Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Madu


__ADS_3

Zheng Ruo Shi mendelik kereng pada Panji Tejo Laksono.


"Nyonya nyonya, apa kau pikir aku setua itu ha? Dasar kurang ajar! Kau pantas aku hajar!!", ucap Zheng Ruo Shi sembari memutar pedangnya. Dia memang tidak suka jika di sebut tua oleh siapapun, walaupun kini usia nya sudah menginjak hampir 4 dasawarsa. Dengan satu helaan nafas panjang, Zheng Ruo Shi hendak melompat maju ke arah Panji Tejo Laksono. Namun tiba-tiba..


Shhhrriinggg!!


Sebuah jarum dari es melesat cepat kearah Zheng Ruo Shi. Kecepatan tinggi jarum es itu memecah udara terdengar oleh telinga Zheng Ruo Shi yang peka. Perempuan cantik itu buru buru merubah gerakan tubuhnya dan membabatkan pedang nya ke arah jarum es yang mengincar tubuhnya.


Thrrraaannnnggggg thraakkkk !!


Jarum es itu langsung hancur berkeping keping terkena tebasan pedang Zheng Ruo Shi. Sembari menggerutu menahan rasa amarah, Zheng Ruo Shi menoleh ke arah datangnya jarum es. Dari arah yang di maksud, Song Zhao Meng melayang turun dari udara dan mendarat di samping Panji Tejo Laksono.


"Kau yang menyerang ku, rubah kecil?!", mata Zheng Ruo Shi langsung menatap tajam ke arah Song Zhao Meng.


"Kalau iya kenapa? Mau kau bertarung melawan ku, Selir Zheng?", terkejut Zheng Ruo Shi mendengar jawaban Song Zhao Meng yang memanggil nama nya dengan sebutan Selir Zheng. Hanya orang-orang Istana Kekaisaran Song saja yang tahu tentang hal ini. Seketika, Zheng Ruo Shi menelisik seluruh tubuh Song Zhao Meng dan mendapati bahwa Song Zhao Meng memiliki kemiripan dengan Maharani Mingjie, ratu ketiga Kaisar Huizong.


Selintas bayangan masa lalu langsung terkenang di benak Zheng Ruo Shi.


Dahulu, Zheng Ruo Shi adalah putri dari Gubernur Wilayah Hong yang bernama Zheng Yang di wilayah selatan Kekaisaran Song. Karena ingin mendapat dukungan dari penguasa daerah di selatan, Kaisar Huizong mengawini wanita cantik itu atas dasar politik. Kaisar Huizong yang saat itu masih menjadi seorang pangeran muda hanya mengangkat Zheng Ruo Shi sebagai selir, bukan sebagai istri utama. Itu membuat Zheng Ruo Shi marah besar setibanya di Istana Kekaisaran Song. Beberapa malam setelah pernikahan, Zheng Ruo Shi kabur dari dalam istana dengan menipu para penjaga gerbang istana.


Begitu berhasil kabur, Zheng Ruo Shi meninggalkan ibukota Kaifeng dan menuju ke arah Gunung Kunlun di barat. Zheng Ruo Shi di terima murid oleh Bai Ling Zhi, seorang pertapa tua Gunung Kunlun yang memiliki nama besar di dunia persilatan Tanah Tiongkok sebagai Dewa Phoenix Barat. Setelah beberapa tahun Zheng Ruo Shi berguru kepada Bai Ling Zhi dan berhasil menguasai ilmu beladiri yang di ajarkan oleh Dewa Phoenix Barat itu, Zheng Ruo Shi menjadi salah satu pendekar golongan putih yang menegakkan keadilan tanpa pandang bulu.


Beberapa waktu yang lalu, Zheng Ruo Shi membunuh salah satu murid Perguruan Huashan yang hendak bersikap kurang ajar pada seorang gadis. Dari peristiwa itu, Zheng Ruo Shi di buru oleh para murid Perguruan Huashan hingga akhirnya Xuan Zhong dan Kang Ru Ji menemukan nya dan mereka bertarung di tepi Sungai Yangtze tepat nya di dermaga penyeberangan Desa Zhang.


"Se-selir Zheng? Kau jangan asal bicara, gadis kecil.. Siapa yang selir? Kau asal tebak saja huh..", Zheng Ruo Shi mencoba untuk berkilah dari pembicaraan dengan Song Zhao Meng.


"Hahahaha Selir Zheng sungguh pintar berdalih, aku kagum pada mu..


Tapi Kasim Tong Guan yang menceritakan kisah tentang mu bukanlah orang yang berani bicara dusta. Apalagi ada catatan sejarah di istana yang pernah aku baca mengenai seluruh silsilah keluarga istana Song. Kau juga tercatat sebagai salah satu anggotanya, maka dari itu, tidak perlu kau mencoba untuk menyembunyikan jati diri mu, Selir Zheng", senyum lebar terukir di wajah cantik Song Zhao Meng setelah berbicara.


"Kau kauuu..


Darimana kau tahu siapa aku dan apa hubungan mu dengan istana kekaisaran, gadis busuk?", ada tatapan mata penuh kebencian di mata Zheng Ruo Shi pada Song Zhao Meng.


"Aku tahu semua cerita hidup mu, Selir Zheng. Bahkan Kasim Tong Guan pun juga menceritakan nya kepada ku bahwa kau kabur dari istana karena marah tidak diangkat menjadi istri utama seperti janji ayahanda Kaisar saat dia menikahi mu bukan? Hehehehe. Siapa aku? Aku adalah putri ke 14 Yang Mulia Kaisar Huizong. Aku adalah anak dari Maharani Mingjie", jawab Song Zhao Meng sembari tersenyum tipis memandang wajah cantik Zheng Ruo Shi yang langsung berubah menjadi tegang.


"Hoh jadi kau adalah putri dari bajingan busuk itu. Hari ini akan ku buat kaisar busuk itu meratapi kematian putrinya.

__ADS_1


Jangan salahkan nasib buruk mu karena bertemu dengan ku, gadis busuk! Kau harus menanggung beban kesalahan ayah mu!", selesai berkata seperti itu, Zheng Ruo Shi langsung melesat cepat kearah Song Zhao Meng. Sebuah pedang bergagang kepala burung phoenix di tangan kanannya langsung terayun cepat kearah leher Song Zhao Meng.


Shreeeeettttthhh !


Mata indah Song Zhao Meng seketika berubah warna menjadi putih, sekejap kemudian tangan kanannya melepaskan hawa dingin yang dengan cepat membentuk selubung pembungkus dari es yang keras. Dengan tenang Song Zhao Meng menangkis sabetan pedang Zheng Ruo Shi dengan tangan kanannya.


Thrrraaannnnggggg !


Zheng Ruo Shi terkejut bukan main melihat kejadian itu. Pedang Phoenix di tangannya tangannya nyaris terlepas dari genggaman. Buru buru dia melompat mundur beberapa langkah ke belakang. Baru kali ini dia melihat kemampuan ilmu beladiri yang menakutkan dari Song Zhao Meng.


'Ilmu es gadis busuk ini tinggi sekali. Es yang tercipta di tangan nya sanggup menahan Pedang Phoenix ku. Aku harus hati-hati', batin Zheng Ruo Shi sembari mengalirkan tenaga dalam nya pada pedang di tangan kanannya. Setelah merasa cukup, Zheng Ruo Shi kembali menerjang maju ke arah Song Zhao Meng. Pertarungan sengit antara mereka segera terjadi.


Sementara itu, Panji Tejo Laksono dan yang lainnya hanya menonton pertarungan itu dari jarak yang cukup jauh. Dua murid Perguruan Huashan yang sudah luka luka, diam diam kabur dari tempat itu memanfaatkan kesempatan yang di dapat dari pertarungan antara Zheng Ruo Shi dengan Song Zhao Meng.


"Menurut mu, siapa yang akan keluar sebagai pemenang di pertarungan itu, Lu?", tanya Demung Gumbreg sambil terus menatap ke arah pertarungan antara Song Zhao Meng dan Zheng Ruo Shi.


"Kalau di lihat dari segi pengalaman, sepertinya perempuan cantik berbaju putih itu lebih baik tapi jika melihat pergerakan cepat dari Putri Song itu kelihatan dia lebih unggul", Tumenggung Ludaka memberikan ulasan nya tentang yang ada di depan pertarungan.


"Kau ini jangan plin-plan dong, mana yang kau dukung?


Kita bertaruh saja, yang menang dapat 5 tail emas. Aku bertaruh pada perempuan cantik itu, kau pegang Putri Song itu. Bagaimana? Setuju?", Demung Gumbreg menantang Tumenggung Ludaka untuk berjudi.


"Kemarin kemarin aku memang salah pilih jago, tapi kali ini aku yakin pasti menang. Kau berani tidak?", Gumbreg terlihat sangat yakin.


"Baik kalau itu mau mu Mbreg..


Kita tambah lagi taruhannya sekalian jadi 10 tail emas. Kau berani tidak?", Tumenggung Ludaka yang ingin memberi pelajaran kepada kawan karibnya, sengaja menaikkan nilai taruhan.


"Huh siapa takut?


Kita taruhan 10 tail emas untuk pemenang pertarungan antara Putri Song melawan wanita cantik itu. Kau jangan kabur ya setelah pertarungan ini selesai", ujar Demung Gumbreg segera.


Mereka kembali memperhatikan jalannya pertarungan yang sedang terjadi. Terlihat Song Zhao Meng nampak mundur selangkah demi selangkah karena tebasan Pedang Phoenix milik Zheng Ruo Shi bertubi-tubi kearah tubuhnya. Gumbreg terlihat sangat yakin bahwa Zheng Ruo Shi akan memenangkan pertarungan ini.


Song Zhao Meng melompat tinggi ke udara menghindari sabetan pedang Zheng Ruo Shi sebelum mendarat di tanah sejauh 4 tombak jauhnya dari tempat Zheng Ruo Shi. Putri Kaisar Huizong ini segera mengumpulkan seluruh tenaga dalam nya dan menciptakan kabut putih dingin yang tercipta di sekitar tempat nya berdiri. Rupanya dia ingin cepat menyelesaikan pertarungan ini dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam Ilmu Bulan Es nya.


Udara di sekitar tempat itu menjadi dingin. Beberapa orang bahkan terpaksa menjauh karena tidak kuat menahan rasa dingin yang menusuk tulang.

__ADS_1


Melihat Song Zhao Meng mengeluarkan seluruh kemampuan nya, Zheng Ruo Shi langsung kaget juga. Dia tidak menyangka bahwa kemampuan beladiri dari Putri bekas suaminya itu setinggi itu. Tak mau kalah, Zheng Ruo Shi langsung menyalurkan seluruh tenaga dalam nya pada Pedang Phoenix milik nya hingga pedang itu memancarkan aura merah yang panas seperti api dari burung phoenix.


Song Zhao Meng dengan cepat menghantamkan tangan kanannya ke arah Zheng Ruo Shi sembari berteriak keras, " Seluruh Bulan Membeku!"


Selarik sinar putih berhawa dingin bagaikan es di musim dingin yang bergulung-gulung di tangan Song Zhao Meng segera menerabas cepat kearah Zheng Ruo Shi yang dengan cepat membabatkan Pedang Phoenix milik nya kearah sinar putih yang di lepaskan oleh Song Zhao Meng. Saat Pedang Phoenix beradu dengan sinar putih yang berhawa dingin, ledakan dahsyat pun segera terdengar.


Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !!!


Zheng Ruo Shi langsung mencelat jauh ke belakang dan Pedang Phoenix milik terlepas dari genggaman. Pedang itu langsung membeku terbungkus oleh es. Sedangkan Zheng Ruo Shi menghantam tanah dengan keras lalu muntah darah segar.


Saat Song Zhao Meng hendak melompat maju ke arah Zheng Ruo Shi, tangan wanita cantik itu segera terangkat ke atas kepala sembari berkata, "Aku mengaku kalah!"


Mendengar ucapan itu, Panji Tejo Laksono langsung melompat ke hadapan Song Zhao Meng untuk menghentikannya.


"Meng Er, sudah cukup..


Dia sudah mengaku kalah. Sebaiknya kau maafkan saja dia", ujar Panji Tejo Laksono segera. Song Zhao Meng langsung menghentikan langkahnya dan mengangguk mengerti.


Dengan tertatih-tatih, Zheng Ruo Shi meninggalkan tempat itu setelah mendengar suara dari Panji Tejo Laksono tentang pernyataan kalahnya. Gumbreg langsung menekuk wajahnya dan Ludaka tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Panji Tejo Laksono memutuskan bahwa rombongan nya akan bermalam di Desa Zhang setelah melihat bahwa hari telah beranjak senja.


Waktu berlalu dengan cepat. Setelah semalaman beristirahat di Desa Zhang, rombongan Panji Tejo Laksono meninggalkan Desa Zhang dengan menyeberangi Sungai Yangtze untuk menuju ke arah selatan. Tujuan mereka hanya satu, sampai di Kota Lin'an secepat mungkin.


****


"Gusti Putri,


Ada serombongan orang yang datang mencari mu. Sekarang mereka ada di Pendopo Agung. Kata nya, mereka adalah orang-orang dari Kadiri", ucap seorang dayang istana sembari menghormat pada seorang gadis cantik yang sedang asyik mengoleskan canting batiknya pada selembar kain putih. Mendengar laporan itu, sang putri cantik yang tak lain adalah Ayu Ratna segera meletakkan canting batik nya dan bergegas menuju ke arah dayang istana Kadipaten Kalingga itu.


"Apa kau tidak salah dengar, Emban?


Dari Kadiri mencari ku? Siapa mereka?", tanya Ayu Ratna segera.


"Hamba dengar, salah satunya adalah putra Prabu Jayengrana yang bernama Pangeran Panji Jayagiri. Di samping itu ada juga seorang perempuan cantik yang ikut bersama mereka. Seperti nya hamba dulu pernah melihatnya ada di istana ini", sang dayang istana segera menghormat usai berkata demikian.


Hemmmmmmm..


"Aku semakin penasaran dengan apa yang kau ceritakan, Emban. Ayo kita kesana sekarang ", Ayu Ratna segera melangkah meninggalkan tempat itu menuju ke arah Pendopo Agung Kadipaten Kalingga diikuti oleh dayang istana.

__ADS_1


Sesampainya dia disana, seorang wanita muda cantik berbaju biru muda langsung tersenyum lebar sembari berkata,


"Apa kabar mu, madu ku?"


__ADS_2