Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Pralaya Pertapaan Gunung Mahameru ( bagian 1 )


__ADS_3

Setelah berkata demikian, Malaikat Bertopeng Emas mengayunkan tangan kanannya sebagai isyarat kepada para pengikutnya untuk menyerang. Ratusan orang bertopeng itu langsung menerjang maju ke arah para murid Pertapaan Gunung Mahameru yang sudah bersiap-siap untuk bertarung mempertahankan diri.


Pertarungan sengit antara mereka segera terjadi.


Mpu Jiwan segera menarik kedua telapak tangannya ke samping pinggang kanan, lalu dengan cepat cahaya merah kehitaman yang tercipta di antara telapak tangan itu dia hantamkan ke arah pagar kayu yang mengelilingi Pertapaan Gunung Mahameru.


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...


Whhhuuuuummmmmmm..


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan dahsyat terdengar saat cahaya merah kehitaman berbentuk bola yang di ikuti oleh angin panas yang sanggup membuat kulit melepuh ini menghantam pagar pertapaan yang terbuat dari kayu gelondongan. Pagar setinggi satu tombak ini langsung hancur berantakan sehingga para anggota Kelompok Bulan Sabit Darah dapat merangsek masuk ke dalam Pertapaan Gunung Mahameru.


Raungan tertahan bercampur jerit keras kesakitan yang diikuti oleh putusnya anggota tubuh pun segera terjadi. Beberapa orang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah malah melemparkan beberapa obor ke arah atap bangunan pertapaan yang terbuat dari daun alang-alang kering. Dengan cepat api membakar atap bangunan itu hingga malam hari yang gelap di lereng Gunung Mahameru itu berubah menjadi terang benderang.


Tak ingin Mpu Jiwan sang Hantu Misterius mengacak-acak tempat tinggalnya, Resi Ranukumbolo pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru segera melesat cepat kearah sang sesepuh Kelompok Bulan Sabit Darah ini sembari menghantamkan tapak tangan kanannya nya.


Whhhuuutthh..


Mpu Jiwan yang merasakan sesuatu sedang bergerak cepat menuju ke arah nya, langsung terkesiap ketika melihat sebuah cahaya kuning redup yang di ikuti oleh angin dingin berseliweran meluncur cepat kearah nya. Lelaki sepuh bertubuh kekar itu segera melompat mundur ke belakang.


Blllaaammmmmmmm!!


4 orang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang tak siap dengan serangan cepat Resi Ranukumbolo, langsung menjadi korban dari kehebatan Ajian Penghancur Rembulan yang di lepaskan oleh sang pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru. Tubuh mereka berempat langsung terpental ke arah yang berlawanan dan tewas seketika dengan luka-luka seperti baru saja di sayat oleh ribuan pedang.


Sementara itu, Panji Tejo Laksono yang mendengar suara bunyi kentongan bertalu-talu yang di ikuti oleh suara ledakan keras tadi, langsung sadar bahwa sesuatu sedang terjadi di Pertapaan Gunung Mahameru. Dia segera melompat turun dari ranjang malam pengantin nya, dan segera mengenakan pakaian nya.


"Dinda Kirana,


Aku akan menengok apa yang sedang terjadi di luar. Kau tunggu saja disini..", ucap Panji Tejo Laksono yang hanya mengenakan celana pendek selutut dan baju tanpa lengan berwarna biru tua tanpa mengenakan ikat kepala.


"Tapi Kangmas Pangeran..."


"Sudah jangan membantah.. Tunggu saja aku kembali.. Lagi pula kau masih susah untuk berjalan", Panji Tejo Laksono mengulum senyumnya sambil melirik ke arah Dyah Kirana yang tersipu malu-malu mendengar jawaban sang suami. Tanpa menunggu lama lagi, sang pangeran muda dari Kadiri itu segera bergegas keluar dari dalam kamar pengantin nya. Di luar kamar, Song Zhao Meng yang juga baru saja keluar dari kamar tidur nya pun sudah bersiap untuk melihat keadaan.


"Kakang Tejo..


Apa yang sedang terjadi?", tanya Song Zhao Meng segera.


"Aku juga tidak tahu, Meng Er. Sebaiknya kita lihat saja dulu sebelum bertindak. Ayo kita lihat siapa yang berani macam-macam di tempat ini..!", setelah itu, Panji Tejo Laksono langsung menarik tangan Song Zhao Meng dan keduanya segera melesat cepat kearah pintu gerbang Pertapaan Gunung Mahameru.


Dengan Ajian Sepi Angin nya, Panji Tejo Laksono melompat tinggi ke udara dan mendarat di salah satu atap bangunan yang ada tak jauh dari pintu gerbang pertapaan untuk mengamati situasi yang ada bersama Song Zhao Meng. Di bawahnya, terjadi pertarungan sengit antara para murid Pertapaan Gunung Mahameru juga Resi Ranukumbolo dibantu oleh kawan-kawannya melawan para anggota Kelompok Bulan Sabit Darah.


Melihat itu, Panji Tejo Laksono langsung naik darah.


"Bajingan kurang ajar ini..."


Sembari menggumam geram, Panji Tejo Laksono langsung merapal mantra Ajian Tapak Dewa Api dan melompat tinggi ke udara seraya menghantamkan tapak tangan kanan kiri nya ke arah para pengikut Kelompok Bulan Sabit Darah yang sedang mengepung Gardika si Pendekar Harimau Putih dari Perguruan Macan Mahameru.


"Ajian Tapak Dewa Api..


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt..."

__ADS_1


Whuuuggghh whhhuuuggghhhh!!


Dua larik cahaya merah menyala berhawa panas di sertai hembusan angin kencang panas menerabas cepat kearah para anggota Kelompok Bulan Sabit Darah.


Blllaaaaaarrr blllaaammmmmmmm!!!


Dua ledakan keras beruntun terdengar. Sebanyak 8 orang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah langsung terpental dengan tubuh gosong begitu cahaya merah menyala berhawa panas itu mengenai tubuh mereka.


Song Zhao Meng pun segera melesat cepat kearah Ki Jatmika yang nampak sedang di keroyok oleh puluhan orang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah. Ki Jatmika memang masih ikut berbincang di serambi kediaman keluarga Resi Ranukumbolo saat teriakan keras dari arah gerbang pertapaan terdengar dan lelaki paruh baya itu segera ikut serta menyusul Resi Ranukumbolo dan kawan-kawan nya ke arah gerbang pertapaan.


Gardika si Pendekar Harimau Putih yang sempat melihat kedatangan serangan Panji Tejo Laksono, berjumpalitan mundur beberapa tombak ke belakang agar terhindar dari serangan cepat sang pangeran muda. Begitu melihat Panji Tejo Laksono mendarat di sampingnya, lelaki tua bertubuh gempal dengan kumis jarang dan jenggot pendek putih ini tersenyum. Segera dia mendekati Panji Tejo Laksono.


"Sudah ku duga sebelumnya bahwa mantu Si Tua Ranukumbolo ini pasti bukan pendekar sembarangan..", puji Gardika segera.


"Terimakasih atas pujiannya, Ki Gardika..


Para keparat Kelompok Bulan Sabit Darah ini selalu mencari masalah dengan ku. Hari ini akan ku buat mereka menerima akibatnya..", ucap Panji Tejo Laksono yang tangannya masih memancarkan cahaya merah menyala seperti api yang berkobar.


"Aku setuju dengan pendapat mu, Kisanak..


Mereka juga punya hutang darah dengan ku. Hari ini aku Gardika si Pendekar Harimau Putih akan membantu mu memusnahkan mereka", ujar Gardika sembari mengangkat jari jemari kedua tangan nya yang berkuku tajam.


"Ayo kita musnahkan mereka..!!", setelah berkata seperti itu, Gardika segera melompat ke arah para anggota Kelompok Bulan Sabit Darah sambil mengayunkan cakar tangan nya yang setajam pisau belati.


Shhrrraaakkkkkhh!!


Melihat Gardika melesat maju, Panji Tejo Laksono tak mau tinggal diam. Sang pangeran muda dari Kadiri ini langsung melompat ke arah para pengikut Kelompok Bulan Sabit Darah sambil menghantamkan tapak tangan nya yang berwarna merah menyala.


Whhhuuutthh whhhuuutthh..


Blllaaaaaarrr blllaaammmmmmmm!!


Blllaaaaaarrr blllaaammmmmmmm!!


Dua ledakan keras beruntun terdengar. Kembali beberapa orang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah harus meregang nyawa setelah Panji Tejo Laksono menghantam tubuh mereka dengan Ajian Tapak Dewa Api. Laksana dewa kematian yang kejam, Panji Tejo Laksono terus menerus melepaskan Ajian Tapak Dewa Api ke sekelilingnya.


Mpu Mahasura sang Pendeta Darah yang baru saja menghabisi nyawa salah seorang murid Pertapaan Gunung Mahameru, melihat Panji Tejo Laksono mengamuk, langsung melesat cepat kearah sang pangeran muda dengan menghantamkan tapak tangan kanan nya.


Panji Tejo Laksono yang merasakan hawa pembunuh mendekat yang penuh dengan aroma anyir darah, melirik ke arah samping kiri. Melihat serangan cepat Mpu Mahasura sang Pendeta Darah ini, sang pangeran muda segera memapak hantaman telapak tangan kanan Mpu Mahasura dengan tapak tangan kanan nya.


Blllaaammmmmmmm!!


Ledakan dahsyat terdengar saat kedua pendekar berilmu tinggi ini mengadu ilmu kesaktian mereka. Baik Mpu Mahasura maupun Panji Tejo Laksono terdorong mundur hingga beberapa tombak jauhnya. Mpu Mahasura merasakan tangan kanannya kebas dan mati rasa sedangkan Panji Tejo Laksono mengibaskan tangannya yang terasa ngilu. Ini menandakan bahwa ilmu kanuragan mereka berimbang.


'Hemmmmm pemuda ini mampu menahan hantaman Ajian Tapak Iblis Darah ku.. Siapa dia? Masih semuda ini tapi memiliki kemampuan beladiri yang begitu tinggi', batin Mpu Mahasura.


"Om Swasyastu..


Anak muda, kau sungguh luar biasa. Setahu ku, di dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah timur ini, hanya beberapa orang saja yang sanggup beradu ilmu kesaktian dengan ku Mpu Mahasura sang Pendeta Darah. Katakanlah, siapa guru yang menurunkan ilmu kanuragan yang begitu tinggi kepada mu?", tanya Mpu Mahasura dengan sopan.


"Aku punya banyak guru, Kakek tua..


Tapi yang paling akhir adalah Maharesi Yogiswara dari Gunung Penanggungan", ucap Panji Tejo Laksono sembari menatap tajam ke arah Mpu Mahasura. Meskipun hanya dengan penerangan kebakaran di beberapa bangunan Pertapaan Gunung Mahameru, namun bisa di lihat jelas oleh Mpu Mahasura bahwa Panji Tejo Laksono adalah lawan yang sulit untuk dihadapi.

__ADS_1


Hemmmmmmm...


"Si Tua Yogiswara ya??!... Setahu ku, dia tidak memiliki ajian Tapak Dewa Api. Hanya orang-orang Padepokan Padas Putih di wilayah Panjalu saja yang menguasai ilmu itu.


Apa kau juga salah satu dari sekian banyak murid Padepokan Padas Putih?", kembali Mpu Mahasura bertanya.


"Pengetahuan mu cukup luas juga, Kakek tua..


Aku memang salah satu murid dari Padepokan Padas Putih. Ada masalah dengan hal itu?", Panji Tejo Laksono sama sekali tidak mengendurkan kewaspadaan terhadap lelaki tua berjanggut merah dan rambut gimbal yang juga berwarna merah ini.


"Kalau begitu, aku punya alasan untuk membunuh mu. Ada dendam yang harus kau tanggung karena menjadi murid dari Padepokan Padas Putih.


Si Keparat Wirotama, pimpinan Padepokan Padas Putih telah mencelakai murid ku dan aku juga akan melakukan hal yang sama pada murid nya. Bersiaplah untuk mati, anak muda!!", setelah berkata demikian, Mpu Mahasura segera komat-kamit merapal mantra. Dia tidak menggunakan lagi Ajian Tapak Iblis Darah nya karena tahu ilmu kanuragan itu tak akan cukup untuk membuat Panji Tejo Laksono kalah.


Tiba-tiba saja muncul cahaya merah darah yang di selingi angin kencang berbau anyir di sekitar tubuh Mpu Mahasura. Cahaya merah darah ini segera membentuk lingkaran besar yang terus berputar cepat di sekeliling tubuh lelaki tua berjubah merah ini. Rupanya dia hendak melepaskan Ajian Cakra Iblis Darah yang merupakan salah satu dari sekian ilmu kanuragan tingkat tinggi yang dia miliki.


Secepat kilat dia mengangkat kedua tangan nya. Bersamaan dengan itu, cahaya merah darah ini terangkat ke atas kepala nya. Dengan sekuat tenaga, dia melemparkan Ajian Cakra Iblis Darah nya ke arah Panji Tejo Laksono.


Whhhuuummmm!!


Panji Tejo Laksono yang sadar bahwa lawannya sudah mengerahkan ilmu kanuragan tingkat tinggi pun segera merapal mantra Ajian Brajamusti. Tangan kanannya dengan cepat bersinar putih kebiruan yang memancarkan hawa panas seperti petir yang menyambar. Secepat kilat dia menghantam lingkaran cahaya merah darah itu dengan tapak tangan kanan nya.


Dhhaaaassshhh...


Lingkaran besar cahaya merah darah ini segera mental ke arah samping kanan Panji Tejo Laksono dan meledak di sana.


Blllaaammmmmmmm!!


Melihat serangan nya mudah di patahkan, Mpu Mahasura mendengus keras lalu dengan cepat kembali melemparkan Ajian Cakra Iblis Darah nya ke arah sang pangeran muda bertubi-tubi.


Whuumm whhhuuummmm!!


Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!


Panji Tejo Laksono harus berjumpalitan kesana kemari untuk menghindari serangan Mpu Mahasura yang semakin lama semakin cepat. Sembari terus menghantamkan Ajian Brajamusti di kedua telapak tangan nya, dia harus bergerak kesana-kemari untuk berkelit.


Saat baru saja menjejak tanah, tiba-tiba saja dari atas, lingkaran cahaya merah darah ini meluncur turun dan mengelilingi tubuh sang pangeran muda dari Kadiri.


Panji Tejo Laksono berusaha keras untuk melepaskan diri dari belenggu cahaya merah darah yang terus menghalangi nya untuk bergerak. Saat itu, tiba tiba saja sebuah bayangan merah berkelebat cepat dan menghantam dada Panji Tejo Laksono yang masih kesulitan bergerak.


Blllaaammmmmmmm!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Panji Tejo Laksono benar-benar tidak bisa bergerak sama sekali saat Mpu Mahasura menghantam nya dengan Ajian Rengkah Gunung nya. Tubuh sang pangeran muda dari Kadiri ini terlempar ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras.


"Sayang sekali kau harus mati anak muda..


Padahal aku mulai suka dengan cara mu bersikap. Om Swasyastu..", Mpu Mahasura sang Pendeta Darah membungkuk hormat kepada Panji Tejo Laksono yang tengkurap di atas tanah. Namun saat dia berdiri tegak kembali, mata Mpu Mahasura sang Pendeta Darah membeliak lebar tatkala ia melihat sesosok makhluk putih seukuran manusia biasa namun dengan wujud menyeramkan dengan taring besar dan mata merah layaknya raksasa muncul dari tubuh Panji Tejo Laksono yang hancur akibat Ajian Rengkah Gunung nya. Satu persatu makhluk menyeramkan itu muncul dan tak kurang ada 10 makhluk menyeramkan ini muncul dari dalam tubuh Panji Tejo Laksono.


Mpu Mahasura pun segera sadar bahwa ia kini dalam masalah besar.


"Celaka..!!!

__ADS_1


Itu Ajian Chanda Bhirawa!!!"


__ADS_2