
Senopati Sukmageni silangkan kedua tangan di depan dada. Di tangan kanannya, sebuah keris pusaka berlekuk 7 dengan pamor biru gelap tergenggam erat. Mulut nya komat kamit membaca sebuah mantra sebelum melesat cepat kearah Senopati Agung Narapraja yang masih duduk di atas kudanya. Begitu sampai di depan Senopati Agung Narapraja, Senopati Sukmageni segera mengayunkan kerisnya ke leher sang pimpinan pasukan Panjalu.
Shhrreeettthhh...
Sang pimpinan utama pasukan Panjalu ini langsung meraih Keris Pamegat Nyawa di pinggangnya begitu melihat Senopati Sukmageni melesat cepat kearah nya. Dengan cepat ia menangkis sabetan keris pusaka di tangan lawan dengan Keris Pamegat Nyawa milik nya.
Thhraaaangggggggg!!
Percikan bunga api kecil tercipta dari beradunya dua senjata pusaka itu. Senopati Agung Narapraja segera melompat turun ke samping kiri kuda tunggangan nya dan melompat ke arah Senopati Sukmageni yang baru saja menapak tanah.
Satu sambaran cepat kearah bahu kiri Senopati Sukmageni. Pemimpin pasukan Jenggala wilayah utara ini langsung menekuk tubuh dan bergerak berguling dua kali di tanah. Sambaran Keris Pamegat Nyawa milik Senopati Agung Narapraja hanya menyambar angin kosong.
Setelah itu, Senopati Sukmageni kembali berguling ke tanah dan menyabetkan keris nya ke arah kaki Senopati Agung Narapraja. Panglima tertinggi prajurit Panjalu itu langsung mengangkat kaki nya satu persatu menghindari sabetan senjata lawan.
Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh!!
Melihat serangan nya mentah, Senopati Sukmageni segera merubah gerakan tubuhnya. Dengan bertumpu pada kedua tangan, dia memutar tubuhnya sambil melayangkan tendangan keras kearah perut sang pimpinan prajurit Panjalu.
Senopati Agung Narapraja segera mundur selangkah sambil menyambut serangan cepat Senopati Sukmageni dengan mengangkat kaki kanan nya. Akibatnya, kedua betis pimpinan pasukan yang sedang bertempur itu beradu.
Prrakkkkk!!
Senopati Agung Narapraja langsung mengayunkan Keris Pamegat Nyawa ke arah kaki lawan nya. Melihat itu, segera Senopati Sukmageni tarik kakinya sembari berguling mundur beberapa kali.
Setelah berhenti berguling di tanah, dia segera berbalik badan dan kembali melesat cepat kearah Senopati Agung Narapraja sambil menyabetkan keris berpamor biru tua itu ke arah lawan.
Adu kepandaian ilmu beladiri menggunakan keris berlangsung alot dan sengit. Keduanya sama sama memiliki kelincahan gerak dan tenaga dalam yang tinggi. Meski Senopati Agung Narapraja lebih tua, namun dalam olah nafas dan kesehatan, dia tidak kalah dengan Senopati Sukmageni yang berusia sekitar 3 dasawarsa.
Perang terus berkobar dengan sengitnya. Para pasukan gajah yang mencoba merangsek ke tengah barisan pertahanan prajurit Panjalu mulai kehabisan ruang gerak. Beberapa kaki dan badan gajah yang menjadi senjata utama pasukan inti Jenggala ini mulai terluka dan mengeluarkan darah.
Ini yang mulai di pahami oleh para pimpinan pasukan Panjalu terutama Tumenggung Purubaya. Dengan cepat ia memerintahkan agar para prajurit Panjalu melukai badan para gajah yang tidak tertutup oleh zirah perang mereka.
Akhirnya seekor gajah tumbang setelah menderita banyak luka akibat tusukan tombak dan senjata pasukan Panjalu. Ini semakin meningkatkan kepercayaan diri para prajurit Panjalu yang sempat turun bahwa mereka bisa mengalahkan para prajurit gajah itu.
Senopati Sukmageni mulai ngos-ngosan mengatur nafasnya. Bagaimana tidak dia kelelahan, sudah ratusan jurus berlalu, namun dia belum juga bisa menjatuhkan Senopati Agung Narapraja. Keris pusaka berlekuk 7 dengan pamor biru tua itu hanya mampu merobek baju sekaligus menggores kulitnya lengan Senopati Agung Narapraja. Sedangkan dia sendiri menderita 2 luka sayatan di dada dan di punggungnya.
Pengalaman memang menjadi keunggulan Senopati Agung Narapraja dalam menghadapi lawan yang lebih muda dari dirinya. Puluhan perang dan ratusan pertarungan mengadu nyawa yang pernah dia alami sewaktu masih muda, membuat pria paruh baya bertubuh gempal ini menjelma menjadi seorang pimpinan prajurit yang bisa diandalkan.
Melihat senyum lebar terukir di wajah Senopati Agung Narapraja, Senopati Sukmageni merasa dihina. Pimpinan prajurit Jenggala itu segera meletakkan jari telunjuk dan tengah nya ke dahi sambil komat-kamit merapal mantra. Sinar kuning kemerahan tercipta di ujung jari, saat jari mengepal erat, seluruh tangan kiri Senopati Sukmageni berubah menjadi kuning kemerahan. Ini adalah perwujudan Ajian Api Sejati, ilmu yang di dapat Senopati Sukmageni sewaktu berguru pada Mpu Sunanda, seorang pendekar besar yang berjuluk Penyair Kesepian dari Hutan Tarik.
Tanpa bicara panjang lebar, Senopati Sukmageni segera menarik tangan kiri nya ke arah samping tubuh nya dan menghantam ke arah Senopati Agung Narapraja.
"Mampus kau tua bangka!
Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt!!!"
Sinar kuning kemerahan segera meluncur cepat kearah Senopati Agung Narapraja dari tapak tangan kiri Senopati Sukmageni. Melihat itu, Senopati Agung Narapraja segera mundur selangkah ke belakang dan menyalurkan tenaga dalam nya pada Keris Pamegat Nyawa di tangan kanannya. Seketika keris pusaka itu di selubungi cahaya biru. Dengan cekatan, Senopati Agung Narapraja segera mengayunkan kerisnya, membabat kearah sinar kuning kemerahan yang mengancamnya.
Thhraaaangggggggg..
Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr !!
Keris pusaka Kyai Pamegat Nyawa membelah sinar kuning kemerahan dari Senopati Sukmageni hingga mencelat menjadi dua bagian di belakang samping kiri dan kanan Senopati Agung Narapraja. Dua ledakan beruntun terdengar saat kedua sinar itu.
__ADS_1
Senopati Sukmageni langsung geram melihat serangan nya dengan mudah dimentahkan oleh lawan. Segera dia menyarungkan kembali keris di tangan kanannya ke pinggang. Kini kedua tangan sang pimpinan utama pasukan Jenggala itu segera menempel pada kedua sisi dahi dan dua sinar kuning kemerahan kembali tercipta dari ujung jari tangan nya.
Secepat mungkin, Senopati Sukmageni segera menggenggam jemari tangannya dan dia segera menghantamkan kedua tangan nya beruntun ke arah Senopati Agung Narapraja.
Whhhuuuggghhhh whhuuunnnggggghh!!
Empat cahaya kuning kemerahan menerabas cepat kearah Senopati Agung Narapraja. Sang pimpinan prajurit Panjalu mundur selangkah ke belakang, lalu dengan cepat menebas tiga sinar kuning kemerahan dengan Keris Pamegat Nyawa. Sedangkan satu arah cahaya kuning kemerahan itu hanya dia biarkan menghantam seorang prajurit Jenggala yang sedang bertarung di belakangnya.
Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr..
Blllaaammmmmmmm!!
Ledakan keras susul menyusul terdengar dari hantaman Ajian Api Sejati yang di lepaskan oleh Senopati Sukmageni. Sang prajurit Jenggala yang sedang sial harus tewas dengan punggung hangus setelah terkena serangan nyasar.
Setelah berhasil mementahkan serangan lawan, Senopati Agung Narapraja melesat ke arah Senopati Sukmageni dengan tangan kiri di liputi cahaya biru terang layaknya petir menyambar dari ilmu kedigdayaan yang selama ini menjadi andalan nya, Ajian Geledek Sewu.
Tangan kanan Senopati Agung Narapraja langsung mengayunkan Keris Pamegat Nyawa ke arah leher Senopati Sukmageni. Perwira tinggi prajurit Jenggala itu berkelit menghindari namun tangan kiri Senopati Agung Narapraja yang sudah di lapisi Ajian Geledek Sewu segera menghantam ke arah dada lawannya.
Tak ada ruang untuk menghindar, Senopati Sukmageni hanya bisa bertahan dengan memapak hantaman tangan kanannya yang berwarna kuning kemerahan.
Blllaaammmmmmmm..!!
Dua pimpinan pasukan itu sama sama tersurut mundur beberapa tombak jauhnya setelah beradu ilmu kesaktian. Namun Senopati Agung Narapraja kelihatan nya lebih unggul. Dia masih sanggup untuk berdiri tegak sedangkan Senopati Sukmageni berlutut dengan satu dengkul di tanah menyangga tubuhnya.
Hoooeeeeggggh!
Perwira tinggi prajurit Jenggala itu muntah darah segar. Sepertinya dia menderita luka dalam akibat benturan tadi.
'Brengsek! Tua bangka ini rupanya tidak bisa di anggap enteng. Aku akan menggunakan cara terakhir'
Bau harum aneh segera menyebar ke depan wajah Senopati Agung Narapraja saat bubuk berwarna putih itu terlempar ke arah nya. Seketika dia sedikit limbung karena menghisap bau harum aneh itu dan ini dimanfaatkan oleh Senopati Sukmageni untuk menyarangkan pukulan keras ke dada sang pimpinan prajurit Panjalu.
Senopati Agung Narapraja berupaya keras untuk bertahan dari serangan lawan dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Blllaaaaaarrr...
Huuuuooogggghhh!!!
Senopati Agung Narapraja terpelanting jauh ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras sembari memuntahkan darah segar setelah menahan hantaman Ajian Api Sejati milik Senopati Sukmageni. Sedangkan sang pimpinan prajurit Jenggala langsung menyeringai lebar sambil bangkit dari tempat nya.
"Hehehehe..
Kau terlalu ceroboh, Tua Bangka!! Kau sudah menghisap Racun Abu Kematian ku. Dalam waktu sehari semalam, kau akan kehilangan tenaga dalam mu dan organ dalam mu membusuk. Kau akan mati mengenaskan.
Tapi aku akan berbaik hati memberikan kematian yang cepat agar kau tidak menderita lebih lama", setelah berkata demikian, Senopati Sukmageni langsung melesat ke arah Senopati Agung Narapraja yang masih terduduk di atas tanah sambil memegangi dadanya yang sesak luar biasa. Tangan kanan Senopati Sukmageni dengan cepat mencabut keris pusaka di pinggang nya dan hendak di hujamkan pada sang perwira tinggi prajurit Panjalu.
Saat yang kritis itu, Tumenggung Landung sang pimpinan Pasukan Lowo Bengi yang baru menghabisi nyawa lawannya, melesat cepat, memapak tusukan keris Senopati Sukmageni dengan sabetan pedang nya.
Shhrreeettthhh...
Thrrriiinnnggggg !!!
Satu kaki kanan menjejak tanah, Tumenggung Landung segera membuat gerakan berputar cepat dan melayangkan tendangan keras kearah perut Senopati Sukmageni.
__ADS_1
Dhhiiieeeeesssshhh..
Aaauuuuggggghhhhh !!
Senopati Sukmageni langsung terpelanting jauh ke belakang sembari meraung keras. Melihat pimpinan mereka di jatuhkan, Tumenggung Sajiwan dari Hujung Galuh langsung membuat pagar betis untuk melindungi pimpinan tertinggi prajurit Jenggala itu. Rupanya tendangan keras kaki kiri Tumenggung Landung menambah luka dalam yang di dapat oleh Senopati Sukmageni dari pertarungan sengit sebelumnya. Mulut perwira tinggi prajurit Jenggala itu terus mengeluarkan darah.
Sadar bahwa nyawa pimpinan mereka dalam bahaya, Tumenggung Sajiwan langsung berteriak lantang.
"Semuanya, MUNDUR!!!!"
Satu pukulan keras bende perang menjadi isyarat kepada para prajurit Jenggala untuk melaksanakan perintah Tumenggung Sajiwan yang merupakan pimpinan kedua di jajaran para prajurit Jenggala. Mereka perlahan mulai menarik diri sambil mengacungkan senjata ke arah para prajurit Panjalu.
Tumenggung Purubaya dari Muria langsung mendekati Tumenggung Landung yang masih terus bersiaga penuh dengan kemunduran para prajurit Jenggala.
"Kakang Tumenggung Landung, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?", tanya Tumenggung Purubaya dari Muria segera.
Tumenggung Landung tak segera menjawab namun dia segera menoleh ke arah Senopati Agung Narapraja yang masih duduk di atas tanah sambil memegangi dadanya. Darah segar masih terus mengalir keluar dari sudut bibir perwira sepuh Panjalu itu.
Melihat keadaan pimpinan mereka pun sedang tidak baik-baik saja, Tumenggung Landung segera menoleh ke arah Tumenggung Purubaya.
"Kita juga harus mundur, Purubaya..
Memaksakan diri untuk tetap bertempur akan membuat para prajurit kehilangan semangat karena Gusti Senopati Agung Narapraja sedang terluka dalam parah. Cepat kau atur pasukan untuk mundur dari medan perang", perintah Tumenggung Landung segera. Mendengar jawaban itu, Tumenggung Purubaya segera menoleh ke arah prajurit peniup terompet tanduk kerbau.
Thhhuuuuuuuuuuuuutttthhh!
Dengan isyarat dari terompet tanduk kerbau, para prajurit Panjalu pun ikut menarik diri dari medan laga. Tumenggung Landung segera menaikkan tubuh Senopati Agung Narapraja yang lemas ke atas kudanya dibantu para prajurit Panjalu. Dia segera memacu kuda nya menuju ke arah benteng pertahanan Panjalu di Wanua Sungging agar sang pimpinan prajurit Panjalu segera mendapatkan pertolongan.
Hingga menjelang malam hari, keadaan tubuh Senopati Agung Narapraja tidak juga membaik. Sudah berulang kali dia muntah darah segar. Para tabib prajurit pun kewalahan berupaya keras untuk mengobati sang pimpinan prajurit Panjalu.
Ini membuat Tumenggung Landung dan beberapa punggawa prajurit Panjalu seperti Tumenggung Purubaya dan Tumenggung Lamuri dari Muria, Tumenggung Banar dari Anjuk Ladang dan Demung Krida dari Lasem yang merupakan pimpinan kedua setelah kematian Senopati Sindanglawe, resah.
Mereka semua berkumpul di balai utama benteng pertahanan Panjalu untuk membahas apa yang harus mereka lakukan.
Hemmmmmmm..
"Sepertinya kita harus segera mengabarkan berita ini kepada Gusti Prabu Jayengrana. Aku akan memerintahkan kepada seorang anggota Pasukan Lowo Bengi yang bisa ku andalkan untuk segera ke Daha.
Bagaimana menurut kalian?", Tumenggung Landung segera mengedarkan pandangannya pada para petinggi perwira yang hadir di tempat itu.
"Aku sependapat dengan mu, Gusti Tumenggung Landung.
Keadaan Gusti Senopati Agung Narapraja mengkhawatirkan. Jika sampai Pasukan Jenggala menyerbu, dan kita masih belum ada pemimpin, takutnya kita akan kalah", ujar Tumenggung Lamuri dari Muria.
"Aku juga setuju dengan pendapat mu, Kakang Tumenggung Landung.
Tapi untuk sementara, sambil menunggu kedatangan Nawala ataupun utusan dari Daha yang bisa menjadi pimpinan pasukan Panjalu, aku berharap Kakang Tumenggung Landung bersedia menjadi pimpinan sementara pasukan Panjalu. Diantara kita semua, hanya kakang yang memiliki ilmu kanuragan paling tinggi. Di tambah lagi, Kakang Tumenggung punya pengalaman yang sama dengan Gusti Senopati Agung Narapraja.
Apa kalian setuju dengan pendapat ku?", ujar Tumenggung Purubaya segera.
Semuanya mengangguk setuju dengan pendapat perwira prajurit dari Muria ini. Tak ada yang menolak pendapat perwira tinggi prajurit Panjalu dari Muria ini. Mereka semua sadar diri dengan kemampuan mereka masing-masing.
Tumenggung Landung menghela nafas berat begitu dipilih untuk menjadi pimpinan sementara pasukan Panjalu. Dia tahu kalau beban yang kini di sandang nya sangat berat. Menghadapi situasi sulit seperti ini, dia langsung teringat pada Panji Tejo Laksono.
__ADS_1
'Sedang apa Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono sekarang?'