
Shuuuiiiiiitttttttt.....!!!
Sebuah siulan melengking tinggi terdengar dari mulut Resi Mpu Wisesa. Selepas bersiul keras, Resi Mpu Wisesa segera berjalan menuju ke arah pintu gerbang Pertapaan Panumbangan dimana puluhan murid dan para Dwija Pertapaan Panumbangan ikut bergegas menuju ke arah pintu gerbang pertapaan. Bahkan sang pimpinan Pertapaan Panumbangan, Maharesi Tirtanata juga ikut menyambut kedatangan para prajurit Seloageng. Sementara itu beberapa bayangan berkelebat cepat dan mendarat di beberapa balik pepohonan yang tumbuh di sekitar Pertapaan Panumbangan. Rupanya siulan tadi adalah isyarat kepada para penjaga tersembunyi dari Kelompok Bulan Sabit Darah yang ditugaskan untuk menjaga sang pimpinan ketujuh kelompok itu. Perlahan kesemua bayangan hitam ini mencabut senjata mereka masing-masing dan bersiap untuk bertarung.
Saat suara langkah kaki kuda prajurit Seloageng semakin mendekat, tampaklah Panji Tejo Laksono, Panji Manggala Seta, Akuwu Bonokeling, Gayatri, Luh Jingga, Senopati Gardana dan Bekel Wirabraja diantara mereka. Di belakang mereka, sekitar hampir 800 prajurit Seloageng dan Pakuwon Weling mengawal dengan senjata lengkap.
Begitu sampai di depan pintu gerbang Pertapaan Panumbangan, Panji Tejo Laksono segera menarik tali kekang kudanya hingga kuda hitam besar itu meringkik keras dan berhenti tepat di depan gapura pertapaan. Panji Tejo Laksono segera melompat turun dari kudanya diikuti oleh seluruh pengikutnya.
Maharesi Tirtanata segera membungkuk hormat kepada Akuwu Bonokeling yang berdiri di samping Panji Tejo Laksono. Maklum saja, Panji Tejo Laksono masih baru menjadi penguasa Kadipaten Seloageng jadi belum begitu banyak orang mengenalnya. Lelaki sepuh berpakaian serba putih dengan jenggot panjang dan rambut beruban yang di gelung miring ini nampak begitu antusias dengan kedatangan sang Akuwu.
"Salam hormat saya Gusti Akuwu. Selamat datang di Pertapaan Panumbangan", sambut Maharesi Tirtanata segera.
"Terimakasih atas sambutan mu, Maharesi.. Aku kemari bersama dengan Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono, pimpinan baru Kadipaten Seloageng", dengan sopan, Akuwu Bonokeling menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono dengan jempol tangan nya.
"Ah maafkan hamba Gusti Pangeran Adipati..
Orang tua ini memang kurang wawasan dan pengetahuan. Mohon Gusti Pangeran Adipati bersedia untuk menunjukkan kebesaran hati dengan mengampuni hamba", ujar Maharesi Tirtanata sembari membungkuk dalam-dalam di hadapan Panji Tejo Laksono.
"Aku memaklumi nya, Maharesi..
Tujuan ku kali ini ke Pertapaan Panumbangan adalah untuk menemui salah seorang dwija di Pertapaan Panumbangan. Tolong panggilkan yang bernama Resi Mpu Wisesa kemari, Maharesi Tirtanata", ucap Panji Tejo Laksono dengan tenang dan berwibawa.
Mendengar itu, Maharesi Tirtanata segera mengangguk sambil membalikkan badannya. Mata sepuhnya segera menatap sekelilingnya dan pandangan nya tertuju pada sosok Resi Mpu Wisesa yang berdiri agak di belakang.
"Wisesa, kemarilah...", panggilan Maharesi Tirtanata membuat Resi Mpu Wisesa segera berjalan mendekati mereka. Begitu Resi Mpu Wisesa sampai, Maharesi Tirtanata segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono sambil berkata pada Panji Tejo Laksono, "Ini adalah orang yang Gusti Pangeran Adipati cari".
Panji Tejo Laksono menatap ke arah sosok lelaki tua yang kini berdiri di hadapannya mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pandangan matanya seolah ingin mencari tahu siapa orang ini sebenarnya.
"Apa Kisanak ini yang bernama Resi Mpu Wisesa?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Benar sekali Gusti Pangeran Adipati. Hamba adalah Resi Mpu Wisesa. Ada gerangan apa hingga membuat Gusti Pangeran Adipati mencari hamba?", Resi Mpu Wisesa berkata seperti tidak terjadi apa-apa.
"Sungguh pintar kau bersandiwara, Resi Mpu Wisesa..
__ADS_1
Murid mu Sembada si Demit Abang sudah mengatakan semuanya sebelum maut menjemputnya", sahut Panji Manggala Seta sembari melemparkan sebuah kain putih bergambar bulan sabit terbalik dengan warna merah darah ke hadapan Resi Mpu Wisesa. Mata tua Resi Mpu Wisesa melotot lebar sesaat setelah melihat bendera segitiga itu. Namun dia segera menguasai dirinya.
"Ini pasti salah paham. Hamba sama sekali tidak mengenal dengan orang yang Kisanak maksudkan", Resi Mpu Wisesa mencoba untuk berkelit dari tuduhan.
"Aku mengenal Sembada, Resi Mpu Wisesa. Jadi cukup sudah sandiwara mu.
Kangmas Panji Tejo Laksono, segera perintahkan kepada orang orang mu untuk menangkap pimpinan Kelompok Bulan Sabit Darah ini", ucap Panji Manggala Seta sembari menoleh ke arah Panji Tejo Laksono. Sang putra tertua Prabu Jayengrana itu segera memberikan isyarat kepada para prajurit Seloageng untuk bergerak maju.
Para penghuni Pertapaan Panumbangan yang kaget melihat kejadian ini, segera mundur. Memberikan ruang untuk mengepung Resi Mpu Wisesa. Melihat itu, Resi Mpu Wisesa terkekeh kecil sembari menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya.
"Hehehehe.. Kepalang tanggung, sudah tidak mungkin berpura-pura lagi.
Benar, aku Mpu Wisesa pimpinan Kelompok Bulan Sabit Darah. Hari ini akan memulai tugas suci untuk menyatukan kembali Kahuripan. Dan itu aku mulai dari menghabisi orang orang Panjalu seperti kalian!", usai berkata demikian, Resi Mpu Wisesa segera bersiul nyaring. Bersamaan dengan itu, sekitar seratus orang berpakaian serba hitam yang mengenakan topeng separuh wajah dengan hiasan bulan sabit terbalik berwarna merah darah di dahi melesat cepat kearah para prajurit Seloageng.
Pertarungan di depan Pertapaan Panumbangan pun segera terjadi.
Ratusan anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang rata-rata berisi para pendekar yang memiliki kemampuan beladiri tinggi langsung menerjang maju ke arah para prajurit Seloageng. Mereka semua memang para pendekar yang di rekrut oleh Kelompok Bulan Sabit Darah sebagai persiapan untuk menghancurkan Panjalu dan Jenggala.
Whuuthhh..
Kepala seorang prajurit Seloageng langsung menggelinding ke tanah saat pedang salah satu anggota Kelompok Bulan Sabit Darah menebas batang leher nya. Darah segar seketika memancar keluar dari badan sang prajurit yang kemudian roboh ke tanah. Meski jumlah anggota Kelompok Bulan Sabit Darah lebih sedikit, namun karena kemampuan beladiri mereka yang jauh diatas para prajurit Seloageng, hanya dalam waktu singkat mereka sudah berhasil membantai puluhan orang prajurit Seloageng.
Ini membuat Gayatri marah. Setelah mencabut sebuah belati besar yang tersembunyi di pinggangnya, tangan kiri nya dengan cepat meraih sepasang belati kecil berwarna putih keperakan lalu melemparkannya ke arah salah seorang diantara anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang baru saja membunuh prajurit Seloageng.
Shrrriinnnggg shhhrriinggg !!
Chhreepppppph chhreepppppph ..
Aaauuuuggggghhhhh !!
Dua orang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah langsung terjungkal ke tanah setelah bilah pisau belati kecil milik Gayatri menembus dada hingga ke punggung. Sementara Gayatri menggerakkan jari jemari tangan kiri nya untuk mengendalikan dua pisau terbang miliknya, putri Tumenggung Sindupraja itu juga menerjang maju ke arah anggota lain yang kini mulai mengepungnya.
Salah seorang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah membabatkan pedang nya ke arah Gayatri. Selir pertama Panji Tejo Laksono itu langsung menangkis sabetan pedang itu dengan pisau belati besar di tangan kanannya.
__ADS_1
Thhraaaangggggggg !!
Tangan kanan menangkis, tangan kiri menggerakkan pisau belati kecil keperakan nya yang meluncur cepat kearah tengkuk leher lawannya.
Chhreepppppph ..
Aaaarrrgggggghhhhh !
Jerit keras terdengar dari mulut si anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang meregang nyawa setelah pisau belati kecil milik Gayatri merobek batang leher nya. Darahnya langsung menyembur keluar membasahi tubuhnya. Tak berapa lama kemudian dia tewas dengan bersimbah darah.
Lain Gayatri, lain pula dengan Luh Jingga. Putri Resi Damarmoyo dari Bukit Penampihan itu memutar pedangnya lalu dengan cepat membabat kearah lawan. Si anggota Kelompok Bulan Sabit Darah dengan cepat menangkis sabetan pedang Luh Jingga, sementara dua anggota lainnya langsung membabatkan senjata mereka masing-masing ke arah kaki perempuan cantik berbaju kuning kemerahan ini. Luh Jingga segera menghentakkan kakinya ke tanah dan tubuh ramping perempuan itu segera melenting tinggi ke udara. Sembari bersalto, Luh Jingga menghantamkan tapak tangan kiri nya yang berwarna merah menyala seperti api yang berkobar kearah tiga orang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah itu. Selarik sinar merah berhawa panas menyengat langsung menerabas cepat kearah mereka.
Shiiuuuuuuttttt...
Blllaaammmmmmmm !!
Ledakan dahsyat terdengar. Tiga orang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah itu mencelat setelah menerima hantaman Ajian Tapak Dewa Agni yang di lepaskan oleh Luh Jingga. Mereka langsung tewas dengan tubuh separuh hangus seperti terbakar api. Keampuhan Ajian Tapak Dewa Agni yang merupakan salah satu bagian dari Kitab 5 Tapak Dewa benar benar menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Sementara itu, Panji Manggala Seta terus melemparkan jarum jarum beracun milik nya sembari sesekali menghantamkan tapak tangan kanan yang di liputi oleh sinar putih kebiruan seperti cahaya kilat petir. Senopati Gardana sendiri juga tidak mau kalah untuk unjuk kebolehan dengan bergerak cepat sembari mengayunkan pedangnya. Bekel Wirabraja bahu membahu dengan Akuwu Bonokeling dalam bertahan dan menyerang anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang mengepung mereka. Pertarungan di siang bolong itu terus berlangsung sengit.
Di lain sisi, saat para pengikutnya sibuk menghadapi lawan mereka masing-masing, Panji Tejo Laksono terus mewaspadai pergerakan Resi Mpu Wisesa. Sang pimpinan ketujuh Kelompok Bulan Sabit Darah itu nampak geram melihat para anak buahnya mulai berjatuhan di tangan Luh Jingga, Gayatri, Panji Manggala Seta dan Senopati Muda, Akuwu Bonokeling dan Bekel Wirabraja.
Melihat salah satu anak buah nya hendak di babat pedang Luh Jingga, Resi Mpu Wisesa segera melesat cepat kearah mereka sembari mengayunkan cakar tangan kanan nya. Lima larik sinar hitam kehijauan menerabas cepat kearah Luh Jingga.
Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh !!
Melihat istrinya dalam bahaya, Panji Tejo Laksono melesat cepat bagaikan terbang menghadang laju sinar hitam kehijauan dari Resi Mpu Wisesa. Tak ada ruang untuk menghindar bagi Panji Tejo Laksono hingga lima larik sinar hitam kehijauan menabrak tubuh sang penguasa Kadipaten Seloageng ini.
Blllaaaaaaaaaaarrrrrr blllaaaaaarrr..
Blllaaammmmmmmm !!!
Ledakan keras beruntun terdengar saat sinar hitam kehijauan Ajian Cakar Iblis menghantam tubuh Panji Tejo Laksono. Debu dan asap tebal menutupi seluruh tubuh sang pangeran. Resi Mpu Wisesa menyeringai lebar menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang tubuhnya terbungkus oleh asap tebal. Sambil mengibaskan tangan kanannya, dia berkata,
__ADS_1
"Mampus kau, bocah keparat !!"