
Senopati Agung Narapraja tersentak sejenak mendengar ucapan Panji Tejo Laksono. Sedari tadi Panji Tejo Laksono memang hanya memperhatikan saja tanpa berkata apa-apa dan Senopati Agung Narapraja kurang memperhatikan sang pangeran muda karena dia sedang berpikir keras tentang siasat perang yang akan di gunakan.
"Mohon ampun Gusti Pangeran, aku sampai lupa dengan keberadaan Gusti Pangeran disini.
Gusti Pangeran akan menjadi badan wyuha yang bertugas membantu masing masing ujung gelar perang yang kita lakukan. Tugas ini akan di lakukan oleh pasukan Garuda Panjalu dan Pasukan Lowo Bengi yang akan berada langsung di bawah perintah Gusti Pangeran ", ucap Senopati Agung Narapraja sambil menghormat pada Panji Tejo Laksono.
"Baik, aku terima tugas yang Paman Narapraja berikan.
Aku hanya tidak mau dianggap sebagai beban karena ikut serta dalam peperangan ini. Aku bisa menjaga diri ku sebaik mungkin Paman, jadi Paman Narapraja tenang saja ", balas Panji Tejo Laksono segera.
"Hamba mengerti Gusti Pangeran.
Pusaka di punggung Gusti Pangeran adalah bentuk kepercayaan Gusti Prabu Jayengrana untuk Gusti Pangeran membantu peperangan ini. Tak semua pendekar bisa menggunakan pusaka itu.
Aku menugaskan kepada Gusti Pangeran untuk memimpin Pasukan Garuda Panjalu dan Lowo Bengi bersama Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Rajegwesi karena pasukan ini adalah pasukan yang di bangun oleh ayahanda Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono sendiri", ujar Senopati Agung Narapraja sambil menghormat pada Panji Tejo Laksono.
"Aku mengerti Paman Narapraja. Terimakasih atas kepercayaan yang paman berikan untuk ku", jawab Panji Tejo Laksono seraya tersenyum simpul.
Malam itu, persiapan di tata sedemikian rupa. Penjagaan keamanan juga berlangsung ketat untuk mencegah terjadinya penyusupan yang di lakukan oleh musuh. Usai pertemuan, Panji Tejo Laksono kembali ke tenda yang menjadi tempat tinggal nya. Siwikarna, Jaluwesi dan Luh Jingga menyambut kedatangan mereka.
"Jadi Gusti Pangeran di tugaskan untuk memimpin pasukan khusus Garuda Panjalu?
Wah itu suatu tindakan penghormatan yang luar biasa bisa memimpin pasukan yang di bangun oleh Gusti Prabu Jitendrakara. Mereka itu pasukan yang terlatih khusus untuk segala medan peperangan, Gusti Pangeran. Kepandaian ilmu beladiri mereka yang paling rendah adalah setingkat kepala kelompok prajurit biasa loh", ujar Jaluwesi begitu mendengar berita itu.
"Dulu sewaktu masih di pimpin oleh Gusti Prabu Jayengrana saat masih menjadi Yuwaraja, mereka adalah para prajurit yang paling di takuti oleh para begal, rampok dan para pengacau keamanan yang ada di wilayah perbatasan wilayah Panjalu dan Jenggala.
Hanya saja pamor mereka tak sehebat dulu meski masih menjadi pasukan khusus yang di segani", imbuh Siwikarna yang duduk bersila di hadapan Panji Tejo Laksono.
Hemmmmmmm..
"Kalau begitu aku tidak boleh mengecewakan harapan Kanjeng Romo Prabu. Memimpin pasukan Garuda Panjalu sama dengan meneruskan perjalanan Kanjeng Romo", ucap Panji Tejo Laksono segera.
"Betul itu Gusti Pangeran..
Siwikarna akan menjadi pengawal Gusti Pangeran di medan perang nanti ", ujar Siwikarna sambil menghormat pada Panji Tejo Laksono.
"Jaluwesi akan selalu bersama Gusti Pangeran", imbuh Jaluwesi segera. Prajurit berbadan gempal itu tersenyum senang.
"Luh Jingga juga akan ikut", sahut Luh Jingga yang masuk ke dalam tenda besar sembari membawa makan malam untuk Panji Tejo Laksono.
Melihat kedatangan Luh Jingga, Siwikarna dan Jaluwesi segera menyembah pada Panji Tejo Laksono dan undur diri dari hadapan sang pangeran muda.
"Kenapa kau repot-repot untuk mengantarkan makanan kemari? Bukankah ada prajurit perbekalan yang bertugas menyediakan makanan untuk para perwira?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Gusti Pangeran adalah majikan ku, jadi aku bertanggungjawab untuk melayani semua kebutuhan Gusti Pangeran. Aku juga khawatir ada pengkhianat yang mencoba untuk menaruh racun di dalam makanan Gusti Pangeran, jadi aku sendiri yang masak untuk Gusti Pangeran.
Mohon Gusti Pangeran menilai masakan yang aku buat. Kalau ada yang kurang, mohon di beritahu dimana kurangnya ", jawab Luh Jingga sembari duduk bersimpuh di hadapan Panji Tejo Laksono.
Mendengar perkataan itu, Panji Tejo Laksono tersenyum penuh arti.
Luh Jingga yang melihat itu langsung melontarkan pertanyaan pada sang pangeran muda.
"Kenapa Gusti Pangeran senyum senyum begitu? Ada yang salah dengan omongan ku?"
"Ah tidak, hanya sedikit heran saja..
Dulu kau begitu meremehkan ku dengan kepandaian ilmu beladiri mu. Tapi kenapa sekarang kau jadi perhatian sekali dengan ku? Apa ada sesuatu yang merubah hati mu?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Hal seperti itu tidak perlu ditanyakan.
__ADS_1
Gusti Pangeran kenapa tidak peka sekali sih dengan perasaan wanita?", Luh Jingga merona merah wajah nya.
"Hehehehe.. Bukan tidak peka Luh...
Hanya saja seorang lelaki seperti ku tak bisa menggunakan perasaan dengan bebas. Ada aturan yang berlaku untuk hidup ku, tidak sebebas orang biasa pada umumnya. Bahkan untuk urusan pendamping hidup, seorang pangeran harus mengikuti aturan.
Apa kau masih bisa melayani ku sedangkan kau tahu bahwa aku tidak bisa menentukan pilihan hati ku sendiri?", tanya Panji Tejo Laksono sambil menggeser piring berisi makanan yang di bawa Luh Jingga.
"Tentu saja aku tidak keberatan. Untuk seorang rakyat biasa seperti ku, mendapat perhatian dari seorang pangeran Panjalu adalah kehormatan besar..
Aku tidak keberatan jika harus berbagi hati dengan perempuan lain yang sederajat dengan Gusti Pangeran asal Gusti Pangeran bisa bersikap adil terhadap kami", Luh Jingga tak berani mengangkat kepalanya. Dia berani bicara tentang perasaan nya tapi tidak berani menatap mata Panji Tejo Laksono.
Sang pangeran muda senyum senyum saja sambil terus menyuapkan makanan ke mulutnya.
Karena lama tidak mendapat jawaban, Luh Jingga mendongak ke arah Panji Tejo Laksono yang masih asyik makan sambil tersenyum simpul. Melihat itu, Luh Jingga kesal bukan main.
"Oh begitu rupanya..
Jadi Gusti Pangeran sengaja mengorek keterangan dari mulut ku sendiri untuk mengungkapkan isi hati ku ya? Huh dasar tidak punya perasaan", omel Luh Jingga.
Panji Tejo Laksono menenggak air minum setelah acara makan nya selesai.
"Masakan mu enak juga. Sudah cukup pantas jika menjadi seorang istri", puji Panji Tejo Laksono sembari mengusap sisa air minum di sudut bibirnya.
Mendengar pujian dari Panji Tejo Laksono, Luh Jingga yang semula cemberut karena kesal langsung tersenyum lebar.
'Dari perut naik ke hati. Tak sia-sia aku dulu belajar masak pada biyung ku ', batin Luh Jingga.
****
Sementara itu di perkemahan para prajurit Blambangan, Prabu Menak Luhur nampak sedang mengerutkan keningnya mendengar laporan dari para perwira tinggi bawahannya.
"Rakadayun,
Pria bertubuh gempal dengan kumis tebal melintang di wajahnya itu nampak menghela nafas panjang sebelum berbicara.
"Mohon ampun Gusti Prabu..
Kita tidak mengenal daerah ini dengan baik maka satu satunya cara adalah mendengar omongan Tumenggung Sudamantra dari Jenggala. Meskipun pasukan Panjalu jumlah nya mungkin lebih sedikit dari kita tapi mereka hapal betul dengan lingkungan yang akan menjadi medan peperangan", ujar Senopati Rakadayun segera.
"Kalau begitu apa pendapat mu, Tumenggung Sudamantra?
Aku tidak mau kedatangan ku jauh jauh dari Blambangan akan berakhir di tangan para prajurit Panjalu dengan mudah. Dendam ku pada Jayengrana harus dia bayar", ujar Prabu Menak Luhur sembari menatap tajam ke arah Tumenggung Sudamantra.
"Untuk masalah itu, Gusti Prabu Menak Luhur tidak perlu khawatir. Kita menang jumlah, juga bisa dengan mudah ******* pasukan Panjalu.
Pasukan Jenggala juga punya dendam kepada Prabu Jayengrana. Mereka pernah mengobrak-abrik pertahanan Kotaraja Kahuripan dan membunuh junjungan kami Gusti Prabu Mapanji Garasakan.
Yang perlu kita waspadai dari mereka adalah serangan dadakan yang mungkin mereka lakukan. Tapi melihat sempitnya ruang pertarungan, mereka tidak akan bisa melakukan itu. Jadi kita cukup mengandalkan jumlah prajurit untuk mengalahkan mereka", Tumenggung Sudamantra menggenggam erat jemari tangannya menandakan bahwa dia begitu yakin dengan kekuatan para prajurit Blambangan yang hampir separuh nya berisi orang-orang Kerajaan Jenggala.
"Hahahaha..
Bagus kalau begitu. Aku ingin menggunakan wyuha Garuda Nglayang untuk menaklukkan mereka. Aku sendiri yang akan menjadi kepala garuda sedangkan Senopati Rakadayun akan menjadi sayap kanan, sedangkan pasukan Jenggala akan menjadi sayap kiri.
Bagaimana menurut kalian?", Prabu Menak Luhur menatap ke arah Senopati Rakadayun dan Tumenggung Sudamantra yang menjadi pucuk pimpinan pasukan nya.
"Hamba setuju sekali dengan pendapat Gusti Prabu Menak Luhur. Tumenggung Tambakwungkal akan menjadi pengiring hamba di sayap kiri bersama orang-orang Jenggala Gusti Prabu ", Tumenggung Sudamantra segera menghormat pada Prabu Menak Luhur.
"Tumenggung Girinata akan membantu hamba di sayap kanan Gusti Prabu..
__ADS_1
Demung Jajagu akan mengawal Gusti Prabu di tengah. Itu merupakan suatu perpaduan yang sulit di tembus oleh para prajurit Panjalu", sahut Senopati Rakadayun segera.
"Hahahaha...
Bagus bagus sekali. Jika kita berhasil mengalahkan mereka, kita akan langsung menggempur pertahanan Istana Katang-katang untuk mencabut nyawa Jayengrana.
Bajingan keparat itu harus mati di tangan ku", ujar Prabu Menak Luhur sembari mengepalkan tangannya erat-erat.
Malam itu mereka terus menyusun rencana untuk menghadapi para prajurit Panjalu. Saat malam semakin larut, mereka akhirnya membubarkan diri setelah tercapai titik temu.
Pagi menjelang tiba di wilayah perbatasan wilayah antara Panjalu dan Jenggala. Meski cuaca dingin bercampur kabut yang menyelimuti wilayah yang terletak di kaki Gunung Kawi itu terasa menusuk tulang, namun suasana sibuk sudah terlihat di perkemahan para prajurit Panjalu.
Panji Tejo Laksono sedang berdandan layaknya seorang kesatria yang siap untuk berangkat ke medan perang. Sumping sulur pakis emasnya terlihat berpadu dengan ikat kepala dengan mahkota pangeran nya. Luh Jingga yang membantu sang pangeran muda berdandan, terlihat sedang mengikat gelang pelindung lengan milik sang pangeran.
Usai berdandan rapi, Panji Tejo Laksono segera mengikat tali yang mengikat sarung Pedang Naga Api ke depan dada nya. Selesai berdandan, dia segera keluar dari dalam tenda besar yang menjadi tempat tinggal nya diikuti Luh Jingga yang sudah menyandang pedang pinggang nya. Siwikarna dan Jaluwesi yang sudah bersiap dari tadi, langsung menuntun kuda tunggangan sang pangeran muda ke depan tenda besar begitu Panji Tejo Laksono keluar dari sana. Panji Tejo Laksono segera melompat ke atas punggung kudanya diikuti oleh Jaluwesi, Siwikarna dan Luh Jingga. Mereka berempat segera menjalankan kuda nya ke arah para anggota Pasukan Garuda Panjalu dan Lowo Bengi yang sudah menunggu kedatangan mereka.
Hampir 25 ribu prajurit Panjalu bersiap untuk berangkat berperang. Ratusan umbul umbul dan bendera terlihat memenuhi tanah lapang yang menjadi tempat perkemahan para prajurit Panjalu. Setidaknya ada enam warna yang mencolok perhatian. Bendera biru langit bersulam gambar seekor burung garuda milik pasukan khusus Garuda Panjalu, bendera merah dengan sulaman Candrakapala milik prajurit Panjalu, bendera hijau milik Kadipaten Seloageng, bendera kuning bersulam gambar seekor singa milik Kadipaten Singhapura, bendera hitam bersulam gambar bintang milik Pasukan Lowo Bengi, dan bendera hijau muda dari pasukan bantuan Kadipaten Karang Anom yang baru saja tiba pagi itu.
Senopati Agung Narapraja menoleh ke arah Panji Tejo Laksono yang berkuda mendekati nya. Pria bertubuh gempal itu tersenyum lebar ketika Panji Tejo Laksono menjajarkan kuda nya di samping kiri nya.
Setelah memastikan semua perwira tinggi telah bersiap, Senopati Agung Narapraja menoleh ke arah prajurit peniup terompet. Pimpinan tertinggi prajurit Panjalu itu langsung mengangkat tangan kanannya.
Thhhhhuuuuuuuutttttttth....!!!!
Bunyi nyaring terdengar dari terompet tanduk kerbau yang di tiup.
Dhuunggg!
Dhuuunnggggh!!
Genderang perang di tabuh dengan keras. Puluhan ribu prajurit bergerak menuju ke arah tebing Sungai Lawor. Gelombang pasukan ini terlihat seperti air bah yang siap menyapu apa saja yang di lalui. Dari sisi timur puluhan ribu prajurit yang membawa bendera berwarna hijau tua dengan gambar dua gada emas bersilangan nampak juga bergerak menuju ke arah Sungai Lawor yang terlihat keruh airnya.
Senopati Agung Narapraja langsung mengangkat tangan kanannya dan prajurit peniup terompet tanduk kerbau langsung membunyikan penanda itu segera.
Thhhhhuuuuuuuutttttttth!!
Senopati Agung Narapraja segera memacu kuda nya menuruni jalan menurun dari atas tebing Sungai Lawor diikuti oleh Senopati Jarasanda yang membawa bendera putih.
Setelah melewati padang rumput sempit di tepi Sungai Lawor, mereka menyeberangi Sungai Lawor yang berair setelah dengkul kuda. Setelah sampai di tepi sungai, mereka berhenti.
Melihat itu, Prabu Menak Luhur dan Senopati Rakadayun pun menggebrak kudanya menuju ke arah Senopati Agung Narapraja dan Senopati Jarasanda. Begitu Prabu Menak Luhur sampai di hadapan mereka, Senopati Agung Narapraja menatap tajam ke arah Prabu Menak Luhur sembari berbicara lantang.
"Aku minta maaf jika tidak sopan. Kalian tidak diijinkan untuk memasuki wilayah Kerajaan Panjalu dengan alasan apapun. Silahkan kalian kembali ke tempat asal kalian", ujar Senopati Agung Narapraja segera.
Phhuuuiiiiiihhhhh...
"Hanya seorang antek Jayengrana berani mengusir ku? Kau masih belum pantas..
Suruh raja mu kemari biar aku penggal kepala nya setelah itu aku tidak akan mengusik ketenangan Kerajaan Panjalu ", Prabu Menak Luhur mendelik tajam ke arah Senopati Agung Narapraja dan Senopati Jarasanda.
"Kauuu...."
Belum sempat Senopati Jarasanda meneruskan omongannya, Senopati Agung Narapraja langsung mengangkat tangan kanannya untuk menghentikan perkataan adik ipar Mapatih Warigalit itu.
"Kalau begitu tidak ada jalan keluar lagi untuk masalah ini. Silahkan lewati kami jika kalian mampu, Prabu Menak Luhur ", ucap Senopati Agung Narapraja segera.
"Akan ku gebuk kepala mu dengan Gada Wesi Kuning ku saat kita bertemu di medan laga ini", usai berkata demikian Prabu Menak Luhur segera menarik tali kekang kudanya dan kembali ke pasukannya beserta Senopati Rakadayun. Senopati Agung Narapraja dan Senopati Jarasanda pun juga kembali ke pasukan mereka.
Begitu sampai di pasukan nya, Prabu Menak Luhur langsung mengangkat tangan kanannya. Para prajurit penabuh langsung membunyikan genderang perang. Saat Prabu Menak Luhur menurunkan tangannya, bunyi genderang mereka berhenti.
__ADS_1
"Wahai para prajurit ku yang gagah perkasa, hari ini kita hancurkan pasukan Panjalu dengan cepat sebelum aku memenggal kepala Jayengrana. Jangan sisakan satu orang pun dari mereka. Tumpas mereka sampai habis", ucap Prabu Menak Luhur dengan lantang. Sorak sorai membahana terdengar dari para prajurit Blambangan. Begitu Prabu Menak Luhur mengangkat tangan kanannya, suara riuh rendah itu berhenti. Prabu Menak Luhur langsung berteriak lantang sembari mengayunkan tangan kanannya ke depan.
"Serang mereka!!!!!"