Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Demung Gumbreg


__ADS_3

Seluruh prajurit pengawal sang pangeran muda dari Panjalu yang kini merangkap jabatan sebagai Adipati Seloageng dan Mahamantri I Sirikan ini, langsung bergerak mengepung ke sekeliling 5 orang yang baru saja datang dan membuat kekacauan ini. Lelaki tua berambut merah itu segera putar kedua tangan nya di depan dada lalu dengan cepat hempaskan kedua tangan nya ke arah para prajurit Seloageng yang ada di depan nya.


Serangkum angin kencang berhawa panas yang mengikuti gumpalan cahaya merah kehitaman melabrak cepat kearah para prajurit Seloageng yang bergerak menerjang maju ke arah lima orang ini.


Whhhuuuuuusssshhh!!


Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr!!!


Dua ledakan beruntun terdengar bercampur dengan teriakan kesakitan dan sumpah serapah dari mulut para prajurit yang terluka akibat serangan cepat si lelaki berambut merah ini. Tak ayal lagi, ada sedikitnya 20 orang prajurit Seloageng terbunuh dengan tubuh melepuh seperti disiram air panas. Sedangkan 30 lainnya masih hidup meski dengan beberapa bagian tubuh memerah akibat luka bakar yang di terima.


Kehebatan orang tua bertubuh gempal yang hanya mengenakan celana pendek selutut warna abu-abu dengan kain sewarna yang disampirkan sekenanya saja pada bahu dan memakai ikat kepala hitam berhiaskan sebuah permata merah ini membuat para prajurit Seloageng ketakutan. Mereka pun segera bergerak mundur beberapa langkah ke belakang hingga kepungan mereka melebar.


Sedangkan para penduduk di sekitar dermaga penyeberangan Wanua Ranja berhamburan menyelamatkan diri dan berusaha menjauh sejauh mungkin dari tempat itu karena takut menjadi korban serangan nyasar. Suasana di tempat itu menjadi tegang.


"Hayo Tejo Laksono..!!


Apa kau ingin tetap bersembunyi di balik punggung kroco kroco kecil ini? Atau kau ingin aku menghabisi mereka semua terlebih dahulu?!!


Jangan jadi pengecut yang meringkuk ketakutan, Panji Tejo Laksono!! Sini hadapi aku, Begawan Rikmageni!!!", teriak si lelaki tua berambut merah itu sambil menepuk dadanya.


"Kurang ajar!!!


Sudah bosan hidup kau rupanya, rambut jagung?!!!", Demung Gumbreg memutar gagang pentung saktinya dan hendak melangkah maju karena merasa sakit hati dengan ejekan si lelaki tua berambut merah itu. Namun sebelum dia melangkah, Panji Tejo Laksono yang berdiri di belakangnya langsung menahan pergerakan tubuh perwira tinggi prajurit Panjalu ini.


"Tahan Paman Gumbreg.. Jangan terpancing emosi dengan kata-kata itu..


Semuanya!!


Jangan ada yang bergerak dari tempat kalian sebelum aku perintahkan! Kalian semua, mundur ke belakang!!", suara keras Panji Tejo Laksono langsung membuat semua prajurit Seloageng mundur hingga kini di dalam lingkaran besar kepungan ini, hanya ada Panji Tejo Laksono, Endang Patibrata, Demung Gumbreg, Tumenggung Ludaka, Senopati Gardana dan Juru Naratama serta Begawan Rikmageni dan keempat orang bertopeng itu.


"Siapa nama tadi, kakek tua?! Mawageni?", Panji Tejo Laksono melangkah maju diantara keempat orang pengikutnya.


"Rikmageni, Tolol.. Nama ku Begawan Rikmageni, bukan Mawageni!!


Dasar pangeran budeg!! Masih muda tapi tidak bisa mendengar dengan jelas!", umpat Begawan Rikmageni keras.


"Kau ...!!!!", Demung Gumbreg kembali menggeram keras mendengar junjungan nya dilecehkan.


"Sabar Paman Gumbreg sabar... Tahan emosi mu, sabar..


Maaf Begawan Rikmageni, aku tidak merasa punya urusan dengan mu. Aku juga tidak mengenal mu. Lantas kenapa kau mencari masalah dengan ku?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Huhhhhh..


Kita ada dendam yang harus dituntaskan, Panji Tejo Laksono. Kau sudah membunuh dua saudara seperguruan ku Ki Pancatnyana dan Dadap Segara, jadi sudah selayaknya kau membayar hutang nyawa mereka dengan kematian mu!!", ucap Begawan Rikmageni sambil mengepal erat di depan dada.


"Oh rupanya kau saudara seperguruan dua perusuh itu..


Aku terpaksa harus menghabisi nyawa mereka, karena mereka mengacau di Istana Kadipaten Seloageng. Jadi sebagai penguasa Kadipaten Seloageng, aku berhak untuk menumpas semua perusuh yang mencoba untuk membuat kekacauan di tempat ku", balas Panji Tejo Laksono.


Phhuuuiiiiiihhhhh..!!

__ADS_1


"Hutang darah di bayar darah, hutang nyawa di bayar nyawa..


Empat Topeng Neraka!!


Habisi nyawa Panji Tejo Laksono!!!!", begitu mendengar perintah dari Begawan Rikmageni, keempat orang bertopeng seram ini langsung menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono sembari membabatkan senjata mereka masing-masing.


Naratama segera mencabut Golok Angin nya, begitu juga Senopati Gardana yang meloloskan keris pusaka di pinggang. Tumenggung Ludaka pun tak mau ketinggalan dengan mencabut sepasang pedang pendek sedangkan Demung Gumbreg langsung memutar gagang pentung saktinya lalu menyambut kedatangan para sosok bertopeng seram yang di sebut sebagai Empat Topeng Neraka.


Demung Gumbreg yang sudah gatal tangannya dari tadi karena geram dengan ulah Begawan Rikmageni, langsung menghantamkan pentung sakti andalan nya ke arah lawan yang menggunakan tameng besi sebagai senjata.


Whhhuuuggghhhh!!


Si lelaki bertubuh gempal yang memakai topeng raksasa hijau ini pun dengan cepat menekuk dengkulnya hingga pertahanannya menjadi kokoh. Dia segera mengangkat tameng besi nya untuk menahan hantaman pentung sakti Demung Gumbreg yang berwarna hitam legam.


Dhhhaaaaaaaannnnnggggg!!!


Gebukan keras Demung Gumbreg yang di lakukan sekuat tenaga, memaksa si lelaki bertopeng raksasa hijau ini terdorong mundur dua langkah. Meskipun dia selamat, tapi tangan kiri nya yang memegang tameng besi bergetar hebat. Ini menandakan bahwa tenaga kasar yang dimiliki oleh perwira tinggi prajurit Panjalu bertubuh tambun itu sungguh kuat.


Si lelaki bertubuh gempal itu segera berguling maju ke depan dan dengan cepat membabatkan pedang nya yang merupakan pasangan tameng besi ke arah paha Demung Gumbreg. Si perwira bertubuh tambun itu lambat bergerak hingga sabetan pedang si topeng raksasa hijau langsung merobek celana nya.


Shhrreeettthhh..!


Ajaib! Sabetan pedang tajam itu hanya mampu merobek kain jarit dan celana pendek selutut milik sang perwira tinggi prajurit Panjalu itu namun tak bisa menggores kulit nya sama sekali.


"B-bagaimana bisa..??!!", gumam si topeng raksasa hijau ini setengah tak percaya melihat apa yang terjadi di depan mata nya. Dia tadi sempat yakin seyakin-yakinnya bahwa gerakan cepat nya setidaknya akan membuat kaki Demung Gumbreg luka parah.


Belum sempat hilang keterkejutannya, kaki kanan Demung Gumbreg yang segede bambu betung itu langsung melayang cepat kearah kepala si topeng raksasa hijau.


Whhhuuuggghhhh!!


Bhhhaammmmmmmm!!


Si lelaki bertopeng raksasa hijau ini pun terpental hampir dua tombak saking kerasnya tendangan Demung Gumbreg. Meskipun sudah berumur, nyatanya tenaga dalam yang di miliki oleh Demung Gumbreg bukannya berkurang tapi justru semakin menggila.


Si lelaki bertopeng raksasa hijau ini pun segera bangkit dan menatap tajam ke arah Demung Gumbreg yang terlihat menyeringai lebar. Ada darah segar yang meleleh keluar dari sudut bibirnya.


"Gajah bunting!!


Ilmu kanuragan apa yang kau miliki ha? Kenapa pedang ku tak bisa melukai mu?!!", tanya si lelaki bertubuh gempal itu sembari mengacungkan pedangnya kearah Demung Gumbreg.


"Hehehehe..


Apa kau tidak pernah mendengar nama besar Demung Gumbreg, perwira tinggi prajurit Panjalu yang sakti mandraguna, hai topeng Buto Ijo?


Ini nih orang nya, pengawal setia Sinuhun Prabu Jayengrana, Raja Gung Binantara dari Kadiri. Seperti junjungan nya, aku juga punya ilmu kedigdayaan yang tidak mungkin kau lawan.. Kroco seperti mu bukan tandingan ku", Demung Gumbreg menepuk dadanya dengan pongah.


"Keparat!!


Gajah bunting seperti mu malah menyombongkan diri di depan ku. Akan ku perlihatkan kepada mu ilmu kanuragan tingkat tinggi ku, bajingan tua!!!", teriak si topeng raksasa hijau ini lantang.


Dengan penuh amarah, dia langsung melemparkan tameng besi nya ke arah Demung Gumbreg.

__ADS_1


Whhhuuuunnnnggggh!


Tameng besi itu langsung meluncur cepat kearah Demung Gumbreg. Namun sang perwira tambun itu segera berkelit menghindari lemparan tameng besi yang tajam pinggir nya ini. Hebatnya lagi, begitu tak mengenai sasaran, tameng besi ini berputar kembali ke pemiliknya. Dan si topeng raksasa hijau dengan sigap menangkap senjata andalannya ini.


"Ouh mau main lempar lemparan senjata kau rupanya!


Ilmu kanuragan mu cuma pantas untuk bermain dengan anak kecil!!", hina Demung Gumbreg.


Si topeng raksasa hijau ini mendengus keras mendengar ocehan Demung Gumbreg lalu segera kembali melemparkan tameng besi nya ke arah Demung Gumbreg. Bersamaan dengan itu, dia melesat cepat kearah Demung Gumbreg sembari memegang pedangnya yang di lapisi dengan cahaya merah redup berhawa panas.


Whhhuuutthh!!


Sadar kalau lawannya sudah mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dia miliki, Demung Gumbreg mundur selangkah ke belakang lalu menyalurkan tenaga dalam nya pada pentung saktinya yang berwarna hitam legam. Cahaya redup terpancar dari ujung bulatan pentung sakti Demung Gumbreg yang berbentuk seperti talas.


Dengan cepat, Demung Gumbreg segera gebukan pentung saktinya untuk menghalau gerakan tameng besi bertepi tajam itu.


Dhhhaaaaaaaannnnnggggg!!


Tameng besi langsung mencelat jauh ke arah para prajurit Seloageng yang mengepung mereka. Untung saja mereka waspada dan langsung menghindari celatan tameng besi bertepi tajam itu. Tameng besi itu akhirnya menancap pada tiang kayu dermaga penyeberangan.


Sedangkan serangan si topeng raksasa hijau ini pun leluasa membabat perut buncit Demung Gumbreg.


Shhhrrrraaaaaakkkkkkh!!


Namun lagi-lagi si topeng raksasa hijau ini kecele. Tebasan pedang nya yang sudah di lapisi dengan cahaya kuning redup itu nyatanya tak mampu melukai kulit perut sang perwira prajurit Panjalu. Hanya baju kesayangan Demung Gumbreg robek besar.


Sang perwira dengan cepat menghantam kepala si topeng raksasa hijau dengan pentung saktinya saking geramnya.


Bhhhuuuuuuggggh!!


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!


Si topeng raksasa hijau menjerit keras saat gebukan keras pentung saktinya Demung Gumbreg menghajar kepalanya. Dia langsung terjerembab ke bawah dengan wajah menghantam tanah lebih dulu. Tubuhnya kelojotan sebentar dan darah segar bercampur dengan otak nya yang hancur berantakan, menggenang di bawah tubuhnya. Dia langsung tewas seketika.


"Untung aku pakai Jimat Keong Buntet ku..


Kalau tidak, pasti aku sudah mampus di tangan bajingan ini!", gumam Demung Gumbreg sambil menendang pinggang mayat si topeng raksasa hijau ini. Dan..


Thhaaaasssshhhhh!!!


Tali sabuk celana pendek Demung Gumbreg yang sempat terkena tebasan langsung putus karena ulah nya. Akibatnya celana pendek selutut berwarna hitam itu melorot turun. Endang Patibrata yang menyaksikan langsung kejadian menggelikan itu langsung memalingkan wajahnya. Sedangkan para prajurit Seloageng mengulum senyumnya karena takut kena marah jika tertawa terbahak-bahak melihat apa yang dialami oleh Demung Gumbreg.


Demung Gumbreg langsung memerah wajahnya. Dengan cepat ia menaikkan celananya dan berlari ke arah para prajurit Seloageng sembari memegang celananya.


Begawan Rikmageni mendengus keras melihat satu persatu anak buah nya tewas di tangan para bawahan Panji Tejo Laksono. Si topeng raksasa hijau di kepruk oleh Demung Gumbreg, si topeng hantu tewas bersimbah darah setelah di bantai Naratama dengan Golok Angin nya, si topeng setan sudah tersungkur tak bernyawa di depan Tumenggung Ludaka. Tinggal si topeng demit yang masih hidup namun sudah luka parah akibat tusukan keris Senopati Gardana.


Lelaki tua berambut merah itu lantas melepas penutup ujung tongkatnya yang ternyata merupakan mata tombak. Dia langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono dan Endang Patibrata sembari menusukkan tombaknya.


Endang Patibrata mencabut pedang nya sembari menoleh ke arah Panji Tejo Laksono.


"Biar aku yang menghadapinya Kangmas.."

__ADS_1


__ADS_2