Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Upacara Penyucian Jiwa


__ADS_3

Kaburnya Peri Randu dari tempat itu rupanya di sadari oleh Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari. Putri Kaisar Huizong ini baru saja selesai mengakhiri perlawanan Jerangkong Kuburan yang tewas dengan tubuh di bekukan. Segera perempuan cantik itu memutar telapak tangan kanan nya yang menciptakan beberapa jarum es yang menakutkan.


"Kau tidak boleh kabur seenaknya!", teriak Song Zhao Meng sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya ke arah perginya Peri Randu.


Selarik hawa dingin es terlontar dari telapak tangan kanan Song Zhao Meng. Meski jaraknya sudah sedikit jauh, namun jarum jarum es yang tercipta meluncur cepat kearah punggung Peri Randu yang melesat cepat kearah luar tembok istana. Anggota Kelompok Bulan Sabit Darah itu segera menyadari kalau bahaya yang mengancamnya. Perempuan bertopeng itu segera berkelit menghindari hawa dingin yang di lepaskan oleh Song Zhao Meng namun dia terlambat beberapa saat. Dua buah jarum es berhasil menancap di punggungnya.


Chhreepppppph chhreepppppph !!


Aaauuuuggggghhhhh ..!!


Peri Randu meraung saat dua buah jarum es yang di lemparkan oleh Song Zhao Meng berhasil mengenai tubuh nya. Rasa dingin yang menusuk tulang segera menjalar cepat di punggungnya namun Peri Randu masih mampu melesat ke arah luar tembok istana Kadipaten Seloageng. Perempuan bertopeng itu segera menghilang di balik kegelapan malam.


Buto Ijo tewas dengan dada gosong setelah menerima hantaman Ajian Tapak Dewa Api dari Panji Tejo Laksono. Bersamaan dengan itu, Setan Gundul juga tewas bersimbah darah setelah di tebas pedang Luh Jingga. Menyisakan Genderuwo Pandan yang masih hidup namun dia sudah terluka parah akibat terkena Ajian Tapak Dewa Api milik Panji Tejo Laksono. Lelaki bertubuh gempal dengan janggut lebat itu terkapar tak berdaya di halaman balai tamu kehormatan Kadipaten Seloageng.


"Katakan pada ku, siapa yang menyuruhmu untuk mengacu di tempat ini?", ucap Prabu Jayengrana sembari menatap ke arah Genderuwo Pandan yang masih tergeletak di tanah.


Phhuuuiiiiiihhhhh..


"Lebih baik aku mati daripada harus mengatakan siapa yang menyuruh ku, bangsat!", ujar Genderuwo Pandan sambil meludah darah segar ke samping nya.


"Bangsat!


Jaga mulutmu jika bicara dengan Raja Panjalu, bajingan!!" , teriak Senopati Gardana yang merangsek masuk ke dalam halaman balai tamu kehormatan Kadipaten Seloageng.


Mendengar perkataan Senopati Gardana, Genderuwo Pandan akhirnya mengerti kenapa mereka semua bisa di kalahkan dengan mudah oleh Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan. Dulu dia sempat mendengar tentang kehebatan ilmu kanuragan sang Raja Panjalu itu saat masih muda. Bahkan Maharaja Jenggala Mapanji Garasakan pun yang terkenal sakti mandraguna harus kehilangan nyawa saat berhadapan dengan Raja Panjalu itu. Cerita itu menjadi buah bibir masyarakat yang begitu melegenda di kalangan masyarakat Jenggala hingga saat ini.


"Hahahaha uhukkk uhukkk...


Rupanya yang menjadi lawan ku dan kawan-kawan adalah seorang pendekar hebat yang pernah menggoncang Tanah Jawadwipa dengan kehebatan ilmu kanuragan nya. Akhirnya aku bisa mati dengan tenang.


Raja Panjalu, dengarkanlah..


Selama Panjalu dan Jenggala belum bersatu kembali, maka akan muncul para pengacau keamanan seperti kami yang ingin melihat bumi Jawadwipa bersatu. Ingatlah baik-baik, Kelompok Bulan Sabit Darah akan selalu ada untuk menyatukan kembali Kahuripan", sembari berkata demikian, Genderuwo Pandan diam-diam merogoh balik bajunya dan menggenggam sebilah pisau belati yang ada di situ. Secepat kilat, dia menusukkan pisau belati itu ke perutnya.


Jllleeeeeppppphhh..

__ADS_1


Aaauuuuggggghhhhh !!


Genderuwo Pandan melengguh saat pisau belati itu menembus perutnya. Darah segar segera keluar dari luka di perut Genderuwo Pandan. Lelaki bertubuh gempal itu mengejang hebat sebentar sebelum akhirnya tewas dengan pisau belati menancap di perutnya. Dia bunuh diri demi melindungi rahasia Kelompok Bulan Sabit Darah.


Kejadian itu berlangsung sangat cepat hingga baik Panji Tejo Laksono maupun Senopati Gardana yang ada di tempat itu tak sempat mencegah terjadinya bunuh diri Genderuwo Pandan. Senopati Gardana segera mendekati mayat Genderuwo Pandan dan memeriksa denyut nadi tangannya. Begitu selesai memastikan kematian sang bayangan hitam, dia segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono sembari menggelengkan kepalanya pertanda bahwa Genderuwo Pandan sudah tak bernyawa.


"Aku yakin, dalang dari semua kejadian ini adalah orang dalam di istana ini.


Senopati Gardana,


Atur keamanan lebih ketat lagi di sekitar istana dan Kota Kadipaten Seloageng. Pastikan bahwa tidak ada lagi kejadian semacam ini", titah Sang Maharaja Panjalu Prabu Jayengrana segera.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu", jawab Senopati Gardana seraya menghormat pada Prabu Jayengrana. Usai berkata demikian, Senopati Gardana segera memberikan isyarat kepada para prajurit Kadipaten Seloageng untuk segera membersihkan mayat mayat anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang bergelimpangan di halaman balai tamu kehormatan. Dengan cepat para prajurit Seloageng membereskan semua mayat mayat itu segera.


Sementara para prajurit Kadipaten Seloageng membersihkan halaman balai tamu kehormatan, Prabu Jayengrana berjalan menuju ke arah tempat peristirahatan Panji Tejo Laksono diikuti oleh Luh Jingga dan Song Zhao Meng.


"Tejo Laksono..", ucap Prabu Jayengrana membuka pembicaraan dengan sang putra.


"Sendiko dawuh Kanjeng Romo.. Apa ada sesuatu yang Kanjeng Romo Prabu ingin bicarakan?", balas Panji Tejo Laksono yang berjalan di samping ayahnya.


Jayawarsa sudah mendapatkan tanah lungguh di Bojonegoro. Jayagiri akan menjadi putra mantu Kakang Prabu Langlangbumi di Galuh Pakuan, jadi dia tidak membutuhkan tanah lungguh untuk menguatkan kedudukannya. Mandala Seta ingin menjadi ingin ku tempatkan di Gelang-gelang untuk menggantikan kedudukan eyang mu, Kanjeng Romo Adipati Panji Gunungsari yang ingin mundur dari jabatannya dan ingin mempersiapkan diri untuk menghadap sang pencipta.


Diantara semua putra-putra ku, hanya kau yang selalu patuh pada perintah ku. Semoga kali ini kau pun tidak menolak apa yang aku inginkan", ujar Prabu Jayengrana sambil menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono. Ada harapan besar yang terpancar dari pandangan mata sang Maharaja Panjalu itu.


"Ananda akan selalu mematuhi perintah dari Kanjeng Romo. Kalau ini demi kebaikan semuanya, Tejo Laksono siap menjalankan tugas yang di berikan", ujar Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada Prabu Jayengrana. Mendengar jawaban Panji Tejo Laksono, Prabu Jayengrana tersenyum tipis melihat menepuk pundak sang pangeran muda.


"Kau memang putra ku. Ini sudah larut malam. Sebaiknya kau segera beristirahat. Besok pagi, kau harus ikut serta dalam upacara penyucian jiwa Eyang mu. Jangan sampai terlambat. Aku kembali ke tempat ibu mu dulu", kata Prabu Jayengrana menutup obrolan nya dengan Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda segera menghormat pada Prabu Jayengrana yang perlahan menghilang dari pandangan mata semua orang bersamaan dengan munculnya kabut tipis yang menutupi seluruh tubuhnya.


Malam itu, kegaduhan di balai tamu kehormatan Kadipaten Seloageng berakhir dengan baik. Namun sepasang mata yang melihat kejadian itu dari kejauhan terlihat geram dengan itu semua. Dengan sebal dia segera mengepalkan tangannya erat-erat sembari bergumam lirih, " Ini semua belum berakhir".


Keesokan harinya, upacara penyucian jiwa untuk Adipati Tejo Sumirat di laksanakan. Di alun alun Kota Kadipaten Seloageng, sebuah tumpukan kayu kering tertata rapi. Diatasnya jasad Adipati Tejo Sumirat diletakkan dengan taburan bebungaan yang harum.


Nararya Candradewi masih terus berurai air mata menatap tumpukan kayu kering dan jasad suaminya. Dua orang putrinya, Dewi Anggarawati dan Dewi Anggarawati turut berdukacita dengan mengapit sang ibu.


Ribuan warga Kota Kadipaten Seloageng turut hadir di acara itu. Kesemuanya terlihat bersedih hati karena kematian sang Adipati Sepuh yang sudah puluhan tahun memimpin Kadipaten Seloageng dengan baik dan bijaksana.

__ADS_1


Resi Mpu Wiswajatra, Sang Dharmadyaksa ring Kasaiwan Kadipaten Seloageng, memimpin upacara itu dengan penuh khidmat. Para dayang istana terus menaburkan bunga bunga di sekitar tempat tumpukan kayu kering itu berada. Sedangkan asap putih kemenyan dan setanggi yang harum menyebar memenuhi udara di sekitar tempat itu.


Usai membacakan mantra-mantra penyucian jiwa, Resi Mpu Wiswajatra segera mendekati Prabu Jayengrana dan Panji Tejo Laksono yang berdiri di dekat tumpukan kayu kering itu berada. Sementara itu, Luh Jingga, Ayu Ratna, Song Zhao Meng dan Gayatri berdiri di belakang Nararya Candradewi dan kedua anaknya.


"Sudah saatnya Gusti Prabu", ujar Resi Mpu Wiswajatra sembari memberikan obor yang akan di gunakan untuk membakar jasad Adipati Tejo Sumirat pada sang Maharaja Panjalu. Usai menerima obor itu, Prabu Jayengrana segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono. Mengerti apa yang diinginkan oleh ayahnya, Panji Tejo Laksono ikut memegang gagang obor dan keduanya segera menyulutkan api obor ke tumpukan kayu kering dimana jasad Adipati Tejo Sumirat berada. Api dengan cepat menjalar dan membakar tumpukan kayu. Asap tebal api penyucian jiwa membumbung tinggi ke udara.


Suasana di Alun alun Kota Kadipaten Seloageng menjadi terasa begitu sakral.


Sementara di Alun alun Kota Kadipaten Seloageng sedang melakukan upacara penyucian jiwa, di Pertapaan Panumbangan, Peri Randu yang semalam pingsan setelah sampai di sana, siang hari itu siuman. Di hadapannya, Resi Mpu Wisesa sudah duduk dengan angkuhnya.


"Bagus kau sudah siuman, Peri Randu..


Sekarang katakan pada ku, bagaimana tugas yang aku berikan pada Demit Ireng dan yang lainnya?", tanya Resi Mpu Wisesa segera.


"Sa-saat saya pergi, Demit Ireng sedang bertarung melawan seorang bangsawan tua, pimpinan ketujuh..


Demit Ireng mengutus saya untuk menyampaikan berita ini kepada pimpinan ketujuh agar berhati-hati dengan Panji Tejo Laksono yang di dukung oleh Prabu Jayengrana", jawab Peri Randu dengan terbata-bata. Tubuhnya terus menggigil kedinginan usai terkena jarum es milik Song Zhao Meng.


"Bangsat !!


Lantas kawan kawan mu yang lain bagaimana?", kembali Resi Mpu Wisesa bertanya. Ada nada suara tidak senang dalam suaranya.


"Saat saya pergi, yang tersisa hanya Genderuwo Pandan dan Jerangkong Kuburan saja juga Demit Ireng. Saya tidak tahu bagaimana nasib mereka selanjutnya. Kemungkinan besar mereka tidak akan selamat", jawab Peri Randu dengan ketakutan.


Mendengar penuturan itu, Resi Mpu Wisesa langsung menyambar ubun-ubun Peri Randu dan menekannya kuat-kuat menggunakan ilmu kanuragan nya.


Aaaarrrgggggghhhhh !!!


Peri Randu menjerit keras setelah ilmu Resi Mpu Wisesa menghancurkan isi kepala nya. Dia tidak pernah menyangka bahwa nyawanya berakhir di tangan pimpinan nya sendiri. Perempuan bertopeng itu tewas dengan mata, hidung dan telinga mengeluarkan darah segar.


Setelah Peri Randu tewas, Resi Mpu Wisesa menggeram keras sembari berkata,


"Tejo Laksono..


Tunggu pembalasan ku!!"

__ADS_1


__ADS_2