Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Menuju ke Kota Kalingga


__ADS_3

Melihat Ki Ranggu yang merupakan paman dari pihak ibunya terluka dalam parah dan sempoyongan berusaha keras untuk berdiri, Wangsa segera melesat cepat ke hadapan Panji Tejo Laksono. Segera pemuda berbadan kekar itu berlutut dan menyembah pada Panji Tejo Laksono.


"Mohon ampuni nyawa paman hamba, Gusti Pangeran", ujar Wangsa segera. Mendengar perkataan itu, Panji Tejo Laksono menatap ke arah lelaki muda yang kini berlutut dihadapan nya.


"Dari awal aku memang tidak ingin membunuh paman mu, Kisanak..


Dia sendiri yang ingin menjajal kemampuan ku karena punya prasangka buruk. Sudahlah, aku mengampuni dia. Sekarang bawalah pergi paman mu, dan obati luka dalam nya", ujar Panji Tejo Laksono sembari menyarungkan kembali Pedang Naga Api. Hawa panas yang keluar dari bilah pedang berwarna merah itu, langsung sirna begitu Pedang Naga Api tersarung rapi di tempatnya. Semua orang segera menarik napas lega.


"Terimakasih atas kebesaran hati paduka, Gusti Pangeran. Kalau begitu hamba mohon undur diri", Wangsa segera menyembah pada Panji Tejo Laksono dan bergegas menuju ke Ki Ranggu yang tak berdaya di tanah. Segera Wangsa memapah Ki Ranggu dan berjalan meninggalkan tempat itu. Sambil berjalan sempoyongan di papah Wangsa, Ki Ranggu sempat menatap sebentar ke arah Panji Tejo Laksono sebelum mereka menghilang di balik tikungan jalan raya Kota Rajapura.


Setelah Wangsa dan Ki Ranggu pergi, Bawor dan Ki Nomo langsung bergegas mendekati Panji Tejo Laksono. Keduanya segera berjongkok dan menyembah pada sang pangeran muda dari Kadiri itu.


"Mohon ampuni kami karena sudah membawa masalah untuk Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono.


Jujur saja, Gusti Pangeran adalah idola hamba jadi hamba tidak terima dengan ucapan Ki Ranggu yang sempat merendahkan martabat Gusti Pangeran", ujar Bawor sambil menyembah pada Panji Tejo Laksono.


"Kalian tidak bersalah. Kalian hanya melakukan apa yang seharusnya kalian lakukan.


Sekarang ikutlah aku ke dalam Istana Rajapura. Akan ku jamu kalian pertanda bahwa kita tidak ada permasalahan", ujar Panji Tejo Laksono yang membuat Ki Nomo dan Bawor menghormat pada Panji Tejo Laksono sembari berkata, " Sendiko dawuh Gusti Pangeran".


Diiringi oleh Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Rajegwesi, Panji Tejo Laksono mengajak Ki Nomo dan Bawor ke dalam istana Kadipaten Rajapura. Siang itu mereka yang masih tidak percaya akan mendapat kesempatan untuk dekat dengan Panji Tejo Laksono yang menjadi buah bibir masyarakat, begitu menikmati kebersamaan dengan idola baru masyarakat Rajapura.


Hampir satu purnama sudah Panji Tejo Laksono dan keempat calon istri nya membangun kembali Rajapura yang sempat porak poranda akibat adanya perang. Hari itu, Panji Tejo Laksono menerima nawala dari Prabu Jayengrana tentang pengangkatan pimpinan baru di Kadipaten Rajapura. Bersamaan dengan kedatangan surat itu, serombongan orang ikut memasuki istana Rajapura.


Dia adalah Ghanarbhaya, saudara jauh Dewi Anggarawati yang selama ini tinggal di Saunggalah mengikuti langkah sang istri yang merupakan salah satu putri dari Guru Resi Indrayana di Saunggalah. Pria bertubuh kekar dengan kumis tebal dan rambut gimbal ini begitu gagah dengan pakaian mewah nya yang bersulam benang emas. Atas permintaan Prabu Jayengrana, Ghanarbhaya bersedia untuk diangkat menjadi Adipati Rajapura, sebuah wilayah terkecil yang terletak di ujung barat Panjalu. Juga sang istri, Nyi Nilawati turut mengikuti rombongan Ghanarbhaya memasuki istana Rajapura.


Sebelumnya Ghanarbhaya dan keluarganya tinggal di Kedewaguruan Lungi yang ada di timur wilayah Saunggalah. Mereka hidup sederhana layaknya seorang pertapa tanpa memikirkan keduniawian. Ghanarbhaya menjadi petani yang bercocok tanam di ladang, dibantu oleh istrinya Nyi Nilawati sedangkan kedua orang anaknya belajar ilmu keagamaan pada ayah mertua nya, Dewa Resi Indrayana, seorang resi yang sangat di segani di wilayah Saunggalah dan sekitarnya.


Bersamaan dengan kedatangan Ghanarbhaya, seorang perempuan cantik yang masih berusia belasan tahun juga ikut hadir dalam rombongan itu. Tubuhnya ramping, bibirnya nampak merah tanpa pewarna, rambutnya panjang dan hidungnya mancung. Kulitnya yang kuning langsat menjadi tanda khas bahwa dia adalah seorang perempuan cantik keturunan Tanah Pasundan.


Dia adalah Dewi Wardhani, putri kedua Ghanarbhaya dengan Nyi Nilawati. Bersama sang kakak, Ranuseta, dia meninggalkan Kedewaguruan Lungi untuk mengikuti langkah sang ayah yang diangkat menjadi Adipati Rajapura menggantikan Adipati Waramukti.


Begitu sampai di Pendopo Agung Kadipaten Rajapura yang baru saja selesai di bangun, Ghanarbhaya segera menghormat pada Panji Tejo Laksono, Mapanji Jayagiri, Ayu Ratna dan Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari yang memang merupakan kerabat dekat Istana Kotaraja Daha. Para anggota keluarga nya seperti Nyi Nilawati, Ranuseta dan Dewi Wardhani juga segera ikut melakukan hal yang sama. Mereka segera duduk bersila di lantai Pendopo Agung Kadipaten Rajapura.

__ADS_1


Para punggawa istana Panjalu yang ada di tempat itu seperti Tumenggung Ludaka, Tumenggung Rajegwesi, Tumenggung Sindupraja dan Demung Gumbreg juga turut hadir di dalam ruangan itu. Setelah kedatangan Ghanarbhaya dan keluarganya, Tumenggung Sindupraja segera mengulurkan surat dari Prabu Jayengrana pada Panji Tejo Laksono. Segera Panji Tejo Laksono membuka kantong kain berwarna merah dan mengambil sebuah nawala dari daun lontar di dalamnya.


"Dengarkan semuanya. Ini adalah titah dari Ayahanda Prabu Jayengrana..."


Mendengar perkataan Panji Tejo Laksono, semua orang segera berjongkok dan menyembah ke arah Panji Tejo Laksono.


"Aku Maharaja Panjalu Prabu Jitendrakara Parakrama Bhakta,


Menganugerahkan kepada Ghanarbhaya,


Jabatan Adipati Rajapura dan seluruh daerah kekuasaan nya,


Untuk di bangun dan di makmurkan,


Sesuai dengan keinginan ku"


Setelah membaca Nawala itu, Panji Tejo Laksono segera memasukkan kembali ke dalam kantong kain berwarna merah dan memberikannya kepada Ghanarbhaya yang selanjutnya akan menjadi penguasa Kadipaten Rajapura. Dengan penuh hormat, Ghanarbhaya menerima nawala itu dengan kedua tangan nya. Selanjutnya Panji Tejo Laksono memahkotai Ghanarbhaya atas nama Prabu Jayengrana sebagai tanda penobatan nya sebagai Adipati Rajapura.


Siang itu juga, Ghanarbhaya resmi menjadi penguasa Kadipaten Rajapura.


Panji Tejo Laksono sedang duduk di serambi kediaman nya sementara di balai tamu kehormatan Kadipaten Rajapura bersama dengan Luh Jingga dan Gayatri saat Dewi Wardhani datang menghampiri nya. Hari ini adalah hari terakhir mereka tinggal di Rajapura karena keesokan harinya mereka akan menuju ke arah Kalingga.


"Permisi Kangmas Pangeran..


Maaf jika aku mengganggu waktu istirahat mu", ucapan halus Dewi Wardhani langsung membuat mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara. Dewi Wardhani datang bersama dengan 4 orang dayang istana yang masing-masing membawa nampan berisi aneka macam makanan.


"Nimas Wardhani..


Kenapa kau repot-repot seperti ini? Semua kebutuhan ku sudah di cukupi oleh Gayatri dan Luh Jingga", ujar Panji Tejo Laksono sembari berdiri dari tempat duduknya.


"Ah Kangmas Pangeran..


Ini hanya wujud terimakasih ku kepada Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono yang sudah menerima keberadaan Kanjeng Romo Adipati Ghanarbhaya. Ini bukan apa-apa", ujar Dewi Wardhani sembari tersenyum manis seraya menurunkan piring piring makanan ke hadapan Panji Tejo Laksono, Luh Jingga dan Gayatri.

__ADS_1


Mata Gayatri terlihat seperti seekor macan hendak menerkam mangsanya. Dia tahu bahwa gadis cantik di hadapan mereka ini sedang berupaya untuk menarik perhatian Panji Tejo Laksono.


Sembari menyebikkan bibirnya, dia menyikut pinggang Luh Jingga yang duduk di sebelah nya. Dengan isyarat kepala halus, dia berbisik pada Luh Jingga.


"Cari perhatian dia Luh", bisik perlahan Gayatri.


"Biarkan saja, Gayatri. Kalau dia berani macam-macam, Ayu Ratna yang akan mengatasinya", balas Luh Jingga lirih. Dua perempuan cantik itu segera melirik kearah Dewi Wardhani dan Panji Tejo Laksono yang masih berbincang.


"Silahkan di nikmati, Kangmas Pangeran. Aku permisi dulu, ada yang harus ku kerjakan. Maklumlah, aku terbiasa hidup sederhana di Kedewaguruan Lungi, belum bisa menyesuaikan diri dengan tata krama di Istana Kadipaten Rajapura seperti ini", Dewi Wardhani pun segera undur diri setelah menganggukkan kepalanya pada Panji Tejo Laksono.


Setelah Dewi Wardhani dan para dayang istana menghilang dari pandangan, Panji Tejo Laksono yang masih memandangi kepergian nya bergumam lirih, " Ah masih muda, cantik pula".


"Gusti Pangeran bilang apa?!"


Suara sengit Gayatri langsung menyadarkan Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda dari Kadiri itu segera menoleh ke arah Gayatri dan Luh Jingga yang mendelik kereng pada nya. Itu segera membuat Panji Tejo Laksono sadar bahwa ia baru saja melakukan kesalahan besar yang sering di lakukan oleh para lelaki yaitu dilarang memuji perempuan lain di depan pasangan.


"Eh bukan begitu maksud ku, Gayatri..


Aku hanya melihat dia sebagai seorang putri istana yang mau mengantar makanan. Itu saja tidak lebih", ujar Panji Tejo Laksono segera.


"Jangan bohong.. Gusti Pangeran pasti kepincut dengan kecantikan nya bukan? Hayo mengaku saja..


Ingat Gusti Pangeran, sekarang ini Gusti Pangeran sudah punya 4 orang calon istri. Apa itu masih kurang?", Gayatri terus menumpahkan segala unek-uneknya.


"Sudah cukup, aku tidak mau tambah lagi. Maafkan aku ya Gayatri, Luh Jingga.. Aku tadi hanya memuji nya, bukan menyukainya", Panji Tejo Laksono kelimpungan mencari alasan.


"Awas saja jika Gusti Pangeran berani untuk menyukai perempuan itu.


Luh Jingga, ayo ikut. Kita laporkan hal ini pada Ayu Ratna dan Wulandari. Biar mereka juga waspada dengan perempuan itu", Gayatri segera bangkit dari tempat duduknya dan menggelandang tangan Luh Jingga yang terpaksa menuruti keinginan putri Tumenggung Sindupraja itu. Mereka meninggalkan serambi balai tamu kehormatan ke arah samping dimana itu merupakan tempat istirahat Ayu Ratna dan Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari.


Panji Tejo Laksono langsung menepuk jidatnya sendiri.


'Kalau begini, urusannya pasti runyam. Hah kenapa aku harus memuji Wardhani di depan mereka?'

__ADS_1


Hari terus berlalu. Siang dengan cepat di gantikan oleh malam dan sang malam pun terusir dengan datangnya pagi. Keesokan paginya, rombongan pasukan Panji Tejo Laksono bergerak meninggalkan Kota Rajapura. Adipati Ghanarbhaya dan keluarganya melepas kepergian mereka di tapal batas Kota Rajapura. Debu-debu jalanan beterbangan mengiringi langkah kaki kuda mereka menembus jalan raya. Meski mendung kelabu berarak di atas langit, namun itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk sampai di tempat tujuan,


Yaitu Kota Kadipaten Kalingga.


__ADS_2