
Puluhan ribu orang prajurit Panjalu segera bergerak maju begitu mendengar aba-aba dari pimpinan mereka. Di bagi ke dalam beberapa kelompok yang lebih kecil, mereka bergerak laksana air bah yang siap menyapu bersih apa saja yang dilaluinya nya.
Tumenggung Lamuri dari Muria yang memimpin pasukan Panjalu pejalan kaki dari arah kiri sedikit terkejut melihat beberapa orang prajurit Jenggala mulai membakar beberapa tumpuk daun alang-alang kering yang sepertinya sudah di siapkan sebelumnya. Api dengan cepat berkobar membakar daun alang-alang kering dan aneka ranting pohon yang mengakibatkan munculnya asap yang menghalangi pandangan mata.
Ini cukup mampu membuat konsentrasi para prajurit Panjalu di bawah pimpinan Tumenggung Lamuri terganggu. Namun mereka tetap bergerak maju ke arah barak perkemahan besar para prajurit Jenggala. Namun saat mereka hampir mendekati barak perkemahan itu, tiba-tiba saja..
Shrrriinnnggg shhhrriinggg shhhrriinggg!!
Ratusan anak panah di tembakkan dari arah belakang para prajurit Jenggala yang berjaga. Para prajurit Panjalu yang terhalangi pandangan nya oleh asap tebal yang menutupi langit tak dapat melihat bahaya yang mengancamnya.
Namun pandangan mata tajam milik Tumenggung Lamuri dapat melihat sesuatu sedang bergerak cepat menuju ke arah pasukan nya. Dia langsung berteriak keras.
"Anak panah!! Anak panah!!!
Buat perlindungan! Cepaattttt....!!", teriak Tumenggung Lamuri sambil meraih tameng yang tergantung di sisi kiri pelana kuda tunggangan nya dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas kepala untuk berlindung.
Para prajurit Panjalu yang ada di bawah pimpinannya dengan cepat mengikuti langkah sang pimpinan. Mereka langsung menghentikan langkahnya dan berjongkok sambil menaikkan tameng besi untuk berlindung dari hujan anak panah yang mengincar nyawa mereka.
Thrrraaannnnggggg thhraaaangggggggg..
Jllleeeeeppppphhh ...
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Yang cepat tanggap terhadap perubahan pergerakan ini, selamat dengan berlindung di balik tameng besi. Namun beberapa ratus orang prajurit yang tak sigap, langsung menjadi korban dari hujan anak panah yang di lepaskan oleh para prajurit Jenggala. Jerit kesakitan dan darah segar menjadi pemandangan mengerikan di kalangan para prajurit Panjalu.
Begitu hujan anak panah berhenti, Tumenggung Dananjaya yang menjadi pimpinan di sisi kiri para prajurit Jenggala langsung mencabut pedangnya dan berteriak lantang.
"Majuuu...!!!
Habisi mereka semuanya!!!"
Para prajurit Jenggala yang mendengar perintah sang perwira tinggi dari Kotaraja Kahuripan ini langsung bergerak maju ke arah para prajurit Panjalu yang masih berlindung di balik tameng besi mereka. Pertempuran sengit pun segera terjadi di antara mereka.
Suara nyaring senjata tajam beradu di ikuti oleh jerit kesakitan dari mereka yang menemui ajalnya langsung saja terdengar dari pertempuran sengit itu.
Tumenggung Lamuri yang menjadi pimpinan di wilayah kiri bersenjatakan pedang dan tamengnya langsung melompat dari punggung kudanya dan membabat leher salah seorang prajurit Jenggala yang ada di depannya.
Shhrreeettthhh chhrrrraaaaaassss..
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Sang prajurit Jenggala yang naas itu langsung tewas dengan leher nyaris putus karena sabetan pedang Tumenggung Lamuri. Sang perwira tinggi prajurit Panjalu yang pandai menggunakan pedang dan tamengnya langsung mengamuk, membantai setiap orang prajurit Jenggala yang mencoba untuk menghalangi jalan nya.
Sebentar saja, baju zirah perangnya sudah berwarna merah karena darah segar yang muncrat dari setiap prajurit Jenggala yang menjadi korbannya.
Tumenggung Dananjaya yang melihat hal itu, dengan cepat memacu kuda nya mendekati Tumenggung Lamuri. Perwira tinggi prajurit Jenggala itu segera melompat tinggi ke udara dan dengan cepat menusukkan tombak yang menjadi senjata andalan nya ke arah sang perwira tinggi prajurit Panjalu itu.
Whhuuuuuuuggggh!!
Tumenggung Lamuri yang waspada dengan cepat menggunakan tameng besi nya untuk menghadang tusukan tombak yang mengarah ke tubuhnya.
Thhraaaangggggggg!!!
__ADS_1
Kuatnya tenaga dalam yang disalurkan melalui ujung tombak Tumenggung Dananjaya memaksa Tumenggung Lamuri tersurut mundur beberapa langkah ke belakang. Perlahan Tumenggung Lamuri menurunkan tameng besi nya dan menatap tajam ke arah Tumenggung Dananjaya.
"Jadi kau pimpinan pasukan Jenggala saat ini?", tanya Tumenggung Lamuri segera.
"Siapapun pimpinan kami, yang jelas akan menghancurkan kalian. Bersiaplah untuk mati!", jawab Tumenggung Dananjaya seraya melesat ke arah Tumenggung Lamuri seraya kembali menusukkan tombaknya.
Thhraaaangggggggg thhraaaangggggggg!!
Pertarungan sengit antara Tumenggung Lamuri yang bersenjatakan pedang dan tamengnya melawan Tumenggung Dananjaya yang bersenjatakan tombak berlangsung sengit. Keduanya memiliki kemampuan beladiri yang tinggi hingga mampu bertahan dan menyerang dengan baik.
Di sisi lain pertempuran, para prajurit Panjalu yang di pimpin oleh Tumenggung Purubaya dari Muria yang memimpin pasukan Panjalu dari sayap kanan terus merangsek maju ke arah pertahanan para prajurit Jenggala yang di kendalikan oleh Rakryan Gading dari Pasuruhan.
Sedangkan di sisi tengah terlihat Tumenggung Sajiwan yang memimpin pasukan Jenggala. Di sampingnya seorang lelaki muda yang terlihat seperti seorang bangsawan nampak duduk tenang di atas kuda tunggangan nya sambil menyaksikan pertempuran para prajurit Panjalu dan Jenggala.
"Gusti Pangeran Ganeshabrata, apa langkah kita selanjutnya?", tanya Tumenggung Sajiwan sambil terus menatap ke arah para prajurit nya yang bertarung mati-matian melawan para prajurit Panjalu.
"Kau tenang saja, Tumenggung Sajiwan..
Kita lihat saja dulu arah pergerakan lawan kita. Jika mereka merubah wyuha nya, maka aku sudah menyiapkan kejutan untuk mereka", ujar pria muda yang di panggil dengan nama Pangeran Ganeshabrata itu. Tumenggung Sajiwan tidak bertanya lagi dan mengangguk mengerti.
Ya, dia adalah Pangeran Ganeshabrata. Menantu Prabu Samarotsaha dari Blambangan yang menikahi putri kedua raja Jenggala itu yang bernama Dewi Rukmini. Tepat tengah malam tadi, rombongan Pangeran Ganeshabrata datang bersama para pengikutnya. Segera setelah sampai, Pangeran Ganeshabrata mengatur persiapan para prajurit Jenggala dengan menyiapkan beberapa rencana cadangan.
Konon kabarnya, Pangeran Ganeshabrata adalah putra Prabu Menak Luhur yang di singkirkan dari Blambangan setelah kematian Raja Blambangan itu usai pertempuran sengit melawan para prajurit Panjalu di bawah pimpinan Panji Tejo Laksono di Kali Lawor.
Penguasa Blambangan selanjutnya adalah adik Prabu Menak Luhur yang bergelar Prabu Menak Linggo. Khawatir Pangeran Ganeshabrata akan menjadi duri dalam daging bagi pemerintahan nya, Prabu Menak Linggo menjodohkan Pangeran Ganeshabrata dengan putri Prabu Samarotsaha sebagai langkah halus untuk menyingkirkan pangeran muda ini dari tahta Kerajaan Blambangan.
Namun itu tidak semudah yang dibayangkan. Pangeran Ganeshabrata dari Kahuripan mulai menyusun rencana untuk menggulingkan pemerintahan Prabu Menak Linggo dengan cara yang halus namun mematikan. Dia menghasut para penguasa daerah di wilayah Blambangan untuk membantu nya menggulingkan tahta kerajaan yang kini di duduki oleh pamannya sendiri.
Bertahun-tahun lamanya dia menyusun kekuatan hingga beberapa purnama yang lalu, rakyat Blambangan memberontak terhadap raja mereka. Pasukan istana Blambangan tak berdaya menghadapi pemberontakan ini. Hampir seluruh petinggi istana di bunuh oleh para pimpinan pemberontak yang merupakan pendekar pendekar berilmu tinggi. Prabu Menak Linggo sendiri berhasil meloloskan diri dari pengepungan di istana Blambangan. Namun keberadaan sang raja yang di gulingkan itu sendiri masih menjadi misteri karena dia menghilang tanpa jejak.
Kembali ke pedan perang, pasukan Panjalu merubah gerakan mereka. Jika sebelumnya mereka menggunakan gelar perang Wyuha Supit Urang, atas usulan Tumenggung Landung yang mengawal Mapanji Jayagiri dan Wanyan Lan, ujung tengah wyuha berubah menjadi gerakan menusuk ke depan hingga mereka menggunakan gelar perang Wyuha Vajra.
Perlahan tapi pasti, pasukan Panjalu mulai merusak pertahanan para prajurit Jenggala. Pangeran Ganeshabrata mendengus keras melihat perubahan pergerakan ini.
"Rupanya ini yang menjadi cara kalian untuk mengalahkan kami.
Jangan sombong, hai Wong Panjalu! Aku masih punya senjata rahasia untuk mengalahkan kalian!", teriak Pangeran Ganeshabrata sambil menoleh ke arah salah seorang pengawal pribadi nya.
Prrriiiiiiiiitttttttt....!!!
Terdengar suara peluit panjang dari orang yang di tatap oleh Pangeran Ganeshabrata. Suara nyaring lengkingan peluit panjang yang terbuat dari bambu wuluh ini sontak mengagetkan semua orang.
Dari sisi Utara dan Selatan perkemahan yang berhutan lebat, ribuan orang yang merupakan para pendekar yang menjadi pengikut Pangeran Ganeshabrata menggebrak kuda mereka dengan senjata terhunus. Ini langsung mengagetkan Mapanji Jayagiri, Wanyan Lan dan Tumenggung Landung yang memimpin pasukan Panjalu dari tengah wyuha.
"Celaka Gusti Pangeran!!
Kita terkepung oleh mereka", ujar Tumenggung Landung dengan panik melihat kedatangan ribuan orang pendekar yang menjadi pengikut Pangeran Ganeshabrata.
"Kalau begitu caranya, lebih baik kita langsung menusuk masuk ke dalam barisan prajurit Jenggala, Paman Tumenggung Landung. Kita bunuh pimpinan mereka dengan begitu mereka akan buyar semangat perangnya. Ayo Paman, kita harus cepat", ujar Mapanji Jayagiri sambil memacu kuda nya maju ke tengah pertempuran.
Wanyan Lan dan Tumenggung Landung pun segera mengikuti langkah sang pimpinan utama pasukan Panjalu ini. Menggunakan kuda mereka, mereka langsung mengobrak-abrik pertahanan prajurit Jenggala.
Siapapun yang ingin menghalangi jalan Mapanji Jayagiri, langsung tewas terkena sabetan pedang butut nya yang merupakan warisan dari Dewi Naganingrum.
__ADS_1
Chhrrrraaaaaassss chhraasshh!!
Tebasan pedang butut sang pangeran muda dari Kadiri ini terus saja membantai para prajurit Jenggala. Pedang butut sang pangeran muda dari Kadiri ini sudah bermandikan darah segar.
Tak ingin korban pedang butut sang pangeran muda ini terus bertambah, Tumenggung Sajiwan langsung memacu kuda nya tanpa menunggu persetujuan dari Pangeran Ganeshabrata ke arah Mapanji Jayagiri. Perwira tinggi prajurit Jenggala itu segera mencabut pedangnya dan melompat ke arah Mapanji Jayagiri seraya membabatkan pedang nya.
Shhrreeettthhh!!
Thhhrrriiiiinnnnngggg!!
Sabetan pedang itu langsung di tangkis dengan cepat oleh Mapanji Jayagiri dengan merendahkan tubuhnya ke punggung kudanya. Sang pangeran dari Kadiri ini cepat cepat melompat turun dari kudanya sembari menatap tajam ke arah Tumenggung Sajiwan yang mendarat tak jauh dari nya.
Sang perwira tinggi prajurit Jenggala itu langsung berbalik badan dan mengamati sang pangeran muda sambil tersenyum mengejek.
"Panjalu rupanya sudah kehabisan perwira ya hingga mengutus seorang bocah kemarin sore untuk memimpin pasukan.
Benar-benar memalukan!", ujar Tumenggung Sajiwan segera.
"Memalukan atau tidak, itu bukan urusan mu hei Wong Jenggala!!
Jika kau yang sudah bau tanah benar benar memiliki kemampuan untuk memimpin pasukan, kenapa pasukan mu malah kocar-kacir menghadapi pasukan kami ha?", balas Mapanji Jayagiri sambil tersenyum tipis.
"Kurang ajar! Bocah kemarin sore sombong!!
Akan ku buat kau menyesal karena telah berani memimpin pasukan untuk melawan kami", teriak Tumenggung Sajiwan sembari melesat cepat kearah Mapanji Jayagiri.
Serangan cepat bertubi-tubi di lancarkan oleh sang perwira tinggi prajurit Jenggala itu ke arah pangeran ketiga Kerajaan Panjalu ini.
Thhraaaangggggggg thhraaaangggggggg!!
Whhuuuuuuuggggh...
Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh!!
Tumenggung Sajiwan tersurut mundur beberapa langkah setelah beradu telapak tangan dengan Mapanji Jayagiri yang juga mundur 2 langkah. Perwira tinggi prajurit Jenggala itu mendengus keras lalu jari telunjuk dan tengah tangan kiri nya segera mengusap bilah pedang nya. Semburat warna merah tercipta di bilah pedang Tumenggung Sajiwan.
Usai cahaya merah itu tercipta, dengan cepat Tumenggung Sajiwan langsung membabatkan pedang nya ke arah Mapanji Jayagiri.
"Pedang Pembelah Langit...
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...!!!"
Bilah cahaya tipis berwarna merah langsung melesat cepat kearah Mapanji Jayagiri. Sang pangeran muda dari Kadiri itu segera menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara menghindari cahaya tipis kemerahan dari pedang Tumenggung Sajiwan.
Dengan menggunakan kedua tangan nya, Mapanji Jayagiri segera meluncur turun ke arah lawannya sambil membabatkan pedang butut nya yang kini di liputi oleh cahaya biru kekuningan. Melihat serangan cepat itu, Tumenggung Sajiwan langsung mengangkat pedangnya, menangkis sabetan pedang Mapanji Jayagiri.
Thhraaaangggggggg ...
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan keras terdengar saat kedua senjata yang di lambari oleh ajian ilmu kanuragan tingkat tinggi itu beradu. Mapanji Jayagiri terpelanting ke belakang namun dengan cepat menguasai diri dan mendarat di tanah dengan satu dengkul menyangga tubuh.
Sedangkan Tumenggung Sajiwan sendiri jatuh terduduk dan terseret mundur hampir dua tombak jauhnya ke belakang. Perwira prajurit Jenggala dari Hujung Galuh ini langsung muntah darah segar.
__ADS_1
Melihat itu, Mapanji Jayagiri bangkit dari tempat nya dan segera mengacungkan pedangnya ke arah lawan sambil berkata,
"Mari kita lanjutkan, Hai Wong Jenggala!!"