
Semua orang membentuk sebuah lingkaran besar mengelilingi api unggun dan kereta kuda mereka. Semuanya nampak bersiap menghadapi serangan kawanan serigala yang sudah di depan mata.
Dari balik kegelapan malam, satu persatu serigala berbulu abu-abu mulai bermunculan mengepung tempat itu. Semakin lama semakin banyak serigala yang datang ke sekeliling rombongan Panji Tejo Laksono.
Tiba tiba terdengar lolongan keras dari belakang. Seolah mendengar perintah, beberapa serigala berbulu abu-abu ini membuka jalan. Dari belakang muncul seekor serigala besar dengan kulit abu abu sedikit kemerahan. Di punggungnya ada seorang lelaki paruh baya bertubuh kekar dengan memakai penutup kepala dari kulit kepala serigala sembari memegang sepasang cakar besi yang cukup panjang. Pakaiannya yang sewarna dengan bulu abu abu serigala terlihat robek di beberapa tempat hingga terlihat seperti seorang gelandangan.
"Lu Chien, Raja Serigala Hutan Bambu..
Kenapa kau mengganggu kenyamanan waktu istirahat kami ha?", hardik Wang Chun Yang sedikit tidak suka dengan sikap Lu Chien. Kabarnya pendekar sesat ini gemar membuat lawan nya mati dengan tubuh terpotong-potong.
"Ah rupanya aku sedang berhadapan dengan Pendeta Wang dari Aliran Chun Yang...
Kutu anjing,
Minggir kau dari sini. Aku hanya ingin berurusan dengan dengan orang yang bernama Huang Lung.
Hari ini akan ku buat rombongan ini mati mengenaskan di gigi para serigala ku", Lu Chien mengacungkan senjata cakar besi nya ke arah semua orang.
Mendengar perkataan Lu Chien, Panji Tejo Laksono mengerutkan keningnya.
'Kenapa banyak sekali para pesilat yang ingin nyawa Huang Lung. Sebenarnya ada salah apa dia dengan orang orang dunia persilatan?'
Saat Panji Tejo Laksono masih berpikir tentang Huang Lung, terdengar suara Wang Chun Yang tertawa kecil, " Hehehehe, kau sungguh punya nyali serigala tua!"
"Jika kau ingin nyawa orang dalam rombongan kami, apa kau sudah meminta ijin pada pimpinan rombongan ini hem?? Asal kau tahu, aku hanya pengikut di kelompok ini".
Mendengar jawaban Wang Chun Yang, Lu Chien Si Raja Serigala Hutan Bambu sedikit keheranan namun dia tidak mau berlama-lama bicara dengan Wang Chun Yang karena para serigala nya terlihat mulai tidak sabar untuk maju menyerang.
"Kalau bukan kau, lantas siapa yang lebih pantas menjadi pimpinan rombongan ini, Pendeta Wang?".
Wang Chun Yang segera menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono yang masih berdiri di belakang para prajurit Panjalu yang membuat pagar betis, "Dia adalah pimpinan kelompok ini, Lu Chien. Kau minta ijin saja sama dia".
Ada beberapa alasan mengapa Wang Chun Yang menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono. Yang pertama, Wang Chun Yang penasaran dengan kemampuan beladiri Panji Tejo Laksono karena tadi siang Wang Chun Yang melihat ilmu meringankan tubuh Panji Tejo Laksono sangat tinggi. Wang Chun Yang hampir saja tidak mengetahui keberadaan Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga andai Luh Jingga tidak melakukan gerakan tiba tiba.
Yang kedua, sebagai pimpinan kelompok ini sudah pasti Panji Tejo Laksono memiliki jati diri yang tidak biasa. Orang-orang Panjalu ini begitu hormat padanya dan ini yang menjadi tanda tanya besar di hati Wang Chun Yang.
Huang Lung alias Putri Wanyan Lan langsung kesal dengan ulah Wang Chun Yang.
"Pendeta busuk,
Apa kau sengaja ingin mencelakai pendekar Thee? Apa salahnya pada mu ha? Kau ini penganut ajaran Tao atau ajaran iblis?"
Sumpah serapah Huang Lung langsung meluncur cepat tanpa kendali. Dia tahu kemampuan beladiri Wang Chun Yang sangat tinggi. Akan sangat mudah mengatasi Raja Serigala Hutan Bambu dengan sangat mudah. Tapi sepertinya Wang Chun Yang benar-benar ingin membuat Panji Tejo Laksono mengadu ilmu beladiri melawan tokoh aliran sesat ini.
"Pendekar Huang tidak perlu khawatir..
Kalau sampai terjadi apa apa dengan Pendekar Thee, mana mungkin aku diam saja? Kau tenanglah", ucap Wang Chun Yang sembari tersenyum tipis. Huang Lung sangat muak melihat senyum tipis Wang Chun Yang. Saat dia hendak berkata lagi, Panji Tejo Laksono sudah lebih dulu bicara, " Pendeta Wang memang benar, aku adalah pimpinan kelompok ini. Dan aku tidak akan menyerahkan Huang Lung kepada siapapun karena dia anggota kelompok ku sekarang!".
Mendengar jawaban itu, Wang Chun Yang tersenyum simpul sedangkan Huang Lung alias Putri Wanyan Lan langsung lemas. Nama besar Raja Serigala Hutan Bambu yang tersohor membuat Putri Kepala Suku Wanyan ini benar benar ciut nyalinya sebelum melihat kemampuan ilmu beladiri Panji Tejo Laksono.
Lu Chien langsung menyeringai lebar menatap ke arah Panji Tejo Laksono dengan tatapan mata meremehkan.
"Anak muda, rupanya kau pimpinan kelompok ini. Sekarang berikan kepada ku Huang Lung, maka akan ku lepaskan kau dan kelompok mu. Tapi kalau tidak...", Lu Chien Sang Raja Serigala Hutan Bambu mengepalkan tangan kanannya hingga terdengar suara gemerutuk dari telapak tangan.
"Mau mengancam ku? Langkahi dulu mayat ku sebelum kau ambil Pendekar Huang dari kelompok ku", ujar Panji Tejo Laksono dengan penuh percaya diri.
"Kurang ajar!
Kalau aku tidak menghajar mu hingga babak belur malam ini, aku akan mengeja nama ku terbalik!".
__ADS_1
Setelah berkata demikian, Lu Chien langsung melompat ke arah Panji Tejo Laksono dari atas punggung serigala besarnya sembari mengayunkan cakar besi.
Shreeeeettttthhh!!
Huang Lung langsung melemparkan pedangnya kearah Panji Tejo Laksono. Tanpa melepaskan pedang dari sarungnya, Panji Tejo Laksono langsung menangkis sabetan cakar besi Lu Chien.
Thrrraaannnnggggg !
Benturan dua senjata bertenaga dalam tingkat tinggi itu mampu menciptakan gelombang kejut yang menakjubkan. Wang Chun Yang, Huang Lung, Luh Jingga, Tumenggung Ludaka, Gumbreg dan Rajegwesi langsung membuat jarak yang cukup jauh setelah gelombang kejut dari benturan dua senjata mereka hampir membuat mereka terjatuh. Pun para serigala pun mundur beberapa langkah ke belakang seolah memberi ruang bagi Panji Tejo Laksono dan Lu Chien bertarung meski tetap mengepung rombongan Panji Tejo Laksono.
Whuuthhh whuuthhh !!
Thrrriiinnnggggg Thrrriiinnnggggg !!
Dhasshhh dhasshhh !
Lu Chien terus memburu Panji Tejo Laksono dengan serangan cepat dan liar seperti seekor serigala memburu mangsa. Namun sang pangeran muda dari Kadiri bukan lawan yang mudah di hadapi. Dengan menggunakan Ajian Sepi Angin, di gabungkan dengan Ilmu Pedang Tanpa Bayangan milik nya, gerakan tubuh Panji Tejo Laksono begitu lincah dan gesit menangkis sabetan cakar besi tiga ujung milik Lu Chien.
Wang Chun Yang dan Huang Lung hampir saja tak percaya melihat pemuda tampan itu dengan mudah mengimbangi permainan kungfu Lu Chien. Pun malah kelihatan Panji Tejo Laksono setengah hati melawan Sang Raja Serigala Hutan Bambu.
Karena sikap setengah hati inilah yang membuat Panji Tejo Laksono tergores cakar besi Lu Chien pada dada sebelah kiri nya. Ada darah yang merembes keluar dari luka itu. Panji Tejo Laksono melompat mundur beberapa langkah sembari melihat luka cakar di dadanya sementara Lu Chien menjilati ujung cakar nya yang bau darah.
"Anak muda,
Sebentar lagi kau akan ku jadikan potongan daging untuk makan malam para anak ku ini hahaha....!!!".
Tawa keras keluar dari mulut Lu Chien yang merasa unggul dalam pertarungan itu. Panji Tejo Laksono segera menotok beberapa titik nadi hingga rembesan darah segar dari luka nya berhenti keluar. Setelah itu sang pangeran muda dari Kadiri langsung merapal mantra Ajian Halimun nya.
Sebentuk kabut putih tipis menyelimuti seluruh tubuh Panji Tejo Laksono. Sekejap berikutnya, tubuhnya menghilang bersama angin. Mata semua orang melotot lebar saat melihat Panji Tejo Laksono tiba tiba hilang dari pandangan. Wang Chun Yang sendiri yang memiliki kecepatan pandangan luar biasa pun tak bisa menemukan keberadaan Panji Tejo Laksono.
Lu Chien langsung pucat. Kemampuan hidung nya yang mampu membaui segala jenis aroma masih merasakan hawa keberadaan Panji Tejo Laksono di tempat itu namun sang empunya bau tak bisa di temukan.
Jangan bersembunyi seperti pengecut!!", teriak Lu Chien sambil mengayunkan senjata nya ke segala arah.
Whuuuggghh !
Whhhhuuuuggghhh !
Dari samping Panji Tejo Laksono muncul tiba-tiba dan mengayunkan pedangnya kearah pinggang Lu Chien. Raja Serigala Hutan Bambu itu sama sekali tidak menghindar saat pedang Panji Tejo Laksono merobek kulit nya.
Shrraaaakkkkhhhh !
Auuuggghhhhh !
Lu Chien langsung membekap luka nya sembari membabatkan cakar besi nya ke arah punggung Panji Tejo Laksono namun tubuh sang pangeran muda dari Kadiri langsung lenyap dari pandangan saat cakar besi Lu Chien hampir mengenainya. Cakar besi Lu Chien hanya menghajar udara kosong.
Sambil meringis menahan rasa sakit, Lu Chien nanar menatap ke sekeliling nya. Ada rasa takut yang perlahan menyelimuti hati Lu Chien. Dia yang biasanya garang sekali saat menghadapi lawan, baru kali ini merasakan sesuatu kekuatan yang membuatnya bergidik.
Wang Chun Yang pun tak kalah takjub dengan kemampuan beladiri Panji Tejo Laksono. Walaupun dia sudah menduga bahwa Panji Tejo Laksono memiliki kemampuan beladiri yang tinggi, namun dia juga tidak membayangkan bahwa Panji Tejo Laksono mampu berpindah tempat menembus ruang dan waktu.
'Pemuda ini punya kemampuan beladiri yang mengerikan', batin Wang Chun Yang sambil mencoba mencari tahu keberadaan Panji Tejo Laksono.
"Keluar kau bajingan!
Jangan seperti pengecut yang sembunyi sembunyi menyerang lawan!", teriak Lu Chien seperti orang gila yang terus mengayunkan cakar besi nya ke segala arah.
Sekejap kemudian Panji Tejo Laksono muncul sejauh 2 tombak di depan Lu Chien. Raja Serigala Hutan Bambu itu segera menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono yang tersenyum tipis padanya.
"Bajingan keparat!!
__ADS_1
Kalau kau memang hebat, jangan main petak umpet seperti anak kecil. Ayo kita bertarung dengan jantan!", hardik Lu Chien sembari mengacungkan cakar besi nya ke arah Panji Tejo Laksono.
"Akan ku beri kesempatan pada mu untuk menyerang ku satu kali. Tapi selepas itu aku akan menyerang balik.
Sekarang majulah!".
Mendengar perkataan Panji Tejo Laksono, Lu Chien sang Raja Serigala Hutan Bambu menyeringai lebar. Dia menyalurkan seluruh tenaga dalam nya pada cakar besi nya hingga muncul sinar hitam berbau anyir darah dari benda berujung tiga itu.
Sedangkan Panji Tejo Laksono langsung merapal mantra Ajian Tameng Waja usai menyarungkan pedang Huang Lung. Dengan cepat sinar kuning keemasan segera menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono. Meskipun itu hanya sinar yang tipis, namun mata Wang Chun Yang langsung melotot lebar.
'Tubuh Emas? Pendekar muda ini menguasainya Ilmu Tubuh Emas? Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?'
Selesai merapal Ajian Tameng Waja, Panji Tejo Laksono langsung merapal Ajian Tapak Dewa Api nya. Tangan kanannya yang tersembunyi di balik pinggang, di liputi oleh sinar merah menyala seperti api.
Lu Chien langsung melompat tinggi ke udara dan meluncur cepat kearah Panji Tejo Laksono seraya menusukkan cakar besi nya yang berwarna hitam legam kearah dada sang pangeran muda dari Kadiri.
"Mampus kau...
Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt...!"
Melihat Panji Tejo Laksono tak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri, Huang Lung hendak melompat ke arah Panji Tejo Laksono namun tangan Wang Chun Yang langsung mencegahnya.
"Lepaskan aku Pendeta busuk...
Aku mau menolong Pendekar Thee", Huang Lung meronta berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Wang Chun Yang. Namun Ketua Aliran Chun Yang itu sama sekali tak mau melepaskan tangan Huang Lung.
Saat itulah cakar besi Lu Chien menghantam dada Panji Tejo Laksono.
Thrrraaannnnggggg !
Mata Lu Chien langsung melebar saat melihat cakar besi nya seperti menghantam lempengan logam keras saat menyentuh kulit Panji Tejo Laksono. Mata semua orang pun kecuali para prajurit Panjalu turut melotot melihat itu semua.
Panji Tejo Laksono tersenyum simpul sembari berkata perlahan, "Sekarang giliran ku!"
Pucat seketika wajah Lu Chien saat melihat tangan kanan Panji Tejo Laksono yang berwarna merah menyala seperti api bergerak cepat menghantam dada kiri nya.
Blllaaammmmmmmm !!
Ledakan dahsyat terdengar saat Ajian Tapak Dewa Api telak menghajar dada Lu Chien. Tubuh lelaki paruh baya berjuluk Raja Serigala Hutan Bambu itu terpelanting jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Dia langsung tewas dengan dada gosong seperti terbakar api.
Serigala besar yang menjadi tunggangan Lu Chien langsung melompat tinggi menerkam ke arah Panji Tejo Laksono. Wang Chun Yang dengan segera melepaskan cekalan tangan kanannya pada Huang Lung dan mencabut pedang nya. Satu kali sabetan, hawa pedang nya langsung melesat cepat kearah leher serigala besar tunggangan Lu Chien.
Chhrrrraaaaaassss !
Serigala besar tunggangan Lu Chien terjatuh ke tanah dengan kepala terpisah dari badan. Melihat pimpinan nya terbunuh, ratusan ekor serigala melesat cepat kearah rombongan Panji Tejo Laksono.
Auuuuuuuwwwwww !
Auuuuww !
Para prajurit Panjalu yang terlatih pun dengan sekuat tenaga bertahan. Tak butuh waktu lama, ratusan ekor serigala berbulu abu-abu ini terbunuh oleh rombongan Panji Tejo Laksono. Beberapa puluh yang tersisa akhirnya melarikan diri dengan luka luka di tubuh mereka.
Tumenggung Ludaka, Rakryan Purusoma, Luh Jingga dan Tumenggung Rajegwesi menarik nafas lega saat melihat kawanan serigala itu kabur menyelamatkan diri. Huang Lung dan Pendeta Wang Chun Yang pun juga ikut gembira karena mereka sudah berhasil mengusir kawanan serigala yang selama ini menjadi momok menakutkan di daerah hutan bambu ini.
Pendeta Wang Chun Yang segera mendekati Panji Tejo Laksono usai serigala terakhir meninggalkan tempat itu. Senyum lebar segera terukir di wajah sang pendeta Tao.
"Sudah ku duga sebelumnya bahwa Pendekar Thee adalah pendekar muda yang hebat. Aku sungguh kagum pada mu", ujar Wang Chun Yang sedikit membungkuk hormat pada Panji Tejo Laksono. Namun belum sempat Panji Tejo Laksono menjawab, Gumbreg yang yang tubuhnya terlihat terkena beberapa cakaran serigala, mendekati Panji Tejo Laksono sembari menunjuk ke arah mayat Lu Chien sambil berkata,
"Gusti Pangeran,
__ADS_1
Raja serigala gosong itu mau diapakan?"