
Melihat kedatangan pasukan Blambangan yang bergerak dalam jumlah besar, pasukan pemanah yang di siagakan di beberapa tempat terlindung mulai memasang anak panah pada busur panah mereka.
Pasukan pejalan kaki yang bersenjatakan tombak dan tameng bersiaga di tepi sungai Lawor sambil menatap ribuan orang prajurit Blambangan yang bergerak cepat bagai gelombang samudera menghempas pantai. Semua orang yang bersiaga di situ terlihat tegang, namun mereka tidak bergerak sedikitpun meski para prajurit Blambangan terlihat mulai memasuki Sungai Lawor yang berair hanya sedengkul kuda.
Saat pasukan Blambangan mulai memasuki jarak tembak anak panah mereka, Tumenggung Landung yang bertugas untuk memimpin pasukan pemanah langsung memberi aba-aba untuk menyerang. Ribuan pemanah yang bersembunyi di balik pohon besar dan bebatuan yang ada di tebing sungai Lawor langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan menarik tali busur panah nya.
"Tembaaakkkkkk...!!!"
Shriingg! Shriingg!!
Shrrriinnnggg! Shrrriinnnggg!!
Ribuan anak panah melesat cepat kearah para prajurit Blambangan yang mulai memasuki Sungai Lawor berduyun-duyun. Senopati Rakadayun yang berada di sayap kanan melihat kedatangan ribuan anak panah itu langsung menyambar tameng yang diikatkan pada samping pelana kuda nya. Dengan cepat dia melindungi diri nya dari serangan anak panah itu sambil berteriak lantang.
"Awas panah!!!"
Prajurit prajurit yang terdepan beberapa orang sempat mendengar teriakan Senopati Rakadayun, namun yang tidak mendengar menjadi korban anak panah yang datang dari arah barat.
Crreepppphhh! Crreepppphhh!
Augghhhhh!! Aaarrrghh!!!
Jerit jerit kesakitan memilukan hati terdengar dari mulut para prajurit Blambangan yang terjungkal ke Sungai Lawor. Sempitnya medan tempur membuat mereka tidak punya kesempatan menghindar dari hujaman anak panah. Dalam sekali serangan panah, ribuan prajurit Blambangan gugur.
Tumenggung Landung kembali memerintahkan kepada para prajurit pemanah untuk menembakkan anak panah ke arah para prajurit Blambangan yang terus maju.
Meski korban tewas terus berjatuhan di pihak prajurit Blambangan namun para prajurit yang di belakangnya terus merangsek ke arah tebing Sungai Lawor yang ada di barat.
Senopati Agung Narapraja langsung mengangkat tangan kanannya dan seorang penabuh bende langsung memukul bende dengan keras.
Dhiiieeeennngggggg!!!
Mendapat isyarat itu, Senopati Gardana langsung bergegas menggebrak kudanya diikuti oleh seluruh pasukan Kadipaten Seloageng. Pun juga Senopati Kandasambu dari Singhapura juga memimpin pasukan nya bergerak cepat dari sisi lain nya.
Senopati Jarasanda juga memimpin pasukan Panjalu di tengah melesat maju ke arah pasukan musuh yang mulai mendekati tepi sungai Lawor. Pertempuran sengit antara mereka segera terjadi.
Senopati Gardana segera memacu kuda nya ke arah Senopati Rakadayun yang berkuda cepat kearah tepi Sungai Lawor. Perwira tinggi prajurit Kadipaten Seloageng yang bertubuh gempal dengan kumis tipis ini seketika mencabut pedang nya dan melompat ke arah Senopati Rakadayun.
Shreeeeettttthhh!!
Sabetan pedang Senopati Gardana segera membuat Senopati Rakadayun dari Blambangan merunduk menghindari sabetan pedang yang mengincar lehernya. Lelaki berusia setengah abad ini dengan cepat melompat turun dari kudanya yang terkena sabetan pedang Senopati Gardana.
Melihat kuda kesayangannya terbunuh, Senopati Rakadayun segera melompat ke arah Senopati Gardana yang bersenjatakan pedang. Tombak di tangan kanannya dengan cepat mengincar leher perwira tinggi Kadipaten Seloageng ini.
Whhuuutt!
Senopati Gardana langsung berguling ke tanah untuk memperpendek jarak antara mereka sembari menghindari tusukan tombak.
Secepat kilat dia membabatkan pedang nya ke arah kaki Senopati Rakadayun.
Whuuuggghh!
Menggunakan gagang tombak nya sebagai tumpuan, Senopati Rakadayun langsung melenting tinggi ke udara sambil menusukkan tombaknya ke arah punggung Senopati Gardana.
Shhretttt!!
Senopati Gardana segera berguling ke samping kanan menghindari tusukan tombak. Lalu dengan cepat ia melompat tinggi ke udara dan membabatkan pedang nya ke arah Senopati Rakadayun yang baru saja mendarat.
.
Perwira tinggi prajurit dari Blambangan itu sedikit terkejut melihat kedatangan Senopati Gardana. Pria paruh baya itu segera menghadang laju pergerakan serangan itu dengan tameng di tangan kirinya.
Thhraaaanggggggg!!
Sembari berlindung di tameng besi nya, Senopati Rakadayun langsung menusukkan tombaknya ke arah Senopati Gardana dengan cepat.
Whuuuggghh!
Dengan gerakan cepat, Senopati Gardana merubah gerakan tubuhnya menghindari tusukan tombak Senopati Rakadayun sambil menghantamkan tangan kiri nya yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi ke arah perut yang terbuka pertahanan nya.
Whuuussshh!!
Selarik sinar biru menerabas cepat kearah tubuh bagian bawah perwira tinggi prajurit Blambangan yang bertubuh kekar itu. Senopati Rakadayun segera menurunkan tameng besi nya untuk melindungi perutnya dari serangan Senopati Gardana karena tidak sempat lagi untuk berkelit menghindar.
__ADS_1
Blllaaammmmmmmm!!!
Kerasnya hantaman Ajian Panglebur Nyawa membuat Senopati Rakadayun terdorong mundur hingga 4 langkah ke belakang. Dia selamat dari maut namun Senopati Gardana yang melihat kesempatan itu, tidak membuang peluang. Dengan gerakan cepat, dia melesat cepat kearah Senopati Rakadayun yang harus menggunakan tombak nya untuk menjaga agar tubuhnya tidak jatuh.
Dengan cepat ia membabatkan pedang nya ke arah leher Senopati Rakadayun segera.
Shreeeeettttthhh!
Senopati Rakadayun angkat tameng besi nya sebagai perlindungan dari serangan lawan namun Senopati Gardana segera melayangkan tendangan keras beruntun kearah perut si pemimpin pasukan Blambangan.
Bhhhuuukkkkkhhh!
Bhhhuuuuuuggggh!
Auuuggghhhhh!!
Jerit kesakitan terdengar dari mulut Senopati Rakadayun. Pria paruh baya bertubuh kekar itu terhuyung huyung mundur. Tombak nya terlepas dari genggaman tangan. Darah segar meleleh keluar dari sudut bibir nya.
Melihat itu, tatapan mata bengis terlihat dari roman muka Senopati Rakadayun. Dengan dia mengusap kasar darah segar yang keluar dari mulutnya kemudian meludah ke tanah. Perlahan dia melemparkan tameng besi nya ke tanah lalu kedua telapak tangan nya bersatu di depan dada setelah sedikit merendahkan diri.
Rupanya dia ingin mengeluarkan Ajian Tapak Iblis yang merupakan ilmu kedigdayaan tinggi andalannya.
Melihat lawan mempersiapkan ilmu kanuragan andalan nya, Senopati Gardana segera menyarungkan kembali pedang nya lalu dengan cepat mempersiapkan diri untuk menghadapi Senopati Rakadayun. Kembali dia merapal Ajian Panglebur Nyawa andalan nya. Selarik sinar biru menutupi seluruh tubuh nya.
"Mati kau bangsat!"
Seraya berteriak keras, Senopati Rakadayun menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah kearah Senopati Gardana. Perwira tinggi prajurit Kadipaten Seloageng itu menyambut kedatangan sinar merah itu dengan hantaman tangan kanan nya yang berwarna biru.
Blllaaammmmmmmm!!!!
Ledakan dahsyat terdengar saat dua ajian andalan tingkat tinggi itu berbenturan. Senopati Gardana terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Dia muntah darah segar namun tidak jatuh ke tanah. Dia melihat Senopati Rakadayun terhuyung huyung mundur langsung menyambar tombak Senopati Rakadayun segera lalu melemparkan tombak itu sekuat tenaga.
Whuuuggghh!
Jllleeeeeppppphhh!
Aaaarrrgggggghhhhh!
Mata Senopati Rakadayun melotot lebar saat melihat tombak senjatanya menembus ulu hati hingga ke punggung nya. Dia tidak menyangka bahwa senjata andalannya lah yang akan menjadi pencabut nyawa nya. Perwira tinggi prajurit Blambangan itu langsung roboh dengan tombak menancap di perutnya. Sekejap kemudian dia tewas mengenaskan.
Pertempuran di Sungai Lawor terus berlangsung sengit.
Keunggulan pada penguasaan medan tempur dan taktik yang jitu membuat para prajurit Blambangan mulai terdesak. Mayat mayat bergelimpangan di Sungai Lawor yang kini menjadi merah oleh darah para prajurit yang tewas.
Senopati Jarasanda yang mengamuk di tengah terus mengayunkan Keris Kyai Klotok nya ke arah leher seorang prajurit Blambangan yang menghadang nya.
Crreepppphhh!
Kuatnya tenaga dalam yang di miliki Senopati Jarasanda membuat leher sang prajurit putus di tebas tajamnya bilah Keris Kyai Klotok. Baju Senopati Jarasanda pun sebagian sudah penuh dengan darah segar dari lawan-lawannya.
Demung Jajagu yang melihat para prajurit Blambangan di bantai oleh Senopati Jarasanda langsung menggebrak kuda nya menuju ke arah Senopati Jarasanda. Begitu mencapai jarak yang di inginkan, Demung Jajagu langsung membabatkan pedang nya ke arah leher Senopati Jarasanda yang baru saja membantai seorang prajurit Blambangan.
Whuuuggghh!
Bilah pedang yang tipis membelah udara, menciptakan angin dingin yang mengancam nyawa Senopati Jarasanda. Merasakan sesuatu yang berbahaya, Senopati Jarasanda segera merunduk menghindar. Secepat kilat dia menusukkan keris pusaka andalannya ke arah perut kuda tunggangan Demung Jajagu.
Crreepppphhh!
Hieeeekkkkkkkhhhh!
Kuda hitam tunggangan Demung Jajagu meringkik keras sebelum roboh hingga membuat perwira prajurit Blambangan itu terjatuh ke tanah. Dengan cepat Demung Jajagu bangkit dari tempat jatuhnya sembari menatap kuda tunggangan nya yang meregang nyawa.
"Dasar keparat!
Kau sudah membunuh kuda kesayangan ku. Kau harus mati", teriak Demung Jajagu sembari melompat ke arah Senopati Jarasanda. Satu ayunan pedang mengincar nyawa sang adik ipar Mapatih Warigalit itu.
Dengan sigap, Senopati Jarasanda langsung menangkis sabetan pedang Demung Jajagu dengan Keris Kyai Klotok nya.
Thrangg! Thrrraaannnnggggg!
Denting pedang beradu terdengar nyaring dari pertarungan mereka. Bunga api kecil tercipta dari benturan dua senjata mereka yang terus terjadi berulang kali.
10 jurus telah terlewati dengan cepat.
__ADS_1
Demung Jajagu berkelit ke samping kanan untuk menghindari tusukan Keris Kyai Klotok lalu dengan cepat memutar tubuhnya sambil melayangkan tendangan keras kearah punggung Senopati Jarasanda.
Dassshhh!
Oouugghhhh!!
Terdengar suara lengguh keras saat tendangan keras Demung Jajagu menghajar punggung Senopati Jarasanda. Lelaki bertubuh gempal itu terhuyung ke depan, nyaris terjungkal andai tidak cepat menguasai diri.
Dengan cepat ia berbalik badan dan menatap tajam ke arah Demung Jajagu yang menyeringai lebar melihat itu. Darah segar merembes keluar dari sudut bibirnya. Senopati berkumis tebal itu segera mengusap darah yang ada di sudut bibirnya.
"Kau boleh juga, wong Blambangan..
Tapi aku Senopati Jarasanda dari Kadiri masih belum kalah dari mu", ucap Senopati Jarasanda yang segera mengangkat Keris Kyai Klotok ke depan wajahnya lalu dua jari telunjuk dan tengah tangan kiri di tempelkan pada bilah keris pusaka itu. Selarik pamor hijau muncul di Keris Kyai Klotok.
Dengan cepat Senopati Jarasanda langsung mengayunkan Keris Kyai Klotok ke arah Demung Jajagu.
Shhiiiuuuuuuttttt!
Selarik sinar hijau melesat cepat kearah Demung Jajagu dengan cepat. Melihat bahaya yang mengancam, Demung Jajagu langsung menghindari sinar hijau dari Keris Kyai Klotok.
Blllaaaaaarrr!!!
Seorang prajurit yang ada di belakang Demung Jajagu menjadi korban serangan nyasar itu. Dia roboh dengan tubuh menghitam.
Senopati Jarasanda terus memburu Demung Jajagu dengan serangan serangan dari Keris Kyai Klotok. Perwira tinggi prajurit Blambangan itu harus berjumpalitan kesana kemari menghindari serangan Senopati Jarasanda yang bertubi-tubi.
Yang tak dinyana, Tumenggung Landung yang kebetulan sedang berada di dekat tempat itu langsung melesat cepat kearah Demung Jajagu yang baru menghindari sinar hijau Keris Kyai Klotok.
Bersenjatakan pedang nya, dia memanfaatkan kesempatan saat Demung Jajagu yang lengah. Satu tebasan pedang nya memotong leher Demung Jajagu.
Chrraaasssshhh!!
Tubuh Demung Jajagu roboh bersimbah darah dengan kepala terpisah. Melihat itu, Senopati Jarasanda langsung mengacungkan jempol nya pada Tumenggung Landung yang disambut dengan senyum tipis oleh sang perwira. Dua orang pejabat Istana Katang-katang itu segera meloncat ke arah pertempuran yang semakin sengit.
Sementara itu di ujung vajra kiri, terlihat pertarungan sengit antara pasukan Panjalu dari Kadipaten Singhapura yang di pimpin Senopati Kandasambu melawan orang orang Jenggala di bawah pimpinan Tumenggung Sudamantra dan Tumenggung Tambakwungkal.
Dua tumenggung Jenggala ini bahu membahu dalam bertahan dan menyerang. Mereka seperti satu pikiran dengan dua tubuh. Seorang perwira tinggi dari Kadipaten Singhapura sudah menjadi korban keganasan mereka.
Senopati Kandasambu yang murka melihat kematian bawahannya yang juga masih terhitung kerabat dekat nya, langsung melesat cepat kearah Tumenggung Sudamantra dan Tumenggung Tambakwungkal sembari menghantamkan kedua telapak tangan nya.
Whhhhuuuuggghhh!!
Dua larik sinar kuning kehitaman menerabas cepat kearah Tumenggung Sudamantra dan Tumenggung Tambakwungkal. Sinar kuning kehitaman yang berhawa panas ini bergulung gulung di sertai angin kencang yang berputar cepat layaknya badai menerjang.
Sadar bahwa dirinya dalam bahaya besar, Tumenggung Sudamantra dan Tumenggung Tambakwungkal langsung melompat ke arah yang berlawanan untuk menghindar.
Blllaaammmmmmmm!!
Lobang besar tercipta dari ledakan dahsyat saat dua sinar kuning kehitaman menghantam tanah tempat dua tumenggung Jenggala itu berdiri.
Usai membuat mereka berpencar, Senopati Kandasambu melesat cepat kearah Tumenggung Sudamantra yang bergerak ke arah kiri.
Ilmu meringankan tubuh Senopati Kandasambu memang di atas rata-rata para perwira tinggi prajurit musuh hingga dengan mudah dia menyusul ke arah Tumenggung Sudamantra.
Satu sambaran cepat tapak kuning kehitaman kearah dada Tumenggung Sudamantra, memaksa tumenggung Jenggala itu harus berguling menghindari serangan maut perwira tinggi prajurit Kadipaten Singhapura. Tapi Senopati Kandasambu sepertinya tidak ingin melepaskan perwira tinggi prajurit Jenggala itu begitu saja. Dia terus memburu Tumenggung Sudamantra dengan serangan serangan cepat yang mematikan. Jangankan untuk membalas, untuk menghadapi gempuran bertubi-tubi dari Senopati Kandasambu, perwira tinggi prajurit Jenggala itu sama sekali tidak memiliki kesempatan.
Melihat isyarat mata Tumenggung Sudamantra yang kewalahan dengan serangan beruntun dari Senopati Kandasambu, Tumenggung Tambakwungkal segera mempersiapkan kuda-kuda ilmu kanuragan andalan nya.
Dengan cepat ia merapal mantra Ajian Cadas Geni yang dia kuasai sepenuhnya. Kedua lengan tangan hingga telapak tangan yang menangkup di depan dada di liputi oleh sinar merah kekuningan.
Begitu ilmu kanuragan telah sempurna, Tumenggung Tambakwungkal langsung melesat cepat kearah Senopati Kandasambu yang masih memburu Tumenggung Sudamantra. Dia dengan cepat menghantamkan tangan kanannya yang berwarna merah kekuningan ke arah punggung sang perwira tinggi prajurit Kadipaten Singhapura
Shhiiiuuuuuuttttt!
Senopati Kandasambu lengah. Dia sama sekali tidak menduga bahwa Tumenggung Tambakwungkal akan membokongnya dari belakang. Dia hanya bisa pasrah karena sudah tidak memiliki ruang untuk menghindar.
Saat yang genting itu sesosok bayangan kuning keemasan melesat cepat menghadang sinar merah kekuningan dari Ajian Cadas Geni yang di lepaskan oleh Tumenggung Tambakwungkal.
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!
Asap putih tebal mengepul memenuhi sekeliling tempat itu. Tumenggung Sudamantra memanfaatkan kesempatan itu untuk menjauh dari Senopati Kandasambu dan segera berdiri di samping Tumenggung Tambakwungkal. Sedangkan Senopati Kandasambu yang selamat dari maut langsung melompat menjauh 2 tombak ke belakang dari tempat ledakan dahsyat itu terdengar.
Saat asap tebal menghilang sesosok lelaki bertubuh kekar dengan sinar kuning keemasan melingkupi seluruh tubuh nya berdiri tegak di tempat ledakan itu yang berarti bahwa dialah yang terkena Ajian Cadas Geni. Mata Tumenggung Tambakwungkal melotot lebar saat melihat sang bayangan kuning keemasan itu tengah tersenyum tipis sambil menatap tajam ke arah nya sembari berkata,
__ADS_1
"Aku tidak suka main belakang".