
Mendengar perkataan Panji Tejo Laksono, Mpu Dirno langsung menatap tajam ke arah sang pangeran muda. Sejenak matanya menelisik seluruh tubuh Panji Tejo Laksono seakan mencari tahu siapa sosok di depannya itu.
.
"Siapa kau? Ini bukan urusan mu", Mpu Dirno mendelik ke arah Panji Tejo Laksono.
"Siapa aku itu tidak penting. Yang jelas persoalan ini menyangkut kepentingan masyarakat di Kerajaan Panjalu, maka aku ikut campur", jawab Panji Tejo Laksono segera.
Phhuuuiiiiiihhhhh..
"Bocah kemarin sore sudah berani mengatakan urusan kerajaan Panjalu. Saat kau masih ******* di susu ibu mu, aku sudah melanglang buana ke wilayah Panjalu jadi jangan sok menggurui ku tentang urusan kerajaan", Mpu Dirno mendengus keras.
"Jaga bicaramu kepada junjungan ku, keparat! Dimana tata krama mu sebagai seorang kawula Kerajaan Panjalu ha?
Jangankan kau, Adipati Kalingga pun harus menghormati Denmas Panji", Tumenggung Ludaka mulai geram karena ketidaksopanan Mpu Dirno.
"Kacung sialan!
Jangankan pada junjungan mu ini, pada Prabu Jayengrana pun aku tidak takut!", sahut Mpu Dirno acuh tak acuh terhadap omongan Tumenggung Ludaka.
"Kurang ajar!
.
Kau pantas mendapatkan pelajaran karena berani menghina Denmas Panji", setelah bicara demikian, Tumenggung Ludaka langsung menerjang maju ke arah Mpu Dirno.
Bersamaan dengan itu, para pengawal pribadi Panji Tejo Laksono langsung mengikuti langkah sang perwira tinggi prajurit Panjalu. Para murid Perguruan Naga Langit yang menoleh ke arah Nalayana, begitu melihat anggukan kepala dari sang pimpinan, langsung ikut serta menerjang ke arah gerombolan baju gelap itu.
Pertarungan sengit segera terjadi.
Keributan yang terjadi membuat Gayatri dan Luh Jingga yang ada di dalam rumah langsung berlari keluar. Saat mereka melihat para prajurit pengawal pribadi Panji Tejo Laksono dan para murid Perguruan Naga Langit bertarung dengan puluhan orang berpakaian serba gelap, Gayatri dan Luh Jingga langsung hendak ikut melompat maju. Namun Panji Tejo Laksono yang sedari tadi hanya diam saja menonton pertarungan sengit itu, langsung mencekal lengan kedua perempuan cantik itu.
"Kalian mau apa? Sudah diam disini saja", ujar Panji Tejo Laksono segera.
"Tapi Denmas, mereka..."
Belum selesai Luh Jingga bicara, Panji Tejo Laksono sudah lebih dulu memotong omongannya.
"Tenang saja, mereka bukan lawan para prajurit kita dan orang orang Perguruan Naga Langit", ujar Panji Tejo Laksono seraya menoleh ke arah pertarungan sengit yang sedang terjadi.
Benar saja, setelah sepuluh jurus berlalu, para lelaki berpakaian serba gelap itu mulai berjatuhan satu persatu.
Sedangkan Mpu Dirno yang menghadapi Tumenggung Ludaka mulai terdesak mundur. Bahkan sebuah pukulan keras yang di layangkan oleh sang perwira tinggi prajurit Panjalu itu sudah membuat nya terjatuh ke tanah.
"Ilmu kanuragan sedangkal hitam kuku jari saja sudah berani bicara sombong tentang Gusti Prabu Jayengrana.
Kau terlalu jumawa, bangsat tua!", ucap Tumenggung Ludaka sembari menyeringai lebar menatap ke arah Mpu Dirno yang masih terbaring di atas tanah.
Chuuuihhhhhh...!
"Aku masih belum kalah, kacung sialan!"
Mpu Dirno segera berdiri usai meludahkan darah segar yang ada di dalam mulutnya. Segera kedua tangan nya memutar perlahan di depan dada lalu menangkup di depan dada. Sinar merah terang muncul di telapak tangan Mpu Dirno.
"Ajian Cadas Ngampar!
Paman Ludaka, dia mengeluarkan Ajian Cadas Ngampar! Berhati-hatilah!"
Mendengar teriakan keras Panji Tejo Laksono, Tumenggung Ludaka segera memusatkan seluruh tenaga dalam nya.
"Saatnya kau mampus, kacung!"
Hiyyyyaaaaaaaatttttt...!!
Mpu Dirno segera menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah terang kearah Tumenggung Ludaka.
Shhiiiuuuuuuttttt..!
Dengan cepat, Tumenggung Ludaka melompat tinggi ke udara menghindari sinar merah terang berhawa panas yang menerabas cepat kearah nya. Panji Tejo Laksono yang di belakang nya langsung merapal mantra Ajian Tameng Waja begitu sinar merah terang itu menuju ke arah nya.
Blllaaammmmmmmm !
Tepat sesaat sebelum sinar merah terang menghantam tubuh Panji Tejo Laksono, sang pangeran muda dengan cepat menarik tubuh Luh Jingga dan Gayatri agar berlindung di belakangnya. Asap tebal menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono.
Mpu Dirno tersenyum lebar ketika melihat tubuh Panji Tejo Laksono terbungkus oleh asap putih tebal yang terjadi setelah Ajian Cadas Geni telak menghajar tubuh sang pangeran muda.
__ADS_1
Namun itu tidak berlangsung lama.
Saat asap putih tebal itu mulai mereda, dan wajah tampan Panji Tejo Laksono menyembul dengan senyum manis nya, mata Mpu Dirno melotot lebar.
Tak hanya Mpu Dirno, bahkan Lurah Wanua Weleri Mpu Dirgo pun tak percaya dengan apa yang terjadi di depan mata nya.
'Pemuda ini tidak apa-apa setelah di hantam Ajian Cadas Ngampar. Tubuhnya justru seperti terbungkus oleh sinar kuning keemasan. Aku pernah melihat pemandangan ini dulu', batin Mpu Dirgo.
Saat Mpu Dirno masih terkejut dengan keampuhan ilmu kanuragan Panji Tejo Laksono, Tumenggung Ludaka yang lolos dari maut memanfaatkan kelengahan Mpu Dirno dengan melemparkan dua belati nya ke arah saudara kembar Mpu Dirgo itu segera.
Shrrriinnnggg ! shrrriinnnggg !
Desiran angin dingin yang mengikuti lesatan pisau belati yang di lepaskan Tumenggung Ludaka membuat Mpu Dirno segera tersadar bahwa dia dalam bahaya.
Pria paruh baya bertubuh gempal itu dengan cepat membuat gerakan berputar untuk menghindari serangan pisau belati. Satu berhasil di hindari namun satu lagi berhasil menancap di dada kanan Mpu Dirno.
Chhreepppppph !
Auuuggghhhhh !
Mpu Dirno meraung keras sembari terhuyung huyung mundur. Tangan kiri nya dengan cepat membekap luka di dada kanan nya agar tidak mengeluarkan darah lebih banyak.
"Bangsat!
Kau menyerang ku saat aku lengah! Dasar bedebah!", maki Mpu Dirno sambil menatap tajam ke arah Tumenggung Ludaka. Darah segar mengalir keluar dari luka di dada kanan nya. Segera dia mencabut pisau belati Tumenggung Ludaka dan menotok beberapa jalan darah untuk menghentikan pendarahan.
"Huhhhhh...
Salah mu sendiri meleng melihat ke arah Denmas Panji. Masih mau bertarung? Majulah sekarang!".
Tumenggung Ludaka segera memberikan isyarat kepada Mpu Dirno untuk maju dengan tangan kanan nya. Kembaran Mpu Dirno mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu dan melihat anak buah nya berjatuhan hingga menyisakan 4 orang saja.
"Sikat saja Lu..
Masak tumenggung andalan Kerajaan Panjalu kalah dengan cecunguk seperti dia?"
Sontak ucapan Demung Gumbreg membuat semua orang yang ada di tempat itu terkejut bukan main termasuk Mpu Dirgo, Nalayana dan para murid Perguruan Naga Langit. Pun Mpu Dirno yang menghadapi Tumenggung Ludaka tak kalah kagetnya.
Usai berhasil menguasai kekagetannya, Mpu Dirno yang sadar telah berani menantang Prabu Jayengrana langsung ciut nyalinya. Dia segera merogoh kantong baju nya dan melemparkan sebutir bola berwarna putih ke tanah.
Bola meledak dan menciptakan asap tebal yang menghalangi pandangan. Saat asap putih tebal itu menghilang, Mpu Dirno dan kawan-kawan nya pun turut menghilang di balik kegelapan malam.
Panji Tejo Laksono langsung melotot tajam ke arah Demung Gumbreg.
"Mulut mu itu memang tidak bisa di kekang ya Paman Gumbreg? Kenapa selalu saja buka mulut sembarangan?", hardik Panji Tejo Laksono. Tumenggung Ludaka berjalan menghampiri mereka berdua. Luh Jingga dan Gayatri pun melihat kekesalan di wajah tampan Panji Tejo Laksono.
Sadar bahwa ia telah keceplosan omongan, Demung Gumbreg pun ketakutan dengan kemarahan Panji Tejo Laksono.
"E-eh maafkan saya Denmas Panji.. Mulut saya memang susah di atur", ucap Demung Gumbreg sambil membungkuk hormat kepada Panji Tejo Laksono.
"Telat !
Semua orang sudah mendengar ucapan mu itu Paman", ujar Panji Tejo Laksono sembari melirik ke arah Lurah Wanua Weleri dan Nalayana yang berjalan mendekati mereka.
"Mohon maaf sebelumnya Kisanak, apa benar saudara Ludaka ini adalah tumenggung andalan Kerajaan Panjalu?
Mohon berikan keterangan nya", tanya Ki Lurah Mpu Dirgo pada Panji Tejo Laksono dengan sopan.
Hemmmmmmm..
Setelah menghela nafas panjang, Panji Tejo Laksono segera menoleh ke arah Tumenggung Ludaka dan mengangguk perlahan. Melihat isyarat Panji Tejo Laksono, Tumenggung Ludaka angkat bicara.
"Benar Ki Lurah..
Aku memang perwira tinggi prajurit Panjalu dengan pangkat tumenggung. Maaf jika tadi aku terpaksa harus menyembunyikan jati diri ku karena kami dalam penyamaran", ucap Tumenggung Ludaka sambil tersenyum tipis.
Mendengar jawaban itu, Ki Lurah Weleri langsung berlutut di hadapan Tumenggung Ludaka dan menyembah nya sebagai tanda penghormatan terhadap pemerintah Kerajaan Panjalu.
"Mohon maafkan saya Gusti Tumenggung. Sebelumnya saya sudah berbuat lancang dan tidak sopan pada Gusti Tumenggung Ludaka", ujar Ki Lurah Mpu Dirgo segera.
"Tidak perlu seperti itu, Ki Lurah.. Aku tidak patut mendapat sembah bakti mu.
Kau seharusnya memberikan penghormatan kepada Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, putra sulung dari Gusti Prabu Jayengrana. Dia sekarang ada di hadapan mu", jawab Tumenggung Ludaka sambil menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono dengan tata krama istana.
Kejutan besar itu langsung membuat seluruh orang termasuk Nalayana dan para murid Perguruan Naga Langit berjongkok dan menyembah pada Panji Tejo Laksono.
__ADS_1
"Sembah bakti kami untuk Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono".
"Sudah lah, segeralah berdiri. Jangan terlalu banyak adat padaku", titah Panji Tejo Laksono.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", jawab semua orang bersamaan dan berdiri di depan Panji Tejo Laksono dengan penuh hormat.
"Sekarang sudah malam, sebaiknya kita segera ke pendopo. Mari kita berbincang disana.
Paman Gumbreg, kau ku wajib kan mengurusi para perusuh itu. Ikat mereka di dekat kandang kuda. Besok pagi baru kita lepaskan sebagai pelajaran kepada mereka. Siwikarna dan kau Jaluwesi, bantu Paman Gumbreg", perintah Panji Tejo Laksono.
"Daulat Gusti Pangeran!"
Setelah berkata demikian, Panji Tejo Laksono berjalan masuk ke arah pendopo bersama Tumenggung Ludaka, Luh Jingga, Gayatri, Ki Lurah Mpu Dirgo dan Nalayana. Sedangkan Demung Gumbreg di bantu Siwikarna dan Jaluwesi mengikat para komplotan Mpu Dirno di samping kandang kuda.
"Dasar apes...
Salah ngomong sedikit saja kena hukuman sama Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono", gumam Demung Gumbreg sambil mengencangkan ikatan tali yang mengikat tubuh para perusuh komplotan Mpu Dirno itu.
"Lha itu bukan kesalahan kecil loh Gusti Demung..
Karena omongan Gusti Demung, Gusti Pangeran terpaksa membongkar rahasia penyamaran kita. Padahal Gusti Pangeran ingin jati diri kita tidak ketahuan sebelum kita bertemu dengan Adipati Kalingga itu", ujar Siwikarna yang masih membantu Jaluwesi mengikat tangan anak buah Mpu Dirno.
"Kalian tahu darimana Gusti Pangeran bicara begitu? Jangan sok tahu deh", Gumbreg terlihat kurang suka dengan omongan Siwikarna.
"Hamba dengar sendiri Gusti Demung.. Tuh Jaluwesi juga dengar waktu berangkat kemarin dulu..
Ya kan Jaluwesi?", Siwikarna menoleh ke arah Jaluwesi seakan meminta dukungan.
"Betul itu Gusti Demung, saya dengar sendiri", timpal Jaluwesi segera.
"Alah kalian ini memang kompak dalam segala hal. Satu bilang ini, satunya pasti ikut bilang ini juga..
Aku tidak percaya pada omongan kalian", ucap Gumbreg sambil mencebikkan bibir nya tanda bahwa dia sama sekali tidak perlu dengan omongan kedua orang itu.
"Tak percaya ya sudah, Gusti Demung..
Tapi kemarin Gusti Pangeran juga bilang barangsiapa yang berani membongkar rahasia penyamaran kita ini akan dapat hukuman berat. Kalau sampai mengacaukan segalanya akan di penggal kepala nya", imbuh Siwikarna segera.
"Betul itu Gusti Demung, saya dengar sendiri", timpal Jaluwesi sembari menatap ke arah Demung Gumbreg yang langsung pucat seketika.
"Apa kau bilang tadi? Hukuman penggal kepala?
Kalian yakin dengar seperti itu?", gugup Demung Gumbreg. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"Benar itu Gusti Demung. Saya dengar sendiri", Jaluwesi kembali membeo dengan cepat.
Mendengar jawaban Jaluwesi, Gumbreg segera bergegas menuju ke arah pendopo kediaman Lurah Wanua Weleri sambil setengah berlari. Dia berteriak keras seperti mau mati saja.
"Gusti Pangeran,
Tolong ampuni nyawa hamba".
Terang saja kedatangan Demung Gumbreg yang ngos-ngosan mengatur nafasnya yang memburu setelah berlari dengan tubuh tambun nya membuat semua orang di pendopo terkejut.
"Kau kenapa Paman? Kenapa tingkah mu seperti itu?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Gusti Pangeran, hamba mohon ampun karena sudah membongkar rahasia penyamaran kita.
Mohon ampun, jangan Gusti Pangeran pancung kepala hamba. Kasihan nanti Juminten jadi janda. Besur dan Kresnawati jadi tidak punya bapak.
Tolong ampuni nyawa hamba Gusti Pangeran", ucap Demung Gumbreg sambil berlutut di hadapan Panji Tejo Laksono yang sedang duduk bersila di lantai pendopo kediaman Lurah Wanua Weleri.
Hemmmmmmm...
"Sebaiknya Paman Gumbreg segera pergi dari hadapan ku sebelum aku benar benar kesal dengan ulah Paman", ucap Panji Tejo Laksono dengan nada tinggi.
"Apa maksud dari ucapan Gusti Pangeran? Hamba tidak mengerti.
Lu, apa maksud ucapan Gusti Pangeran? Tolong jelaskan", ucap Demung Gumbreg dengan penuh kebingungan. Tumenggung Ludaka langsung melotot lebar ke arah Demung Gumbreg.
"Cepat pergi dari sini, Tolol..
Kau menghancurkan cemilan Gusti Pangeran", teriak Tumenggung Ludaka sambil menunjuk ke arah dahi Demung Gumbreg. Demung Gumbreg segera meraba dahinya yang terasa basah oleh sesuatu.
"Ini singkong rebus?"
__ADS_1