Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Malam Pertama


__ADS_3

"Benar apa yang kau ucapkan, Kangmas Prabu..


Semua orang pasti akan mengalami perputaran nasib dan pertambahan usia. Sebagai makhluk fana, kita tidak bisa lepas dari lingkaran alur kehidupan yang sudah di gariskan. Yang muda akan menjadi tua, yang kecil akan menjadi besar dan yang lama akan di gantikan oleh yang baru. Itu adalah lingkaran alur kehidupan yang akan berlangsung sepanjang jaman.


Dengan pernikahan ini, Tejo Laksono akan mengalami masa kehidupannya yang penuh dengan gejolak rumah tangga. Semoga saja dia bisa menjadi kepala keluarga yang adil untuk semua istri istri nya", doa Dewi Anggarawati mengakhiri omongannya yang di sambut dengan senyum oleh Prabu Jayengrana. Keduanya kembali menatap ke arah Panji Tejo Laksono dan keempat wanita muda yang kini duduk di atas panggung pelaminan yang berhiaskan aneka macam bebungaan dan rangkaian janur kuning yang indah.


"Oh Sanghyang Tunggal penguasa alam semesta..


Oh Sang Keabadian Sejati di Swargaloka..


Berikan restu mu dan berkat mu kepada Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, kepada Gusti Putri Ayu Ratna, kepada Gusti Putri Dewi Wulandari, kepada Gusti Putri Gayatri, kepada Gusti Putri Luh Jingga..


Satukan hati mereka dalam ikatan pernikahan yang abadi hingga saat Sang Hyang Yamadipati menjalankan tugasnya. Berikan mereka keturunan yang baik dan menjadi panji keemasan Kerajaan Panjalu di masa depan. Oum Santi Santi Oum..", Maharesi Wimana terus mengibaskan tangan kanannya nya ke arah asap putih kemenyan dari atas bokor emas di tangan kiri nya. Asap putih berbau harum itu bergerak ke arah Panji Tejo Laksono dan keempat wanita yang duduk dengan tenang mengikuti rangkaian ritual pernikahan yang mereka lakukan.


Sebagai penanda bahwa ritual pernikahan telah selesai, Maharesi Wimana mengambil sejumput beras kuning di dekat aneka sesajen yang di tata sedemikian rupa di depan sanggar pamujan. Tangan tua Maharesi Wimana kemudian mengoleskan beras kuning itu ke dahi Panji Tejo Laksono hingga beberapa butir beras kuning menempel di dahi sang pangeran muda. Berturut-turut, Maharesi Wimana melakukan hal yang sama pada Ayu Ratna, Song Zhao Meng, Gayatri dan Luh Jingga.


Namun ada satu yang berbeda. Saat menempelkan beras kuning ke dahi Ayu Ratna, Maharesi Wimana terlihat seperti kaget melihat dahi perempuan cantik asal Kadipaten Kalingga itu. Namun pertapa tua dari Pertapaan Gunung Ungaran itu buru-buru menghilangkan keterkejutannya dan cepat menempelkan beras kuning di dahi Ayu Ratna.


Setelah selesai semuanya, Maharesi Wimana segera menatap ke arah Panji Tejo dan keempat wanita cantik yang kini resmi menjadi istri nya.


"Sekarang, kalian telah resmi menjadi suami istri. Sebagai penutup dari ritual pernikahan ini, berikan sembah sujud kepada Sang Hyang Agung lalu berikan sembah bakti kepada orang tua kalian.


Semoga Hyang Agung selalu memberikan kedamaian dan kebahagiaan pada keluarga kalian", Maharesi Wimana segera mengangkat tangan kanannya.


Melihat itu, Panji Tejo Laksono, Ayu Ratna, Song Zhao Meng, Gayatri dan Luh Jingga segera berlutut di hadapan Arca Dewa Wisnu dan menyembah dengan penuh hormat. Selesai itu, mereka berempat segera mendekati Prabu Jayengrana dan Dewi Anggarawati yang masih duduk di tempatnya.


"Mohon restui pernikahan kami, Kanjeng Romo Prabu, Biyung Ratu", sembari berkata seperti itu, Panji Tejo Laksono dan keempat istrinya segera menyembah pada Prabu Jayengrana dan Ratu Dewi Anggarawati.


Prabu Jayengrana dan Ratu Dewi Anggarawati tersenyum lebar lalu segera berdiri. Keduanya mengangkat bahu mereka satu persatu agar berdiri sejajar dengan mereka.


"Restu Romo selalu untuk kalian. Semoga Hyang Agung selalu memberkahi biduk rumah tangga kalian", ucap Prabu Jayengrana seraya menepuk pundak kanan Panji Tejo Laksono.

__ADS_1


"Biyung juga akan selalu mendoakan agar kalian selalu berbahagia. Dan satu lagi, cepat punya momongan", imbuh Ratu Dewi Anggarawati sambil tersenyum penuh arti. Mendengar perkataan itu, Panji Tejo Laksono langsung memerah wajahnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.


Setelah menghormat pada Prabu Jayengrana dan Ratu Dewi Anggarawati, Panji Tejo Laksono bersama dengan Ayu Ratna menghampiri Adipati Aghnibrata dan Permaisuri Sukmawati. Mereka menghormat pada pasangan penguasa Kadipaten Kalingga itu. Permaisuri Sukmawati sempat menitikkan air matanya begitu Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna bersujud kepada nya.


Setelah itu, Panji Tejo Laksono dan Gayatri segera menghampiri Tumenggung Sindupraja. Pria paruh baya bertubuh gempal itu buru-buru menghalangi niat Panji Tejo Laksono dan Gayatri yang ingin bersujud kepada nya.


"Kenapa Romo Tumenggung Sindupraja? Ini adalah kewajiban ku sebagai putra mantu mu", ujar Panji Tejo Laksono segera.


"Itu tidak perlu, Nakmas Pangeran..


Melihat Nakmas Pangeran sudah bersedia untuk menikahi putri ku saja, Paman sudah sangat berbahagia. Dengan ini tanggung jawab ku sebagai orang tua untuk Gayatri sudah gugur. Aku hanya bisa berharap agar Nakmas Pangeran selalu membahagiakan Gayatri", ucap Tumenggung Sindupraja dengan mata berkaca-kaca.


"Romo Tumenggung, bukan Paman lagi. Ingat sekarang kau adalah mertua dari Panji Tejo Laksono", ucap Panji Tejo Laksono mengingatkan agar Tumenggung Sindupraja merubah kebiasaan nya menyebut nama paman. Mendengar perkataan itu, Tumenggung Sindupraja langsung tersenyum lebar. Gayatri begitu terharu melihat sikap Panji Tejo Laksono yang mau menghormati ayahnya meskipun ayahnya adalah bawahan suaminya.


Setelah itu, para pengantin baru di arak keliling Kota Kadipaten Kalingga untuk di pamerkan pada seluruh penduduk kota. Ribuan warga Kota Kalingga tumpah ruah di jalan raya yang menjadi rute perjalanan Panji Tejo Laksono dan keempat istrinya.


Selepas arak-arakan keliling kota, acara selanjutnya adalah makan besar bersama para warga Kota Kadipaten Kalingga dan di tutup dengan hiburan rakyat yang berlangsung di alun-alun Kota Kadipaten Kalingga. Seluruh rakyat Kota Kadipaten Kalingga ikut bersukacita menyambut pernikahan Panji Tejo Laksono.


Di balai tamu kehormatan Kadipaten Kalingga, Prabu Jayengrana bersama Dewi Anggarawati menemui Panji Tejo Laksono dan keempat istrinya.


"Putra ku, Tejo Laksono..


Romo dan Biyung mu akan pulang ke Kadiri. Jaga diri mu baik-baik ya Ngger Cah Bagus", ujar Dewi Anggarawati sambil mengelus pipi Panji Tejo Laksono.


"Sampaikan salam saya kepada semua orang di Istana Katang-katang, Biyung Ratu.


Tejo Laksono pasti akan segera menyusul pulang ke Kadiri selepas waktu sepekan usai acara pernikahan ini", Panji Tejo Laksono menghormat pada Prabu Jayengrana dan Ratu Dewi Anggarawati diikuti oleh para istri nya.


"Kalau ada apa-apa, Romo akan mengabari mu dengan Aji Bayu Swara, Tejo Laksono.


Baik-baik lah disini, nikmati masa pengantin baru mu", Prabu Jayengrana tersenyum simpul selesai berbicara. Setelah itu, mulut sang Maharaja Panjalu itu nampak komat-kamit merapal mantra. Sekejap kemudian, asap putih tipis menutupi seluruh tubuh Prabu Jayengrana dan Ratu Dewi Anggarawati. Bersamaan dengan hembusan angin yang tiba-tiba berhembus perlahan, tubuh Prabu Jayengrana dan Ratu Dewi Anggarawati menghilang dari pandangan mata Panji Tejo Laksono dan keempat istrinya. Keempat istri Panji Tejo Laksono berdecak kagum dengan kehebatan ilmu kanuragan yang dimiliki oleh Maharaja Panjalu itu.

__ADS_1


Setelah Prabu Jayengrana dan Ratu Dewi Anggarawati menghilang, Ayu Ratna segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono dan ketiga istrinya yang lain.


"Kangmas Pangeran,


Apakah kau sudah menentukan pilihan?", tanya Ayu Ratna sambil tersenyum malu-malu kucing.


"Pilihan? Apa maksud mu Cici Ayu? Aku kurang mengerti", Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari sedikit mengerutkan keningnya mendengar kata kata Ayu Ratna.


"Ya pilihan, Wulan.. Kangmas Pangeran kan tidak mungkin tidur bersama dengan kita semuanya malam ini", senyum nakal terukir di wajah cantik Ayu Ratna. Mendengar itu, Song Zhao Meng pun segera menoleh ke arah Gayatri dan Luh Jingga. Tiga perempuan cantik itu saling mengangguk dan tersenyum simpul. Mereka paham dengan apa yang dimaksud oleh Ayu Ratna.


'Kau pikir Kangmas Pangeran Tejo Laksono masih perjaka ya Kangmbok Ayu? Hihihihi, dia sudah menyerahkan nya pada ku. Malam ini biar Kangmas Pangeran bersama mu agar kau merasa bahagia ', batin Gayatri sambil senyum-senyum sendiri. Hal yang sama juga tengah berlangsung di dalam isi kepala Luh Jingga dan Song Zhao Meng.


Ehemmmmm eheemm..


"Karena Kangmbok Ayu Ratna adalah permaisuri pertama Kangmas Pangeran, maka untuk malam ini kami merelakan Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono bersama dengan Kangmbok Ayu. Tapi untuk malam berikutnya, sesuai dengan urutan maka Wulandari akan menjadi yang kedua. Aku yang ketiga sedangkan Luh Jingga yang keempat. Itu adalah jatah waktu bersama dengan Kangmas Pangeran yang sudah kita semua sepakati", ujar Gayatri yang segera mendapatkan anggukan kepala dari Song Zhao Meng dan Luh Jingga.


Mendengar jawaban itu, Ayu Ratna tersenyum lebar. Sedangkan Panji Tejo Laksono hanya geleng-geleng kepala melihat ulah ketiga istrinya itu.


Malam semakin larut. Panji Tejo Laksono sudah melepaskan sumping telinga emas bergambar sulur daun pakis di telinga nya sembari duduk di tepi ranjang tempat tidur yang di siapkan untuk malam pertamanya dengan Ayu Ratna. Selesai melepaskan perhiasan itu, Panji Tejo Laksono menoleh ke arah Ayu Ratna yang masih diam mematung di atas ranjang.


"Kau kenapa Dinda? Kog diam begitu?", tanya Panji Tejo Laksono sambil menaikkan kakinya ke atas ranjang.


"A-aku itu Kangmas anu.. eh apa ya aduh apa sih ini?", nada suara Ayu Ratna terbata-bata saat menjawab pertanyaan dari suaminya. Meskipun sudah sering bersama dengan Panji Tejo Laksono, tapi di malam pertama pernikahan mereka, Ayu Ratna grogi luar biasa. Senyum simpul terukir di wajah tampan Panji Tejo Laksono melihat kegugupan istri yang baru saja dia nikahi.


"Anu apa Dinda Ayu? Kau tidak perlu takut akan terjadi sesuatu. Ayo sini mendekat pada ku", Panji Tejo Laksono menggeser posisi duduknya di samping tubuh Ayu Ratna. Perlahan tangan Panji Tejo Laksono meraih tangan Ayu Ratna yang terlihat gemetaran. Ayu Ratna sedikit berjingkat saat merasakan tangan Panji Tejo Laksono menggenggam jemari tangannya. Dengan lembut, Panji Tejo Laksono meraih pinggang ramping Ayu Ratna dan merebahkannya di atas pembaringan.


Untuk meredakan kegugupan Ayu Ratna, Panji Tejo Laksono mengelus rambut perempuan cantik itu sambil berkata, "Tenang saja Dinda. Nikmati saja malam kita bersama ini. Kangmas akan mengajari mu sebuah permainan".


Mendengar itu, Ayu Ratna segera mendongak ke arah Panji Tejo Laksono yang kini sudah bersiap untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang suami. Dengan polosnya Ayu Ratna bertanya,


"Permainan apa itu Kangmas?"

__ADS_1


__ADS_2