
Usai mengucapkan sumpah serapah nya, makhluk menyeramkan berwarna merah darah ini segera melompat masuk ke dalam bumi. Sepertinya dia kembali ke tempat asalnya di Istana Perut Bumi.
Sementara itu, Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya terus bergerak menuju ke arah selatan. Bersamaan dengan bergulirnya sang waktu yang terus berputar melintas jaman, rombongan kecil itu tak henti-hentinya memacu kuda kuda mereka yang menimbulkan suara derap langkah kaki hingga terdengar di kejauhan.
Selepas meninggalkan hutan lebat di selatan Kota Kadipaten Pasuruhan, rombongan kecil Panji Tejo Laksono memasuki wilayah Kadipaten Pasuruhan yang terdiri dari puluhan wanua yang terkumpul dalam satu wilayah pakuwon. Matahari yang turut menemani perjalanan mereka, perlahan mulai tergelincir ke arah barat.
Begitu sampai di tapal batas wilayah antara Kadipaten Pasuruhan dan Kadipaten Dinoyo, Panji Tejo Laksono menghentikan laju pergerakan kuda tunggangan nya. Terlihat langit telah berubah warna menjadi semburat jingga yang menandakan bahwa sebentar lagi senja akan segera tiba.
"Ada apa Kakang? Kenapa berhenti di tempat ini?", tanya Dyah Kirana yang turut menghentikan langkah kaki kuda tunggangan nya di samping Panji Tejo Laksono.
"Sebentar lagi, senja akan segera tiba. Apakah Pertapaan Gunung Mahameru masih jauh dari tempat ini, Kirana?", Panji Tejo Laksono segera menatap wajah cantik alami sang putri Resi Ranukumbolo itu seperti ingin tahu sesuatu.
"Kalau perhitungan ku tak salah, selepas melewati Wanua Karang Lawang itu, kita harus nya sudah sampai di kaki bukit kecil yang ada di bawah Pertapaan Gunung Mahameru Kakang", Dyah Kirana menunjuk ke arah sebuah gapura masuk sebuah wanua yang tak jauh dari tempat mereka berhenti.
Hemmmmmmm..
"Kalau kita memaksakan kehendak untuk meneruskan perjalanan, apa kita bisa sampai di Pertapaan Gunung Mahameru saat malam Kirana?", kembali pertanyaan terlontar dari mulut Panji Tejo Laksono. Song Zhao Meng dan Ki Jatmika yang juga berhenti di samping sang pangeran pun turut menunggu jawaban dari perempuan cantik ini.
"Sebenarnya tidak terlalu jauh. Tapi jalan kesana sedikit curam dan berbahaya karena berada di samping jurang yang dalam. Kalau malam, lebih baik tidak memaksakan diri untuk tetap kesana.
Sebaiknya kita menginap saja di Wanua Karang Lawang itu saja, Kakang. Kebetulan aku kenal dengan Lurah Wanua Karang Lawang. Dia adalah bekas anak didik Kanjeng Eyang Maharesi Padmanaba, juga saudara seperguruan Romo Resi Ranukumbolo. Kita pasti akan di terima dengan senang hati", ujar Dyah Kirana segera. Panji Tejo Laksono mengangguk setuju. Mereka berempat segera bergegas menuju ke arah tugu tapal batas wilayah Wanua Karang Lawang.
Setelah bertanya kepada salah seorang penduduk yang tinggal di dekat tapal batas wilayah wanua itu, Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya segera bergegas menuju ke arah yang di tunjukkan pada mereka.
Sebuah rumah yang cukup besar dengan pagar kayu setinggi dada orang dewasa berdiri tegak di atas sebuah pekarangan yang luas di tengah pemukiman penduduk. Ada beberapa pohon buah besar yang tumbuh di sekitar halaman rumah ini. Saat Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya sampai di depan pintu gerbang rumah itu, mereka segera melompat turun dari atas kuda mereka masing-masing dan menuntun tunggangan mereka memasuki halaman rumah yang tidak berpenjaga ini.
Setelah mengikat tali kekang kudanya di geladakan samping depan beranda, mereka segera bergegas menuju ke arah beranda rumah dimana beberapa orang sedang duduk bersama di pendopo rumah ini. Beberapa orang yang masih muda langsung terpesona melihat kedatangan dua wanita cantik ini.
Seorang lelaki paruh baya bertubuh sedikit kurus dengan janggut pendek dan memakai ikat kepala dari kain hitam berhias benang emas yang menjadi simbol kekuasaan, segera mendekati Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan.
"Nini Dyah Kirana? Benarkah itu kamu?", tanya lelaki paruh baya itu sembari mengucek matanya seolah tak percaya melihat kehadiran Dyah Kirana di tempatnya ini.
HAAAAAAHHHHHHHH??!!
Semua orang di pendopo langsung terkejut mendengar omongan lelaki paruh baya itu. Tentu saja mereka semua pernah mendengar nama Dyah Kirana, sang kembang Gunung Mahameru. Tapi mereka sungguh tak menyangka bahwa mereka bisa melihat perempuan cantik itu di rumah Lurah Wanua Karang Lawang ini.
"Ki Ki Lurah Mpu Suta...
Benarkah ini adalah Nini Dyah Kirana, putri Resi Ranukumbolo yang tersohor karena kecantikannya itu?", tanya seorang pemuda berkumis tipis dengan tatapan mata menelisik seluruh tubuh Dyah Kirana. Memang kecantikan wanita itu tidak dapat di sembunyikan meski dengan pakaian sederhana yang dia kenakan.
"Kau pikir mata ku ini sudah rabun hingga salah mengenali orang, Prayogo?
Tentu saja ini adalah Nini Dyah Kirana, putri kakak seperguruan ku Resi Ranukumbolo pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru sekarang. Sudah kalian jangan mengganggu, cepat minggir..
Nini Dyah Kirana, silahkan masuk", ucap ramah Mpu Suta sang Lurah Wanua Karang Lawang pada Dyah Kirana.
__ADS_1
"Terimakasih atas keramahtamahan mu, Ki Lurah.
Oh iya, perkenalkan ini calon suami ku, Kakang Tejo. Itu istri pertamanya Kangmbok Wulandari dan ini Ki Jatmika kawan seperjalanan kami" , sembari berjalan masuk ke dalam rumah, Dyah Kirana memperkenalkan anggota rombongan nya.
Semua orang kembali di buat terkejut dengan berita ini. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa kembang Pertapaan Gunung Mahameru akan menikah. Ini tentu saja mematahkan hati mereka dan para pemuda di sekitar Pertapaan Gunung Mahameru yang ingin bersanding dengan Dyah Kirana di pelaminan. Seketika itu juga, tatapan mata sinis langsung tertuju pada Panji Tejo Laksono. Walaupun dalam hati kecilnya mereka mengakui bahwa Panji Tejo Laksono jauh lebih tampan dari mereka, namun rasa tidak suka pada sang pangeran muda ini langsung menyebar di kalangan para pemuda Wanua Karang Lawang yang berkumpul di pendopo rumah Ki Lurah Mpu Suta.
Panji Tejo Laksono kemudian duduk bersama dengan Ki Jatmika dan seluruh tamu nya sedangkan Song Zhao Meng dan Dyah Kirana sedikit terpisah dari tempat mereka berada.
Prayogo yang kebetulan berada di dekat Panji Tejo Laksono, langsung berucap dengan nada sinis terhadap Panji Tejo Laksono.
"Pendekar, kau sungguh sangat luar biasa beruntung. Bisa mendapatkan seorang Dewi yang menjadi pujaan hati semua orang di sekitar wilayah ini.
Ilmu pelet apa yang kau gunakan hemm??"
Panji Tejo Laksono langsung tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu.
"Kisanak, aku memang sangat beruntung bisa menjadi calon suami dari Dyah Kirana. Itu semua aku dapatkan dari permintaan Maharesi Padmanaba untuk terus menjaga cucu kesayangannya ini setelah kematian nya", jawab jujur Panji Tejo Laksono.
Tentu saja ucapan ini langsung membuat para pemuda yang ada di tempat itu langsung terdiam sejenak. Lalu mereka saling berpandangan sejenak sebelum tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dari sang pangeran muda.
"Huahahahahahaha...
Kau sungguh pintar membual. Maharesi Padmanaba adalah orang suci yang tidak bisa mati. Bahkan Dewa Yamadipati saja ketakutan hendak mencabut nyawa nya.
"Apa yang lucu?! Omongan Kakang Tejo memang benar adanya!!"
Teriakan keras Dyah Kirana seketika membuat tawa orang orang di pendopo rumah Ki Lurah Mpu Suta ini terhenti.
"Be-benarkah guru sudah meninggal dunia, Nini? Ka-kapan itu terjadi?", Mpu Suta terbata-bata saat berkata demikian.
Dyah Kirana segera menceritakan semua kisah kejadian itu. Mulai dari kepergian dia dan kakeknya hingga bertemu dengan Panji Tejo Laksono. Mereka semua kembali di kejutkan oleh perkataan Dyah Kirana yang mengatakan bahwa Panji Tejo Laksono menerima semua ilmu kesaktian Maharesi Padmanaba agar sang Maharesi bisa meninggalkan dunia fana ini. Pandangan mata semua orang kembali tertuju pada Panji Tejo Laksono yang masih duduk bersila dengan tenang.
"Ma-maafkan kami, Pendekar. Sungguh kami tidak tahu kalau kau adalah murid terakhir dari guru ku sebelum dia meninggal.
Aku mengucapkan selamat kepada mu atas rencana pernikahan mu dengan Nini Dyah Kirana ", ucap Mpu Suta seolah mewakili semua orang yang ada di tempat itu.
"Ah bukan masalah besar, Ki Lurah. Aku malah yang sangat berterimakasih pada mu karena sudah mengijinkan kami untuk bermalam di tempat ini", Panji Tejo Laksono mengangguk mengerti.
Setelah itu, perlakuan semua orang pada Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya langsung berubah hormat. Ki Lurah Mpu Suta bahkan menyuruh mereka untuk menyembelih kambing untuk menjamu Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan yang menjadi tamu kehormatan mereka malam itu.
Suasana di tempat itu langsung berubah meriah.
Setelah melewati malam hari yang penuh kegembiraan, keesokan paginya rombongan Panji Tejo Laksono meninggalkan rumah Ki Lurah Mpu Suta untuk meneruskan perjalanan mereka ke Pertapaan Gunung Mahameru yang ada di sebelah timur.
Sepasang mata yang terus mengawasi gerak-gerik mereka, segera bergegas meninggalkan tapal batas wilayah wanua itu menuju ke arah Utara. Tudung merah darah nya berkibar saat di terpa angin yang berhembus.
__ADS_1
Rombongan Panji Tejo Laksono terus bergerak menuju ke arah timur. Jalan yang mereka lewati semakin menyempit dan menanjak. Hanya seekor kuda saja yang bisa melewati jalan yang ada di samping jurang dalam di tepian lereng batu yang terjal ini.
Dari kejauhan, sebuah bangunan dari batu besar yang tersusun rapi menjadi sebuah pemujaan yang cukup besar berdiri di antara bukit kecil yang di tumbuhi hutan rimbun. Di sanalah Pertapaan Gunung Mahameru berada.
Resi Ranukumbolo sedang mengajarkan kepada murid-muridnya tentang cara menjalani kehidupan di menuju alam keabadian milik Sang Pencipta Semesta saat matanya tiba-tiba terpaku pada sosok perempuan cantik yang melompat turun dari atas kudanya di gerbang pertapaan dan berlari cepat kearah nya. Wajah tua lelaki itu langsung tersenyum lebar seketika.
"Ah rupanya ini sebabnya mengapa burung prenjak sedari tadi terus berkicau riang. Rupanya putri ku telah datang memenuhi janji nya", ucap Resi Ranukumbolo seraya bergegas keluar dari dalam balai utama Pertapaan Gunung Mahameru itu.
Dyah Kirana langsung menubruk tubuh ayahnya dan menangis sesenggukan.
"Kanjeng Romo, Kirana pulang Kanjeng Romo!
Huhuhuhuhu...."
Sembari memeluk tubuh Dyah Kirana yang mungil, Resi Ranukumbolo mengelus kepala sang putri sambil tersenyum simpul.
"Hei putri ku, jangan seperti anak kecil. Kau sudah dewasa, sebentar lagi kau akan menikah. Jaga sikap dan perilaku mu ya", ucap Resi Ranukumbolo sembari memisahkan diri dari pelukan Dyah Kirana. Meski masih sesenggukan, Dyah Kirana segera menghapus air mata kerinduan nya.
Panji Tejo Laksono segera menangkupkan kedua telapak tangan nya ke depan dada.
"Salam hormat dari ku Resi", ucap Panji Tejo Laksono dengan sopan.
"Hehehehe, Pangeran Panji Tejo Laksono tidak perlu bersopan santun begitu kepada ku. Mari mari kita masuk ke dalam", ajak Resi Ranukumbolo segera. Tanpa menunggu lama lagi, mereka berlima segera masuk ke dalam balai utama Pertapaan Gunung Mahameru.
Setelah duduk bersama dan saling berbincang sebentar, Dyah Kirana segera melepaskan tali pengikat Pedang Bulan Sunyi di pinggangnya dan menyerahkan nya pada Resi Ranukumbolo.
"Kanjeng Romo, aku kembalikan Pedang Bulan Sunyi pinjaman Kanjeng Romo.
Terimalah...", ucap Dyah Kirana sambil menghaturkan Pedang Bulan Sunyi dengan kedua tangannya.
Namun tangan Resi Ranukumbolo segera menahan gerakan tangan Dyah Kirana segera.
"Simpanlah kembali Pedang Bulan Sunyi ini, Kirana. Ini adalah warisan dari ayah mu, dan kau berhak untuk mendapatkan nya", ucap Resi Ranukumbolo sambil tersenyum penuh arti.
"A-ayah ku? Maksud Kanjeng Romo?", Dyah Kirana langsung kebingungan dengan maksud perkataan Resi Ranukumbolo.
Pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru itu segera menghela nafas panjang sebelum berbicara.
"Kau sudah dewasa, Kirana. Sudah saatnya kau mengetahui tentang kebenaran jati diri mu yang ku simpan rapat-rapat selama 2 dasawarsa ini.
Hemmmmmmm...
Maafkan aku Kirana jika ini mengecewakan mu. Tapi aku bukanlah ayah kandung mu", sontak saja, semua orang terkejut mendengar omongan sang resi.
APPAAAAAAAAAAAA??!!!!
__ADS_1