Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Penginapan Musim Semi


__ADS_3

Huang Lung menatap ke arah pemuda berbaju tanpa lengan itu dengan pandangan kasihan.


"Wang Xin Fei,


Aku bukan pembunuh guru mu. Sudah ku katakan bahwa aku menemukan guru mu sudah tewas terkena jarum beracun saat aku menemukan nya. Kau tahu aku bukan pengguna racun, jadi darimana aku bisa meracuni guru mu?", tegas Huang Lung yang terlihat tak mau kalah.


"Dasar bedebah!


Pintar sekali mulut mu bersilat lidah. Sekali pembunuh tetap saja pembunuh. Hutang nyawa guru ku harus kau bayar lunas hari ini!", Wang Xin Fei menggerendeng marah, lalu kembali melesat cepat kearah Zhou Huang Lung sembari menebaskan golok besar nya. Serangkum angin dingin berdesir mengikuti tebasan golok besar Wang Xin Fei.


Whhuuuuuuuggggh !


Huang Lung langsung menjejak tanah. Tubuhnya seperti kapas terbawa angin, dengan ringan nya melenting tinggi ke udara menghindari tebasan golok besar Wang Xin Fei.


Bruuuuaaaakkkkhhh !


Satu lagi meja makan hancur berantakan setelah hawa golok besar itu mengenainya. Melihat serangan nya dengan mudah dihindari, Wang Xin Fei langsung memutar tubuhnya dan memburu Huang Lung dengan serangan nya yang mematikan. Dengan gerakan lincah, Huang Lung terus bergerak menangkis tebasan golok besar Wang Xin Fei.


Thhraaaangggggggg !


Thrrraaannnnggggg !


Dua sabetan beruntun golok besar itu di patahkan dengan mudah oleh pedang tipis Huang Lung. Melihat itu, Wang Xin Fei langsung menghantamkan tinju tangan kiri nya yang besar ke arah dada Huang Lung. Pukulan keras yang mengandung tenaga qi itu segera di tahan Huang Lung dengan tapak tangan kiri nya yang juga di lambari tenaga qi.


Blllaaaaaarrr !


Wang Xin Fei terdorong mundur hingga menabrak tiang rumah makan. Seteguk darah segar muncrat keluar dari mulutnya. Begitu juga dengan Huang Lung. Keadaan pemuda berbaju putih itu juga tidak kalah buruknya. Baju putih nya sebagian terkena muntahan darah nya.


Saat Wang Xin Fei sudah kembali tegak berdiri sembari meremas dada nya yang terasa sesak, pemuda bertubuh kekar itu segera melompat ke arah Huang Lung yang juga baru berdiri.


Panji Tejo Laksono terus menonton semua yang terjadi tanpa bergeming sedikitpun dari tempatnya duduk.


Saat keduanya hendak beradu tenaga qi lagi, sebuah bayangan berkelebat cepat kearah pertarungan mereka. Menggunakan tangan yang di lambari tenaga qi dengan warna kuning terang, si bayangan hitam itu segera menghantam kedua orang pemuda itu.


Blllaaaaaarrr !


Huang Lung dan Wang Xin Fei terpental ke arah yang berlawanan dan menghantam lantai rumah makan "Penginapan Musim Semi" dengan keras.


Seorang lelaki paruh baya bercaping dengan tirai tipis yang hampir membuat wajahnya tak terlihat jelas menyeringai lebar menatap ke arah dua orang yang terkapar tak berdaya di lantai rumah makan Penginapan Musim Semi.


"Tikus tikus bodoh!


Melawan kalian hanya mengotori tangan ku saja. Saatnya kalian menyusul Si Golok Tua ke neraka!"


Si lelaki bercaping bambu itu langsung melesat cepat kearah Wang Xin Fei yang masih tergeletak tak berdaya di lantai rumah makan sembari melemparkan sejumlah paku berwarna hitam ke arah Huang Lung.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg !


Dua paku hitam melesat cepat kearah Huang Lung yang terlihat lemah sembari membekap dadanya yang terasa seperti di hantam batu besar. Huang Lung berguling ke tanah menghindari serangan senjata rahasia itu.


Creephh creephh!


Dua paku hitam itu menancap di lantai rumah makan. Sebuah asap putih berhawa dingin yang membekukan keluar dari tempat paku menancap. Mata Huang Lung langsung melotot lebar melihat itu semua, "Racun Inti Es? Huo Tu.. Kau Huo Tu si Racun Barat?!"


"Luas juga pengetahuan mu, bocah! Ku urus kau setelah murid Si Golok Tua ini mampus hehehe"


Si lelaki bercaping bambu langsung mengayunkan cakar tangan nya ke arah Wang Xin Fei yang tak mampu lagi bergerak. Pemuda berbadan kekar itu hanya pasrah saja saat melihat 5 larik sinar hitam redup berhawa dingin melesat cepat ke arah nya.


Whhhhuuuuggghhh !

__ADS_1


'Guru, aku akan segera bertemu dengan mu di nirwana ', batin Wang Xin Fei sembari memejamkan mata.


Saat itu, Panji Tejo Laksono yang hanya diam sedari tadi langsung menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah menyala seperti kobaran api ke arah lima larik sinar hitam redup yang mengancam nyawa Wang Xin Fei sembari melompat dari lantai dua Penginapan Musim Semi. Rupanya jiwa pendekar nya tidak tahan melihat yang lemah akan terbunuh di depan mata nya.


Blllaaaaaammmmmm !!


Adu ilmu tenaga dalam terjadi mengakibatkan terjadinya ledakan keras. Huo Tu si Racun Barat terdorong mundur hampir 3 tombak ke belakang hingga nyaris terjengkang. Dari mulutnya darah segar mengalir keluar di sudut bibirnya pertanda luka dalam yang dia derita. Sementara itu Panji Tejo Laksono mendarat dengan sempurna di depan Wang Xin Fei setelah bersalto sekali di udara.


Sadar dengan kemampuan tinggi orang yang menolong Wang Xin Fei, Huo Tu langsung melemparkan dua paku hitam ke arah Panji Tejo Laksono.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg !


Panji Tejo Laksono langsung menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah menyala seperti api ke arah dua senjata beracun itu untuk menangkis serangan senjata rahasia Huo Tu karena Wang Xin Fei masih terduduk lemah di lantai.


Blllaaaaaarrr !


Dan itu di manfaatkan oleh Si Racun Barat itu untuk melarikan diri saat ledakan keras terdengar dari benturan Ajian Tapak Dewa Api dengan paku hitam beracun. Lelaki bercaping bambu itu segera melesat keluar dari dalam rumah makan Penginapan Musim Semi begitu ada kesempatan.


Panji Tejo Laksono tidak mengejar Huo Tu, tapi segera mendekati Wang Xin Fei yang masih setengah tak percaya bahwa nyawanya tertolong. Begitu Panji Tejo Laksono mendekat, dia segera berkata, " Terimakasih atas bantuan mu Tuan Muda".


Sang pangeran muda dari Panjalu itu tersenyum tipis.


"Hanya bantuan kecil, pendekar", jawab Panji Tejo Laksono dengan bahasa Tionghoa yang sedikit kaku. Selama perjalanan, selain membaca catatan yang di berikan oleh Saudagar Tang He, dia memang mengasah kemampuan bahasa Tionghoa nya pada Rakryan Purusoma hingga sedikit banyak dia bisa bicara dengan Orang Tionghoa.


Panji Tejo Laksono segera duduk bersila di belakang Wang Xin Fei, dan dengan cepat menyalurkan tenaga dalam nya setelah menotok beberapa titik nadi pendekar muda itu. Hawa hangat yang belum pernah di rasakan Wang Xin Fei, mengalir dari telapak tangan Panji Tejo Laksono pada punggungnya.


Wang Xin Fei muntah darah segar dua kali, namu setelah itu pernapasan nya menjadi lancar dan rasa sakit yang dirasakan jauh berkurang.


Huang Lung yang sedari tadi melihat, langsung mendekati Panji Tejo Laksono dan Wang Xin Fei. Jujur saja, dia sangat tertarik dengan kemampuan beladiri yang dimiliki oleh Panji Tejo Laksono terutama saat Panji Tejo Laksono mampu membuat Huo Tu, Si Racun Barat yang terkenal kejam dan suka membunuh orang seenaknya saja sampai harus kabur dari medan laga.


"Saudaraku, aku mengucapkan terima kasih atas pertolongan mu baru saja. Jika kau tidak menghentikan ulah Huo Tu baru saja, aku juga pasti akan di bunuh nya. Perkenalkan aku Huang Lung dari Perguruan Kun Lun.


Kalau boleh tau siapa pendekar muda ini?", Huang Lung menghormat pada Panji Tejo Laksono dengan cara khas pendekar Negeri Tiongkok.


"Thee Jo? Nama yang asing. Sepertinya kau bukan orang Suku Han ya ataupun orang dari Daratan Tengah ya pendekar?", kembali Huang Lung bertanya.


"Benar Pendekar Huang. Aku berasal dari sebuah Negeri di Laut Selatan", Panji Tejo Laksono segera berdiri dari duduknya.


Wang Xin Fei pun segera berdiri dan kembali ingin melanjutkan adu ilmu beladiri nya dengan Huang Lung, "Huang Lung, urusan kita belum selesai!".


"Saudaraku, sebaiknya kau tidak memaksakan diri untuk bertarung. Kau belum sepenuhnya pulih dari luka mu. Jadi kalau ingin mengadu kepandaian beladiri, di lain waktu saja", potong Panji Tejo Laksono sembari tersenyum.


"Saudara Thee Jo..


Aku Wang Xin Fei mengucapkan terima kasih atas bantuan mu, kebaikan hati mu suatu saat nanti aku pasti membalas nya. Namun hari ini Huang Lung harus membayar hutang nyawa guru ku, Si Golok Terbang dari Gunung Salju yang dia bunuh dengan cara licik", ujar Wang Xin Fei sembari menatap tajam ke arah Huang Lung.


"Harus berapa kali aku bilang pada mu, Xin Fei?


Bukan aku yang membunuh guru mu. Dia tewas terbunuh karena terkena Racun Inti Es, sama seperti yang di lepaskan oleh Si Racun Barat Huo Tu baru saja. Aku tidak menguasai ilmu racun sama sekali, jadi mana mungkin aku meracuni guru mu?


Aku menemukan Si Golok Terbang dari Gunung Salju sudah luka parah. Di dua bagian tubuh nya ada dua bekas luka yang menghitam karena racun. Saat terakhirnya dia berpesan agar aku berhati-hati dengan Huo Tu si Racun Barat lalu kau datang dan salah paham dengan apa yang kau lihat".


Wang Xin Fei terdiam mendengar perkataan Huang Lung. Cerita Huang Lung memang masuk akal karena dia juga melihat sendiri bekas luka beracun yang ada di tubuh guru nya. Luka menghitam akibat racun itu terlihat sudah beberapa hari karena ada bau busuk dan terasa dingin. Itu adalah tanda tanda keracunan Racun Inti Es yang merupakan racun andalan Perguruan Raja Racun yang ada di wilayah barat Kekaisaran Dinasti Song.


"Aku bersumpah atas nama guru ku, jika aku mencelakai Si Golok Terbang dari Gunung Salju, maka aku Huang Lung akan mati mengenaskan", imbuh Huang Lung.


"Pendekar Huang terlihat jujur, saudara Wang. Jika dia berasal dari perguruan racun, tentu saja dalihnya tidak bisa di percaya.


Mohon saudara Wang bisa mempertimbangkan ulang segala sesuatu nya dengan baik agar tidak menjadi penyesalan di kemudian hari ", timpal Panji Tejo Laksono.

__ADS_1


"Aku mengerti Pendekar Thee..


Aku akan memburu Huo Tu untuk mencari kebenaran nya. Aku mohon pamit, jaga diri mu baik baik ", Wang Xin Fei menghormat pada Panji Tejo Laksono sebelum meninggalkan tempat itu ke arah lari nya Huo Tu si Racun Barat.


Belum sempat Huang Lung melontarkan pertanyaan selanjutnya, sang pemilik Penginapan Musim Semi segera mendekati mereka berdua. Huang Lung pun akhirnya menanggung beban ganti rugi untuk kerusakan rumah makan Penginapan Musim Semi.


Para pengikut Panji Tejo Laksono yang mendengar keributan itu berhamburan mendekati Panji Tejo Laksono. Setelah memastikan bahwa majikan mereka baik baik saja, Tumenggung Ludaka memerintahkan kepada mereka untuk kembali ke tempat istirahat masing-masing. Hanya Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg dan Rakryan Purusoma saja yang di perbolehkan untuk ikut.


Selanjutnya Huang Lung mengajak Panji Tejo Laksono berbincang di tempat yang lain. Dari percakapan mereka, Huang Lung tahu bahwa mereka adalah duta besar dari negeri seberang lautan yang akan berangkat ke Kaifeng, ibukota Kekaisaran Dinasti Song.


"Kebetulan sekali Saudara Thee..


Aku ingin ke ibukota Kekaisaran. Jadi ijinkan aku bergabung dengan kelompok mu. Lagi pula kau memerlukan pemandu untuk bicara dengan para pejabat wilayah yang akan kita lewati. Kau tidak akan rugi jika aku bergabung di rombongan mu bukan?", Huang Lung tersenyum tipis.


"Aku tidak keberatan. Tapi aku juga harus meminta persetujuan dari Paman Purusoma karena dia adalah pemandu jalan dari negeri kami.


Paman Purusoma,


Apa paman tidak keberatan jika saudara Huang Lung ikut serta dalam tugas kita ke Ibukota Kekaisaran Dinasti Song?", Panji Tejo Laksono menatap ke arah Rakryan Purusoma yang ikut duduk di sebelahnya.


"Tentu saja tidak, Gusti Pangeran.


Jika ada orang asli negeri ini yang ikut, akan lebih mudah bagi kita untuk segera sampai di Ibukota Kaifeng. Hamba sangat setuju", jawab Rakryan Purusoma segera.


Sementara mereka bertiga sedang asyik berbincang, Demung Gumbreg yang duduk tak jauh dari mereka berbisik pada Tumenggung Ludaka yang duduk di samping nya, " Lu, kau tahu apa yang mereka bicarakan? Bahasanya kog sang seng song begitu?".


"Tentu saja tidak. Aku tidak pernah belajar bahasa Tionghoa, dari dulu yang ku pelajari hanya ilmu kanuragan dan ilmu telik sandi saja.


Memangnya kenapa Mbreg?", Tumenggung Ludaka balik bertanya.


"Repot juga kalau begini ya. Mereka mau maki maki kita pun, kita juga tidak tahu.


Coba dulu sewaktu muda kita belajar ya Lu", Gumbreg mengelus jenggotnya yang jarang-jarang.


"Ya kita juga mana tahu akan bertualang sampai ke Negeri Tiongkok seperti ini, Mbreg.


Makanya kau jangan macam-macam jika masih ingin pulang dengan selamat ke Panjalu. Ikuti saran Rakryan Purusoma dan perintah Gusti Pangeran, jangan membangkang", jawab Tumenggung Ludaka ketus.


"Siapa yang membangkang? Kau ini selalu saja membuat ku kesal saja.


Eh kau apa tidak curiga sedikitpun dengan si Buang itu Lu", Gumbreg melirik ke arah Huang Lung.


"Buang buang, namanya Huang Lung. Jangan suka ganti nama orang seenak udel mu.


Tunggu, apa maksud mu, Mbreg? Kau jangan berpikir macam-macam ya", Tumenggung Ludaka mulai tertarik dengan omongan Gumbreg.


"Kau ini mengaku telik sandi jempolan masak begitu saja tidak peka.


Coba kau perhatikan ...


Si Huang itu kulitnya putih bersih, bibirnya merah dan bulu matanya lentik. Tidak terlihat otot maupun paras tegas seorang laki laki. Tambahan lagi pakaian nya sangat tertutup rapat seperti seorang perempuan. Jika di lihat sekilas, dia memang terlihat seperti seorang lelaki tapi jika di perhatikan dalam dalam, dia itu lebih mirip dengan perempuan. Apa kau curiga dengan hal ini?", Gumbreg menjelaskan panjang lebar mengenai kecurigaan nya.


Mendengar perkataan itu, Tumenggung Ludaka segera memperhatikan Huang Lung lekat-lekat.


'Hemmmmmmm... Benar juga omongan si Gumbreg. Orang ini seperti perempuan.


Kenapa aku tidak memperhatikan hal seperti ini?'


"Kali ini kau benar Mbreg. Orang ini memang patut di curigai. Tapi kita tidak boleh gegabah dengan memberi tahu kan kecurigaan kita pada Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono dan Rakryan Purusoma. Cukup kita saja yang tahu.

__ADS_1


Apa kau mengerti?", Tumenggung Ludaka terus memperhatikan gerak-gerik Huang Lung. Belum sempat Gumbreg menjawab, suara Luh Jingga mengagetkan mereka berdua.


"Mengerti apa Paman?"


__ADS_2