Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Masalah di Kota Luoyang


__ADS_3

Meski tak mengerti apa yang di katakan oleh Song Zhao Meng, Luh Jingga dapat merasakan hawa permusuhan yang di keluarkan oleh putri Kaisar Huizong itu. Segera dia bertanya pada Panji Tejo Laksono.


"Gusti Pangeran,


Apa maksud omongan putri Tionghoa ini? Lama kelamaan aku mulai tidak suka melihat sikap nya", geram Luh Jingga dengan menatap tajam ke arah Song Zhao Meng. Pelukan hangat nya pada sang pangeran muda dari Kadiri itu justru semakin erat.


"Sabar ya Luh, sabar...


Ingat kita ini di negeri nya. Dia putri Kaisar yang berkuasa sekarang. Tahan amarah mu, nanti aku jelaskan ya", bujuk Panji Tejo Laksono, mencoba mendinginkan suasana panas yang mulai tercipta antara Luh Jingga dan Song Zhao Meng.


"Aku menurut saja dengan keputusan Gusti Pangeran..


Tapi kalau dia masih bersikap seperti itu, jangan salahkan aku jika aku sampai menghajar nya", gerutu Luh Jingga sembari terus menatap ke arah Song Zhao Meng yang juga terlihat seperti seorang yang mengobarkan genderang perang melawan Luh Jingga.


.


Panji Tejo Laksono menghela nafas panjang sebelum menoleh ke arah Song Zhao Meng.


"Putri Meng Er...


Sebaiknya kita pulang dulu ke Kuil Shaolin agar para pengikut mu tidak khawatir. Kali ini aku yang ambil keputusan, dan ku minta kau menurut", ujar Panji Tejo Laksono segera.


"Aku patuh pada aturan Kakak Thee..


Tapi setelah kita meninggalkan Kuil Shaolin, kita harus menyelesaikan masalah ini sebelum melanjutkan perjalanan ke Kaifeng", ucap Putri Song Zhao Meng sembari menatap ke arah Luh Jingga. Kalau sepekan kemarin dia masih berpikir ulang untuk bermusuhan dengan Luh Jingga, tapi sekarang dengan ilmu Bulan Es yang di turunkan oleh Guan Lian Er, Song Zhao Meng belum tentu bisa di kalahkan oleh Luh Jingga dengan mudah.


"Aku mengerti..


Semuanya sekarang kita kembali ke Kuil Shaolin sebelum melanjutkan perjalanan. Ayo kita kesana".


Mendengar perintah Panji Tejo Laksono, para pengikut setia Panji Tejo Laksono seperti Demung Gumbreg, Tumenggung Ludaka dan yang lainnya langsung bergerak mengikuti langkah sang junjungan ke Kuil Shaolin. Putri Song Zhao Meng pun mengikuti langkah sang pangeran.


Kabar kepulangan Panji Tejo Laksono dan Putri Song Zhao Meng langsung di sambut gembira oleh Biksu Kong Bao, Kepala Kuil Shaolin. Karena bagaimanapun, diculiknya Putri Song Zhao Meng masih berada di kawasan Kuil Shaolin. Jika sampai Putri Song Zhao Meng tidak di temukan, sudah pasti pihak Kuil Shaolin yang akan di salahkan.


Jenderal Liu King yang menerima kabar kedatangan Putri Song Zhao Meng bergegas menemui sang putri di Aula utama Kuil Shaolin. Segera pria bertubuh gempal dengan janggut lebat dan kumis tebal ini berlutut dihadapan Putri Song Zhao Meng sembari membungkuk hormat.


"Liu King menyambut kedatangan Tuan Putri Song Zhao Meng..


Mohon hukum Liu King yang tidak becus menjaga keselamatan pribadi Tuan Putri. Liu King pantas untuk mati", ujar Jenderal Liu King dengan tegas.


Seluruh prajurit pengawal Putri Song Zhao Meng termasuk Chen Su Bing dan Cai Yuan ikut berlutut sembari berkata, "Kami pantas untuk mati".


"Sudah cukup, berdiri semuanya. Jangan membuat keributan di Kuil Shaolin.


Sekarang juga kemasi semua barang kalian. Hari ini juga kita pulang ke Kaifeng", perintah Putri Song Zhao Meng segera.


"Terimakasih atas kebaikan hati Tuan Putri..", usai berkata demikian, seluruh prajurit pengawal pribadi Putri Song Zhao Meng segera berdiri dan mundur untuk berkemas. Saat itu juga, Huang Lung yang baru saja ikut mencari keberadaan Panji Tejo Laksono dengan kelompok berbeda, langsung tersenyum lebar ketika melihat Panji Tejo Laksono sudah ada di aula utama Kuil Shaolin.

__ADS_1


"Saudara Thee syukurlah..


Kau sudah kembali dan keadaan mu baik baik saja. Aku cemas dengan keselamatan mu", ujar Huang Lung alias Putri Wanyan Lan sembari tersenyum tipis. Belum sempat Panji Tejo Laksono membalas sapaan Huang Lung, Putri Song Zhao Meng langsung merangkul lengan kiri Panji Tejo Laksono.


"Kau tidak perlu mencemaskan keadaan nya, Lan Er..


Lelaki ku baik baik saja selama bersama ku", ucap Song Zhao Meng yang tentu saja langsung membuat Huang Lung terkejut bukan main. Panji Tejo Laksono pun ikut terkejut dengan panggilan Lan Er pada Huang Lung.


"Lan Er? Apa maksud mu Tuan Putri? Kenapa kau sebut Huang Lung dengan panggilan perempuan seperti itu?


Mendengar pertanyaan Panji Tejo Laksono, Putri Song Zhao Meng tersenyum penuh arti.


"Apa Kakak Thee sampai saat ini masih belum menyadari bahwa Huang Lung atau perlu ku panggil nama aslinya Putri Wanyan Lan ini adalah perempuan?", ujar Putri Song Zhao Meng yang sengaja membongkar rahasia penyamaran Huang Lung.


Panji Tejo Laksono kehabisan kata-kata untuk berbicara sedangkan Huang Lung sendiri pucat seketika mendengar kedoknya di buka di depan semua orang.


"Ternyata saudara Huang Lung adalah perempuan, kenapa aku tidak menyadarinya?", gumam Rakryan Purusoma sembari mengusap dagunya.


"Hah kau telat Purusoma..


Dari awal pertama kali kita bertemu dengan nya, aku sudah curiga dengan sikap dan perilaku nya. Kalau tak percaya tanya saja sama Tumenggung Ludaka..


Benar kan Lu?", Demung Gumbreg mencebikkan bibir pada Rakryan Purusoma.


"Iya Mbreg...


Aku akui kali ini tebakan mu tepat sekali. Aku salut pada mu", Tumenggung Ludaka mengacungkan jempol nya pada Gumbreg.


"Iya, biasanya melenceng jauh sekali dari kebenaran..


Sekarang diam lah, biar Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono yang bicara. Mendengar suara mu membuat aku pengen berak", potong Tumenggung Ludaka sambil menatap ke arah Panji Tejo Laksono.


"Kau...."


Belum selesai omongan Demung Gumbreg, terdengar suara dari Panji Tejo Laksono.


"Selama tidak ada niat jahat, aku tidak mempermasalahkan penyamaran saudara Huang. Sebaiknya kita segera berkemas, perjalanan ke Kaifeng masih panjang", ucap Panji Tejo Laksono tegas.


Setelah mendengar penuturan Panji Tejo Laksono, semua orang langsung bersiap untuk berangkat ke arah Ibukota Kekaisaran Song, Kaifeng. Tak banyak hal yang berubah dari para anggota rombongan kecuali dengan dandanan Huang Lung alias Putri Wanyan Lan. Setelah jati diri nya di bongkar oleh Putri Song Zhao Meng, Wanyan Lan membuat keputusan untuk berdandan layaknya seorang perempuan.


Saat dia baru keluar dari kamar tidur nya dan berpakaian wanita khas Suku Jurchen, Wanyan Lan yang menggunakan baju putih dengan hiasan bulu bulu kulit serigala salju terlihat sangat cantik dengan riasan tipisnya.


Mata semua lelaki yang ikut dalam perjalanan itu langsung terpaku pada sosok cantik Wanyan Lan termasuk juga Panji Tejo Laksono. Ini membuat Putri Song Zhao Meng kesal bukan main. Dengan sedikit geram, Putri Song Zhao Meng segera menginjak kaki Panji Tejo Laksono dengan keras.


Bhhuukh..


Addduuuuuuuuuuhhhhh !!!!

__ADS_1


Terdengar suara erangan kesakitan dari mulut Panji Tejo Laksono yang kaki nya diinjak oleh Putri Song Zhao Meng. Saat Panji Tejo Laksono hendak protes, mata Putri Song Zhao Meng terlihat serem karena melotot lebar ke arah nya.


"Kenapa? Tidak terima aku injak kaki mu Kakak Thee?


Sudah punya banyak perempuan masih saja jelalatan melihat perempuan cantik. Jaga sikap mu Kakak Thee ", omel Song Zhao Meng sembari mendengus keras. Dia benar benar cemburu pada perubahan dandanan Putri Wanyan Lan meskipun sebenarnya dia tidak kalah cantik.


Panji Tejo Laksono hanya geleng-geleng kepala melihat ulah Song Zhao Meng.


Rombongan itu segera meninggalkan Kuil Shaolin menuju ke arah timur dimana Ibukota Kekaisaran Song, Kaifeng berada. Karena hanya para perempuan yang naik kereta kuda, kini di dalam kereta kuda berisi Wanyan Lan, Luh Jingga dan Song Zhao Meng bersama Qiao Er. Di dalam kereta kuda itu menjadi sunyi karena mereka berempat memiliki pikiran mereka masing-masing. Luh Jingga masih kesal dengan ulah Song Zhao Meng. Putri Kaisar Huizong itu pun sedang memiliki kekhawatiran bahwa Wanyan Lan akan mendekati Panji Tejo Laksono. Wanyan Lan sendiri menjadi berhati hati dalam bicara karena bisa jadi ada orang yang mengincar barang yang dia bawa. Qiao Er yang tidak tahu apa apa, lebih memilih untuk tidak berbicara apapun daripada di salahkan.


Setelah satu hari melakukan perjalanan, rombongan itu sampai juga di Kota Luoyang yang ada di arah perjalanan mereka. Karena hari sudah berangsur senja, Putri Song Zhao Meng dengan persetujuan dari Panji Tejo Laksono memutuskan untuk bermalam di sebuah penginapan besar berlantai dua yang terletak di barat daya Kota Luoyang. Saat berhenti makan siang tadi, Panji Tejo Laksono sudah berbicara tentang kehidupan pribadi nya pada Song Zhao Meng. Dia juga menjelaskan bahwa selain Luh Jingga, Panji Tejo Laksono masih memiliki Ayu Ratna dan Gayatri. Putri Song Zhao Meng menyatakan bahwa ia menerima segala kehidupan yang sudah di jalani oleh sang pangeran muda dari Panjalu ini.


Penginapan dua lantai ini bernama Penginapan Bunga Naga. Pemilik penginapan ini adalah sepasang pendekar yang sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan. Tempat ini begitu ramai. Selain memiliki tempat menginap, bagian depan penginapan juga di gunakan sebagai rumah makan yang cukup terkenal di kalangan para pendekar. Selain masakannya enak, harganya juga terjangkau oleh kantong para pendekar maupun para pelancong yang singgah di Kota Luoyang.


Kedatangan Putri Song Zhao Meng yang bersama dengan ratusan orang pengikutnya membuat semua mata pengunjung rumah makan ini tertuju pada nya. Wajahnya yang cantik di sertai dengan kuasa yang mampu membawa ratusan orang pengikut, tentu saja menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun orangnya baik dari golongan rakyat biasa maupun para pendekar dunia persilatan yang kebetulan sedang singgah di tempat itu.


Para pelayan rumah makan segera mencarikan tempat makan untuk para pengikut Putri Song Zhao. Karena kursi tidak mencukupi, terpaksa sebagian besar dari mereka di tempatkan di halaman belakang dekat dengan tempat bermalam. Sedangkan Panji Tejo Laksono dan yang lainnya memperoleh dua meja makan besar cukup untuk tempat duduk Wanyan Lan, Luh Jingga, Song Zhao Meng, Jenderal Liu King, Chen Su Bing, Tumenggung Ludaka, Tumenggung Rajegwesi dan Panji Tejo Laksono.


Demung Gumbreg yang tidak kebagian tempat, duduk bersama dengan Rakryan Purusoma di meja makan yang lain bersama Qiao Er, Cai Yuan, dua pengawal pribadi Wanyan Lan dan dua kepala prajurit bawahan Jenderal Liu King.


Juru masak rumah makan ini pun menjadi sibuk dengan banyaknya jumlah pesanan yang mereka terima. Bahkan sang pemilik Penginapan Bunga Naga sendiri turut serta dalam membantu juru masak mereka membuatkan pesanan makanan.


Saat Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan sedang menunggu pesanan makanan mereka, seorang lelaki muda bertubuh tegap dengan wajah yang lumayan tampan berjalan mendekati meja Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya. 4 orang berpakaian khas pendekar Negeri Tiongkok dengan tangan kiri memeluk sarung pedang di depan dada, mengikuti langkah sang pemuda yang berpakaian layaknya seorang bangsawan.


"Nona Muda,


Sepertinya kau bukan orang Kota Luoyang ini ya? Namaku Fan Zhong Yan. Ayah ku adalah walikota Kota Luoyang ini, Fan Huo Liang. Ayah ku walikota sekaligus sebagai orang terkaya di kota ini.


Kalau boleh tau, siapa nona besar ini?", tanya si lelaki muda yang mengaku bernama Fan Zhong Yan ini sembari tersenyum. Putri Song Zhao Meng yang sudah terbiasa melihat senyum palsu para pejabat tinggi Istana Kaifeng hanya mendengus dingin tanpa bicara. Dia benar benar tidak suka dengan para penjilat.


Tidak mendapat tanggapan dari Song Zhao Meng, bukannya membuat Fan Zhong Yan mundur malah membuat nya semakin berani.


Dia yang ingin memegang tangan Putri Song Zhao Meng terkaget saat ada sebuah tangan kekar yang memegang erat lengan tangan nya sembari berkata, "Tuan, kau jangan kurang ajar!"


Segera Fan Zhong Yan menoleh ke arah sumber suara dan melihat Jenderal Liu King menatap tajam ke arah nya. Meski Fan Zhong Yan berusaha melepaskan cekalan yang di lakukan oleh Jenderal Liu King, namun usahanya sia-sia belaka. Saat Fan Zhong Yan berusaha melepas cekalan tangan Jenderal Liu King, Putri Song Zhao Meng memberi isyarat kepada Jenderal Liu King untuk melepaskan pegangannya.


Fan Zhong Yan yang kadung menarik tangan nya sekuat tenaga kehilangan keseimbangan dan menabrak sebuah meja makan yang ada di belakang nya hingga hidangan di meja makan itu tumpah dan mengenai baju mahal yang dia kenakan.


"Dasar keparat !


Kau sengaja melepaskan cekalan tangan mu agar aku menabrak meja ini bukan? Dasar kurang ajar ! Aku tidak terima di perlakukan seperti ini...


Kalian berempat..! Hajar orang itu sekarang!!", perintah Fan Zhong Yan pada para pengawal pribadi nya. Ke empat orang pengawal pribadi Fan Zhong Yan langsung bergegas mengepung Jenderal Liu King. Namun belum sempat mereka bertindak, sebuah suara langsung terdengar keras.


"Tuan Muda Fan, cukup!


Jangan buat keributan di tempat makan ku!"

__ADS_1


Teriakan keras ini serta merta menghentikan gerakan para pengawal pribadi Fan Zhong Yan. Mereka saling berpandangan satu sama lain, tak berani bertindak gegabah karena sang pemilik Penginapan Bunga Naga sudah angkat bicara. Dia adalah seorang pendekar dunia persilatan yang namanya begitu harum dan membuat banyak ahli kungfu berpikir dua kali jika ingin berurusan dengan nya. Di dunia persilatan, namanya di kenal sebagai Naga Hitam dari Luoyang,


Han Mo Gei.


__ADS_2