
Seringai lebar yang terukir di wajah Senopati Mpu Balitung langsung memudar seiring hilangnya asap tebal yang menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono yang baru saja terkena hantaman Ajian Penghancur Jagat miliknya.
Betapa tidak, selama ini tak satupun pendekar yang sanggup bertahan hidup jika sudah terkena hantaman ajian ilmu kanuragan tingkat tinggi miliknya itu. Namun kini, ada seorang ksatria muda dari keprajuritan Panjalu yang sama sekali tidak terluka sedikitpun setelah menerima hantaman telak Ajian Penghancur Jagat. Dia sungguh-sungguh terperangah.
Bahkan kini justru wajah tampan sang ksatria muda ini menyunggingkan senyuman tipis ke arah Senopati Mpu Balitung seperti sedang mengejek sang pimpinan utama pasukan Jenggala yang baru saja membokong nya.
"Ba-bagaimana mungkin...??!!!", gumam lirih Senopati Mpu Balitung melihat kejadian yang terjadi di depan mata nya itu.
"Ternyata orang-orang Jenggala sukanya main belakang ya? Sungguh pengecut!", ucap Panji Tejo Laksono sembari menatap tajam ke arah Senopati Mpu Balitung.
Ucapan Panji Tejo Laksono itu sontak membuat Senopati Mpu Balitung tersadar dari lamunannya. Sambil mendelik kereng pada Panji Tejo Laksono, dia menghardik keras.
"Tutup mulut mu, anak kemarin sore!!!
Aku tidak percaya kalau kau sanggup menahan Ajian Penghancur Jagat ku lebih dari sekali..!!"
Setelah berkata demikian, kedua tangan Senopati Mpu Balitung kembali memancarkan cahaya putih kehijauan. Dengan cepat ia menghantamkan kedua tangan nya ke arah Panji Tejo Laksono.
Whuuthhh whuuthhh whuuthhh..
Whuuuggghh..!!
Empat cahaya putih kehijauan berhawa sejuk namun mematikan dengan cepat menerjang ke arah Panji Tejo Laksono yang kini berhadapan dengan Senopati Mpu Balitung.
Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr..
Blllaaaaaarrr...
Blllaaammmmmmmm !!!
Empat ledakan dahsyat beruntun terdengar saat empat sinar putih kehijauan berhawa sejuk itu kembali menghantam tubuh Panji Tejo Laksono yang tertutup oleh cahaya kuning keemasan.
Namun kembali Senopati Mpu Balitung kecele. Panji Tejo Laksono sama sekali tidak terpengaruh oleh hantaman beruntun dari Ajian Penghancur Jagat yang di lepaskan oleh Senopati Mpu Balitung. Malahan sinar kuning keemasan yang menutupi seluruh tubuh sang pangeran muda dari Kadiri ini semakin terang.
Melihat itu, Senopati Mpu Balitung segera memberikan isyarat kepada para prajurit Jenggala yang ada di dekat nya untuk maju menyerang ke arah Panji Tejo Laksono.
Empat orang prajurit Jenggala bersenjatakan tombak langsung melompat maju sambil menusukkan senjata mereka masing-masing ke arah badan sang penguasa Kadipaten Seloageng ini.
Whhhuuuggghhhh..
Thhraaaangggggggg!!
Terdengar suara denting nyaring saat ujung tombak itu mengenai kulit Panji Tejo Laksono, seperti sedang membentur logam keras. Para prajurit Jenggala itu terkejut bukan main melihat itu semua.
Belum hilang rasa keterkejutannya, Panji Tejo Laksono dengan cepat mengapit tombak para prajurit Jenggala menggunakan lengan atasnya setelah memutar tubuhnya dan maju selangkah. Para prajurit Jenggala berusaha keras untuk menarik senjata mereka namun semakin keras mereka menarik gagang tombak, jepitan lengan Panji Tejo Laksono terasa semakin erat mengapit senjata mereka.
Menggunakan lengan tangan kanannya, Panji Tejo Laksono langsung menghantam gagang tombak yang terbuat dari kayu itu.
Brraaaaaakkkkkkk...
Empat gagang tombak itu langsung patah setelah terkena hantaman siku tangan kanan Panji Tejo Laksono. Dengan gerakan cepat yang sulit di ikuti oleh mata biasa, Panji Tejo Laksono memutar tubuhnya dan dengan cepat melemparkan empat ujung tombak di jepitan lengan kiri nya ke arah para prajurit Jenggala yang mengeroyoknya.
Whhhuuutthh whhhuuuggghhhh!!
__ADS_1
Chhreepppppph chhreepppppph!!!
Aaaarrrgggggghhhhh!!
Empat orang prajurit Jenggala langsung tersungkur setelah ujung tombak mereka menembus perut. Mereka langsung tewas di tempat.
Melihat itu, seorang bekel prajurit Jenggala yang bertubuh tinggi besar langsung melompat tinggi ke udara dan menghantamkan sebuah palu besi besar yang menjadi senjata andalan nya ke arah kepala sang pangeran muda dari Kadiri.
"Remuk kepala mu, bajingan!!ยน
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat!!!"
Thhraaaangggggggg!!!
Mata sang bekel prajurit Jenggala itu melotot lebar saat melihat palu besi nya yang sebesar kelapa kambing tak bisa berbuat apa-apa meski menghantam telak kepala sang pangeran. Malahan kini dia yang gelagapan saat melihat Panji Tejo Laksono mengayunkan pukulan nya yang di lapisi oleh Ajian Tapak Dewa Api.
Blllaaaaaarrr!!!
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Sang bekel prajurit Jenggala bersenjatakan palu besi besar itu langsung terjengkang dengan dada hangus seperti terbakar api. 8 orang prajurit Jenggala langsung menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono. Dengan bersenjatakan pedang, mereka dengan cepat menusukkan pedang nya ke arah sang pangeran muda.
Sekali hentak, tubuh Panji Tejo Laksono melenting tinggi ke udara dan mendarat di atas bilah pedang para prajurit Jenggala. Dengan gerakan cepat yang sukar di ikuti oleh mata biasa, Panji Tejo Laksono langsung menyepak kepala para prajurit Jenggala yang mengeroyoknya.
Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh!!
Oouuugghhhhhh!!
Sementara para prajurit Jenggala membuat repot Panji Tejo Laksono, Senopati Mpu Balitung menyiapkan ilmu kanuragan nya yang lain. Kulit sang perwira tinggi prajurit Jenggala ini berubah menjadi merah dengan otot yang menonjol dari permukaan kulitnya.
Ini merupakan perwujudan dari Ajian Raga Ashura yang membuat penggunanya jadi memiliki tenaga dalam berlipat ganda. Juga dengan kecepatan tinggi yang mampu bergerak cepat bagaikan kilat.
Setelah melihat para prajurit nya tak berdaya menghadapi Panji Tejo Laksono, Senopati Mpu Balitung mendengus keras. Lelaki paruh baya bertubuh kekar itu segera menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat bagaikan anak panah lepas dari busurnya ke arah Panji Tejo Laksono.
Tanpa menunggu lama, sang pimpinan utama pasukan Jenggala ini langsung menghantam dada Panji Tejo Laksono yang masih di liputi oleh cahaya kuning keemasan.
Bhhuuuuummmmmmhh!!!
Kekuatan yang meningkat puluhan kali lipat membuat hantaman tangan kanan Senopati Mpu Balitung mampu mendorong tubuh lawan hingga 2 tombak jauhnya. Meski tidak menimbulkan luka, namun Panji Tejo Laksono terkejut melihat perubahan ini.
Saat Senopati Mpu Balitung melancarkan serangannya untuk kali kedua, Panji Tejo Laksono langsung melenting tinggi ke udara menghindari hantaman tangan kanan kiri sang perwira Jenggala.
Bhhuuuuummmmmmhh..
Bhhuuuuummmmmmhh!!
Setelah berjumpalitan mundur beberapa kali, begitu Panji Tejo Laksono menjejak tanah, sang pangeran muda dari Kadiri ini segera merapal mantra Ajian Waringin Sungsang nya. Cahaya hijau kebiruan dengan cepat tercipta dari pinggang Panji Tejo Laksono yang segera menjalar ke arah tubuh bagian atas nya.
Melihat itu, Senopati Mpu Balitung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sambil mengayunkan tangan kanannya ke arah dada Panji Tejo Laksono dengan menyeringai lebar.
"Mampus kau, wong Panjalu keparat!!"
Bhhuuuuummmmmmhh!!
__ADS_1
Kali ini hantaman tangan kanan Senopati Mpu Balitung tak bisa membuat tubuh Panji Tejo Laksono tersurut mundur namun justru tangan kanannya seperti melekat erat di dada kiri sang pangeran muda.
"Aaaarrrgggggghhhhh...
Apa ini???!!!", teriak Senopati Mpu Balitung sambil berusaha keras untuk menarik tangan kanannya yang sudah di ikat oleh sinar hijau kebiruan Ajian Waringin Sungsang.
Rasa sakit yang luar biasa dengan cepat menyerang ke seluruh tubuh Senopati Mpu Balitung. Sendi sendi tubuhnya terasa seperti mau lepas dari tempat nya. Begitu pula dengan tenaga dalam nya yang perlahan tersedot oleh Ajian Waringin Sungsang milik sang pangeran muda dari Kadiri.
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!
.
Perlahan, warna merah di kulit Senopati Mpu Balitung menghilang dan berganti menjadi hitam dan terus menghitam. Darah segar mengalir keluar dari mulut, hidung, mata dan telinganya.
Tiba-tiba saja, sesosok bayangan berkelebat cepat kearah pertarungan mereka. Dengan tapak tangan kanan yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi, sang bayangan itu langsung menghantam bahu kiri Panji Tejo Laksono.
Blllaaammmmmmmm !!
Ledakan dahsyat terdengar saat itu juga. Panji Tejo Laksono terpental ke belakang. Walaupun begitu, dia segera merubah gerakan tubuhnya dan berhasil menghentikan laju mundur nya dengan satu kaki dia hujamkan ke tanah. Ada darah segar yang meleleh keluar dari sudut bibir nya.
Si bayangan itu adalah seorang kakek tua bertubuh kurus namun berotot juga berjanggut panjang dengan dengan tatapan mata tajam. Rambutnya yang memutih tergelung di atas kepalanya. Melihat dari pakaiannya dia adalah seorang pendekar pertapa. Kakek tua renta itu segera menoleh ke arah Senopati Mpu Balitung yang terkapar di atas tanah.
Senopati Mpu Balitung masih bernafas namun melihat keadaan nya yang sekarang, dia sudah tidak mungkin hidup lagi. Luka dalam nya akibat Ajian Waringin Sungsang milik sang pangeran muda dari Kadiri telah membuat hancur seluruh urat nadi dan persendian otot nya. Dia juga kehilangan seluruh tenaga dalam nya. Tak seorangpun yang mampu untuk menolong pimpinan utama pasukan Jenggala ini.
Melihat kondisi tubuh Senopati Mpu Balitung yang terkapar tak berdaya di hadapan nya, kakek tua itu mendengus keras lalu menoleh ke arah Panji Tejo Laksono.
"Anak muda, kenapa kau begitu kejam menyiksa murid ku seperti ini ha? Dimana hati nurani mu?!", ucap sang kakek tua bertubuh kurus namun berotot itu dengan penuh amarah.
"Dalam perang, tidak ada kata kejam maupun baik hati Kisanak..
Kalau hari ini bukan dia yang mati, tentu aku yang akan menjadi mayat. Jangan menanyakan apakah aku punya hati nurani atau tidak, karena dalam pertempuran ini yang ada hanyalah hidup dan mati", jawab Panji Tejo Laksono sembari mengusap sisa darah segar yang ada di sudut bibirnya.
"Kalau begitu aturannya, maka aku Wong Agung Pucangan, akan meminta keadilan atas luka yang dialami oleh murid ku.
Bersiaplah untuk menerima serangan ku!!"
Setelah berkata demikian, kakek tua yang mengaku sebagai Wong Agung Pucangan itu segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sambil mengayunkan tangan kanannya yang sudah berwarna biru terang layaknya warna petir yang menyambar di langit.
Panji Tejo Laksono pun bersiap untuk menghadapi serangan kakek tua itu dengan Ajian Tameng Waja nya. Tubuhnya kembali memancarkan cahaya kuning keemasan yang menyilaukan mata.
Namun di saat yang bersamaan, sebuah bayangan berkelebat cepat menghadang laju pergerakan Wong Agung Pucangan dengan tangan kanan yang di lambari cahaya putih kebiruan yang memancarkan aura yang menakjubkan. Dengan cepat sang bayangan ini memapak hantaman tangan kanan Wong Agung Pucangan.
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!
Ledakan maha dahsyat terdengar hingga luar Kota Kunjang. Gelombang kejut besar yang tercipta sanggup membuat seluruh bangunan yang ada di Kota Kunjang berderak seperti halnya terkena gempa bumi. Para prajurit yang sedang bertarung pun tak luput dari imbas ledakan maha dahsyat itu. Yang berilmu rendah pasti terpental sedangkan yang berilmu tinggi harus cepat cepat menguasai dirinya. Ini adalah benturan tenaga dalam yang sangat tinggi.
Wong Agung Pucangan tersurut mundur hampir 10 tombak jauhnya dari tempat beradunya dengan bayangan itu. Lelaki tua berjanggut panjang yang tersohor sebagai salah satu pendekar sepuh terhebat di Tanah Jawadwipa wilayah timur itu muntah darah segar. Baru kali ini dia merasakan luka dalam akibat benturan ajian kanuragan setelah sekian tahun lamanya menjadi sosok pendekar pilih tanding. Segera dia menatap ke arah sosok bayangan yang memapak serangan nya.
"Siapa kau? Kenapa kau ikut campur dalam urusan ku?", tanya Wong Agung Pucangan segera.
Si bayangan yang ternyata adalah seorang lelaki paruh baya bertubuh kekar dengan kumis tebal dan janggut pendek yang di tumbuhi beberapa uban ini tersenyum saja mendengar pertanyaan itu. Dia terlihat menghela nafas berat sebelum berbicara.
"Aku Prabu Jayengrana, Raja Panjalu.."
__ADS_1