si bayangan hitam itu kaget mendengar ucapan Panji Tejo Laksono. Awalnya dia mengira bahwa yang muncul di hadapan nya adalah seorang pendekar tua yang memiliki kemampuan beladiri tinggi. Tak disangka bahwa orang yang muncul di hadapan nya masih berusia muda. Gelapnya malam memang membuat semua jarak pandang jadi terbatas.


"Huhhhhh..


Jangan kau pikir karena sudah berhasil mengejar ku, kau sudah menang. Kau tidak tahu siapa aku sebenarnya", ujar si bayangan hitam yang tak lain adalah seorang gadis yang selama ini mendapat julukan sebagai Pencuri Angin.


Dia segera melemparkan kantong kain berwarna hitam di punggungnya lalu dengan cepat melemparkan 4 senjata rahasia berupa pisau kecil yang berwarna putih keperakan.


Shriingg shriingg shriingg !!


Empat senjata rahasia itu melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Bersamaan dengan itu Si Pencuri Angin segera mencabut sepasang pedang pendek dari pinggang lalu menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono dengan kecepatan tinggi.


Panji Tejo Laksono dengan cepat menghindari serangan pisau kecil yang di lemparkan oleh Pencuri Angin sembari mengibaskan tapak tangan kanan nya ke arah pisau kecil yang menyerang.


Plaaakkkkk !


Chhreepppppph chhreepppppph !!


Dua pisau kecil berbelok arah dan menancap pada tembok reruntuhan bangunan kuil terbengkalai ini. Sedangkan dua lagi melesat menancap di pintu kuil. Belum sempat Panji Tejo Laksono mengambil jeda nafas, dari arah samping Si Pencuri Angin mengayunkan pedangnya kearah bahu.


Bhreeeetttttthhhh !


Panji Tejo Laksono menggeser tubuhnya sedikit saja hingga tebasan pedang Si Pencuri Angin hanya menebas udara kosong. Melihat serangan nya mentah, Si Pencuri Angin langsung mengayunkan pedang di tangan kirinya ke arah pinggang.


Sekali hentak, tubuh Panji Tejo Laksono melenting tinggi ke udara menghindari sabetan pedang pendek dari Si Pencuri Angin. Pertarungan sengit dengan kecepatan tinggi ini memang mengandalkan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi.


Si Pencuri Angin mendengus dingin. Secepat apapun serangan nya, Panji Tejo Laksono bisa dengan mudah menghindari.


'Brengsek..!!


Orang ini memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi juga. Dia bahkan mampu menghindari semua serangan ku dengan mudahnya. Aku tidak boleh kalah'.


Si Pencuri Angin terus berupaya keras untuk bisa menjatuhkan Panji Tejo Laksono secepat mungkin. Semakin lama tenaganya semakin terkuras.


Whuuuutttttttthhh !


Shhhreeeeeeeetttttttthhh !


Dhhassshhh dhaaashhh!!


Si Pencuri Angin terdorong mundur beberapa langkah ke belakang setelah Panji Tejo Laksono melayangkan serangan tapaknya. Dengan nafas yang tersengal-sengal dan batuk kecil, Si Pencuri Angin kini nampak wajah aslinya. Panji Tejo Laksono berhasil melepas kain hitam yang menutupi sebagian wajahnya hingga membuat wajah Si Pencuri Angin kentara.


Di bawah sinar bulan, wajah cantik seorang perempuan berusia sekitar tiga dasawarsa terlihat. Garis keriput halus bercampur gurat kedewasaan tak mengurangi kecantikan alami wanita yang berpakaian serba hitam ini. Setetes darah segar nampak meleleh keluar dari sudut bibirnya yang tipis. Perempuan itu menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono yang segera melemparkan kain penutup wajah Si Pencuri Angin ke tanah.

__ADS_1


"Rupanya benar kau seorang perempuan..


Menyerahlah, Nona. Kau bukan tandingan ku meski aku akui ilmu meringankan tubuh mu sangat tinggi", ujar Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah Si Pencuri Angin.


Phhuuuiiiiiihhhhh...


"Kau terlalu cepat menyatakan kemenangan mu, pendekar muda! Aku masih belum kalah!", teriak Si Pencuri Angin sambil meludah kasar ke tanah. Dengan cepat ia menyalurkan seluruh tenaga dalam pada tangan sambil memutar sepasang pedang pendek nya di samping tubuh.


Tiba tiba saja, angin dingin berdesir kencang mengikuti gerakan tubuh Si Pencuri Angin. Semakin lama semakin cepat angin kencang menderu.


Panji Tejo Laksono pun waspada dan tak mau meremehkan kekuatan lawan. Segera dia merapal Ajian Dewa Naga Langit. Matanya terpejam rapat sesaat sebelum terbuka dengan manik mata berwarna merah. Dari pandangan mata itu, Panji Tejo Laksono mampu melihat angin kencang berhawa dingin tenaga dalam tingkat tinggi membentuk bilah angin yang tipis di sekeliling tubuh Si Pencuri Angin.


Hemmmmmmm


"Jadi dia pengguna unsur angin sebagai kekuatan utama, angin adalah pendukung api, jadi aku harus meningkatkan hawa panas untuk menekan nya", gumam Panji Tejo Laksono.


Kedua telapak tangan sang pangeran muda dari Kadiri itu langsung menangkup di depan dada. Dengan cepat ia menggabungkan Ajian Tapak Dewa Api dengan Ajian Dewa Naga Langit sebagai pendukung. Seketika sinar merah menyala bercampur dengan biru terang yang berhawa panas menggulung di kedua lengan tangan Panji Tejo Laksono lalu mengumpul di kedua telapak tangan sang putra tertua Prabu Jayengrana ini hingga kedua telapak tangan berubah warna menjadi merah kebiruan.


"Pendekar muda!


Kita lihat Tebasan Pedang Angin ku atau api mu yang lebih kuat!! Sekarang rasakan kekuatan ku!!


Tebasan Pedang Angin...


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...!!"


Dengan teriakan keras, Si Pencuri Angin segera menebaskan kedua pedang pendek nya ke arah Panji Tejo Laksono.


Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh !!


Whuuthhh whuuthhh..!!


Blllaaammmmmmmm blllaaammmmmmmm!


Dua ledakan dahsyat beruntun terdengar saat dua ilmu ini beradu. Si Pencuri Angin langsung terpental jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Perempuan cantik itu langsung muntah darah segar. Sedangkan Panji Tejo Laksono hanya mundur setengah langkah saja.


Melihat lawan nya terkapar luka parah, Panji Tejo Laksono tetap waspada dengan gerak-gerik lawan. Saat itu Pendeta Wang Chun Yang, Huang Lung dan Luh Jingga sampai di tempat itu.


Alangkah terkejutnya Pendeta Wang Chun Yang melihat sosok Si Pencuri Angin yang terkapar dengan luka dalam parah setelah mengadu ilmu dengan Panji Tejo Laksono.


"Adik Ren? Apakah itu kau adik Chu Xiao Ren?", tanya Pendeta Wang Chun Yang dengan segera melangkah menuju ke arah Chu Xiao Ren alias Si Pencuri Angin.


Si Pencuri Angin alias Chu Xiao Ren menggerakkan kepalanya pada Pendeta Wang Chun Yang yang sangat di kenalnya.


Chu Xiao Ren dan Wang Chun Yang adalah murid Si Pendeta Gila Chi Kung Pao dari Gunung Wu Tang. Mereka berguru kepada Chi Kung Pao saat pendekar sakti itu memutuskan untuk berkelana ke seluruh Daratan Tengah demi menegakkan keadilan. Dia rela meninggalkan Gunung Wu Tang, demi menyebarkan ajaran Taoisme yang di pelajari nya. Sepanjang perjalanan, Chi Kung Pao menerima banyak murid. Diantara mereka adalah Wang Chun Yang dan Chu Xiao Ren yang menjadi murid terakhir Chi Kung Pao sebelum meninggal dunia.


Setelah guru mereka meninggal, Wang Chun Yang mengajarkan Taoisme sesuai cita cita gurunya lewat seni beladiri dengan mendirikan Aliran Chun Yang. Sedangkan Chu Xiao Ren sendiri lebih suka berkelana mencari pengalaman hidup. Tak disangka bahwa pertemuan Wang Chun Yang dan Chu Xiao Ren harus terjadi seperti ini.


"Kak Chun Yang,


Akhirnya aku ber bertemu juga dengan mu", ujar Chu Xiao Ren dengan terbata-bata melihat Wang Chun Yang berjongkok di sampingnya. Air mata nya perlahan mulai menetes.

__ADS_1


"Kenapa Adik Ren? Kenapa kau jadi seperti ini?", sendu suara Wang Chun Yang melihat keadaan adik seperguruan nya yang terluka parah. Dia segera mengangkat kedua jari tangan kanannya dan dengan cepat menotok beberapa titik nadi Chu Xiao Ren.


Thuk thuukk..


Huuuuooogggghhh!


Chu Xiao Ren kembali muntah darah segar yang bercampur dengan cairan berwarna hitam. Kaget Wang Chun Yang melihat cairan hitam itu.


"Adik Ren,


Apa yang sebenarnya sedang terjadi?"


"Kakak Yang,


Maafkan aku. A-aku terpaksa menjadi pencuri karena aku terkena Racun Neraka Hitam. Lu Shun Fung si Raja Racun menjebak ku dengan Racun Neraka Hitam. Untuk menebus obat penawar racun nya, Lu Shun Fung meminta 5000 tail emas. Aku sudah mengumpulkan 5000 tail emas, tapi Lu Shun Fung hanya memberikan separuh obat penawar Racun Neraka Hitam. Oleh karena itu aku terpaksa menjadi pencuri untuk mendapatkan uang banyak lagi untuk menebus sisa obat penawar yang di miliki oleh Lu Shun Fung.


Mohon Kak Chun Yang memaafkan ku karena sudah mempermalukan nama besar guru", usai berkata demikian, Chu Xiao Ren langsung menusukkan pedang pendeknya ke arah perutnya sendiri.


Jllleeeeeppppphhh !


Aaauuuuggggghhhhh !


Kejadian ini begitu cepat hingga Wang Chun Yang terlambat menyadari hal ini. Chu Xiao Ren langsung terkulai tewas dengan pedang pendek nya menembus perut hingga punggung.


"Adik Reeeeennnnnn!!!!!!!!!!!!"


Teriakan keras Wang Chun Yang langsung membuat Panji Tejo Laksono, Luh Jingga dan Huang Lung berlari cepat kearah mereka.


"Pendeta Wang,


Apa benar dia adalah saudara seperguruan mu?", Panji Tejo Laksono menatap ke arah Pendeta Wang Chun Yang yang masih memeluk mayat Chu Xiao Ren dengan berlinang air mata.


Pendeta Wang Chun Yang menyeka air matanya sebelum berbicara, " Kau benar Saudara Thee, ini adalah Chu Xiao Ren adik seperguruan ku".


"Aku meminta maaf kepada mu, Pendeta Wang. Kalau tahu dia adalah adik seperguruan mu, maka aku tidak akan mengadu ilmu dengan nya", Panji Tejo Laksono membungkukkan badan nya pada Pendeta Wang Chun Yang.


"Ini semua adalah takdir, Pendekar Thee. Aku tidak menyalahkan mu untuk kematian saudara seperguruan ku.


Dia bunuh diri karena malu menjadi pencuri dan menghancurkan nama besar guru kami", ujar Pendeta Wang Chun Yang sembari meletakan kepala Chu Xiao Ren alias Si Pencuri Angin ke tanah. Tatapan mata Wang Chun Yang terlihat begitu sedih.


Malam itu juga, Wang Chun Yang di bantu oleh Panji Tejo Laksono menggali makam untuk Chu Xiao Ren alias Si Pencuri Angin di reruntuhan bangunan kuil ini. Setelah Chu Xiao Ren di kuburkan, mereka berempat meninggalkan tempat itu untuk kembali ke Istana Gubernur Yingtian. Panji Tejo Laksono membawa kembali barang curian Chu Xiao Ren dan menyerahkannya kepada Gubernur Qing untuk di kembalikan pada pemiliknya.


Keesokan paginya, Pendeta Wang Chun Yang menemui Panji Tejo Laksono. Dia berpamitan kepada Panji Tejo Laksono karena telah memutuskan untuk memburu Lu Shun Fung si Raja Racun yang menyebabkan Chu Xiao Ren bunuh diri.


"Selamat jalan Pendeta Wang..


Semoga kita dapat berjumpa lagi suatu hari nanti", ujar Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada Pendeta Wang Chun Yang.


"Terimakasih banyak, Saudara Thee..


Jaga diri baik-baik dan aku tetap meminta mu untuk berhati hati pada Huang Lung. Aku permisi", Pendeta Wang Chun Yang membungkukkan badannya pada Panji Tejo Laksono sebelum meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Pagi itu juga, rombongan Panji Tejo Laksono meninggalkan Kota Yingtian menuju ke arah Utara. Tujuan mereka hanya satu,


Kota Kaifeng.


__ADS_2