Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Wanita Berambut Api


__ADS_3

Nyi Kembang Sore segera kibaskan kedua tangan nya. Tubuh perempuan cantik berbadan sintal itu langsung melesat cepat bagaikan terbang menembus langit-langit Istana Perut Bumi, meninggalkan Raksijana yang masih terkapar dengan tangan kiri yang hancur berantakan setelah beradu ilmu kesaktian dengan Panji Tejo Laksono. Sebagai penguasa Istana Perut Bumi, salah satu dari sekian banyak kerajaan siluman di Tanah Jawadwipa, Nyi Kembang Sore memang memiliki kemampuan untuk keluar masuk tempat itu sesuka hatinya. Hingga tak mengherankan jika dia bisa melintas di tempat itu layaknya bergerak di tempat biasa.


Ki Jatmika dan Song Zhao Meng yang sedang menunggu kedatangan Panji Tejo Laksono, langsung menarik nafas lega setelah melihat sang pangeran muda ini datang dengan menggendong tubuh Dyah Kirana. Mereka segera menyambut kedatangan Panji Tejo Laksono dengan antusias.


"Kau baik-baik saja Kakang?", tanya Song Zhao Meng yang tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Masuknya Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana ke Istana Perut Bumi memang sangat membuat nya khawatir.


"Jangan senang dulu, Wulan..


Perempuan itu masih belum membiarkan kita tenang sekarang", ujar Panji Tejo Laksono sambil melirik ke arah belakangnya.


Dan benar saja, begitu Panji Tejo Laksono menurunkan tubuh Dyah Kirana dari gendongan nya, tak jauh dari tempat mereka berada, Nyi Kembang Sore pun muncul di sana. Perempuan cantik itu segera menyeringai tipis dan menatap ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya dengan penuh nafsu membunuh.


"Jangan kira kau bisa kabur begitu saja setelah mengobrak-abrik seisi Istana Perut Bumi, hai pendekar tampan!


Kau harus bertanggung jawab atas segala hal yang sudah kau lakukan padaku", teriak Nyi Kembang Sore lantang.


Panji Tejo Laksono segera berbalik badan dan menatap ke arah Nyi Kembang Sore. Song Zhao Meng yang ingin berbicara, langsung mengurungkan niatnya setelah melihat gerakan tangan kiri Panji Tejo Laksono yang memintanya untuk diam saja.


"Nyi Kembang Sore...


Kau sendiri yang mencari gara-gara dengan kami, tapi masih saja menyalahkan kami karena ulah mu sendiri. Maaf, aku tidak bisa menuruti keinginan mu", ujar Panji Tejo Laksono tegas.


"Kalau begitu, aku akan memaksa mu, pendekar tampan!!"


Setelah berkata demikian, Nyi Kembang Sore segera kibaskan tangan kanannya ke arah Panji Tejo Laksono. Serangkum angin dingin berdesir kencang mengikuti gerakan tangan perempuan cantik itu. Selarik cahaya hijau terang menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya.


Melihat itu, Panji Tejo Laksono langsung menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah menyala seperti api yang berkobar, memapak serangan Nyi Kembang Sore.


"Tapak Dewa Api...


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat!!!"


Whhuuusshhh..


Blllaaammmmmmmm!!


Mata Nyi Kembang Sore membeliak lebar melihat serangannya yang sudah menggunakan separuh tenaga dalam nya dengan mudah dapat di tahan oleh Panji Tejo Laksono. Perempuan cantik bertubuh sintal itu mendengus keras lalu kembali mengibaskan tangannya. Kali ini dia mengibaskan kedua tangan nya berturut-turut ke arah Panji Tejo Laksono.


Whhuuuuuuuggggh whuuthhh...


Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!!


Kembali Panji Tejo Laksono menahan serangan cepat Nyi Kembang Sore dengan Ajian Tapak Dewa Api milik nya. Usai ledakan dahsyat itu terjadi, Nyi Kembang Sore yang dilanda murka, langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari layangkan hantaman keras ke arah kepala sang pangeran.

__ADS_1


Brreeeeettttthhh!!


Panji Tejo Laksono langsung berkelit lincah menghindari serangan Nyi Kembang Sore. Secepat mungkin, perempuan cantik itu terus memburu Panji Tejo Laksono dengan serangan cepat tangan kosong yang mematikan. Namun Panji Tejo Laksono yang menguasai ilmu silat Padepokan Padas Putih dengan sempurna, tanpa kesulitan berkelit dan menghindari serangan cepat Nyi Kembang Sore.


Whhhuuutthh whhhuuutthh..


Plllaaaakkkkk plllaaaakkkkk..


Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh!!


Keduanya terus beradu kepandaian ilmu beladiri yang mereka miliki. Namun nampaknya, ilmu silat tangan kosong milik Panji Tejo Laksono lebih unggul dibandingkan dengan ilmu Nyi Kembang Sore. Ini terbukti dari beberapa kali sang pangeran muda dari Kadiri itu berhasil mendaratkan pukulan dan tendangan keras kearah tubuh Nyi Kembang Sore sedangkan perempuan cantik itu baru sekali berhasil memukul bahu Panji Tejo Laksono meskipun tidak terlalu keras.


20 puluh jurus berlalu dengan cepat..


Dhasshhh dhasshhh!!


Auuuggghhhhh....!!!


Nyi Kembang Sore nyaris terjungkal ke depan andai saja dia tidak cepat merubah gerakan tubuhnya. Dua tendangan keras beruntun dari kaki kanan Panji Tejo Laksono menghajar punggungnya dan membuat perempuan cantik itu segera mengambil jarak yang cukup jauh dari tempat Panji Tejo Laksono berdiri.


Ada darah segar yang meleleh di sudut kiri bibir Nyi Kembang Sore. Perempuan cantik itu murka karena itu semua. Semua perasaan terlunta-lunta saat di kejar Akuwu Tumapel kala itu, seketika terbayang di pelupuk matanya. Dia menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono tajam. Tak ada lagi raut wajah kagum pada sorot matanya, tapi lebih pada keinginan untuk membunuh sang pangeran muda dari Kadiri ini.


"Bajingan busuk!!


Tiba-tiba cahaya merah berselimut api menjalar cepat pada jari jemari tangan Nyi Kembang Sore yang bergerak menuju ke arah rambut. Rambut panjang perempuan cantik itu seketika di liputi oleh cahaya merah menyala berhawa panas berselimut api yang berkobar menyala-nyala. Rupanya, Nyi Kembang Sore ingin mengadu nyawa dengan Panji Tejo Laksono dengan mengeluarkan ilmu pamungkas nya, Ajian Ilu-ilu Banaspati.


Bersamaan dengan rambut yang panjang itu berubah menjadi nyala api yang berkobar, manik mata Nyi Kembang Sore pun berubah menjadi merah. Selanjutnya seluruh tubuh Nyi Kembang Sore berubah menjadi seorang makhluk menyeramkan yang tubuhnya di liputi oleh cahaya merah dan api yang menyala-nyala. Begitu ajian ini sampai tahap puncak, tubuh Nyi Kembang Sore yang terbungkus oleh api ini segera melayang di udara.


Tak mau kalah, Panji Tejo Laksono segera merapal mantra Ajian Brajamusti nya bersamaan dengan Ajian Tameng Waja. Cahaya putih kebiruan berpendar menyilaukan mata muncul di tangan kiri, sedangkan seluruh tubuh Panji Tejo Laksono diliputi oleh cahaya kuning keemasan.


"Kau beruntung bisa membuat ku sampai harus berubah wujud seperti ini, Pendekar Tampan.


Tapi ini adalah kali terakhir kau akan menghirup udara segar. Bersiaplah untuk menerima ajal mu!!!"


Usai berkata demikian, Nyi Kembang Sore segera kibaskan rambut panjangnya yang berwarna merah menyala berhawa panas menyengat kearah Panji Tejo Laksono. Ujung rambut itu patah dan seolah memiliki nyawa lalu melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono segera. Ini seperti serangan ribuan jarum api yang bisa membuat seekor nyamuk pun sulit untuk menghindar.


Whhuuuuuuuggggh!!


Thhraaaangggggggg thhraaaangggggggg!!


Saat jarum rambut api ini menyentuh kulit sang pangeran muda, mereka seperti membentur lempengan logam keras layaknya lembaran besi baja. Jarum-jarum api itu bermentalan tak mampu menembus kulit Panji Tejo Laksono.


Nyi Kembang Sore mendengus keras. Lalu secepat kilat, dia kembali kibaskan rambut apinya kearah Panji Tejo Laksono. Rambut ini tidak putus, malah memanjang dengan cepat dan segera membelit seluruh tubuh Panji Tejo Laksono dengan cepat. Meski tidak melukai tubuh nya, namun belitan rambut api Nyi Kembang Sore cukup merepotkan bagi Panji Tejo Laksono karena ia mencekik lehernya.

__ADS_1


Dengan sedikit susah, Panji Tejo Laksono lemparkan Keris Nagasasra ke udara.


Chhrrrraaaaaassss thrraaassshhh!


Keris pusaka itu segera memotong rambut api Nyi Kembang Sore yang mengakibatkan tangan kanan Panji Tejo Laksono bebas bergerak. Segera Panji Tejo Laksono menyambar gagang Keris Nagasasra dan dengan sepenuh tenaga, dia membabatkan keris pusaka itu kearah rambut api Nyi Kembang Sore.


Whhhuuutthh whhhuuutthh..


Thhrraaaaassssssh!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Jeritan keras terdengar dari mulut Nyi Kembang Sore saat Panji Tejo Laksono memotong rambut api nya. Sadar bahwa ini adalah titik kelemahan lawan, Panji Tejo Laksono langsung mengamuk mengayunkan Keris Nagasasra ke arah rambut berwarna merah menyala ini.


Nyi Kembang Sore yang berwujud makhluk menyeramkan berselubung api terus menjerit keras saat helai demi helai rambut nya terpotong oleh Keris Nagasasra. Setelah rambut api itu terpotong, seketika ia kembali ke wujud semula yaitu hitam legam.


Hanya dalam waktu singkat, rambut api panjang milik Nyi Kembang Sore telah berubah menjadi pendek. Perempuan berwujud banaspati itu langsung melayang mundur beberapa tombak ke belakang sembari meringis menahan rasa sakit. Sementara Panji Tejo Laksono tersenyum lebar menatap ke arah sosok Nyi Kembang Sore yang berambut pendek.


"Kurang ajar!!


Akan ku bakar tubuh mu sampai menjadi abu!!", teriak Nyi Kembang Sore sembari mengerahkan seluruh tenaga dalam nya. Api dari tubuhnya terus membesar dan semakin membesar. Panji Tejo Laksono tercekat juga saat melihat itu semua.


Hemmmmmmm


'Aku tidak boleh setengah-setengah kali ini. Akan ku kerahkan seluruh tenaga dalam ku. Perempuan itu tidak boleh dibiarkan begitu saja', batin Panji Tejo Laksono.


Cahaya putih kebiruan di tangan kirinya semakin membesar sedangkan Keris Nagasasra di tangan kanannya dia pegang erat-erat sebelum melesat cepat kearah api yang berkobar di sekeliling tubuh Nyi Kembang Sore. Panji Tejo Laksono menggunakan Keris Nagasasra untuk menembus kobaran api siluman itu.


Begitu sampai di depan Nyi Kembang Sore, sang pangeran muda langsung menghantamkan tapak tangan kiri nya ke arah dada Nyi Kembang Sore yang berwujud banaspati itu.


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...!!!


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan dahsyat terdengar saat Ajian Brajamusti menghantam dada banaspati penjelmaan dari Nyi Kembang Sore. Bagaimanapun juga, Ajian Brajamusti adalah ajian pamungkas kanuragan yang juga mampu menghancurkan segala macam dedemit dan siluman. Tubuh banaspati itu langsung meledak dan hancur lebur menjadi abu. Udara yang sempat panas seketika mendingin bersamaan dengan tewasnya Nyi Kembang Sore dalam wujud banaspati.


Panji Tejo Laksono langsung menghela nafas panjang usai menghentikan perlawanan dari Nyi Kembang Sore. Meskipun dia tidak ingin membunuh perempuan cantik itu, namun tindakan nya yang sudah di luar batas benar-benar tidak bisa di maafkan.


Bersamaan dengan itu, Dyah Kirana siuman dari pingsannya. Setelah itu, mereka berempat pun segera meninggalkan tempat itu menuju ke arah selatan dimana Pertapaan Gunung Mahameru berada.


Tak lama setelah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya pergi, dari sisa-sisa tubuh Nyi Kembang Sore yang terbakar, tiba-tiba saja muncul sebuah tangan berlumuran darah. Perlahan wujud dari pemilik tangan kanan itu terlihat seiring keluarnya dia dari dalam kobaran api. Sesosok makhluk mengerikan berwarna merah darah dengan mata bersinar merah menyala menatap tajam ke arah perginya Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan.


"Suatu hari nanti, dendam ini akan ku balas!!

__ADS_1


Kau tunggu saja, pendekar tampan!!"


__ADS_2