
Panji Tejo Laksono yang tidak paham dengan maksud Biksu Hong Ki, hanya menoleh ke arah Demung Gumbreg dan Tumenggung Ludaka. Kedua perwira tinggi prajurit Panjalu itu nampak mengernyitkan keningnya ketika melihat Biksu Hong Ki menunjuk ke arah junjungan mereka.
"Lu, wajah biksu tua ini sepertinya tidak asing..
Kita pernah ketemu dengan nya dimana ya? Kog aku lupa..", bisik Demung Gumbreg sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Aku juga merasa begitu, Mbreg..
Tapi memang kita pernah ketemu dengan nya dimana, itu yang masih aku ingat ingat", jawab Tumenggung Ludaka yang juga lupa lupa ingat dengan wajah tua Biksu Hong Ki. Memang itu kejadian lama sekali jadi wajar saja jika Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg lupa dengan wajah Biksu Hong Ki, Biksu Hong Jian dan Biksu Hong Yi. Tumenggung Rajegwesi, Luh Jingga dan Rakryan Purusoma yang ikut hanya bisa diam saja melihat kebingungan di wajah Demung Gumbreg dan Tumenggung Ludaka.
Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Putri Song Zhao Meng segera mendekati Biksu Hong Ki yang masih terkaget melihat Panji Tejo Laksono.
"Tuan Biksu,
Mohon maaf jika aku tidak sopan. Apa anda tidak salah mengenali orang? Ini adalah teman ku yang datang dari jauh, baru pertama kali menginjakkan kaki di Kuil Shaolin, bagaimana mungkin anda kenal dengan dia?", Putri Song Zhao Meng sedikit penasaran.
"Dia adalah orang itu, iya dia adalah orang itu. Orang yang mampu mengalahkan cakar naga Shaolin. Iya aku yakin itu", ujar Biksu Hong Ki sembari terus menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono.
Biksu Hong Yi yang berdiri di belakang Biksu Hong Ki langsung mendekati sang guru, "Amitabha... Guru kau salah mengenali orang. Orang ini tidak mungkin adalah orang itu. Sudah dua puluh tahun berlalu, jadi dia tidak mungkin akan tetap muda seperti pendekar muda ini".
"Tuan Putri,
Maafkan jika sikap guru ku seperti ini. Dia masih tetap tidak bisa melupakan kekalahan nya dua puluh tahun yang lalu di sebuah negeri yang berada di Laut Selatan. Mohon kebijaksanaan dari Tuan Putri ", imbuh Biksu Hong Yi sembari membungkuk hormat kepada Putri Song Zhao Meng.
"Tuan Biksu,
Bisakah kau ceritakan sedikit tentang kisah itu? Jujur saja aku penasaran dengan cerita ini dan aku juga ingin tahu apa hubungannya dengan Pendekar Thee ", Putri Kaisar Huizong ini terlihat sangat penasaran. Wajah cantik nya bahkan terlihat sampai berkerut karena mengernyit heran.
"Amitabha... Semua kisah adalah jalan cerita kehidupan..
Tuan Putri, dua puluh tahun yang lalu, aku menyertai Guru Hong Ki dan kakak Hong Jian berkelana mencari pengalaman dan menimba ilmu Budha dari sebuah negara yang terletak di Laut Selatan. Saat itu, kami yang pongah dengan kemampuan beladiri yang kami miliki menantang beberapa orang pendekar di negeri itu.
Satu persatu kami kalahkan hingga suatu hari kami bertemu dengan seorang pendekar yang tinggal di kaki sebuah gunung. Kami bertarung dengan nya dan berhasil mengalahkannya, namun saat terakhir dia kalah dia mengatakan bahwa pendekar hebat di Tanah Jawadwipa bukanlah dia, tapi seorang pendekar yang bernama Watugunung yang tinggal di Daha.
Karena nafsu duniawi kami, kami bertiga segera mencari pendekar yang di sebutkan itu untuk kami kalahkan", Biksu Hong Yi terlihat menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.
"Sesampainya di Daha, kami bertarung dengan beberapa orang pendekar yang tidak suka dengan sikap kami yang mencari perkara dengan menantang Watugunung.
Watugunung pun muncul di saat terakhir dan menghadapi tantangan kami. Kami kalah dan saat itu kami baru tahu kalau Watugunung itu adalah seorang Raja Besar di Tanah Jawadwipa.
Setelah kekalahan dari Watugunung itu, guru memutuskan untuk kembali ke Kuil Shaolin untuk berlatih dan mendalami ajaran Buddha. Dia tidak mau lagi bertualang di dunia persilatan dengan alasan apapun", sahut Biksu Hong Jian yang berdiri di samping Biksu Hong Yi.
"Lantas, apa hubungan nya antara cerita kalian dengan kawan ku ini, Biksu? Aku masih belum bisa mengerti ", tanya Putri Song Zhao Meng segera.
"Wajah pendekar muda ini sangat mirip dengan Watugunung, Tuan Putri..
Kami saja hampir tidak bisa membedakan, kecuali tinggi badan dan warna kulit nya. Jadi wajar saja bila mata tua guru kami sampai mengira bahwa dia adalah Watugunung", jawab Biksu Hong Yi sembari menghormat pada Putri Meng Er.
Mendengar jawaban itu, Putri Song Zhao Meng segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda dari Kadiri itu segera mendekat ke arah tiga biksu Kuil Shaolin ini sembari menghormat.
"Rupanya tuan Biksu adalah orang yang pernah bertanding melawan ayah ku.
Aku adalah putra Panji Watugunung, nama ku Panji Tejo Laksono", ujar Panji Tejo Laksono seraya tersenyum tipis dan menghormat pada Biksu Hong Ki, Biksu Hong Jian dan Biksu Hong Yi.
Kaget ketiga orang biksu Kuil Shaolin itu mendengar ucapan Panji Tejo Laksono, pun putri Song Zhao Meng.
"Jadi jadi kau putra Raja Jawadwipa itu, pendekar muda?", tanya Biksu Hong Ki berusaha menegaskan bahwa dirinya tidak salah dengar.
__ADS_1
"Aku putra sulung Panji Watugunung atau juga dikenal sebagai Prabu Jayengrana dari Kadiri, Biksu..
Aku datang kemari atas perintahnya sebagai duta besar Panjalu untuk persahabatan dengan Kaisar Negeri Song", jawab Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada Biksu Hong Ki.
"Pantas saja kalau begitu mirip dengan nya, Pangeran muda.
Karena kalian telah datang di Kuil Shaolin, mari aku antar masuk ke dalam. Tapi maafkan jika penyambutan kami biasa saja karena sedang berduka. Mari ikuti langkah kami", ujar Biksu Hong Ki sembari berjalan lebih dulu. Diikuti oleh Biksu Hong Yi dan Biksu Hong Jian, Biksu Hong Ki membawa rombongan Putri Song Zhao Meng memasuki Kuil Shaolin.
"Gusti Pangeran,
Apa kata biksu botak itu? Aku lupa lupa ingat dengan wajah nya", tanya Demung Gumbreg sambil berusaha mendekati Panji Tejo Laksono yang berjalan di belakang Huang Lung dan kedua pengikutnya yang sudah berjalan lebih dulu memasuki gerbang Kuil Shaolin.
"Dia adalah orang yang pernah datang ke Istana Katang-katang dan menantang adu ilmu beladiri dengan ayahanda, Paman Gumbreg", jawab Panji Tejo Laksono sembari terus melangkah. Mendengar jawaban itu, Gumbreg langsung menepuk jidatnya.
"Oh ternyata dia si biksu botak yang itu. Eh Lu kenapa kau tadi tidak mengingatkan aku?", Gumbreg segera menoleh ke arah Tumenggung Ludaka.
"Aku juga tidak ingat", balas Tumenggung Ludaka singkat. Pria bertubuh kekar itu terus melangkah mengikuti Panji Tejo Laksono.
"Kalau dia balas dendam pada kita bagaimana? Apa kau tidak memikirkan sejauh itu Lu?", Demung Gumbreg terus bicara.
"Sudah jangan banyak mikir. Kalau dia balas dendam ya kita hadapi. Ayo kita ikuti Gusti Pangeran kalau tidak mau di tinggal di tempat ini", ujar Tumenggung Ludaka sembari terus melangkah masuk ke dalam Kuil Shaolin. Demung Gumbreg dengan menggerutu akhirnya juga mengikuti langkah kawan karibnya.
Sebuah pemandangan tersaji di depan mata Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan begitu mereka memasuki kuil. Di kanan kiri jalan yang membelah halaman kuil, ratusan murid Kuil Shaolin sedang berlatih meski suasana berkabung atas kematian kepala biara sebelumnya masih terasa. Semuanya terlihat tangkas dan gesit dalam berlatih. Ini sangat sesuai dengan cerita yang beredar luas di kalangan masyarakat tentang mereka.
Setelah melewati arena latihan, mereka memasuki aula utama Kuil Shaolin. Sebuah patung Buddha setinggi hampir 2 tombak dengan tubuh berwarna emas terlihat di ujung aula. Di kanan kiri nya terlihat patung Dewi Kwan Im dan beberapa patung Bodhisatva. Sedangkan di kanan kiri ruangan terdapat puluhan patung Arahat Budha dengan berbagai posisi tubuh.
Di bawah patung Buddha terdapat beberapa nama yang terukir dengan tinta emas pada papan kayu yang berwarna merah. Nampaknya itu adalah papan nama para Kepala Kuil Shaolin yang sudah meninggal dunia.
Ada satu papan nama yang sepertinya baru di buat. Di depannya sebuah bokor kuningan sebagai tempat menaruh dupa. Juga beberapa sesaji berupa buah jeruk dan beberapa makanan terlihat ada di depan papan nama baru ini.
Seorang lelaki paruh baya dengan tubuh sedikit gendut dengan pakaian khas seorang pendeta Tao nampak sedang sembahyang di depan papan nama baru yang tertulis nama Biksu Kong Hu. Nama itu adalah nama Kepala Kuil Shaolin yang baru saja meninggal dunia. Sang lelaki berpakaian pendeta Tao ini membungkuk hormat kepada papan nama tiga kali sebelum menancapkan sebuah dupa besar pada bokor kuningan. Ada seorang biksu Budha yang kurang lebih seusia dengan nya, menemani sembahyang sang lelaki berpakaian pendeta Tao ini.
Dia adalah Chan San Fung, ketua Gunung Wu Tang. Dia ke Kuil Shaolin untuk sembahyang pada Biksu Kong Hu, seorang kawan lamanya sewaktu muda. Kabar meninggalnya sang kawan karib benar benar membuat nya bersedih hingga dia sampai turun gunung setelah puluhan tahun hanya berdiam diri di Gunung Wu Tang.
Sedangkan biksu yang menemaninya dalam sembahyang adalah Biksu Kong Bao, murid utama Biksu Kong Hu sekaligus ketua Kuil Shaolin selanjutnya.
Setelah sembahyang, mereka segera berbalik badan dan melihat kedatangan Putri Song Zhao Meng dan kawan-kawan nya memasuki aula utama Kuil Shaolin.
"Kepala Biara,
Sepertinya ada tamu yang datang. Sebaiknya kita sambut mereka. Mari", ajak Chan San Fung pada Biksu Kong Bao. Ketua Kuil Shaolin itu mengangguk hormat kepada Chan San Fung dan segera berjalan beriringan mendekati rombongan Putri Song Zhao Meng yang di pandu oleh Biksu Hong Ki dan kedua muridnya.
"Amitabha...
Biksu Hong Ki datang dengan membawa banyak tamu. Siapa mereka?", tanya Biksu Kong Bao begitu mereka berhadapan.
"Amitabha..
Kepala Biara, ini adalah Putri Kaisar Huizong, Putri Song Zhao Meng yang terkenal itu. Beliau ingin sembahyang pada Budha di Kuil Shaolin sebelum pulang ke Kaifeng", Biksu Hong Ki menerangkan tentang tamu mereka.
"Amitabha, sungguh suatu kehormatan besar bagi Kuil Shaolin menerima kedatangan seorang putri Kaisar.
Hamba Kong Bao, ketua Kuil Shaolin yang baru. Mohon maaf tidak menyambut kedatangan Tuan Putri", Biksu Kong Bao menghormat pada Putri Song Zhao Meng segera.
"Kepala Biara,
Mohon tidak perlu bersikap seperti ini kepada ku. Aku hanya mampir kemari untuk sembahyang pada Budha, juga mewakili Kekaisaran Song menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya kepala biara sebelumnya", ujar Putri Song Zhao Meng dengan sopan.
__ADS_1
"Seperti berita yang beredar, Tuan Putri Meng Er memang cerdas dan bijaksana.
Kuil Shaolin menerima ucapan belasungkawa yang di berikan oleh Kekaisaran Song kepada kami. Semoga Yang Mulia Kaisar Song selalu panjang umur dan bijaksana dalam memimpin rakyat", Biksu Kong Bao membungkuk hormat kepada Putri Song Zhao Meng.
Saat Putri Song Zhao Meng dan Ketua Kuil Shaolin Biksu Kong Bao berbincang, pandangan mata Chan San Fung terarah pada 6 orang berpakaian tak lazim digunakan pada masyarakat Dataran Tengah pada umumnya. Pandangannya terhenti pada sosok Panji Tejo Laksono yang berdiri di belakang Putri Song Zhao Meng.
'Berdasarkan ciri ciri yang di sebut oleh Gubernur Zhao Yun, pemuda ini adalah orang yang di maksud.
Hemmmmmmm, kalau sampai aku turun tangan menghadapi nya, aku bisa dianggap sebagai golongan tua yang menindas golongan muda. Sebaiknya aku menyuruh murid pertama mu, Jiang Zhi untuk memberi nya sedikit pelajaran', batin Chan San Fung.
"Kepala Biara,
Apa kau tidak memperkenalkan aku pada Tuan Putri Meng Er?", ucap Chan San Fung memotong pembicaraan antara Putri Song Zhao Meng dan Biksu Kong Bao.
"Ah maafkan aku, Ketua Chan. Pesona kecerdasan Tuan Putri Meng Er benar benar membutakan mata ku..
Tuan Putri, ini adalah Tetua Chan San Fung dari Sekte Gunung Wu Tang. Dia adalah pendekar besar dunia persilatan yang sangat terkenal", Biksu Kong Bao memperkenalkan Chan San Fung pada Putri Song Zhao Meng.
"Sungguh sebuah kehormatan bisa berjumpa langsung dengan Tetua Sekte Gunung Wu Tang. Kehebatan ilmu beladiri Ketua Chan San Fung sudah Meng Er dengar sejak lama.
Buddha sangat baik padaku hingga memberi ku kesempatan untuk bertemu langsung dengan Ketua Chan", Putri Song Zhao Meng segera memberikan hormat kepada Chan San Fung.
"Tuan Putri bijaksana, sesuai dengan nama besarnya. Aku Chan San Fung hanya orang gunung biasa.
Tuan Putri, aku dengar para pengawal mu ini adalah orang orang yang memiliki kemampuan beladiri tinggi. Murid murid ku sudah lama tidak berlatih. Kalau di ijinkan, aku ingin menguji kemampuan beladiri murid ku dengan para pengawal mu. Apa Tuan Putri bersedia melakukannya?", Chan San Fung menatap ke arah Putri Song Zhao Meng.
Ada raut muka tidak senang mendengar ucapan Chan San Fung, tapi Putri Song Zhao Meng berusaha untuk menutupi nya.
"Tetua Chan,
Para pengawal ku hanya pendekar biasa, tidak seperti para murid Gunung Wu Tang yang terkenal. Mohon tidak terlalu keras pada mereka", ujar Putri Song Zhao Meng sambil tersenyum tipis.
"Kalau begitu, aku berterimakasih kepada Putri Meng Er atas kesediaannya. Aku ingin melihat kemajuan latihan murid pertama ku, Jiang Zhi. Untuk lawannya aku ingin pemuda berbaju biru itu", Chan San Fung menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono.
Kaget semua orang mendengar ucapan Chan San Fung. Putri Song Zhao Meng segera angkat bicara soal itu.
"Ketua Chan,
Orang itu bukan pengawal ku. Dia adalah..."
"Tuan Putri,
Tolong jangan terlalu khawatir. Ini adalah latihan, bukan untuk saling membunuh", potong Chan San Fung segera.
"Tapi..."
Belum sempat Putri Song Zhao Meng menyelesaikan omongannya, Panji Tejo Laksono sudah maju mendekati sang putri Kaisar Huizong ini.
"Tuan Putri jangan khawatir, ini hanya latihan saja..
Sebaiknya Tuan Putri mengijinkan aku untuk menjadi lawan latih tanding para murid Gunung Wu Tang ini", ucap Panji Tejo Laksono segera. Dengan berat hati, Putri Song Zhao Meng mengangguk.
Selanjutnya semua orang keluar dari aula utama Kuil Shaolin untuk bersiap menyaksikan latih tanding antara Jiang Zhi dan Panji Tejo Laksono di halaman.
Kini di tengah halaman, Jiang Zhi murid pertama Chan San Fung sudah berdiri tegak sembari menghunus pedangnya.
"Saudaraku, aku hanya bisa ilmu berpedang. Mohon kau siapkan senjata mu", ujar Jiang Zhi sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono. Mendengar perkataan itu, Panji Tejo Laksono menoleh ke arah Luh Jingga. Putri Resi Damarmoyo itu langsung paham dan melemparkan pedang miliknya ke arah Panji Tejo Laksono. Setelah Panji Tejo Laksono menghunus pedangnya, Jiang Zhi langsung melesat cepat kearah sang pangeran muda dari Kadiri sembari membabatkan pedang nya.
__ADS_1
Shhrreeeeeeeeetttttttthhhhh...!!!