Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Prahara Kotaraja Daha ( bagian 6 )


__ADS_3

Dua orang prajurit pemberontak yang sedang bertarung di dekat tempat pertarungan Mpu Gandasena langsung terjungkal menyusruk tanah setelah dua pisau dari es yang di hempaskan oleh Song Zhao Meng mengenai mereka.


Mpu Gandasena segera mencabut keris di pinggangnya dan melesat cepat kearah Song Zhao Meng. Secepat kilat, dia menusukkan senjata pusaka nya itu ke arah perut Song Zhao Meng.


Shhrreeettthhh!


Dengan lincah, Song Zhao Meng segera berkelit ke arah samping. Mpu Gandasena segera memburu sang putri Kaisar Huizong dengan tusukan tusukan cepat keris pusaka di tangan kanannya.


Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh..


Dhasshhh dhhaaaassshhh!!


Song Zhao Meng dengan lincah melompat mundur menghindari tusukan keris lawannya. Sembari melompat mundur, perempuan cantik berbaju merah menyala ini mengibaskan lagi kedua tangan nya ke arah Mpu Gandasena.


Shhhrriinggg shhhrriinggg shhhrriinggg!!


Empat bilah es tajam melengkung langsung melesat cepat kearah Mpu Gandasena. Bekas Dharmadyaksa ring Kasaiwan Kerajaan Panjalu itu merutuk keras lalu melengkungkan punggungnya hingga empat pisau es ini sejengkal melewati atas tubuhnya. Song Zhao Meng segera melemparkan serangan cepat nya bertubi-tubi kearah Mpu Gandasena. Sang pimpinan kelompok pemberontak ini dengan cepat membuat gerakan berputar hingga dia lolos dari maut.


Setelah mampu menghindari serangan Song Zhao Meng, Mpu Gandasena segera melenting tinggi ke udara, bersalto mundur dua kali di udara dan mendarat hampir 3 tombak jauhnya dari tempat Song Zhao Meng berada.


Sambil ngos-ngosan mengatur nafasnya, Mpu Gandasena menatap tajam ke arah Song Zhao Meng.


'Iblis betina yang satu ini benar-benar tidak bisa di remehkan. Ilmu kanuragan nya aneh dan tidak bisa di terka seberapa kuat dirinya. Aku harus lebih berhati-hati', batin Mpu Gandasena.


Sembari memegang erat gagang keris pusaka di tangan kanannya, Mpu Gandasena segera salurkan tenaga dalam nya pada ujung jemari tangan kiri. Lalu lelaki tua itu segera mengusap bilah keris pusaka di tangan kanannya segera. Cahaya biru kehitaman tercipta dari bilah keris pusaka itu.


Dengan gerakan cepat, Mpu Gandasena segera tusukkan keris pusaka nya yang bernama Keris Naga Hitam ini ke arah Song Zhao Meng.


"Matilah kau, iblis betina!!!"


Shhhhiiiiiiuuuuttthh....


Cahaya biru hitam meluruk cepat kearah Song Zhao Meng dari bilah keris pusaka di tangan Mpu Gandasena. Melihat itu, Song Zhao Meng cepat putar kedua telapak tangannya. Hawa dingin berdesir kencang dan bongkahan es tercipta di hadapan wanita cantik ini. Saat kedua tangan nya di angkat ke atas, bongkahan es itu ikut meninggi dan menciptakan sebuah dinding es setebal dua jengkal tangan.


Blllaaammmmmmmm!!!


Dinding es setebal dua jengkal tangan itu langsung meledak dan hancur berantakan saat cahaya biru kehitaman itu menghantam nya. Song Zhao Meng selamat dari maut berkat dinding es ciptaannya.


Saat Mpu Gandasena melihat serangannya sama sekali tidak berguna menghadapi dinding es ciptaan Song Zhao Meng, pria tua ini mendengus keras. Lalu kembali melakukan serangan yang sama ke arah Song Zhao Meng. Gadis cantik berbaju merah inipun kembali melakukan hal serupa untuk menghalangi serangan Mpu Gandasena.


Blllaaammmmmmmm!!!


Usai melakukan serangan cepat nya, Mpu Gandasena segera melesat cepat kearah belakang Song Zhao Meng. Rupanya serangan tadi hanya sebagai pengalihan semata. Setelah ledakan keras terdengar, dari arah belakang Mpu Gandasena melesat cepat kearah Song Zhao Meng sambil mengayunkan Keris Naga Hitam nya ke arah punggung sang permaisuri Panji Tejo Laksono.


Shhrreeettthhh!!


Putri Kaisar Huizong dari Daratan Tiongkok ini terkejut bukan main melihat kedatangan serangan cepat Mpu Gandasena ini. Segera dia menjejak tanah dengan keras untuk menghindar. Meskipun tusukan keris pusaka di tangan Mpu Gandasena masih bisa dia hindari, namun punggung mulus putri dari tanah seberang ini masih juga tergores oleh keris pusaka Mpu Gandasena.


Setelah mendarat di tanah sejauh hampir 3 tombak jauhnya dari Mpu Gandasena, rasa perih akibat luka goresan Keris Naga Hitam terasa sangat menyakitkan. Sedangkan Mpu Gandasena tersenyum penuh kemenangan melihat kulit punggung Song Zhao Meng yang putih mulus.


"Hehehehe....


Barusan aku sudah berhasil merobek pakaian mu heh setan betina. Sebentar lagi aku akan menelanjangi diri mu", senyum cabul terukir di wajah tua Mpu Gandasena. Lelaki tua itu bahkan menyapukan lidahnya ke bibir seolah sedang menghapus air liur nya yang ingin menetes.


Murka sudah Song Zhao Meng. Perlahan mata perempuan cantik itu memutih dan hawa dingin yang sanggup membekukan apa saja yang ada di dekatnya langsung terpancar keluar dari tubuhnya. Perlahan tubuhnya melayang di atas tanah.

__ADS_1


"Aku akan membuat mu hancur lebur berkeping-keping, kakek tua cabul!!", teriak Song Zhao Meng sambil perlahan mengangkat tangan kanannya ke depan.


Mpu Gandasena terkejut bukan main melihat perubahan ini. Saking takutnya, ia berusaha untuk menjauh dari Song Zhao Meng sesegera mungkin. Namun sebelum itu terjadi, tiba-tiba muncul di hadapan nya sebuah dinding es setebal dua jengkal tangan orang dewasa. Dinding es setinggi 2 tombak itu tidak mungkin ia lompati. Segera Mpu Gandasena bergerak cepat menuju ke arah timur namun lagi-lagi dinding es tebal itu menghalangi jalan nya.


Hanya dalam waktu singkat, Mpu Gandasena telah terkurung dalam kotak dinding es tebal. Merasa putus asa, dengan seluruh tenaga dalam nya, Mpu Gandasena menyalurkannya pada Keris Naga Hitam untuk menghancurkan dinding es tebal itu.


Jhhrrraaaaakkkkk....


Krraaattakkk blllaaaaaarrr!!!


Dinding es tebal itu retak dan hancur namun dengan cepat kembali utuh seperti sedia kala. Meski Mpu Gandasena bolak balik menusukkan Keris Naga Hitam nya, namun usahanya sia sia belaka.


Song Zhao Meng yang masih melayang di atas tanah segera memutar kedua telapak tangannya ke atas kepala. Sebuah dinding es setebal empat depa tercipta di udara.


"Matilah kau iblis tua cabul!!


Penjara Gunung Es....


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt!!!!"


Song Zhao Meng segera mengayunkan kedua tangan nya ke bawah dan balok es setebal 4 depa itu meluncur turun ke atas kepala Mpu Gandasena. Bekas petinggi punggawa Istana Kotaraja Daha itu pucat seketika melihat balok es tebal itu bergerak cepat ke arah nya.


"Keparat kau iblis betinaaaaaa!!!!!"


Blllaaammmmmmmm!!!!!!


Tubuh lelaki tua itu langsung hancur berantakan tertimpa balok es setebal 4 depa yang di lemparkan oleh Song Zhao Meng. Darah dan dagingnya yang hancur lebur seketika membeku dibawah balok es yang di ciptakan oleh putri Kaisar Huizong ini.


Song Zhao Meng segera mendarat dengan anggun di atas tumpukan balok es yang menimpa tubuh Mpu Gandasena.


*****


Whuuuggghh...


Dhiiieeeessshh!


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Tubuh Adipati Windupati langsung terpental jauh ke belakang dan jatuh terduduk di tanah. Dia muntah dan seluruh isi perutnya keluar. Tendangan keras kaki kanan Panji Tejo Laksono telak menghajar lambung penguasa Kadipaten Karang Anom ini.


Panji Tejo Laksono yang hendak bergerak menuju ke arah lelaki paruh baya itu untuk menghabisi nyawa nya langsung merubah gerakan tubuhnya saat dua hawa panas bercampur cahaya jingga kehitaman menerabas cepat menghadang.


Whhhuuuggghhhh whhhuuuggghhhh!


Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!!


Setelah mendarat usai bersalto mundur beberapa kali, Panji Tejo Laksono langsung menatap tajam ke arah Begawan Tanpa Wajah. Sejak Song Zhao Meng bergerak menuju ke arah Mpu Gandasena tadi, Panji Tejo Laksono langsung menerjang maju ke arah Adipati Windupati dan Begawan Tanpa Wajah. Sepanjang pertarungan sengit antara mereka bertiga, Begawan Tanpa Wajah seolah terus melindungi penguasa Kadipaten Karang Anom itu dengan segala daya upayanya. Ini semakin membuat Panji Tejo Laksono yakin bahwa ada sesuatu antara Adipati Windupati dan Begawan Tanpa Wajah. Karena itu, dia langsung memutuskan untuk memfokuskan serangannya pada lelaki tua yang memakai penutup wajah ini.


Sembari merapal mantra Ajian Brajamusti nya, Panji Tejo Laksono melesat cepat kearah Begawan Tanpa Wajah menggunakan Ajian Sepi Angin nya. Kecepatannya langsung meningkat drastis.


Melihat Panji Tejo Laksono bergerak cepat menuju ke arah nya, Begawan Tanpa Wajah langsung memutar tongkat besi berkepala tengkorak bertanduk itu dan langsung mengayunkannya memapak pergerakan sang pangeran muda.


Dua larik cahaya jingga kehitaman keluar dari mata tengkorak bertanduk di tangan Begawan Tanpa Wajah dan langsung menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono.


Shhiuuuuttthh shhiuuuuttthh!!

__ADS_1


Penguasa Kadipaten Seloageng ini segera merubah gerakan tubuhnya. Dia dengan cepat merapal mantra Ajian Halimun. Dalam waktu sekejap mata, tubuhnya telah menghilang bersama angin tepat sebelum cahaya jingga kehitaman itu mengenai tubuh nya.


Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!


Begawan Tanpa Wajah terkaget-kaget melihat hilangnya sang pangeran. Apalagi saat tiba-tiba saja Panji Tejo Laksono muncul di hadapan nya sambil menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna putih kebiruan. Lelaki tua berjanggut panjang ini segera menyilangkan tongkat besi berkepala tengkorak bertanduk nya untuk menghadang.


Blllaaammmmmmmm!!!


Huuuooooooooghhhhhh!!!


Kuatnya tenaga dalam tingkat tinggi yang di lambari Ajian Brajamusti seketika membuat tubuh Begawan Tanpa Wajah mencelat jauh ke belakang sambil memuntahkan darah segar dan menghantam tanah dengan keras. Panji Tejo Laksono tidak ingin kehilangan kesempatan ini dan langsung melesat cepat kearah lelaki tua berjanggut panjang itu untuk membunuhnya.


Adipati Windupati yang baru saja bangkit dari tempat jatuhnya, langsung melompat ke depan Panji Tejo Laksono sambil menusukkan keris nya. Namun dia kecele karena Panji Tejo Laksono tiba-tiba menghilang begitu saja.


Sang pangeran muda muncul di hadapan Begawan Tanpa Wajah dan dengan cepat menghantamkan tinju tangan kanan nya ke arah dada lelaki tua itu segera. Begawan Tanpa Wajah yang tidak siap dengan kecepatan sang pangeran muda hanya bisa pasrah saja pada saat tinju tangan kanan Panji Tejo Laksono menghajar dada kirinya.


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!


Begawan Tanpa Wajah kembali terpental jauh ke belakang. Dada kirinya hangus seperti baru tersambar petir setelah Ajian Brajamusti di tangan kanan Panji Tejo mengenainya. Tubuh tua itu langsung menghantam kereta perang milik Adipati Windupati yang membuat benda itu hancur berkeping keping. Dia langsung tewas seketika.


Panji Tejo Laksono usai berhasil menghabisi nyawa Begawan Tanpa Wajah, langsung menoleh ke arah Adipati Windupati yang ketakutan setengah mati.


"Kakek tua itu sudah mampus, Windupati..!!


Sekarang waktunya giliran mu!!!"


Adipati Windupati yang ketakutan segera berupaya untuk melarikan diri. Dia tahu bahwa ilmu kanuragan yang dia miliki tak setinggi Begawan Tanpa Wajah. Berusaha melawan Panji Tejo Laksono berarti sama dengan bunuh diri. Dia langsung berlari secepat mungkin ke arah para prajurit pemberontak pimpinan nya.


Tepat saat itu, Song Zhao Meng yang baru saja selesai mengakhiri perlawanan Mpu Gandasena melesat cepat kearah Adipati Karang Anom ini. Melihat niat buruk Adipati Windupati untuk kabur, Song Zhao Meng langsung mengibaskan tangan kanannya ke arah penguasa Kadipaten Karang Anom itu.


Shhhrriinggg shhhrriinggg !!


Dua bilah es tipis seperti bilah pedang langsung melesat cepat kearah punggung Adipati Windupati. Lelaki paruh baya itu hampir sampai di kerumunan para prajurit pemberontak pimpinan nya. Wajahnya yang berbinar-binar karena berpikir bahwa dia telah selamat, langsung berubah kaget saat merasakan sesuatu menembus punggungnya.


Jllleeeeeppppphhh jllleeeeeppppphhh!!!


Adipati Windupati langsung terjungkal menyusruk tanah dengan dua buah bilah es tipis tertancap di punggung. Sesaat kemudian tubuhnya membeku seketika. Dia tewas dengan tubuh mengeras seperti es.


Kematian Adipati Windupati, Begawan Tanpa Wajah dan Mpu Gandasena membuat mental para prajurit pemberontak runtuh seketika. Beberapa orang pendekar dunia persilatan yang ikut serta dalam kelompok ini langsung sadar bahwa pemberontakan ini telah gagal. Mereka semua langsung kabur meninggalkan para prajurit pemberontak.


Sisa-sisa prajurit pemberontak yang masih hidup berusaha keras untuk melawan para prajurit Panjalu namun semakin lama, mereka semakin banyak yang tewas di ujung senjata lawan. Saat mereka telah terjepit, salah seorang perwira rendah yang masih hidup segera melemparkan senjata nya ke tanah dan berlutut sambil meletakkan kedua tangan di belakang kepala sebagai tanda menyerah. Akhirnya satu persatu prajurit pemberontak memilih mengikuti langkah ini dan menyerah pada prajurit Panjalu.


Sorak sorai penuh kegembiraan terdengar dari mulut para prajurit Panjalu. Mereka telah melewati perang saudara ini. Tak henti-hentinya mereka mengelu-elukan Panji Tejo Laksono sebagai pemimpin yang cakap dan sakti mandraguna.


Dari arah Utara, terlihat dua orang mengendarai kuda mendekati Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya. Begitu sampai di tempat yang dituju, kedua orang prajurit yang tak lain adalah pengikut setia Senopati Agung Jarasanda ini segera menghormat pada Panji Tejo Laksono dan melaporkan apa yang telah terjadi di medan palagan utara. Mereka juga sempat melihat Mapanji Jayawarsa memimpin pasukan Kadipaten Bojonegoro memasuki wilayah Kotaraja Daha.


Para perwira tinggi prajurit Panjalu yang masih hidup seperti Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg, Tumenggung Rajegwesi, Tumenggung Wirosakti dan juga Endang Patibrata, Song Zhao Meng dan Dyah Kirana segera menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang termenung sejenak mendengar laporan dari dua orang prajurit ini. Mereka menunggu titah sang pangeran muda yang merupakan sikap nya dalam menghadapi masalah ini.


Sambil menghela nafas panjang, Panji Tejo Laksono pun berkata,


"Siapapun yang berkhianat terhadap Panjalu, tak peduli Pangeran, punggawa ataupun perwira tinggi prajurit,


Harus di hukum mati!!!"

__ADS_1


__ADS_2