Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Saatnya Memenggal Kepala Sang Iblis


__ADS_3

"Hei tukang warung makan!!


Kalau bicara yang sopan ya? Nada bicara mu kasar sekali sama majikan ku..!", Demung Gumbreg mendelik kereng pada lelaki bertubuh gempal dengan wajah penuh bekas luka itu. Dia benar-benar tidak suka dengan sikap yang di tunjukkan kepada junjungan nya.


"Memangnya kenapa?! Ini tempat ku. Kalau kalian tidak suka boleh pergi ", hardik si pemilik warung makan itu tak kalah sengit.


"Kau..."


"Sabar Mbreg sabar...", ucap Tumenggung Ludaka berusaha untuk meredam emosi kawan karibnya itu, " Kita tidak boleh terpancing dengan ulah orang ini..


Ingat tujuan kita kemari".


"Tapi Lu, dia kasar sekali.. Aku tidak suka dengan sikap pongahnya", balas Demung Gumbreg pada bisikan halus sahabatnya.


"Sudah biarkan saja..


Kita tidak boleh ribut dengan orang lain. Ingat tujuan besar yang kita bawa kemari", imbuh Tumenggung Ludaka segera.


Saat mereka masih merasa kesal dengan ulah si pemilik warung makan yang terkesan meremehkan mereka, tiba-tiba..


Plokk plokk plokk..!!


Terdengar suara tepuk tangan pelan-pelan yang membuat seisi warung makan itu menoleh ke arah sumber suara. Seorang lelaki bertubuh kekar dengan dandanan layaknya seorang pendekar namun mengenakan caping yang membuat wajahnya tidak terlihat jelas yang duduk di bangku sudut ruangan warung makan itulah pelakunya.


Hehehehehe....


Terdengar suara tawa kecil dari si pendekar berbaju gelap ini. Si pemilik warung makan langsung mendelik tajam ke arah orang itu.


"Mereka ini bukan orang warung yang sebenarnya, Kisanak.. Jadi kau tidak perlu repot-repot kebingungan dengan sikap mereka yang mirip dengan gerombolan perampok.


Karena sebenarnya mereka semua adalah anggota kelompok Iblis Bukit Manoreh. Warung makan ini hanya kedok belaka!", ujar si pendekar bercaping bambu itu dengan penuh keyakinan.


Semua orang yang ada di tempat itu langsung saling berpandangan seolah saling berbicara. Tanpa menunggu aba-aba dari pimpinan mereka di tempat itu, mereka semua segera mencabut golok dan pedang yang tersembunyi di bawah meja makan.


Dengan cepat mereka segera mengepung Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan juga si pendekar bercaping bambu itu. Si lelaki dengan wajah penuh bekas luka itu langsung menghardik keras.


"Karena kalian semua sudah tahu rahasia kami, maka kalian harus mati!!


Kawan-kawan, bunuh mereka semua!"


Seluruh lelaki dan 2 perempuan berwajah seram yang ada di warung makan itu segera menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan serta lelaki bercaping bambu. Pertarungan sengit pun segera terjadi di dalam warung makan itu.


Dua orang perempuan dan satu laki-laki langsung mengepung Endang Patibrata, sementara Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg yang sudah siap dari tadi dengan cepat menyambut kedatangan lawan lawan mereka.


Sedangkan si lelaki bercaping bambu itu segera menepak dua piring makan dari tanah liat ke arah dua orang pria bertubuh gempal yang bergerak ke arah nya.


Dhasshhh dhasshhh!!


Dua orang itu langsung terjungkal setelah piring tanah liat itu menghantam wajah mereka. Dua orang di belakang si lelaki bertubuh kekar itu segera membabatkan golok mereka ke arah tengkuk leher si lelaki bercaping bambu.


Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh!!


Dengan lincah, si lelaki bercaping bambu itu segera merunduk hingga tebasan golok kedua musuh hanya menyambar angin diatas kepalanya. Sembari menjejak lantai warung makan, tubuh lelaki bertubuh kekar itu segera meluncur ke depan dua orang pembokong di belakangnya. Dua sikutnya langsung menghajar rusuk lawan.


Dhhheeeppphh dheeppphh..


Aaauuuuggggghhhhh!!


Terdengar suara raungan tertahan bercampur jerit kesakitan dari mulut dua orang yang membokong si lelaki bertubuh kekar itu. Meskipun meringis menahan rasa sakit, keduanya segera bergegas kembali menerjang maju ke arah si lelaki bercaping bambu ini. Pertarungan sengit pun tak terelakkan.


Di sisi lainnya, Panji Tejo Laksono langsung menggeser posisi tubuhnya hingga tebasan pedang lawannya berhasil dia hindari. Saat lawan dalam posisi kuda-kuda yang timpang, sang Adipati Seloageng ini segera menghantam pelipis kiri lawannya sekeras mungkin.


Bhhhuuuuuuggggh!!

__ADS_1


Tubuh lelaki berperawakan sangar ini segera terjungkal menyusruk lantai warung makan dan berguling-guling hingga berhenti menabrak salah satu tiang warung makan itu.


Melihat kawannya dijatuhkan dengan mudah, dua orang berperawakan besar menggeram keras sembari mengayunkan senjata mereka yang berbentuk gada bergerigi tajam ke arah kepala sang pangeran muda dari Kadiri.


Whhuuuuuuuggggh whuuthhh!!


Dari sudut matanya, Panji Tejo Laksono melihat sekilas saja pada serangan itu. Dia seolah tak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri hingga dua lelaki bertubuh besar itu menyeringai lebar.


"Modar kowe, bajingan!!!"


Namun kedua orang itu langsung kecele saat melihat serangan nya hanya menghajar sebuah meja makan karena tiba-tiba saja Panji Tejo Laksono menghilang dari tempatnya semula.


Brruuaaaakkkkkkkh!!!


Meja makan dari kayu jati itu langsung hancur berantakan saking kuatnya tenaga yang dilepaskan oleh dua orang bertubuh besar ini. Saat keduanya masih kebingungan dengan hilangnya Panji Tejo Laksono, sebuah suara mengagetkan mereka.


"Di belakang kalian, Tolol!!!", teriak si lelaki yang wajahnya penuh bekas luka yang membuat kedua orang bertubuh besar itu segera berbalik badan. Namun mata mereka langsung melotot lebar saat Panji Tejo Laksono dengan cepat menghantam perut buncit mereka.


Dhhheeeppphh dheeppphh!!!


Oouuugghhhhhh!!!


Terdengar lengguhan tertahan dari mulut keduanya. Dua orang itu segera terhuyung huyung mundur sambil memegangi perutnya yang seperti baru di hantam balok kayu besar. Belum reda itu semua, Panji Tejo Laksono melayangkan tendangan keras melingkar dengan kaki kanan nya ke arah wajah seram dua orang ini.


Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh!!


Tak ayal lagi, keduanya langsung terjungkal ke lantai warung makan itu dengan wajah bengkak dan gigi rompal 2 buah. Usai merobohkan dua lelaki bertubuh besar itu, para laki-laki berwajah seram lainnya pun saling berpandangan. Diantara mereka, dua laki-laki itu adalah andalan mereka saat ada mangsa yang tidak bisa mereka taklukkan. Ini membuat mereka langsung ciut nyali dan segera berhamburan keluar dari dalam warung makan itu untuk menyelamatkan diri.


Melihat para pengeroyok nya kabur begitu saja, Panji Tejo Laksono segera menoleh ke arah si lelaki pemilik warung berwajah menyeramkan ini sembari menyeringai lebar. Lelaki berwajah parut itu seketika pucat pasi.


Apalagi saat melirik ke arah anak buah nya yang lain. Mereka semua telah bertumbangan tak tentu arah sementara Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg, Endang Patibrata dan sosok lelaki bercaping bambu itu masih berdiri tegak usai mengalahkan lawan-lawannya.


"Sekarang tinggal si tua berwajah parut itu, Ndoro..


"Tenang saja Kisanak..


Aku bantu kalian untuk mencongkel kedua matanya. Nanti aku buat jadi pajangan di rumah agar roh nya gentayangan selamanya", imbuh si lelaki bertubuh kekar itu yang semakin membuat si lelaki berwajah parut itu ketakutan.


"Am-ampuni saya pendekar..


Sa-saya salah. Kapok tidak akan mengulanginya lagi. Ampuunnn..", hiba si pemilik warung makan itu sembari berlutut di hadapan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan.


"Huhhhhh..


Tadi lagak mu seperti harimau si raja rimba. Bentak orang sana sini seenaknya. Sekarang tak ubahnya seperti kucing yang mengeong minta makan..


Jangan kasih ampun Ndoro, kita cincang halus tubuhnya untuk mancing ikan di sungai", ucap Demung Gumbreg yang semakin menambah ketakutan si pemilik warung. Celananya pun basah.


"Mbreg kau ngompol?


Kog seperti ada bau pesing begitu..", ujar Tumenggung Ludaka sambil menutup lubang hidung nya.


"Enak saja!!


Bukan aku yang buang air kecil sembarangan. Tapi si wajah parut itu yang melakukannya Lu.. Tuh lihat ada genangan air kencing di bawahnya", Demung Gumbreg menunjuk ke arah bawah kaki si pemilik warung makan yang menggenang air kencing.


"Brengsek!!


Untung tidak jadi makan disini. Kalau tahu dia jorok begini, aku pasti muntah-muntah seketika", timpal Tumenggung Ludaka segera.


Panji Tejo Laksono dan Endang Patibrata berjalan mendekati si pemilik warung makan yang berlutut dengan wajah memelas ketakutan.


"Aku janji akan melepaskan mu asal kau jawab pertanyaan ku dengan sejujurnya.

__ADS_1


Katakan pada ku, dimana sarang Iblis Bukit Manoreh dan berapa banyak jumlah anak buah nya?", Panji Tejo Laksono menatap tajam ke arah pemilik warung makan itu karena ingin memastikan apakah dia jujur atau tidak.


"Eh anu itu saya ehh...", gagap si pemilik warung makan itu berbicara. Sungguh dia khawatir dengan keselamatan nyawanya. Selama ini tidak satupun pendekar yang berani mengusik Iblis Bukit Manoreh bisa pulang hidup-hidup. Ini bisa jadi pilihan yang tepat jika membocorkan rahasia tempat tinggalnya karena bisa mengusir Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan tanpa harus keluar tenaga. Tapi kalau sampai Iblis Bukit Manoreh tahu dia yang berkhianat, sudah pasti nyawanya akan hilang. Ini yang membuat nya bingung menjawab.


"Ona anu..


Cepat jawab!! Atau kau ingin kami tambahi luka di wajah buruk mu itu ha?", Gumbreg mendelik kereng pada si pemilik warung.


"A-ampun pendekar ampun..


I-itu Iblis Bukit Manoreh t-tinggal di Wanua Pajaran dekat Rawa Bening. Kalau anak buah nya yang tinggal bersama nya ada sekitar 60 sampai 70 orang pesilat yang berilmu tinggi", ucap si pemilik warung makan dengan cepat.


Mendengar jawaban itu, Panji Tejo Laksono langsung menoleh ke arah Tumenggung Ludaka yang ahli melihat gerak-gerik kejujuran seseorang. Perwira tinggi prajurit Panjalu bertubuh kekar dengan rambut yang mulai ditumbuhi uban ini mengangguk tanda mengiyakan.


Hemmmmmmm..


"Baiklah, aku percaya padamu. Paman Gumbreg, Paman Ludaka, Nimas Endang Patibrata ayo kita mulai saja bergerak ke arah Wanua Pajaran", ucap Panji Tejo Laksono yang membuat para pengikutnya bergerak meninggalkan tempat itu.


Si lelaki berwajah parut itu seketika menarik nafas lega. Tapi itu hanya berlangsung sebentar saja. Si lelaki bercaping bambu melemparkan dua pisau belati kecil berwarna hitam ke arah leher dan dada nya.


Shhhrriinggg shhhrriinggg..


Chhreepppppph chhreepppppph!!


Auuuggghhhhh!!!


Mendengar rintihan si pemilik warung makan, Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan seketika menoleh ke arah sumber suara.


"Mereka memang berjanji untuk melepaskan mu, tapi tidak dengan aku Kaligunting!!", ucap si lelaki bercaping bambu itu seraya melepaskan caping bambu yang menutupi seluruh wajahnya. Pemilik warung makan yang sekarat itu ( Kaligunting nama aslinya) seketika melotot lebar melihat sosok lelaki yang kini ada di hadapannya.


"Sem..sembada??!!


Kau kau... hhoooeeeeggggghhh!!", Kaligunting si lelaki berwajah parut itu muntah darah kehitaman yang menjadi tanda bahwa dia keracunan.


"Iya ini aku Sembada.. Bekas kawan baik mu yang kau khianati dan ingin balas dendam kematian istri ku..


Sekarang aku adalah prajurit Lewa, Kaligunting. Dan sembari menuntaskan dendam lama, aku juga menjalankan tugas dari Gusti Adipati Arya Menir untuk menghabisi para pengacau keamanan seperti kalian", ujar Sembada sambil perlahan berdiri meninggalkan tempat Kaligunting meregang nyawa.


Setelah kelojotan sebentar, si lelaki berwajah parut itu tewas dengan mulut berbusa dan dada yang menghitam. Pisau belati kecil yang di lumuri Racun Kalajengking Putih telah menjadi penyebab kematiannya.


"Jadi rupanya kau orang Istana Kadipaten Lewa, Kisanak?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Hamba Senopati Sembada dari Kadipaten Lewa, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono", Sembada berlutut dihadapan Panji Tejo Laksono.


"Darimana kau tahu kalau aku adalah Panji Tejo Laksono?", Panji Tejo Laksono menatap wajah Sembada dengan mengernyitkan dahi.


"Di dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah tengah dan timur, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono adalah salah satu dari dua orang yang menguasai Ajian Halimun.


Tadi hamba sudah melihatnya dan segera tahu kalau panjenengan adalah Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono dari Seloageng", ujar Senopati Sembada sambil tersenyum.


"Kau memang jeli dalam melihat sesuatu dan pantas menjadi seorang pimpinan prajurit Kadipaten Lewa..


Kalau begitu, aku minta bantuan mu untuk memberantas kelompok Iblis Bukit Manoreh yang mengacau di perbatasan Anjuk Ladang dan Lewa. Apa kau bersedia?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran ", ucap Sembada sambil menghormat pada Panji Tejo Laksono.


Mereka berlima pun segera meninggalkan tempat itu. Senopati Sembada menjadi penunjuk jalan menuju wilayah Wanua Pajaran yang terletak di wilayah timur Pakuwon Caruban. Sebelum memasuki wilayah Wanua Pajaran, beberapa orang prajurit pilihan dan seorang Bekel yang sudah di siapkan sebelumnya oleh Senopati Sembada ikut bergabung dalam rombongan Panji Tejo Laksono. Dari sana mereka meneruskan perjalanan mereka dengan berjalan kaki.


Begitu mereka mendekati kediaman Iblis Bukit Manoreh, Panji Tejo Laksono mengangkat tangan kanannya sebagai tanda kepada para pengikutnya untuk berhenti. Puluhan orang yang memegang senjata tajam nampak bersiaga di sekitar kediaman pimpinan kelompok pengacau keamanan ini.


Sambil menatap tajam ke rumah besar itu, Panji Tejo Laksono pun berkata,


"Saatnya untuk memenggal kepala sang iblis!"

__ADS_1


__ADS_2