
"Pencuri Angin??
Dia seorang pencuri? Kenapa seorang pencuri saja bisa membuat Gubernur Kota Yingtian begitu mengkhawatirkannya?", Rakryan Purusoma begitu penasaran.
"Dia mencuri harta benda para pejabat tinggi. Kalau terpergok, dia tidak segan segan membunuh orang yang berani menghadang langkah nya. Konon kabarnya, seorang pejabat tinggi di kota sebelah di bantai dengan kejam oleh Pencuri Angin karena berani mencoba untuk menghentikan aksinya.
Beberapa pendekar berilmu tinggi juga pernah mencoba untuk menangkap nya, tapi Si Pencuri Angin bisa kabur dengan mudah karena punya ilmu meringankan tubuh yang tinggi.
Itu yang aku dengar dari cerita pedagang yang baru datang dari kota sebelah", ujar si lelaki itu sembari melirik ke sekeliling nya seperti takut suaranya terdengar oleh si Pencuri Angin.
Belum sempat Rakryan Purusoma menanyakan perihal Si Pencuri Angin lebih jauh, seorang prajurit penjaga gerbang kota Yingtian berteriak keras ke arah Rakryan Purusoma dan si orang tadi.
"Hai jangan berkerumun!
Berbaris yang rapi. Jika tidak patuh, silahkan urungkan niat kalian untuk masuk ke dalam Kota Yingtian, dan pergi dari sini sekarang juga!"
Mendengar ancaman itu, si orang yang bicara dengan Rakryan Purusoma itu buru-buru masuk ke dalam barisan antrian dan Rakryan Purusoma segera kembali ke arah rombongan Panji Tejo Laksono. Di luar kereta kuda yang di tumpangi oleh Panji Tejo Laksono, Pendeta Wang Chun Yang, Huang Lung dan Putri Song Zhao Meng, Rakryan Purusoma segera menyampaikan apa yang baru saja di dengar nya.
Putri Song Zhao Meng atau biasa dikenal dengan nama Putri Meng Er langsung mendengus dingin mendengar perkataan Rakryan Purusoma. Segera dia mengetuk pintu kereta kuda dua kali dan Chai Yuan bergegas mendekati kereta kuda.
"Chai Yuan,
Segera minta para prajurit penjaga gerbang kota Yingtian membuka jalan. Badan ku sudah pegal duduk terus dalam kereta".
Mendengar perintah Nona Besar Song alias Putri Meng Er, Chai Yuan segera menghormat pada Putri Kaisar Huizong ini dan segera menemui para prajurit penjaga gerbang kota. Setelah berbicara sebentar dan menunjukkan lencana milik Putri Song Zhao Meng, buru buru para prajurit penjaga gerbang Kota Yingtian bergegas mendekati kereta kuda yang di tumpangi oleh Putri Song Zhao Meng.
Seorang penjaga gerbang yang sepertinya merupakan pimpinan dari kelompok penjaga itu dengan penuh hormat, membungkukkan tubuhnya sembari menghormat pada kereta kuda dimana Nona Besar Song berada.
"Mohon maaf jika perjalanan Tuan Putri Meng terganggu dengan adanya pemeriksaan ini. Kami hanya menjalankan tugas", ucap sang kepala penjaga gerbang segera.
"Aku mengerti..
Bukakan jalan untuk kami dan laporkan kedatangan ku pada Gubernur Yingtian", balas Putri Song Zhao Meng dari balik tirai merah yang menutupi jendela kereta.
"Akan segera saya laksanakan", sang pimpinan prajurit penjaga segera menghormat pada Putri Song Zhao Meng dan bergegas mundur lalu meminta orang orang yang antri masuk untuk menepi.
__ADS_1
Dalam keadaan itu, sebuah bayangan berkelebat cepat ke bawah kereta kuda yang membawa aneka hadiah yang diberikan oleh Prabu Jayengrana untuk Kaisar Huizong sebagai tanda persahabatan. Gerakan tubuhnya begitu cepat dan ringan hingga tak seorangpun menyadari kehadiran nya.
Kereta kuda itu segera bergerak memasuki gerbang kota Yingtian. Sepanjang perjalanan masuk, kedatangan mereka langsung menjadi pusat perhatian para penduduk kota. Saat rombongan kereta kuda itu berhenti di depan Istana Gubernur Qing, si bayangan dengan cepat bergerak cepat meninggalkan bawah kereta kuda tanpa ketahuan.
Si bayangan hitam ini langsung melesat cepat dan menghentikan langkahnya di balik tembok sebuah bangunan yang terletak di dekat pintu masuk utama Istana Gubernur Qing.
'Untung saja aku cepat kabur. Kalau tidak, nyawaku dalam bahaya. Tak ku sangka ada orang hebat seperti Pendeta Wang Chun Yang di kereta depan', batin si bayangan hitam sembari terus menatap ke arah kereta kuda yang mulai memasuki istana Gubernur Qing. Setelah memastikan bahwa tidak ada orang yang mengetahui keberadaan nya, si bayangan hitam segera melesat cepat kearah sebuah rumah besar untuk bersembunyi sementara waktu.
Gubernur Yingtian, Qing Wei menyambut baik kedatangan Putri Meng Er bersama rombongan Panji Tejo Laksono. Sebagai salah satu penguasa daerah, Qing Wei menghormati Putri Meng Er sebagaimana adat kebiasaan yang berlaku di seluruh Kekaisaran Song. Apalagi, sebagai putri Yang Mulia Kaisar Huizong, Putri Meng Er begitu cakap dalam bergaul dengan para penguasa daerah dan para pejabat di Istana Kekaisaran Song. Kasim Tong Guan, sang tangan kanan Kaisar Song saja menaruh hormat kepada putri Kaisar ini, diantara puluhan putra dan putri Kaisar Huizong yang lain. Ini karena Putri Meng Er pandai menempatkan diri dan begitu cerdas memilih kawan dalam mengamankan posisinya sebagai salah satu putri Kaisar Huizong di istana Kekaisaran Song.
Tanpa diminta, Gubernur Qing menjelaskan situasi yang terjadi di sekitar Kota Yingtian. Oleh karena itu, Gubernur Qing Wei meminta maaf kepada Putri Meng Er untuk penyambutan yang kurang menyenangkan di pintu gerbang Kota Yingtian.
"Aku percaya padamu, Gubernur Qing..
Aku tidak mempermasalahkan sesuatu yang kurang penting seperti tadi. Ku harap kau akan selalu menempatkan kepentingan masyarakat Kota Yingtian seperti ini", ujar Putri Song Zhao Meng sambil tersenyum tipis.
"Aku mengerti, Putri Meng..
Semoga ke depannya Putri Meng Er selalu sehat dan panjang umur untuk terus membimbing masyarakat Kekaisaran Song", Gubernur Qing menghormat pada Putri Meng.
Mereka segera di tempatkan di aula tamu kehormatan Istana Gubernur Qing untuk beristirahat. Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan pun mendapat tempat istirahat yang layak meski sedikit terpisah dengan rombongan Putri Song Zhao Meng.
Panji Tejo Laksono sedang duduk bersama dengan Luh Jingga dan Huang Lung alias Putri Wanyan Lan saat Pendeta Wang Chun Yang datang menghampiri mereka.
"Pendekar Thee,
Jujur saja aku sangat tertarik dengan kemampuan beladiri mu yang menakjubkan. Kalau boleh tau, apa nama ilmu beladiri yang bisa membuat mu menghilang menjadi kabut putih seperti saat kau menghadapi Xiao Xing tempo hari?", Pendeta Wang Chun Yang menatap ke arah Panji Tejo Laksono.
"Pendeta Wang,
Ini adalah ilmu yang di turunkan oleh ayah ku yang merupakan salah satu pendekar pilih tanding di Negeri kami. Namanya Ajian Halimun. Sesuai namanya, Ajian Halimun adalah merubah tubuh pengguna nya menjadi sesuatu yang tanpa bentuk seperti kabut. Kata ayah ku, Ajian Halimun berasal dari Tanah Sunda, yang berada di wilayah barat Pulau Jawadwipa", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis.
"Jadi di Tanah Jawadwipa banyak orang yang memiliki ilmu beladiri seperti ini?", Pendeta Wang Chun Yang sedikit tidak percaya.
"Tentu saja..
__ADS_1
Beberapa raja negeri bawahan saja bahkan mampu bertarung melawan ratusan prajurit seorang diri dan mengalahkan mereka. Sejauh yang aku, selain ayah ku, masih banyak ratusan pendekar lain yang mungkin setara atau sedikit di bawah ayah ku dalam hal ini ".
Mendengar perkataan itu, Pendeta Wang Chun Yang sedikit terkejut. Dia bahkan kesulitan berkata-kata untuk menanggapi ucapan Panji Tejo Laksono. Belum sempat Pendeta Wang Chun Yang bicara, dari arah belakang sebuah suara mengagetkan mereka.
"Lantas apa sebenarnya jati diri mu, Kakak Thee??"
Semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara dan ternyata itu adalah suara dari Putri Song Zhao Meng. Rakryan Purusoma yang ikut mengantar Putri Meng Er langsung menghormat pada putri Kaisar Huizong itu sembari tersenyum, " Dia adalah calon raja negeri kami, Tuan Putri".
Semua orang termasuk Putri Meng Er, Huang Lung alias Putri Wanyan Lan, Chai Yuan dan Pendeta Wang Chun Yang kaget karena jawaban Rakryan Purusoma itu. Memang Rakryan Purusoma kurang senang ketika melihat Panji Tejo Laksono mendapatkan tempat peristirahatan yang berbeda dengan yang di tempati oleh Putri Song Zhao Meng, Huang Lung dan Pendeta Wang Chun Yang jadi dia sengaja membongkar jati diri sang pangeran.
"Jadi Kakak Thee ini ternyata adalah seorang pangeran? Kenapa kau rahasiakan jati diri mu, Kak?
Kau seharusnya mendapatkan tempat tinggal yang lebih baik dari tempat mu sekarang", tanya Putri Song Zhao Meng segera.
"Tuan Putri Meng Er,
Tempat ini sudah lebih cukup untuk ku beristirahat. Mohon Tuan Putri tidak mempermasalahkan hal kecil seperti ini", ujar Panji Tejo Laksono sembari memamerkan senyum mautnya.
"Tapi Kak Thee..."
"Tuan Putri sudahlah..
Untuk kali ini biarlah Pangeran Thee tetap saja di tempat ini. Selanjutnya, kita akan mencarikan tempat yang lebih layak untuk dia", sahut Chai Yuan segera.
Saat mereka tengah asyik mengobrol, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar tembok istana. Asal tahu saja, aula tamu kehormatan memang dekat dengan tembok istana. Seorang prajurit pengawal Putri Song Zhao Meng yang kebetulan tadi ikut berjaga di pintu gerbang istana, langsung berlari menuju ke arah aula tamu kehormatan.
"Ah Sing, apa yang terjadi di luar tembok istana?", tanya Putri Song Zhao Meng segera.
"Mohon ampun Tuan Putri,
Rumah Menteri Chiang di bobol pencuri. Katanya pencuri nya bergerak cepat seperti hantu", lapor sang pengawal pribadi Putri Song Zhao Meng sambil menghormat.
Mendengar laporan itu, Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat ke atas tembok istana Gubernur Qing. Pendeta Wang Chun Yang pun bergegas mengikuti langkah sang pangeran muda dari Kadiri bersama Huang Lung dan Luh Jingga.
Dari atas tembok istana Gubernur Qing, mata tajam Panji Tejo Laksono melihat sesosok bayangan melesat cepat kearah timur kota. Melihat itu Panji Tejo Laksono segera merapal Ajian Sepi Angin dan melesat cepat kearah bayangan hitam yang tengah berlompatan di atas atap bangunan rumah penduduk Kota Yingtian. Pendeta Wang Chun Yang, Huang Lung dan Luh Jingga pun ikut mengejar. Namun dalam 2 tarikan nafas, Panji Tejo Laksono sudah menghilang dari pandangan mata mereka.
__ADS_1
Sosok bayangan hitam itu terus melesat cepat kearah timur kota. Begitu sampai di tempat yang di tuju, dia segera melompat turun ke arah halaman sebuah kuil tua yang ada di timur Kota Yingtian. Namun betapa terkejutnya ia saat melihat sesosok lelaki bertubuh tegap sudah berdiri di hadapannya.
"Siapa kau?"