
Wajah tampan Panji Tejo Laksono langsung terkaget mendengar syarat yang diajukan oleh Pangeran Arya Tanggung. Bagaimana tidak, ini sama seperti yang telah dia alami sewaktu berhadapan dengan Maharesi Padmanaba dari Gunung Mahameru kemarin.
"T-tapi Paman Arya Tanggung, aku..."
Belum sempat Panji Tejo Laksono menyelesaikan omongannya, Pangeran Arya Tanggung sudah lebih dulu menoleh ke arah Dewi Rara Kinanti yang senyum tersipu setelah mendengar omongan ayahnya.
"Kinanti,
Apa kau mau Romo jodohkan dengan Kangmas mu Pangeran Panji Tejo Laksono?", tanya Pangeran Arya Tanggung segera.
"Kinanti ikut saja apa kata Kanjeng Romo Pangeran. Sebagai anak yang berbakti, Kinanti wajib untuk mematuhi semua kehendak dari Kanjeng Romo dan Kanjeng Ibu", ujar Dewi Rara Kinanti sembari menunduk untuk menyembunyikan perasaannya yang sedang berbunga-bunga. Wajah cantik bulat telur itu terlihat semburat warna merah muda, pertanda dia sedang berusaha untuk memendam perasaan nya.
"Tapi Kangmas mu ini sudah punya beberapa orang istri, apa kau tidak keberatan dengan itu semua?", imbuh Pangeran Arya Tanggung seakan tahu apa yang akan di ucapkan oleh Panji Tejo Laksono untuk menolak syarat yang diajukan oleh nya.
"Asal Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono bisa berlaku adil, Kinanti tidak keberatan jika harus menjadi istrinya yang kesekian kali", Rara Kinanti terus menunduk sambil sesekali ia melirik ke arah Panji Tejo Laksono yang seperti kehabisan akal untuk membuat alasan penolakan.
Pangeran Arya Tanggung langsung tersenyum lebar ketika mendengar jawaban Rara Kinanti. Penguasa Tanah Perdikan Lodaya ini segera mengalihkan pandangannya pada Panji Tejo Laksono.
"Nah kau sudah mendengar sendiri jawaban dari adik sepupu mu bukan, Nakmas Pangeran Adipati??
Kau setuju saja dengan syarat ku ini. Maka di kemudian hari, pasukan Lodaya akan menjadi bawahan mu. Dan di kemudian hari, Tanah Lodaya akan menjadi tanah lungguh mu yang bisa kamu gunakan untuk bersaing dalam pemilihan Yuwaraja Panjalu selanjutnya.
Bagaimana Nakmas Pangeran?", tawar Pangeran Arya Tanggung segera.
"Sudah setuju saja dengan permintaan dari Paman mu, Tejo Laksono..
Bibi yakin, kelak Kinanti akan mampu menjadi seorang pendamping hidup yang baik untuk mu loh", tambah Dewi Anggraeni segera. Mendengar desakan dari kedua paman dan bibinya, di tambah lagi dengan kebingungan mencari bala bantuan untuk menghadapi para prajurit Jenggala yang sebentar lagi akan tiba, Panji Tejo Laksono menghela nafas berat.
"Tapi bagaimana dengan istri istri ku Paman Pangeran?", Panji Tejo Laksono masih belum juga memberikan keputusan nya.
"Seorang pemimpin harus tahu apa yang harus dilakukan untuk menghadapi segala tantangan yang dihadapi oleh nya, Nakmas Pangeran Adipati..
Kau harus berpikir panjang ke depan, mementingkan kepentingan rakyat mu di atas segalanya. Anggap saja ini adalah ujian bagi mu sebelum kau duduk di atas kursi kebesaran Yuwaraja Panjalu. Untuk urusan para wanita mu, kau lebih tahu bagaimana cara menghadapi mereka", nasehat Pangeran Arya Tanggung.
Panji Tejo Laksono tertegun sejenak mendengar penuturan sang paman. Dia seolah diingatkan kembali tentang arti pemimpin yang sebenarnya.
'Paman Pangeran Arya Tanggung ini cerdik sekaligus licik juga. Memojokkan aku dan memanfaatkan kesempatan ini untuk menggandeng ku dengan menjadikan bantuan pasukan nya sebagai syarat agar aku mau menikahi Rara Kinanti. Aku benar-benar tidak punya pilihan lain selain menerima persyaratannya', batin Panji Tejo Laksono.
__ADS_1
"Baiklah, Paman Pangeran Arya Tanggung..
Aku bersedia untuk memenuhi syarat yang kau ajukan. Terimakasih banyak sudah mengingatkan ku tentang apa arti pimpinan yang sebenarnya", Panji Tejo Laksono mengangguk tanda setuju.
Wajah Pangeran Arya Tanggung, Dewi Anggraeni dan Dewi Rara Kinanti langsung cerah mendengar jawaban itu. Senyum lebar terukir di wajah mereka masing-masing.
"Karena kau sudah setuju dengan persyaratan yang harus kau penuhi, maka hak pengaturan pasukan Lodaya sepenuhnya ada padamu. Istana dan Kota Lodaya ini hanya memerlukan 5 ribu orang prajurit untuk berjaga, 20 ribu orang prajurit lainnya bisa kau bawa sebagai bala bantuan mu, Nakmas Pangeran", ujar Pangeran Arya Tanggung segera.
"Terimakasih atas bantuannya, Paman Pangeran Arya Tanggung.
Hari ini juga, aku minta mereka berangkat ke barat Kali Aksa tepatnya di benteng pertahanan Panjalu di Wanua Panuding. Di sana sudah menunggu para prajurit Panjalu yang dipimpin oleh Senopati Muda Jarasanda.
Lantas siapa yang akan memimpin prajurit Tanah Perdikan Lodaya ini?", Panji Tejo Laksono kembali menoleh ke arah Pangeran Arya Tanggung.
"Senopati Jaya Laweyan akan tetap berada di dalam Kota Lodaya sebagai pilar utama pertahanan. Tumenggung Pandu lah yang akan memimpin pasukan ini", jawab Pangeran Arya Tanggung sembari mengarahkan tangannya ke Tumenggung Pandu yang ada di sisi kanannya.
"Hamba siap menjalankan perintah, Gusti Pangeran", Tumenggung Pandu segera menghormat pada Panji Tejo Laksono dan Pangeran Arya Tanggung. Panji Tejo Laksono manggut-manggut mengerti mendengar jawaban Tumenggung Pandu.
Selepas itu, sang pangeran muda segera undur diri dari Pendopo Agung Tanah Perdikan Lodaya. Dia harus berburu waktu agar mampu bergerak cepat untuk mengatasi permasalahan besar yang kini ada di depannya. Dengan menggunakan Ajian Halimun, Panji Tejo Laksono segera menghilang dari pandangan mata semua orang yang hadir di tempat itu.
"Sungguh aku beruntung bisa mengikat hubungan dengan Nakmas Pangeran Panji Tejo Laksono. Jika tiba saatnya nanti dia menjadi Raja Panjalu, maka itu akan menjadi kemuliaan besar yang di berikan Dewata Yang Agung pada keluarga kita, Yayi Anggraeni", ucap Pangeran Arya Tanggung sambil menoleh ke arah Dewi Rara Kinanti yang kini sedang berbunga-bunga hatinya.
"Benar, Kangmas Pangeran..
Punya mantu seperti Panji Tejo Laksono, itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi kita. Dia adalah calon raja Panjalu selanjutnya , pengganti Kakang Prabu Jayengrana.
Kinanti, kalau kau sudah menikah dengannya, kau harus segera melahirkan seorang putra yang akan meneruskan tahta dari Panji Tejo Laksono", goda Dewi Anggraeni yang melihat putrinya tersipu.
"Ah Biyung.. Aku saja belum di nikahi Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono, kog sudah berpikir tentang cucu? Biyung ada ada saja ah", Rara Kinanti berdecak kesal sembari memerah wajahnya. Suasana bahagia terasa di hati mereka bertiga.
Pagi itu juga, rombongan pasukan Lodaya bergerak meninggalkan ibukota Tanah Perdikan itu menuju ke tempat yang di tunjukkan oleh Panji Tejo Laksono. Sebanyak 20.000 orang prajurit yang terdiri dari 5.000 orang prajurit berkuda, 10.000 orang prajurit berjalan kaki, 2 ribu prajurit pemanah dan 3 ribu orang prajurit perbekalan menyeberangi Sungai Kapulungan atau Sungai Brantas saat ini. Menggunakan perahu perahu yang sudah ada di dermaga penyeberangan, mereka sampai di dermaga kecil Wanua Ranja yang selanjutnya terus bergerak ke arah Utara.
Menjelang sore hari, mereka telah sampai di tempat yang dimaksudkan oleh Panji Tejo Laksono. Kedatangan mereka langsung di sambut hangat oleh Senopati Muda Jarasanda. Meski bingung dengan cara yang digunakan oleh Panji Tejo Laksono untuk meminta bantuan kepada pihak Istana Lodaya, namun bagi Senopati Muda Jarasanda itu bukan lagi masalah. Yang paling penting, kini mereka memiliki jumlah prajurit yang seimbang dengan jumlah prajurit Jenggala.
Di benteng pertahanan Panjalu yang baru separuh selesai ini, Panji Tejo Laksono juga hadir setelah kedatangan para prajurit Lodaya. Kali ini, dia ditemani oleh Luh Jingga dan Dyah Kirana. Gayatri dan Song Zhao Meng di tugaskan untuk menjaga Istana Kadipaten Seloageng bersama dengan Ayu Ratna selama peperangan akan berlangsung. Kejadian tempo hari menjadi salah satu alasan Panji Tejo Laksono menempatkan Gayatri dan Song Zhao Meng yang memiliki kemampuan beladiri tinggi untuk menjaga Istana Kadipaten Seloageng selama dia tidak ada di sana.
Setelah malam hari tiba, semua Perwira yang ada di tempat itu, di kumpulkan oleh Panji Tejo Laksono untuk membicarakan siasat perang yang di persiapkan untuk menghadapi pasukan Jenggala.
__ADS_1
Di salah satu bangunan yang masih belum punya atap, yang sepertinya akan di jadikan balai utama benteng pertahanan ini, mereka berkumpul dengan duduk bersila membentuk lingkaran. Ini merupakan sebuah penghargaan dari Panji Tejo Laksono yang memandang semua orang yang hadir di tempat itu punya derajat yang sama.
Senopati Muda Jarasanda, Demung Gumbreg, Tumenggung Ludaka, Tumenggung Raditya dari Karang Anom, Tumenggung Manahil dari Gelang-gelang dan Tumenggung Gilingwesi dari Kadipaten Singhapura mewakili prajurit Panjalu. Sedangkan Tumenggung Pandu dan Ki Juru Mpu Krepa mewakili para prajurit Tanah Perdikan Lodaya.
Setelah semuanya berkumpul, Panji Tejo Laksono segera membuka pembicaraan.
"Para perwira prajurit Panjalu dan Lodaya, tadi aku sudah mendengar dari laporan telik sandi yang terbaru tentang adanya kemungkinan para prajurit Jenggala akan melewati Kali Aksa dari Pakuwon Weling. Kita akan menghadang mereka di Kali Aksa ini.
Apakah kalian punya pemikiran tentang siasat perang apa yang sebaiknya kita gunakan?", Panji Tejo Laksono mengedarkan pandangannya ke seluruh perwira tinggi prajurit yang hadir di tempat itu.
"Mohon ampun Gusti Pangeran..
Bagaimana kalau kita menggunakan taktik yang pernah di pakai oleh Gusti Prabu Jayengrana waktu menghancurkan para prajurit Jenggala waktu pertempuran besar dulu? Sepertinya taktik ini masih bisa di gunakan sekarang", ujar Tumenggung Ludaka sambil menghormat pada Panji Tejo Laksono.
"Coba kau jelaskan Paman Ludaka.."
Tumenggung Ludaka langsung menceritakan tentang kisah nyata yang terjadi di Kali Aksa bersama Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana sewaktu mereka menghadapi para prajurit Jenggala. Demung Gumbreg sesekali menyela pembicaraan dengan menambahkan sedikit cerita nya. Senopati Muda Jarasanda yang juga turut andil dalam pertempuran besar itu, ikut menambah wawasan Panji Tejo Laksono. Bagaimanapun juga, pengalaman mereka bertiga di medan laga adalah guru berharga yang bisa digunakan untuk menghadapi para prajurit Jenggala.
Hemmmmmmm..
"Kalau begitu, kita bisa menggunakan taktik perang yang di gunakan oleh Kanjeng Romo Prabu Jayengrana itu, para perwira sekalian. Namun kita juga harus menyiapkan rencana cadangan apabila mereka tidak masuk ke dalam perangkap yang kita siapkan.
Bagaimana menurut kalian?", tanya Panji Tejo Laksono seraya mengedarkan pandangannya. Satu persatu mulai menyampaikan pendapat nya. Rata-rata mereka menyetujui dengan siasat perang yang di kemukakan oleh Tumenggung Ludaka. Panji Tejo Laksono pun di tunjuk sebagai pimpinan utama Pasukan Panjalu oleh Senopati Muda Jarasanda, karena dalam satu pasukan hanya boleh ada satu pimpinan. Para perwira tinggi prajurit yang hadir langsung menyetujui usulan tersebut.
Malam itu juga, Panji Tejo Laksono langsung membagi tugas diantara mereka.
Tumenggung Pandu dan Ki Juru Mpu Krepa di tugaskan untuk mempersiapkan diri di sisi selatan yang dekat dengan Sungai Brantas sebagai pasukan kejutan yang akan menyerang paling akhir. Tumenggung Ludaka mengatur para prajurit pemanah untuk membuat pos pos perlindungan di pepohonan tinggi di sekitar tepi Kali Aksa. Demung Gumbreg dan Tumenggung Manahil dari Gelang-gelang di tugaskan untuk membuat jebakan yang di pasang sepanjang tebing di pinggiran Kali Aksa. Tumenggung Raditya dari Karang Anom di tugaskan untuk membangun sebuah bendungan dari kayu di hulu Kali Aksa. Sedangkan Tumenggung Gilingwesi dari Kadipaten Singhapura di tugaskan untuk membantu Senopati Muda Jarasanda untuk segera menyelesaikan pembangunan benteng pertahanan Panjalu. Mereka harus secepatnya bekerja karena Pasukan Jenggala sudah mulai bergerak.
Tiga hari sudah mereka bekerja keras untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh Panji Tejo Laksono. Tumenggung Raditya dari Karang Anom berhasil membuat sebuah bendungan dari kayu hingga ketinggian air di Kali Aksa tinggal setengah dengkul. Para prajurit pemanah juga sudah bersiap-siap di tempat persembunyian mereka di pepohonan tinggi sesuai dengan arahan Tumenggung Ludaka. Demung Gumbreg dan Tumenggung Manahil dari Gelang-gelang juga sudah membuat puluhan jebakan di sepanjang jalan menuju ke arah Pakuwon Bedander juga menata puluhan kayu gelondongan besar dan batu-batu besar di beberapa titik penting di tebing Kali Aksa. Pembangunan benteng pertahanan Panjalu juga sudah di rampungkan dengan cepat. Panji Tejo Laksono yang mengawasi pekerjaan mereka, tersenyum puas melihat itu semua.
Pada hari keempat, saat matahari sepenggal naik ke langit timur, seorang prajurit pemanah yang bersembunyi di salah satu pohon besar yang ada di tepi Kali Aksa melihat ribuan orang prajurit Jenggala bergerak dari arah timur. Dengan cepat, dia menyambar sebuah terompet tanduk kerbau yang di gantung di tempat nya bersembunyi.
Thhhuuuuuuuuuuuuutttthhh..!!
Bunyi terompet tanduk kerbau itu langsung membuat semua orang terkejut. Panji Tejo Laksono yang baru selesai sarapan pagi bersama dengan Luh Jingga dan Dyah Kirana, segera bergegas keluar dari dalam bangunan tempat peristirahatannya. Di luar, Senopati Muda Jarasanda dan beberapa orang perwira tinggi prajurit Panjalu juga terlihat bersiap. Sembari menghela nafas panjang, Panji Tejo Laksono langsung berkata kepada para perwira tinggi prajurit Panjalu.
"Saatnya telah tiba..."
__ADS_1