
"A-apa maksud mu bilang seperti itu Lu?
Jangan bilang kau mau lapor ke Dhek Jum soal ini. Bisa mampus aku di gebuki dia", ujar Demung Gumbreg segera.
"Hehehehe...
Itu semua bisa di atur asal kau mau memijit punggung ku. Badan ku pegal-pegal semua setelah peperangan kemarin. Kalau kau menolak akan ku laporkan ke Juminten bahwa kau sudah bersenang-senang dengan pelacur", balas Tumenggung Ludaka yang ingin mengerjai kawannya itu.
"Hah kampret kau Lu..
Bisa-bisanya menggunakan hal itu untuk mengancam ku. Kawan macam apa kau ini?", gerutu Demung Gumbreg.
"Mau tidak? Kalau tidak ya tidak apa-apa. Tapi siap siap saja, 'itu' mu hilang di potong sama Juminten hehehehe..", Tumenggung Ludaka tersenyum penuh kemenangan.
Sambil mengomel terus, Demung Gumbreg akhirnya bersedia untuk memijat punggung Tumenggung Ludaka. Sembari menerima pijatan tangan jari jemari Demung Gumbreg yang sebesar pisang barlin, kening Tumenggung Ludaka mengernyit tanda bahwa dia sedang berpikir keras.
'Pelacur itu adalah saksi mata penting bagi pengkhianatan Pangeran Mapanji Jayawarsa. Dia harus di jaga apapun yang terjadi. Tapi bagaimana caranya?'
"Mbreg, apa perempuan itu bisa di boyong ke Kotaraja Daha?", pertanyaan tiba-tiba dari Tumenggung Ludaka ini langsung membuat Demung Gumbreg menghentikan pijatan nya.
"Maksud mu Lu? Kau ingin memelihara nya?
Brengsek, kawan macam apa kau yang tega merebut wanita yang ku inginkan?", Demung Gumbreg terdengar marah.
"Hai kebo bunting, buka telinga mu lebar-lebar ya..
Aku tidak tertarik dengan perempuan itu apalagi ingin memelihara nya sebagai gundik atau atau menjadikan dia selir. Dengar bodoh, perempuan itu adalah saksi mata penting dalam pengkhianatan Mapanji Jayawarsa terhadap Panjalu. Mumpung orang Kadipaten Bojonegoro belum menyadari kalau dia berharga, sebaiknya kita cepat-cepat memboyongnya ke Kotaraja Kadiri untuk melindungi nyawa nya agar saat di butuhkan nanti, dia bisa membantu Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono untuk duduk di singgasana Yuwaraja Panjalu.
Paham kau sekarang?", bentak Tumenggung Ludaka sambil melotot kereng pada Demung Gumbreg.
"Kalau itu aku setuju dengan mu, Lu..
Tapi apa alasan kita untuk memberikan tempat bagi nya? Kalau sampai kita menempatkan prajurit untuk menjaganya, pasti akan menarik perhatian banyak orang", sahut Demung Gumbreg segera.
"Tumben otak mu encer Mbreg. Aku saja tidak memikirkan hal ini..
Hemmmmmmm...
Begini saja, ini hanya aku dan kau yang tahu. Kita bangunkan sebuah puri kecil di tanah ku dekat tapal batas Kotaraja Daha. Nanti aku bilang ke istri ku soal ini. Angkat perempuan itu sebagai selir mu untuk menghindari kecurigaan orang. Dengan derajat sebagai selir Demung, tak akan ada lagi orang yang macam-macam dengan nya. Kita berikan nama baru dan penampilan baru untuk dia. Saat di butuhkan nanti, baru kita bongkar semuanya.
Bagaimana menurut mu?", tatap mata Tumenggung Ludaka menunggu jawaban dari Gumbreg.
"Tapi bagaimana dengan Dhek Jum, Lu?
Kalau sampai dia tahu aku punya selir, huh bisa-bisa bonyok aku di gebuki dia", ujar Gumbreg segera.
"Kau atur lah jangan sampai ketahuan. Kalau sampai ketahuan, aku akan membantu mu bicara dengan nya", balas Tumenggung Ludaka yang kembali meraih jagung bakar nya dan menyantap makanan itu sambil di pijit Gumbreg.
"Hehehehe itu baru kawan ku...", ujar Demung Gumbreg sambil kembali meneruskan pijatan nya di punggung Tumenggung Ludaka.
Malam cepat berlalu. Meski hujan deras sempat mengguyur sekitar wilayah itu namun mereda kala pagi menjelang. Ayam jantan berkokok lantang bersahutan seakan menyambut kedatangan sang mentari pagi yang malu-malu menatap seisi bumi dengan kehangatan sinarnya. Meski mendung tebal masih setia menggelayut di angkasa, namun tak menghalangi niat para prajurit Panjalu untuk membongkar tenda yang menjadi tempat mereka bermalam.
Setelah rampung berbenah diri, pasukan Panjalu mulai melanjutkan perjalanan. Satu persatu rombongan mulai menyeberangi Sungai Kapulungan dengan menggunakan perahu perahu besar. Tak memperdulikan riak air sungai yang keruh kecoklatan, perahu perahu besar itu terus menyeberangkan para prajurit Panjalu yang hendak meneruskan perjalanan kembali ke Kotaraja Daha.
__ADS_1
Kini dalam rombongan pasukan perbekalan yang di pimpin oleh Demung Gumbreg, ada seorang wanita cantik yang duduk dalam kereta kuda.
Dia adalah Pergiwa, nama asli Kenanga yang kini di boyong Demung Gumbreg ke Kotaraja Daha. Tadi pagi, Demung Gumbreg menebus Pergiwa pada Ki Sumo sang pemilik rumah pelacuran di tepi Sungai Kapulungan itu.
Awalnya Ki Sumo enggan untuk menyerahkan Pergiwa yang merupakan primadona tempat hiburan lelaki hidung belang itu namun Pergiwa alias Kenanga juga berkeinginan untuk berhenti bekerja di tempat itu karena sudah lelah berkubang lumpur dosa. Dia ingin merubah nasibnya dengan ikut Demung Gumbreg ke Kotaraja hingga Ki Sumo tidak punya alasan lagi untuk menghalangi niat perempuan cantik itu. Lagipula Demung Gumbreg dan Tumenggung Ludaka menggunakan kekuatan kekuasaan mereka untuk memaksa Ki Sumo hingga lelaki tua itu tak berkutik lagi.
Pergiwa yang duduk di belakang kusir kereta kuda, menyingkap tirai berwarna hitam yang menjadi pembatas antara dia dan kusir kereta itu. Dia melihat ke arah Demung Gumbreg yang berkuda di depan kereta yang dia tumpangi sambil tersenyum penuh arti.
Sepanjang perjalanan Demung Gumbreg nampak tersenyum seperti sedang bahagia. Ini tak luput dari perhatian Weleng dan Gubarja sang bawahan.
"Sepertinya Gusti Demung sedang senang, Gu..
Dari tadi senyum-senyum saja", ucap Weleng yang berkuda tak jauh dari Demung Gumbreg.
"Pasti ada hubungannya dengan perempuan cantik yang ada di dalam kereta kuda itu, Leng. Sepertinya mereka punya hubungan tak biasa", ujar Gubarja sambil melirik ke arah kereta kuda.
"Ssstttttt..
Pelankan suara mu. Kalau sampai kedengaran oleh beliau, bisa-bisa kita kena marah nya. Itu bukan urusan kita", sahut Weleng sedikit berbisik hingga Gubarja dengan cepat menutup mulutnya.
Rombongan itu terus bergerak meninggalkan wilayah itu melintasi Kota Pakuwon Tamwelang untuk menuju ke arah selatan. Seluruh penduduk yang tinggal di sepanjang jalan raya menuju ke arah Kadiri berdiri berjajar rapi di tepi jalan untuk memberikan penghormatan kepada para prajurit Panjalu yang kini menjadi pahlawan perang. Mereka terus mengelu-elukan nama Panji Tejo Laksono.
"Sepertinya rakyat sangat menyukai mu, Kangmas Tejo Laksono..
Aku dengar dari tadi mereka terus menyebut nama mu", ujar Panji Manggala Seta yang berkuda di samping kanan sang penguasa Kadipaten Seloageng ini.
"Kau tidak salah, Dhimas Manggala Seta..
Kakak kita yang satu ini begitu di cintai oleh seluruh lapisan masyarakat Panjalu. Aku rasa hanya dialah yang pantas untuk menjadi penerus tahta Kanjeng Romo Prabu Jayengrana", timpal Mapanji Jayagiri yang mulai mau berbicara setelah hampir beberapa hari ini menutup diri.
"Huh si biang rusuh itu..
Jangan pernah lagi menyebut nama nya di depan ku Kangmas Tejo Laksono. Kalau dia bukan saudara kita, tempo hari sudah ku tebas batang leher nya dengan pedang ku", sahut Mapanji Jayagiri sambil bersungut-sungut.
"Hehehehe tidak boleh begitu, Dhimas Jayagiri..
Dia adalah putra Kanjeng Romo Prabu juga. Kita tidak boleh mengabaikannya karena aku, kau dan Dhimas Jayawarsa punya peluang yang sama untuk menjadi raja Panjalu selanjutnya di hadapan Dewan Saptaprabu", tukas Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis.
Mapanji Jayagiri tidak menjawab omongan kakaknya itu, dia hanya mendengus dingin saja sedangkan Panji Manggala Seta hanya menggelengkan kepalanya melihat itu semua.
Setelah melewati Pakuwon Tamwelang, mereka mulai memasuki wilayah Pakuwon Watugaluh yang merupakan wilayah paling utara dari Kayuwarajan Kadiri.
Penguasa Pakuwon Watugaluh saat ini, Akuwu Setyaka adalah kawan dekat Prabu Jayengrana semasa muda, begitu pula dengan sang istri Dewi Tunjung Biru yang ikut memerintah Pakuwon Watugaluh bersamanya. Dari pernikahan mereka lahir 3 orang anak yakni Dewi Setyawati, Raden Setyadharma dan Dewi Setyaningrum. Ketiganya merupakan putra putri yang rupawan.
Sebagai salah satu wilayah penyangga Kotaraja Kadiri, Pakuwon Watugaluh menikmati kemakmuran yang lebih di banding dengan daerah pakuwon lain seperti Tamwelang maupun Canting yang masuk ke dalam wilayah kekuasaan Kadipaten Matahun.
Begitu pasukan Panjalu memasuki wilayah Kota Pakuwon Watugaluh, Akuwu Setyaka berdiri di tengah jalan raya bersama dengan para punggawa istana pakuwon dan para prajurit Pakuwon Watugaluh hingga memaksa para prajurit Panjalu menghentikan laju pergerakan mereka. Akuwu Setyaka segera berjongkok dan menyembah ke arah Panji Tejo Laksono yang berada di tengah barisan pasukan Panjalu.
"Sembah bakti kami Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono", ucap Akuwu Setyaka lantang.
Panji Tejo Laksono yang mendengar nama nya di sebut, segera menjalankan kuda nya menuju ke arah depan bersama dengan Panji Manggala Seta dan Mapanji Jayagiri. Sedangkan para prajurit Panjalu yang berada di depannya langsung terbelah menjadi dua bagian, memberi jalan kepada para pangeran muda ini.
Dari atas kudanya, Panji Tejo Laksono langsung berbicara.
__ADS_1
"Sembah bakti mu aku terima. Sekarang katakan apa maksud mu menghadang perjalanan kami?".
"Mohon ampun Gusti Pangeran Adipati..
Hamba Setyaka, Akuwu Watugaluh. Mohon kepada Gusti Pangeran Adipati dan para perwira untuk bersedia beristirahat sejenak di tempat kami. Ini adalah bentuk dharma bakti kami kepada Istana Katang-katang. Mohon Gusti Pangeran tidak menolaknya", ujar Akuwu Setyaka tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya menyembah.
Panji Tejo Laksono tidak langsung menjawab omongan itu melainkan menoleh ke arah Panji Manggala Seta dan Mapanji Jayagiri. Begitu dua adiknya ini mengangguk, Panji Tejo Laksono segera menatap ke arah Akuwu Watugaluh dan para pengikutnya itu segera.
"Baiklah, aku bersedia untuk mampir ke tempat mu. Sekarang berdirilah dan tunjukkan jalan ke tempat mu", ujar Panji Tejo Laksono yang langsung membuat semua orang yang ada di hadapannya tersenyum senang.
"Terimakasih atas kemurahan hati Gusti Pangeran.
Mari silahkan ikuti kami", ujar Akuwu Setyaka sambil berdiri dari tempat nya. Dia segera melangkah menuju ke arah Istana Pakuwon Watugaluh bersama para punggawa istana dan prajurit. Para pangeran muda dari Kadiri itu juga para perwira tinggi prajurit Panjalu langsung mengekor di belakangnya sedangkan beberapa orang bekel prajurit Panjalu langsung mengatur para prajurit Panjalu untuk sementara beristirahat sejenak di seputar wilayah Kota Pakuwon Watugaluh.
Akuwu Setyaka membawa rombongan Panji Tejo Laksono ke balai pisowanan Pakuwon Watugaluh. Setelah mereka duduk di tempat yang sudah di siapkan, Akuwu Setyaka segera mundur dari tempat itu untuk mencari keberadaan istrinya Dewi Tunjung Biru.
"Yayi Dewi..
Kog sepi? Kemana Setyawati dan Setyaningrum?", tanya Akuwu Setyaka seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling Keputren yang nampak lengang.
"Haish kau seperti tidak tahu saja dengan perempuan, Kangmas..
Setyawati selalu bingung dengan cara berdandan, sedangkan Setyaningrum paling lama jika harus merias diri", jawab Dewi Tunjung Biru sembari mengusap dahinya.
"Suruh cepat sedikit.. Jangan sampai para putra sinuwun Prabu Jayengrana itu menunggu lama.
Jika mereka beruntung, kita bisa besanan dengan Istana Katang-katang dan ini akan meningkatkan derajat kita Yayi", ujar Akuwu Setyaka segera.
Belum sempat Dewi Tunjung Biru bicara lagi, Dewi Setyawati dan Dewi Setyaningrum sudah keluar dari bilik kamar mereka masing-masing. Keduanya terlihat cantik. Dewi Setyawati menonjolkan sisi alami kecantikan nya sedangkan Dewi Setyaningrum terlihat sedikit berpupur lebih tebal.
Tanpa menunggu lama lagi, Akuwu Setyaka segera menggiring mereka berdua untuk membawa nampan berisi aneka macam makanan yang sudah di siapkan sebelumnya.
Kedatangan putri putri Akuwu Setyaka ini langsung memancing perhatian para lelaki yang ada di tempat itu terkecuali Panji Tejo Laksono yang di apit oleh Luh Jingga dan Dyah Kirana juga Mapanji Jayagiri yang sama sekali tidak memandang wajah cantik mereka.
Hanya Panji Manggala Seta saja yang tidak berkedip melihat kecantikan Dewi Setyawati. Putra Prabu Jayengrana dari Dewi Srimpi sampai bergerak tanpa sadar mengikuti gerakan tubuh Dewi Setyawati yang cekatan menghidangkan makanan ke hadapannya.
Panji Tejo Laksono tersenyum simpul melihat ulah adiknya itu.
Eheemmmm ehemmm!!
Deheman keras dari Panji Tejo Laksono langsung membuat sadar Panji Manggala Seta. Wajah tampan Panji Manggala Seta langsung memerah dan tertunduk malu seperti seorang maling yang ketahuan mencuri.
Setelah para perempuan cantik itu selesai menghidangkan makanan dan mundur dari tempat itu, Panji Tejo Laksono langsung berbisik kepada adiknya itu.
"Dhimas, apa kau suka dengan putri Akuwu Setyaka itu?
Jujur saja, aku tidak akan marah", ujar Panji Tejo Laksono lirih.
"Hehehehe, Kangmas Tejo Laksono memang paling pintar memahami aku.. Benar Kangmas, aku suka dengan perempuan cantik itu", balas Panji Manggala Seta perlahan.
Panji Tejo Laksono tersenyum penuh arti sebelum berbicara lirih,
"Kalau begitu, kau harus memiliki kemampuan beladiri yang tinggi jika ingin bersanding dengannya, Dhimas Manggala Seta..
__ADS_1
Dia adalah seorang pendekar".