Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Prasangka


__ADS_3

Dua lelaki setengah baya yang sedang asyik berbincang itu segera menoleh ke arah Ki Ranggu. Mata Si Bawor langsung menelisik seluruh penampilan Ki Ranggu. Dari dandanan nya saja sudah kelihatan kalau orang yang bertanya padanya adalah seorang pendekar.


"Tentu saja Kisanak..


Ini cerita dari mulut para dayang istana Kadipaten Rajapura yang melihat langsung kejadian itu. Aku juga sempat melihat reruntuhan Pendopo Agung yang porak poranda akibat ledakan dahsyat. Itu sudah cukup untuk menguatkan bahwa cerita si dayang istana itu tidak bohong", jawab Si Bawor sembari menatap ke arah Ki Ranggu yang tersenyum mengejek ke arah nya.


"Helehh, kau ini benar-benar kurang pengalaman Kisanak..


Apa kau belum tahu benda bubuk hitam dari negara Tiongkok yang sanggup meledakkan gunung sekalipun? Aku dengar dari omongan orang orang, Pangeran Panji Tejo Laksono baru saja pulang dari Tanah Tiongkok. Pasti dia membawa benda jahanam itu untuk meledakkan pendopo agung supaya semua orang takut pada nya dan menuruti kemauan nya", balas Ki Ranggu alias Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan sambil tersenyum mengejek.


"Tapi banyak orang yang menyaksikan peristiwa itu dan seluruh prajurit disana juga melihat. Dia tidak menggunakan alat apapun untuk meledakkan pendopo agung itu", bela Bawor dengan sengit.


"Dia kan orang berkuasa. Pasti pintar menggunakan segala tipu daya untuk membuatnya terlihat hebat, Kisanak..


Bisa saja dia menyuruh orang lain untuk meledakkan pendopo agung dengan bubuk hitam dari Negara Tiongkok itu dengan dia bergaya seolah olah melepaskan ajian ilmu kanuragan. Kau jangan mau di bodohi dengan taktik tipu muslihat seperti itu", Ki Ranggu masih juga keukeuh dengan omongan nya.


"Tapi kejadian nya memang seperti itu.. Semua prajurit sedang sibuk bertarung sendiri-sendiri jadi tidak mungkin ada yang membuat tipu daya semacam itu.


Kau ini seolah-olah jauh lebih hebat dari dia saja Kisanak. Apa kau berani untuk menguji keaslian dari kemampuan beladiri Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono he?", Ki Nomo ikut berbicara setelah dari tadi hanya menyimak perdebatan antara Bawor dan Ki Ranggu.


"Huhhhhh siapa takut?


Aku adalah Ki Ranggu, Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan. Semua orang di wilayah pesisir pantai selatan dari Tanjung Kidul hingga ke Bhumi Mataram mengenal ku sebagai pendekar pilih tanding. Lantas buat apa aku takut menghadapi seorang pangeran yang menggunakan tipu daya licik agar terlihat hebat di mata masyarakat Rajapura?", ujar Ki Ranggu dengan angkuhnya.


Memang Ki Ranggu merupakan salah satu dari sekian orang pendekar golongan putih yang punya nama besar di wilayah selatan terutama di daerah Tanjung Kidul hingga ke Bhumi Mataram. Sosoknya bisa di katakan merajai dunia persilatan di wilayah tersebut. Baik kawan dan lawan pun berpikir ulang jika ingin beradu ilmu beladiri dengan nya. Ilmu berpedang nya nyaris tak tertandingi yang membuatnya bisa besar kepala di hadapan siapapun. Tambahan lagi, Ajian Kincir Pitu dan Cakar Geni andalannya mampu membuat lawannya harus menderita luka dalam parah bahkan tewas mengenaskan jika sampai terkena. Ini alasannya mengapa obrolan Ki Nomo dan Bawor langsung membuatnya merasa iri dengan nama besar yang di sematkan pada Panji Tejo Laksono di usianya yang masih muda. Dia merasa bahwa dirinya lah yang lebih berhak untuk mendapatkan sanjungan dari semua orang.


"Hebat sekali kau Kisanak, kau sungguh jumawa..


Kalau kau memang pendekar hebat, ayo kita pergi ke istana Rajapura untuk menjajal kemampuan beladiri orang yang kau anggap menipu para penduduk Kota Rajapura. Aku akan menghadap pada Bekel Lumadi yang merupakan kawan karib ku untuk menyampaikan tantangan mu pada Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono ", ujar Bawor yang mulai geram dengan sikap angkuh Ki Ranggu.


"Oh kenapa tidak? Kau pimpin jalan Kisanak, langsung saja ke Istana Rajapura saja. Aku sudah tidak sabar ingin secepatnya membuka kedok sempurna Pangeran Panji Tejo Laksono sebagai pendekar palsu", Ki Ranggu menatap tajam ke arah Bawor.

__ADS_1


Bawor pun segera meletakkan 2 kepeng perak di atas meja makan tempatnya bersantap dan bergegas keluar dari dalam warung makan diikuti oleh Ki Nomo. Ki Ranggu dan Wangsa murid utama Padepokan Bukit Menjangan pun segera mengikuti langkah dua orang paruh baya itu menuju ke arah Istana Kadipaten Rajapura.


Sesampainya di sana, Bawor langsung celingukan mencari sosok Bekel Lumadi yang kini di tugaskan oleh Panji Tejo Laksono sebagai pimpinan petugas jaga di seluruh Istana Kadipaten Rajapura. Begitu melihat Bekel Lumadi sedang rebahan di bawah pohon asam dekat gapura Istana Kadipaten Rajapura, Bawor langsung bergegas menuju ke arah Bekel Lumadi diikuti oleh Ki Ranggu, Ki Nomo dan Wangsa.


"Eh Bekel Lumadi, aku ada perlu dengan mu. Ayo buruan bangun", ujar Bawor segera. Mendengar suara itu, Bekel Lumadi segera duduk di atas dipan kayu tempat rebahan nya dan menatap ke arah Bawor, Ki Ranggu, Ki Nomo dan Wangsa.


"Ada apa ini, Bawor?


Kenapa tiba-tiba saja kau datang dan membawa kawan kawan mu kemari?", tanya Bekel Lumadi sembari menatap heran kearah Bawor.


"Begini loh, Bekel Lumadi..


Ini adalah Ki Ranggu, seorang pendekar hebat dari Paguhan. Julukan nya Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan. Katanya kemari ingin menjajal kemampuan beladiri Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Sekarang tolong kau kabarkan ini kepada Gusti Pangeran. Cepat sana", ujar Bawor yang membuat mata Bekel Lumadi melotot lebar. Bagaimana tidak, Patih Krendawahana yang kesaktiannya sudah sangat tinggi saja melebihi kemampuan kanuragan milik Adipati Waramukti saja, harus meregang nyawa di tangan Panji Tejo Laksono. Ini malah ada orang yang ingin menantang nya. Benar benar ingin mengantar nyawa, demikian pikir Bekel Lumadi.


"Kau yakin ingin menantang Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, Kisanak?", Bekel Lumadi menatap ke arah Ki Ranggu dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Memang kenapa jika aku menantangnya? Apa tidak boleh? Dia boleh pangeran, tapi dalam dunia persilatan pangkat tidak menjamin kemampuan beladiri seseorang", ujar Ki Ranggu dengan penuh kesombongan. Wangsa yang sedari tadi hanya diam, hanya bisa menghela nafas berat melihat ulah kawan gurunya itu.


Panji Tejo Laksono sedang asyik berbincang dengan Tumenggung Ludaka, Tumenggung Rajegwesi dan Tumenggung Sindupraja yang merupakan tokoh paling sepuh diantara mereka di balai tamu kehormatan Kadipaten Rajapura saat Bekel Lumadi datang menghadap. Setelah menyembah, Bekel Lumadi segera duduk bersila di lantai balai tamu kehormatan.


"Tumben kau menghadap pada ku, Bekel Lumadi? Apa ada sesuatu yang penting?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Mohon ampun Gusti Pangeran..


Seorang pendekar bernama Ki Ranggu yang bergelar Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan datang ingin menjajal kemampuan beladiri Gusti Pangeran. Sekarang dia ada di luar tembok istana", ujar Bekel Lumadi sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono.


"Bangsat!


Siapa yang berani menantang Nakmas Pangeran Panji Tejo Laksono? Lumadi tunjukkan jalan nya pada ku, biar ku beri dia pelajaran sopan santun ", sahut Tumenggung Sindupraja sembari berdiri dari tempat duduknya.


"Sabar dulu Paman Sindupraja.. Tak perlu Paman yang turun tangan, aku masih cukup punya nyali untuk menghadapi orang itu. Kalau sampai Paman yang bertarung mengadu ilmu kanuragan, lantas apa kata Gayatri nanti? Sekarang paman duduk tenang saja disini, biar aku yang melihatnya ", Panji Tejo Laksono tersenyum lebar pada calon mertua sekaligus pamannya itu.

__ADS_1


Meski sedikit merasa geram dengan tantangan yang dihadapi oleh Panji Tejo Laksono, Tumenggung Sindupraja terpaksa membiarkan calon mantu nya itu meninggalkan balai tamu kehormatan Kadipaten Rajapura. Diikuti oleh Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Rajegwesi, Panji Tejo Laksono menemui Bawor, Ki Ranggu, Wangsa dan Ki Nomo di depan pintu gerbang istana.


Kedatangan Bekel Lumadi dan Panji Tejo Laksono bersama para pengikutnya membuat Ki Ranggu langsung menatap tajam ke sang pangeran muda ini. Matanya yang setajam tatapan mata seekor elang menelisik seluruh tubuh Panji Tejo Laksono. Begitu melihat keadaan tubuh Panji Tejo Laksono yang tidak terlihat seperti seorang pendekar pada umumnya, semakin kuat prasangka buruknya tentang tipu daya yang di lakukan oleh sang pangeran dari Kadiri ini.


"Siapa yang ingin menguji kemampuan beladiri ku?", tanya Panji Tejo Laksono sembari mengedarkan pandangannya ke arah Bawor dan kawan-kawan.


"Aku yang menantang mu, Pangeran Panji Tejo Laksono. Ki Ranggu, Si Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan", sembari berkata demikian, Ki Ranggu maju selangkah ke depan Panji Tejo Laksono.


Hemmmmmmm..


"Rupanya ada pendekar besar yang ingin melebarkan sayapnya ke wilayah Rajapura.


Silahkan kita mulai kisanak", ujar Panji Tejo Laksono sembari memindahkan tangan kiri ke belakang pinggang sementara tangan kanannya maju dengan telapak terbuka.


"Tunggu dulu..


Kalau kau kalah, apakah anak buah mu itu tidak akan mengerahkan seluruh prajurit untuk mengepung ku?


Ini harus di jelaskan sebelumnya. Soalnya banyak bangsawan yang kalah bertarung selalu mengerahkan para prajuritnya untuk mengeroyok para pendekar yang mempermalukannya", ujar Ki Ranggu segera.


Mendengar perkataan itu, Panji Tejo Laksono tersenyum penuh arti.


"Kisanak, bukan watak dari Panji Tejo Laksono untuk bersikap pengecut seperti itu. Aku berani jamin dengan nyawa ku, bahkan Kanjeng Romo Prabu Jayengrana pun tidak akan berbuat apa-apa pada mu jika aku kalah melawan mu.


Paman Ludaka, Paman Rajegwesi..


Jika sampai aku kalah melawan Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan ini, kalian sedikitpun jangan pernah menyentuh nya. Apa kalian mengerti?", Panji Tejo Laksono menoleh ke arah Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Rajegwesi. Mendengar perintah dari sang pangeran muda, kedua perwira tinggi prajurit Panjalu itu segera menghormat sopan pada Panji Tejo Laksono sembari berkata, "Sendiko dawuh Gusti Pangeran ".


Selepas ada jawaban dari Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Rajegwesi, Panji Tejo Laksono kembali mengalihkan pandangannya pada Ki Ranggu yang berdiri tegak di hadapan nya dengan kuda-kuda ilmu kanuragan nya. Dengan senyum lebar, Panji Tejo Laksono berkata,


"Ayo kita mulai Kisanak!"

__ADS_1


__ADS_2