
Ki Kesawasidi terpental mundur beberapa tombak ke belakang setelah ledakan dahsyat itu terjadi. Lelaki bertangan buntung kiri itu langsung muntah darah segar.
Huuuuooogggghhh!!
Dada lelaki tua yang berjuluk Pendekar Tongkat Ular itu seperti di timpa batu besar karena sesak luar biasa. Sembari memegangi dadanya, lelaki tua itu segera bangkit dan melihat ular raksasa yang tercipta dari tongkatnya telah menghilang. Yang lebih membuatnya kesal adalah melihat ujung atas tongkat bergambar kepala ular itu yang kini tergeletak di atas tanah telah terpotong menjadi dua bagian.
"Perempuan busuk!
Aku akan mengadu nyawa dengan mu!!", umpat Ki Kesawasidi yang segera meletakkan tangan kanannya ke depan dada seperti orang bertapa. Dia ingin mengerahkan seluruh tenaga dalam nya untuk serangan terakhir pada Luh Jingga.
Muncul sebuah cahaya hijau kehitaman yang berbau busuk menyengat di tangan kanan Ki Kesawasidi. Adik seperguruan Mpu Sawer ini rupanya mengerahkan seluruh tenaga dalam nya untuk mengeluarkan Ajian Pukulan Dewa Ular tahap akhir yang dinamakan Dewa Ular Memangsa Langit. Sinar hijau kehitaman itu semakin lama semakin membesar dan terus membesar hingga tercipta sebesar kelapa.
Luh Jingga yang juga terseret mundur hampir 3 tombak jauhnya, segera bersiap untuk bertarung. Meski ada darah segar yang meleleh keluar dari sudut bibir nya, putri Resi Damarmoyo dari Bukit Penampihan itu tidak menderita luka dalam separah Ki Kesawasidi.
Sambil memejamkan matanya sebentar, Luh Jingga segera merapal mantra ilmu kanuragan yang merupakan salah satu bagian dari Kitab 5 Tapak Dewa. Dia ingin menggunakan bagian ketiga dari kitab pusaka yang bernama Ajian Tapak Dewa Indra. Selama ini, Luh Jingga terus mendalami ilmu itu hingga dia telah berhasil menguasai hingga tahap keempat dari ilmu kedigdayaan ini.
Cahaya putih kebiruan yang tercipta di telapak tangan kiri Luh Jingga menyambar kesana kemari layaknya sebuah petir saat cuaca sedang badai. Angin ribut dengan hawa dingin berdesir kencang mengikuti di sekeliling tangan kiri Luh Jingga. Layaknya Dewa Indra sang penguasa petir dan cuaca, di tangan kiri Luh Jingga kini seperti sedang tercipta sebuah badai.
Usai ajian pamungkas nya terapal dengan sempurna, Ki Kesawasidi langsung melesat cepat kearah Luh Jingga sembari menghantamkan tangan kanannya ke arah putri Resi Damarmoyo dari Bukit Penampihan itu secepat kilat.
"Mampus kau perempuan busuk..!!!
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat..!!!"
Angin kencang berseliweran cepat mengiringi hantaman tangan kanan Ki Kesawasidi yang sudah di liputi oleh sinar hijau kehitaman. Luh Jingga segera menyambut kedatangan serangan itu dengan tapak tangan kiri nya yang sudah berwarna putih kebiruan.
Blllaaammmmmmmm!!
Ledakan dahsyat terdengar kembali. Keduanya terpental jauh ke belakang. Namun Luh Jingga masih sempat melemparkan pedang di tangan kanannya ke arah Ki Kesawasidi yang sedang terseret mundur akibat gelombang kejut yang menyebar.
Shhhrriinggg.. Jllleeeeeppppphhh !!
Aaaarrrgggggghhhhh!!
Kuatnya lemparan pedang Luh Jingga langsung menembus perut hingga pinggang kakek tua bertangan buntung itu. Tubuhnya menancap pada pohon besar yang ada di belakangnya. Ki Kesawasidi tewas dengan keadaan masih berdiri tegak dan menempel di pohon besar.
Sementara itu, Luh Jingga yang juga terpengaruh dengan kuatnya gelombang kejut yang menyebar, berusaha keras untuk tidak terseret mundur terlalu jauh. Meski dia akhirnya harus berguling di tanah, namun setidaknya dia masih bisa selamat. Luh Jingga muntah darah segar. Selir kedua Panji Tejo Laksono ini segera duduk bersila untuk menata jalan nafas nya yang sesak.
Puluhan orang anak murid Padepokan Ular Siluman yang menjadi penonton pertarungan itu pun tak berani macam-macam karena mereka sadar dengan kemampuan bertarung mereka sendiri. Ki Kesawasidi yang memiliki kesaktian tinggi saja tidak mampu membunuh perempuan cantik itu, apalagi mereka yang cuma petarung rendahan. Pasti hanya akan mengantar nyawa jika berani menyerang. Begitulah kira-kira pikiran para murid Padepokan Ular Siluman.
Tak jauh dari tempat pertarungan Luh Jingga dan Ki Kesawasidi, Gayatri yang memegang dua buah pisau belati keperakan sedang bertarung melawan Mpu Sawer sang pimpinan Padepokan Ular Siluman.
Mpu Sawer yang menggunakan ilmu silat ular putih nya dengan gesit menghindari setiap sambaran pisau belati di tangan Gayatri. Setelah menghindar, Mpu Sawer dengan cepat melancarkan serangan balik cepat dengan tangan yang membuat gerakan seperti ular mematuk mangsa.
__ADS_1
Whuuthhh whuuthhh!!
Gayatri bergerak cepat mundur. Mpu Sawer mengejarnya layaknya seekor ular mengejar mangsa. Tubuh tua nya meliuk-liuk lincah seperti gerakan seekor ular. Dengan cepat Gayatri memutar gerakan tubuhnya dan mengayunkan belati di tangan kanannya ke arah kiri Mpu Sawer.
Shhrreeettthhh !!
Mpu Sawer yang terlambat menghindar langsung tertebas oleh pisau belati keperakan di tangan kiri Luh Jingga. Namun anehnya, pisau belati keperakan itu tidak bisa melukai kulit Mpu Sawer yang tiba-tiba menjadi licin. Sembari menyeringai lebar, Mpu Sawer langsung menghantam bahu kanan Gayatri dengan tangan kanan.
Dhhaaaassshhh..
Aaauuuuggggghhhhh !!!
Gayatri langsung terpental mundur beberapa langkah ke belakang. Bahu kanannya seperti baru saja di hantam balok kayu besar. Darah segar meleleh keluar dari sudut bibirnya. Sementara itu, Mpu Sawer berdiri tegak sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Bangsat tua!!
Kenapa kau tidak terluka sedikitpun meski jelas-jelas aku sudah menebas lengan kiri mu?", tanya Gayatri yang mengulur waktu untuk meredakan rasa sakit di bahu kanannya.
"Hehehehe..
Bocah kemarin sore seperti mu mana tahu dengan Ajian Welut Putih? Aku sudah malang melintang di dunia persilatan saat kau masih ******* di susu ibu mu. Meski terlihat kau bisa menyerang ku, kulit ku ini akan menjadi licin seperti kulit belut yang tidak akan mungkin bisa kau lukai.
Sekarang kau tahu bahwa kau tidak akan punya kesempatan untuk mengalahkan ku, perempuan sial! Maka terimalah ajal mu dengan lapang dada ", ujar Mpu Sawer sang pimpinan Padepokan Ular Siluman dengan penuh percaya diri.
Jangan jumawa dulu. Pertarungan kita masih belum selesai", maki Gayatri yang segera memindahkan pisau belati di tangan kiri ke kanan. Tangan kirinya merogoh balik bajunya dan 4 pisau belati kecil tergenggam di tangan kirinya.
"Masih mau main pisau lagi? Hahahaha, itu hanya permainan anak kecil..
Sekarang matilah kau bocah keparat! Temani putra ku di alam keabadian!!", usai berkata demikian, Mpu Sawer segera melesat cepat kearah Gayatri.
Tanpa menunggu lama lagi, Gayatri segera melemparkan 4 pisau belati kecil di tangan kirinya. Pisau pisau kecil itu langsung melesat cepat kearah Mpu Sawer. Tiba-tiba saja, 4 pisau belati kecil itu menjadi 8 lalu 12 kemudian 16 dam terus bertambah banyak hingga tak terhitung jumlahnya. Ini adalah jurus pisau belati terbang yang membuat senjata itu memiliki bayangan yang sama persis dengan aslinya meski itu hanya gerakan cepat berpindah tempat yang di kendalikan oleh jari jemari Gayatri.
"Badai Pisau Terbang...
Majulaaahhhhh....!!!!!"
Teriakan keras dari Gayatri ini di barengi dengan lemparan empat pisau belati kecil lagi hingga pisau yang menyerang terlihat seperti ratusan jumlahnya.
Mpu Sawer terkejut bukan main melihat itu semua. Pimpinan Padepokan Ular Siluman itu sama sekali tidak pernah menduga bahwa perempuan yang menjadi lawannya itu masih menyimpan jurus rahasia nya. Meski Ajian Welut Putih yang dia gunakan bisa melindungi tubuh nya dari senjata tajam apapun, namun ada beberapa bagian tubuh yang tidak tertutup kulit menjadi kelemahan ajian yang satu ini seperti lobang hidung, mata, rongga mulut dan lobang telinga. Dia harus melindungi bagian tubuh itu kalau mau selamat.
Secepat mungkin, Mpu Sawer menjatuhkan diri nya untuk menghindari serangan ratusan pisau belati kecil yang di lepaskan oleh Gayatri. Dia berhasil menghindar dari serbuan pisau belati kecil ini namun ini belum berakhir karena tiba-tiba saja pisau belati kecil milik Gayatri ini seperti memiliki nyawa yang segera berbalik arah dan kembali menyerang ke arah Mpu Sawer.
Gayatri tersenyum tipis sembari mulai merapal mantra Ajian Gelap Sayuto ajaran Maharesi Bajrabali setelah menyimpan kedua pisau belati keperakan di pinggangnya. Cahaya biru kemerahan perlahan mulai muncul di bahu kanan Gayatri yang segera menjalar ke tangan kanan perempuan cantik itu.
__ADS_1
"Bangsat jahanam keparat!!", umpat Mpu Sawer sambil menghantamkan tangan kanan nya yang sudah di lambari Ajian Pukulan Dewa Ular. Sinar hijau kehitaman langsung menerjang ke arah pisau belati kecil yang terus memburu Mpu Sawer.
Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !!
Ledakan keras terdengar saat Ajian Pukulan Dewa Ular menghantam pisau belati kecil milik Gayatri. Dua pisau belati mencelat ke dua arah yang berbeda. Dua orang anak murid Padepokan Ular Siluman yang sedang menonton pertarungan sengit antara Gayatri dan Mpu Sawer tak menyangka bahwa mereka akan menjadi korban dari pertarungan itu.
Chhreepppppph chhreepppppph !!
Dua murid Padepokan Ular Siluman langsung tersungkur setelah pisau belati kecil milik Gayatri yang melenceng usai terkena hantaman Mpu Sawer menancap di tubuh mereka.
Gayatri segera menggerakkan jari jemari tangan kiri nya untuk terus mengendalikan sisa pisau terbang nya yang sangat merepotkan pergerakan Mpu Sawer. Pimpinan Padepokan Ular Siluman itu harus berjumpalitan kesana kemari untuk menghindari pisau belati terbang yang di kendalikan oleh Gayatri.
Begitu Ajian Gelap Sayuto selesai di rapal, Gayatri langsung melesat cepat kearah Mpu Sawer setelah mengarahkan pergerakan pimpinan Padepokan Ular Siluman itu seperti keinginan nya. Mpu Sawer yang baru saja menghindari serangan pisau belati terbang terkejut bukan main melihat kedatangan Gayatri yang sudah bersiap dengan ilmu pamungkas nya.
Tak punya pilihan lain, Mpu Sawer segera menghantamkan tangan kanannya sebisa mungkin dengan tenaga dalam seadanya ke arah Gayatri yang sudah bersiap dengan tenaga dalam penuhnya.
Blllaaammmmmmmm!!
Ledakan keras terdengar saat cahaya biru kemerahan Ajian Gelap Sayuto beradu dengan cahaya hijau kehitaman Ajian Pukulan Dewa Ular. Gayatri terdorong mundur beberapa tombak. Meski dia lebih unggul dalam persiapan untuk adu ilmu kanuragan, nyatanya ledakan dahsyat itu masih juga mampu membuatnya luka dalam meski tidak terlalu parah. Selir pertama Panji Tejo Laksono ini muntah darah segar.
Sedangkan Mpu Sawer terpelanting mundur beberapa tombak ke belakang. Meski dia hanya menderita luka dalam yang tidak terlalu parah, namun pisau belati terbang Gayatri yang bergerak dari belakang tubuhnya menembus batang leher dan dadanya. Pimpinan Padepokan Ular Siluman itu tewas di tangan Gayatri.
Dyah Kirana yang baru saja selesai mengakhiri perlawanan Nyimas Kantil segera melesat mendekati Gayatri yang terduduk di tanah setelah muntah darah segar.
"Kau tidak apa-apa, Kangmbok Gayatri?", tanya Dyah Kirana segera.
"Uhukkk uhukkk..
Aku masih bisa bertarung, Kirana. Kau sendiri bagaimana uhukkk??", Gayatri batuk kecil beberapa kali namun darahnya sudah tidak keluar lagi.
"Aku juga baik-baik saja Kangmbok.. Sebaiknya kita bersama dengan Kangmbok Luh Jingga agar lebih mudah untuk saling berjaga jaga jika ada yang ingin memanfaatkan keadaan kita sekarang", ujar Dyah Kirana segera. Segera Gayatri mengangguk. Dengan di bantu oleh Dyah Kirana, Gayatri segera di papah untuk mendekatkan diri kepada Luh Jingga yang masih duduk bersila di bawah pohon rindang.
Di bagian lain, Panji Tejo Laksono yang berhadapan dengan Ki Samparjagad terus mengadu ilmu silat tangan kosong untuk menjajaki seberapa tinggi tenaga dalam lawan.
Kedua orang yang memiliki ilmu silat tinggi ini benar-benar luar biasa. Meski puluhan jurus sudah di lewati, tapi keduanya tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
Panji Tejo Laksono melompat tinggi ke udara usai menghindari sapuan kaki Ki Samparjagad. Sang pangeran muda dari Kadiri ini dengan cepat merubah gerakan tubuhnya lalu meluncur turun ke arah Ki Samparjagad sembari menghantamkan pukulan tangan bertubi-tubi kearah pimpinan ketiga Kelompok Bulan Sabit Darah itu.
Plllaaaakkkkk plllaaaakkkkk..
Dhhaaaassshhh ...!!!
Ki Samparjagad terdorong mundur beberapa langkah ke belakang saat pukulan keras Panji Tejo Laksono menghantam pertahanan nya. Sang pangeran muda dari Kadiri ini sendiri bersalto mundur dua kali dan mendarat dengan sempurna. Panji Tejo Laksono mengibaskan tangan kanannya lalu berkata dengan nada suara penuh ancaman,
__ADS_1
"Saatnya untuk serius!"