
Puspa Abang dan Puspa Putih langsung menatap ke arah yang ditunjukkan oleh Dewi Ambarwati. Benar saja, seorang pemuda tampan yang sedang menenteng beberapa barang bawaan bersama seorang gadis yang berpakaian layaknya seorang lelaki. Mereka nampak bercanda ria sambil tersenyum lebar.
"Ba-bagaimana mungkin?? Kenapa ada seorang lelaki yang begitu mirip dengan Prabu Jayengrana di tempat ini?", ujar Puspa Abang setengah bergumam sendiri.
"Aku juga tidak menyangka kalau ada hal seperti ini, Abang..
Tapi sebaiknya kita lebih dulu membawa Gusti Putri Ambarwati kembali ke istana Pakuwon", bisik Puspa Putih sembari memberi isyarat kepada Puspa Abang untuk melihat keadaan Dewi Ambarwati.
Puspa Abang menoleh ke arah Dewi Ambarwati dan melihat perempuan cantik itu terus menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang bercanda dengan Gayatri.
"Gusti Dewi..
Sebaiknya kita segera kembali ke Istana Pakuwon. Tidak patut seorang bangsawan wanita memandang ke arah seorang lelaki yang bukan kerabatnya.
Saya mohon. Ini demi menjaga kehormatan Istana Pakuwon Sukowati", ucap Puspa Abang yang membuat Dewi Ambarwati tersadar dari kekaguman nya pada sosok Panji Tejo Laksono. Perempuan cantik itu segera berbalik ke arah istana dengan wajah memerah seperti kepiting rebus. Dia malu sekali.
Puspa Abang dan Puspa Putih langsung bergegas masuk mengikuti langkah sang majikan.
Begitu sampai di dalam istana, Dewi Ambarwati berdiri mematung sejenak. Puspa Abang dan Puspa Putih pun turut menghentikan langkahnya mengekor di belakang sang dewi.
"Puspa Abang, Puspa Putih..
Cari tahu siapa pemuda itu dan apa tujuan nya di Kota Pakuwon Sukowati? Aku mau kabar secepatnya", perintah Dewi Ambarwati segera.
"Sendiko dawuh Gusti Dewi"
Puspa Abang dan Puspa Putih segera menghormat pada Dewi Ambarwati sebelum berbalik arah menuju ke arah pasar.
"Pemuda itu hemmmmmmm..
Aku yakin ada sesuatu yang menjadi rahasia nya. Aku harus mengetahui nya. Dia benar-benar membuat ku jatuh hati", gumam Dewi Ambarwati sembari tersenyum penuh arti.
Dari pasar besar, Panji Tejo Laksono dan Gayatri langsung melangkah menuju ke arah kediaman Ki Wiryo. Sebenarnya tujuan Panji Tejo Laksono memberikan beberapa cinderamata, karena ingin melakukan sesuatu untuk Ki Wiryo yang merupakan ayah Siwikarna, salah seorang prajurit yang di tugaskan oleh Tumenggung Ludaka untuk menjaga nya sewaktu di padepokan Begawan Ganapati tempo hari.
Mereka berdua tidak menyadari bahwa mereka dalam pengawasan Puspa Abang dan Puspa Putih yang di tugaskan oleh Dewi Ambarwati.
"Taji,
Kenapa kau bersemangat sekali untuk memberikan barang barang kepada kakek tua itu? Bukankah kita hanya numpang berteduh saja?", Gayatri yang sedikit curiga dengan sikap Panji Tejo Laksono merasa heran.
"Sekedar berbagi saja, Gayatri..
Tolong menolong pada sesama manusia itu wajib hukumnya bukan?", Panji Tejo Laksono tersenyum tipis setelah mengatakan dalih nya.
Tanpa bisa menjawab omongan itu, Gayatri terus mengikuti langkah Panji Tejo Laksono yang membawa beberapa ekor ayam dan beberapa kain. Gayatri sendiri menenteng beberapa bahan makanan.
Mere terus berjalan menuju ke arah rumah Ki Wiryo yang terletak di dekat tapal batas kota Pakuwon Sukowati.
Munculnya Panji Tejo Laksono di kota kecil ini menarik perhatian para gadis. Kasak kusuk terdengar dari mulut mereka.
"Tampan sekali ya..
Aku mau jadi istri nya. Pasti aku akan jadi wanita paling bahagia di seluruh dunia", ujar seorang gadis berbaju merah bertubuh sedikit gemuk sembari tersenyum genit menggoda ke arah Panji Tejo Laksono.
"Kau harus nya bercermin dulu, Ningsih..
Mana pantas kau jadi istri nya? Tubuh mu itu mirip seperti kerbau. Aku yang lebih pantas menjadi istrinya", sahut seorang gadis cantik yang sepertinya adalah anak orang kaya.
"Kalau aku tidak perlu jadi istri nya. Jadi selirnya pun aku tidak menolak jika dia mau dengan ku", sambung seorang gadis yang ikut berkerumun di tepi jalan raya bersama mereka.
"Kalian benar-benar memalukan. Dimana harga diri kalian sebagai perempuan? Contoh aku ini..
Aku bahkan tidak butuh menjadi istri atau pun selir nya. Asalkan dia mau, aku tidak akan menolak jika ingin tidur dengan ku", ucap seorang gadis yang yang memakai baju hijau.
"DASAR MURAHAN!", maki para gadis itu bersamaan.
Semua omongan mereka terdengar oleh Gayatri. Gadis itu langsung mendengus keras sambil terus mengekor di belakang Panji Tejo Laksono.
'Sepertinya aku mulai berdandan layaknya seorang wanita. Jika aku tetap berpakaian seperti ini, mungkin Taji tidak akan melirik ku', batin Gayatri.
"Taji,
Aku ada urusan penting sebentar. Rumah Ki Wiryo sudah dekat. Tolong kau bawakan belanjaan ini", Gayatri langsung memberikan barang bawaan nya kepada Panji Tejo Laksono tanpa menunggu persetujuan. Dia segera bergegas kembali ke arah pasar besar untuk membeli pakaian baru.
__ADS_1
Panji Tejo Laksono hanya geleng-geleng kepala melihat ulah Gayatri.
Sesampainya di rumah Ki Wiryo, Panji Tejo Laksono masuk ke dalam rumah sederhana ini. Melihat kedatangan Panji Tejo Laksono yang membawa aneka barang belanjaan, Ki Wiryo segera membantu menurunkan nya.
"Untuk apa kau belanja kebutuhan sebanyak ini, anak muda? Bukankah kau mau melanjutkan perjalanan mu ke Kurawan?", Ki Wiryo menatap heran kearah Panji Tejo Laksono.
"Ini bukan untukku tapi untuk mu Ki", balas Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis.
"Aku masih tidak mengerti maksud mu, anak muda", ujar Ki Wiryo yang kebingungan dengan sikap sang pemuda tampan itu.
"Aku beritahu Ki. Siwikarna adalah anak buah dari Tumenggung Ludaka di Kotaraja Kadiri. Nah kebetulan aku mengenalnya dan dia pernah berbuat baik kepada ku. Aku belum sempat membalasnya jadi sekarang aku membalasnya dengan sedikit barang untuk mu ini Ki", sahut Panji Tejo Laksono sembari tersenyum lebar.
"Jagat Dewa Batara,
Jadi kau teman putra ku, anak muda? Kenapa kau tidak bilang dari kemarin? Ah kau ini benar-benar keterlaluan mempermainkan orang tua seperti ku", ujar Ki Wiryo sambil menepuk pundak Panji Tejo Laksono.
Tak berapa lama kemudian, seorang lelaki paruh baya datang dengan menuntun dua ekor sapi ke depan rumah Ki Wiryo.
"Kisanak,
Sapi sapi ini mau di bawa kemana?", tanya si lelaki paruh baya itu segera.
Panji Tejo Laksono dan Ki Wiryo segera menoleh ke arah sumber suara.
"Ikat saja di pohon itu Paman. Nanti biar yang punya mengurusi nya", jawab Panji Tejo Laksono seraya menunjuk ke arah pohon belimbing yang tumbuh di samping halaman. Si lelaki paruh baya itu mengangguk mengerti kemudian melaksanakan tugas nya. Setelah selesai dia segera pamit untuk kembali ke arah pasar.
"Siapa yang punya sapi sapi ini, anak muda?", Ki Wiryo segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono.
"Tentu saja milik mu Ki, kan ada di halaman rumah mu. Aku sengaja membelikannya agar kau punya kesibukan sedikit hehehe", Panji Tejo Laksono terkekeh kecil mendengar pertanyaan Ki Wiryo.
Mendengar perkataan itu Ki Wiryo langsung memeluk tubuh Panji Tejo Laksono. Selama ini dia begitu memimpikan memiliki sepasang sapi untuk membajak sawah nya. Sekarang kawan putranya ini memberikan nya. Tentu saja dia sangat senang sekali.
****
Endang Patibrata menangis sesenggukan setelah tahu bahwa Panji Tejo Laksono diam diam meninggalkan rumah Warok Suropati tanpa berpamitan dengan nya.
"Sudahlah Endang...
Taji Lelono punya tujuan tersendiri yang harus dilakukan. Kau tidak boleh berpikir pendek dengan memaksanya untuk tetap tinggal di sini", ujar Singo Manggolo sembari mengelus rambut Endang Patibrata.
"Tak perlu pakai tapi. Kau itu masih belum layak untuk menjadi istri bocah itu", ujar Warok Suropati segera.
"Apa maksud ucapan Bopo berkata seperti itu? Bukankah Endang Patibrata ini adalah gadis tercantik di wilayah Pakuwon Tapa ini?", Singo Manggolo tak terima putrinya di katakan belum layak.
"Hehehehe...
Apa kau tau siapa bocah itu sebenarnya, Manggolo? Sekarang buka telinga mu lebar-lebar...
Dia adalah Pangeran Panji Tejo Laksono, Putra tertua Prabu Jayengrana dan Permaisuri Dewi Anggarawati. Dengan kata lain dia adalah keponakan mu karena Kencanawangi adalah adiknya", Warok Suropati tersenyum lebar.
APPAAAAA???!!!
Endang Patibrata, Singo Manggolo dan Nyi Gandini terkejut bukan main mendengar penuturan Warok Suropati.
"Ta-tapi kenapa dia menyembunyikan jati diri nya, Bopo? Apa dia tidak ingin kita mengenal nya?", tanya Singo Manggolo segera.
"Huhhhhh kau itu bodoh nya awet Manggolo..
Panji Tejo Laksono tidak membuka jati diri nya karena sedang menjalani topo ngrame. Aku kagum dengan sikap nya karena seorang pangeran biasanya yang hidup serba kecukupan harus bersusah payah berkelana hanya demi perintah gurunya.
Oh iya ini titipan untuk mu Endang", Warok Suropati mengulurkan sepucuk surat dari Panji Tejo Laksono pada cucu nya itu.
Endang Patibrata membaca kata kata yang tertulis di dalam surat itu segera. Wajahnya yang semula kuyu karena sedih langsung berbinar seketika.
"Apa isi surat Pangeran Panji Tejo Laksono itu Ngger Cah Ayu?", tanya Singo Manggolo yang penasaran.
"Ini rahasia anak muda, Bopo tidak perlu tahu..
Eyang, mulai sekarang kau harus mengajariku untuk menjadi pendekar pilih tanding di masa depan", jawab Endang Patibrata dengan penuh semangat. Mendengar perkataan itu, Warok Suropati dan Singo Manggolo saling berpandangan lalu mereka mengangguk mengerti, meski tidak tahu pasti apa penyebab Endang Patibrata begitu bersemangat.
****
Gayatri sedang sibuk memilah baju baju perempuan di lapak dagangan pakaian saat serombongan prajurit Pakuwon Sukowati tiba-tiba mengepung nya.
__ADS_1
"Mata-mata busuk, menyerahlah..
Junjungan kami ingin bertemu dengan mu. Jangan melawan jika tidak ingin mati konyol", ujar Puspa Putih sembari mengacungkan pedangnya ke arah Gayatri.
"Mata-mata? Siapa yang mata-mata? Jangan suka menuduh sembarangan Nyi..
Aku bukan mata-mata", teriak Gayatri sambil menatap tajam ke arah mereka.
"Kau ini perempuan tapi menyamar sebagai laki laki. Jika tidak untuk menyembunyikan jati diri mu, lalu untuk apa kau berkeliaran di sekitar tempat ini?
Kami curiga kau anggota kelompok perampok Setan Gunung Wilis yang tempo hari mengacau disini.
Menyerah saja agar kau bisa menjelaskan siapa kau sebenarnya pada majikan kami ", Puspa Putih menatap tajam ke arah Gayatri.
Gadis yang menyamar sebagai laki laki itu menatap ke sekeliling nya. Setidaknya ada 20 orang prajurit bersenjata lengkap yang siap untuk bertarung melawan nya jika nekat bertarung. Di tempat 4 orang yang ada di hadapannya bukan perwira prajurit biasa. Memaksakan diri melawan mereka sama dengan ingin mati konyol sia-sia. Lebih baik mencoba untuk menjelaskan tentang dirinya pada orang yang di sebut majikan oleh mereka. Lagipula dia membawa lencana perak Kadipaten Seloageng. Mereka tidak akan berani macam-macam dengan nya.
"Baiklah,
Aku akan ikut dengan kalian. Tapi aku tidak mau diikat layaknya pesakitan karena aku bukan penjahat. Ini syarat dari ku.
Tapi jika kalian memaksa, aku pun tidak segan segan untuk menghabisi nyawa kalian untuk menemani ku ke Swargaloka", ucap Gayatri sembari menunggu jawaban mereka.
Puspa Abang, Puspa Putih dan dua pimpinan prajurit Pakuwon Sukowati saling berpandangan sejenak sebelum Puspa Putih bicara. Mereka sadar bahwa penangkapan Gayatri hanya dalih untuk mendapatkan keterangan dari perempuan itu.
"Baiklah kalau begitu..
Ayo sekarang ikut kami", perintah Puspa Putih segera. Mereka segera mengawal Gayatri bergerak menuju ke dalam Istana Pakuwon Sukowati.
Penangkapan itu mendapat perhatian besar dari masyarakat Kota Pakuwon Sukowati. Salah seorang tetangga Ki Wiryo yang melihat kejadian itu langsung bergegas menuju ke arah rumah Ki Wiryo. Begitu sampai di rumah Ki Wiryo, lelaki paruh baya itu segera menemui Ki Wiryo yang sedang memberi rumput pada sapi sapi nya.
"Ki Wiryo... Katiwasan Ki...
Seorang tamu mu di tangkap oleh para prajurit Pakuwon Sukowati. Orang itu di bawa ke dalam istana Pakuwon", ujar si lelaki paruh baya itu segera.
HAAHHHHH??!!
Kaget Ki Wiryo dan Panji Tejo Laksono mendengar omongan tetangga nya itu.
"Bagaimana bisa itu terjadi?", tanya Ki Wiryo segera.
"Aku dengar mereka menuduh nya sebagai mata mata perampok Setan Gunung Wilis yang beberapa waktu lalu menyatroni kota ini", jawab si tetangga sebelah rumah Ki Wiryo dengan cepat.
"Celaka!!
Tuduhan mata mata itu sesuatu yang berat. Hukuman nya adalah hukuman mati", pucat wajah Ki Wiryo mendengar ucapan tetangganya itu.
"Iya Ki.. Aku permisi dulu Ki.. Sebaiknya kalian berhati-hati dalam bertindak", ucap tetangga Ki Wiryo sembari berlalu dari hadapan mereka.
"Sebaiknya aku menghadap ke arah Akuwu Sukowati untuk meminta penjelasan, Ki Wiryo..
Sebab jika di biarkan maka masalah ini akan menjadi besar", ujar Panji Tejo Laksono yang segera berdiri dan berjalan menuju ke arah kuda nya. Pangeran muda ini segera melompat ke atas kuda nya dan memacu kudanya menuju ke arah Istana Pakuwon Sukowati.
Sesampainya di depan gerbang istana Pakuwon, Panji Tejo Laksono langsung melompat turun dari kudanya dan mendekati dua orang prajurit penjaga yang sedang bertugas.
"Permisi Prajurit..
Aku kemari ingin menghadap pada Gusti Akuwu Sukowati. Tolong sampaikan kepada nya", kata Panji Tejo Laksono dengan cepat.
Mendengar perkataan itu, dua orang prajurit itu saling pandang sejenak sebelum salah seorang masuk ke dalam istana. Tak berapa lama kemudian dia kembali bersama Puspa Abang yang merupakan orang kepercayaan Dewi Ambarwati.
"Mari ikuti aku Kisanak", ujar Puspa Abang sembari melangkah masuk ke dalam istana. Panji Tejo Laksono mengekor langkah Puspa Abang. Tapi mereka tidak menuju ke arah balai pisowanan melainkan ke arah Keputren Pakuwon Sukowati.
Dewi Ambarwati sedang duduk di kursi kayu kebesarannya saat Panji Tejo Laksono dan Puspa Abang masuk. Mata perempuan cantik itu langsung berbinar seketika melihat kedatangan Panji Tejo Laksono. Namun dengan cepat ia menyembunyikan nya.
"Pendekar muda,
Apa yang membawa mu datang ke istana ku?", tanya Dewi Ambarwati sembari tersenyum manis.
"Mohon ampun Gusti Dewi ..
Hamba ingin menghadap Gusti Akuwu Sukowati untuk menanyakan perihal penangkapan teman hamba. Tapi kenapa hamba justru di bawa kemari?", Panji Tejo Laksono menghormat pada Dewi Ambarwati. Perempuan cantik itu tersenyum tipis sebelum berbicara.
"Akuwu Ranawijaya adalah anak ku, dia masih terlalu muda untuk memerintah jadi aku adalah pembuat kebijakan di Pakuwon Sukowati ini.
__ADS_1
Aku masih menyelidiki kawan mu karena dia di curigai ada kaitannya dengan perampok Setan Gunung Wilis. Aku bisa saja membebaskannya dari tuduhan itu namun ada syarat nya", Janda beranak dua itu tersenyum simpul menatap ke wajah tampan Panji Tejo Laksono. Mendengar perkataan itu, Panji Tejo Laksono langsung bertanya dengan cepat.
"Katakan apa syaratnya?"