Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Adu Jago Ilmu Beladiri


__ADS_3

"Apa kau yakin?", Panji Tejo Laksono masih belum percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Ayu Ratna.


"Gusti Pangeran, bukankah hal yang lumrah jika seorang pangeran punya istri lebih dari satu?


Ayah ku saja selain punya ibu ku, juga masih punya selir. Bahkan Dhimas Bratayudha lah yang kelak menjadi penerus Kanjeng Romo sebagai Adipati Kalingga karena dia laki-laki adalah putra dari selir Kanjeng Romo.


Aku tidak bisa egois karena hanya serakah untuk memiliki suami untuk ku sendiri. Aku juga harus memikirkan masa depan Kerajaan Panjalu jika suatu saat Gusti Pangeran diangkat menjadi Yuwaraja. Iya kalau nanti aku melahirkan keturunan laki-laki untuk Gusti Pangeran, kalau aku hanya bisa memberikan keturunan perempuan, bukankah aku sama saja merusak trah Dinasti Isyana karena keegoisan ku?", ujar Ayu Ratna sembari tersenyum penuh arti.


"Wah pemikiran Gusti Putri dewasa sekali melebihi umurnya.


Sungguh hebat. Aku kagum pada mu", puji Luh Jingga sambil bertepuk tangan.


"Tentu saja, seorang putri istana memang di didik untuk bisa bersikap dewasa dan patuh pada suaminya.


Beda dengan seorang yang mengaku putri tapi selalu tampil garang dan tidak bisa mengendalikan diri nya di depan orang", ujar Ayu Ratna sembari tersenyum simpul.


"Kau menyindir ku?


Sini kalau berani, aku hajar kau ya", Gayatri langsung melompat bermaksud untuk menjambak rambut Ayu Ratna. Namun Panji Tejo Laksono yang waspada, dengan cekatan menyambar pinggang Gayatri.


"Eit eitt kau mau apa Gayatri?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Lepaskan aku Gusti Pangeran..


Akan ku hajar putri sok cantik biar dia bisa jaga mulut nya", Gayatri meronta berusaha melepaskan diri.


"Gayatri, sudah cukup!


Kita ini sedang ada di dalam istana Kalingga. Perhatikan sikap mu, jangan seperti gadis liar begitu. Kau ini putri dari Kadipaten Seloageng, kau harus memperhatikan segala tindak tanduk mu. Jangan membuat malu Eyang Adipati Tejo Sumirat", suara Panji Tejo Laksono sedikit keras hingga membuat Gayatri langsung terdiam.


Setelah Gayatri tenang, Panji Tejo Laksono segera melepaskan dekapannya.


"Gusti Putri, ini sudah cukup malam. Sebaiknya Gusti Putri kembali ke Keputren untuk beristirahat", ujar Panji Tejo Laksono segera.


"Aku akan patuh pada mu, Gusti Pangeran.


Tapi aku minta Gusti Pangeran mengantar ku hingga ke gapura Keputren. Aku takut berjalan sendirian", Ayu Ratna tersenyum tipis. Panji Tejo Laksono mengangguk mengerti dan segera berjalan mendahului sang putri Kadipaten Kalingga. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke arah tembok istana yang menjadi batas Keputren dan balai tamu kehormatan.


"Perempuan itu licik sekali Luh Jingga..


Aku ingin sekali memberinya pelajaran agar tidak sombong mentang mentang kita menginap di sini", Gayatri terus menatap ke arah Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna yang melangkah semakin jauh ke arah tembok pembatas istana.


"Sabar Gayatri.. Kau jangan mempersulit keadaan kita.


Kita sedang di istana Kalingga. Setidaknya disini Ayu Ratna adalah penguasa nya. Nanti kalau sudah di istana Kadiri, kedudukan kita sama dengan nya", ujar Luh Jingga berusaha keras untuk menenangkan hati Gayatri.


Gayatri tak menjawab omongan Luh Jingga namun sepertinya gadis cantik itu masih memendam kekesalan dalam hati.


Begitu sampai di gapura Keputren, Panji Tejo Laksono dan Ayu Ratna menghentikan langkah mereka. Dua prajurit penjaga gapura membungkuk hormat kepada mereka.


"Sudah sampai di sini saja, Gusti Putri.


Sebaiknya Gusti Putri masuk ke dalam. Aku akan kembali ke balai tamu kehormatan", Panji Tejo Laksono tersenyum simpul.


"Baiklah Gusti Pangeran.


Besok Gusti Pangeran harus mengalahkan si Danapati itu. Aku tidak mau jika sampai Gusti Pangeran sampai kalah dari nya", kata Ayu Ratna sembari menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono dengan penuh harap.


"Kenapa begitu, Gusti Putri? Bukankah kalah menang dalam pertandingan itu sudah biasa?", Panji Tejo Laksono tersenyum penuh arti.


"Hihhh... Masih di tanyakan apa alasan nya?


Pokoknya harus menang ya Gusti Pangeran. Kalau sampai kalah dan aku harus menikah dengan Danapati, aku akan membenci mu seumur hidup ku".

__ADS_1


Usai berkata seperti itu, Ayu Ratna segera berbalik badan dan berlari menuju ke dalam Keputren Istana Kadipaten Kalingga.


Panji Tejo Laksono hanya geleng-geleng kepala saja sambil tersenyum simpul. Lalu pangeran muda dari Kadiri itu segera kembali ke arah balai tamu kehormatan untuk beristirahat.


Malam terus merangkak naik. Suara burung malam terdengar berbunyi dari tempat yang jauh. Suasana di dalam Istana Kalingga semakin sunyi karena para penghuninya telah terbuai dalam mimpi indah mereka sendiri-sendiri.


Kokok ayam jantan bersahutan menandakan bahwa pagi telah tiba. Udara malam yang dingin perlahan tergantikan oleh hangatnya sinar matahari pagi yang perlahan muncul di ufuk timur. Riuh rendah cuit burung kutilang dan kepodang bersahutan di atas ranting pepohonan yang tumbuh di dalam balai tamu kehormatan Istana Kadipaten Kalingga.


Entah dari siapa yang menyebarkan berita pertarungan antara Panji Tejo Laksono dan Danapati di alun alun Kota Kadipaten Kalingga, namun pagi itu alun alun Kota Kalingga di penuhi oleh ribuan orang warga kota. Mereka berduyun-duyun datang ke alun alun untuk menyaksikan pertandingan adu jago silat yang memperebutkan Dyah Ayu Ratna, sekar kedaton Istana Kalingga sebagai calon istri.


Para prajurit Kalingga terpaksa harus membuat pagar pembatas untuk menghalangi para penduduk yang ingin menyaksikan pertandingan ini agar tidak menggangu jalannya pertandingan. Senopati Ranggabuana dengan cekatan membentuk barisan prajurit agar para penduduk tidak semakin merangsek maju.


Diantara para penduduk yang mendekati arena pertandingan, ada dua orang bercaping bambu berpakaian serba biru merah kehitaman dengan tatapan mata tajam seperti mata seorang pembunuh. Mereka terus menatap ke arah panggung yang akan menjadi tempat Adipati Aghnibrata dan para punggawa istana Kalingga menyaksikan pertandingan antara Panji Tejo Laksono dan Danapati.


Saat matahari sepenggal naik di langit timur, Adipati Aghnibrata bersama Ayu Ratna, Resi Danarasa dan Tumenggung Ludaka naik ke atas panggung di temani oleh Senopati Ranggabuana dan Patih Reksonoto. Sedangkan yang menjadi wasit pertandingan adalah Tumenggung Kalingga, Sumantri. Para bekel prajurit Kalingga terus berjaga mengamankan situasi sembari terus mengawasi pergerakan para warga yang menonton karena khawatir terjadi hal hal yang tidak diinginkan.


Seorang prajurit memukul bende dengan keras hingga para penonton yang memadati sekitar tempat itu menutup mulut mereka untuk mendengarkan pengumuman. Adipati Aghnibrata segera berdiri dari tempat duduknya.


"Hari ini akan di adakan pertandingan ilmu kanuragan antara Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono melawan Danapati.


Seperti kesepakatan sebelumnya, barangsiapa yang bisa mengalahkan lawan maka dia yang akan berhak menjadi suami dari putri ku, Ayu Ratna.


Aku minta semua tetap tenang dan jaga ketertiban selama menyaksikan pertandingan ini ", ujar Adipati Aghnibrata yang segera disambut tepuk tangan dan siulan kencang dari para penonton yang hadir di tempat itu.


Danapati masuk ke dalam arena pertandingan lebih dulu. Dengan penuh percaya diri, dia menatap ke sekeliling penonton yang memadati sekitar arena pertandingan. Dengan dandanan khas Padepokan Teratai Segara yakni putih biru, Danapati terlihat pongah. Sengaja dia menoleh ke arah panggung kehormatan tempat Ayu Ratna melihat dengan senyum nya yang menjengkelkan. Ayu Ratna langsung membuang mukanya begitu Danapati menatap ke arah nya. Itu membuat Danapati kesal setengah mati.


'Kau boleh membuang muka mu kali ini, tapi setelah aku menghajar pangeran Kadiri itu, kau akan menyesali apa yang sudah kau lakukan', batin Danapati.


Setelah Danapati keluar, Panji Tejo Laksono keluar dari sisi yang berbeda. Dengan pakaian sederhana tapi rapi, pangeran dari Kadiri itu langsung mencuri perhatian para gadis cantik yang ikut menyaksikan pertandingan ini.


"Wah itu rupanya Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono..


Tampan sekali. Gusti Pangeran, ambil aku jadi istri mu", teriak seorang gadis cantik berbaju hijau muda yang berdiri di luar pagar arena.


Gusti Pangeran jangan dengarkan dia. Nikahi aku saja", sahut seorang gadis lain di sebelahnya.


Suasana langsung menjadi gaduh karena kemunculan Panji Tejo Laksono. Danapati langsung kesal dengan kemunculan Panji Tejo Laksono yang mencuri perhatian banyak orang. Apalagi Ayu Ratna langsung tersenyum lebar ketika melihat kearah Panji Tejo Laksono.


"Jadi kau pangeran dari Kadiri itu?


Sebaiknya kau menyerah sebelum wajah tampan mu itu ku buat babak belur", ujar Danapati sembari menatap wajah Panji Tejo Laksono dengan penuh ancaman.


"Siapa yang babak belur masih belum bisa dipastikan. Sebaiknya Kisanak lebih memperhatikan diri sendiri sebelum memperhatikan orang lain", Panji Tejo Laksono tersenyum tipis.


Saat Danapati hendak menanggapi ucapan itu, Tumenggung Sumantri maju ke depan mereka berdua.


"Kalian sudah siap?", Tumenggung Sumantri menatap ke arah mereka berdua. Kedua orang itu mengangguk segera.


"Mulailah...!!!"


Panji Tejo Laksono langsung membungkukkan badannya pertanda hormat pada lawan namun Danapati tidak melakukan nya. Putra Resi Danarasa itu mundur dua langkah sembari menyiapkan kuda-kuda ilmu silatnya.


Setelah melihat lawan bersiap, Panji Tejo Laksono langsung menyiapkan diri. Danapati yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya, langsung menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono.


Sorak sorai penonton langsung terdengar saat pertarungan itu mulai. Mereka mulai berteriak keras mendukung jagoannya masing-masing.


Danapati langsung menyerang ke arah kaki Panji Tejo Laksono untuk merobohkan kuda-kuda sang pangeran muda. Namun guntingan kakinya tidak mampu menggoyahkan posisi tubuh Panji Tejo Laksono.


Secepat kilat Panji Tejo Laksono menghantamkan tangan kanannya ke arah Danapati yang masih di tanah.


Whuuthhh !


Danapati segera menangkis pukulan keras bertubi-tubi dari Panji Tejo Laksono.

__ADS_1


Plakkkk ! plakkkk !


Usai menangkis, Danapati segera berguling ke tanah lalu dengan cepat berdiri dan kembali merangsek maju ke arah Panji Tejo Laksono.


Menggunakan ilmu silat Teratai Segara, serangan Danapati mengincar ke arah bagian tubuh yang rapuh. Namun Panji Tejo Laksono bukan pendekar sembarangan. Ilmu silat tangan kosong nya adalah yang terbaik di Padepokan Padas Putih. Dengan tenang dia meladeni permainan silat lawannya.


Lima belas jurus telah berlalu..


Resi Danarasa yang semula percaya diri dengan kemampuan beladiri Danapati mulai khawatir karena Panji Tejo Laksono sudah mendaratkan dua pukulan keras ke tubuh Danapati, sedangkan putranya itu belum satupun mampu menyarangkan pukulan ke lawannya. Resi Danarasa menatap dengan penuh kekhawatiran.


'Pangeran ini rupanya boleh juga. Ilmu silat Padas Putih nya sebanding dengan Wirotama, si pimpinan Padepokan itu sekarang.


Ini berbahaya bagi Danapati', batin Resi Danarasa.


Jika Resi Danarasa mulai khawatir, lain halnya dengan Ayu Ratna. Putri Adipati Aghnibrata yang semula sangat khawatir dengan keselamatan Panji Tejo Laksono, tersenyum lebar ketika melihat Panji Tejo Laksono terlihat unggul dalam pertandingan ini.


Sementara para penonton mulai semakin ramai memadati tempat itu. Bahkan beberapa mulai bertaruh dengan sejumlah uang. Seorang saudagar kaya bernama Ki Karmoyoso mulai membuka pertaruhan besar untuk Panji Tejo Laksono. Puluhan penjudi mulai mempertaruhkan harta mereka untuk jagoan mereka.


"Ayo siapa lagi yang mau bertaruh untuk lawan Pangeran Panji Tejo Laksono? Aku siap menerima taruhan kalian", ucap Ki Karmoyoso sembari menatap ke arah para penonton yang hadir.


Sedangkan di arena pertandingan, Danapati ngos-ngosan mengatur nafasnya. Serangan terakhirnya berhasil di mentahkan oleh Panji Tejo Laksono, bahkan pangeran muda dari Kadiri itu melayangkan tendangan keras kearah dada nya meski berhasil di tangkis.


Danapati segera melirik ke arah seorang murid Padepokan Teratai Segara yang ada di sisi panggung kehormatan. Si murid paham dan segera melemparkan sebilah pedang ke arah Danapati.


Melihat itu, Demung Gumbreg yang juga berdiri di samping panggung kehormatan, langsung menyambar pedang Siwikarna dan melemparkannya ke arah Panji Tejo Laksono. Dengan sigap sang pangeran menangkap lemparan pedang dari Demung Gumbreg.


Danapati segera melompat ke arah Panji Tejo Laksono dengan membabatkan pedang nya. Panji Tejo Laksono dengan cepat menangkis sabetan pedang Danapati.


Whuuthhh !


Thrrraaannnnggggg !


Thhraaaangggggggg !!


Sabetan pedang bertubi-tubi kearah Panji Tejo Laksono dengan cepat oleh sang putra tertua Prabu Jayengrana itu di tangkis. Danapati membabatkan pedang nya ke arah kaki. Panji Tejo Laksono langsung menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara dan mendarat sejauh dua tombak di belakang Danapati. Tak ingin lawannya lolos dengan mudah, Danapati segera merubah gerakan tubuhnya dan kembali memburu ke arah Panji Tejo Laksono.


Satu sabetan pedang Danapati mengincar leher sang pangeran muda.


Shrraaaakkkkhhhh !


Menggunakan pedang sebagai tumpuan, Panji Tejo Laksono merendahkan tubuhnya lalu menghantam dada Danapati dengan keras.


Bhuuukkkhhh !


Aaauuuuggggghhhhh !


Danapati terhuyung huyung mundur ke belakang. Dari sudut bibirnya, darah meleleh keluar. Danapati yang merasakan rasa sesak di dada nya, segera mengusap darah yang keluar dengan kasar. Dia segera melemparkan pedangnya ke tanah lalu dengan cepat menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. Seberkas sinar biru terkumpul di telapak tangan bersama angin dingin yang berputar cepat di sekeliling tubuh nya. Rupanya dia merapal Ajian Tapak Teratai Mengguncang Bumi.


Panji Tejo Laksono tidak tinggal diam. Dengan cepat ia merapal mantra Ajian Tapak Dewa Api nya. Seketika tapak tangan nya yang menangkup di depan dada berwarna merah menyala seperti api akibat munculnya sinar merah bergulung gulung yang berhawa panas menyengat di seluruh tubuh nya.


Danapati segera melompat tinggi ke udara dan meluncur cepat kearah Panji Tejo Laksono dengan menghantamkan tangan kanannya.


"Mampus kau, bangsat ! "


Whhhhuuuuggghhh !


Panji Tejo Laksono langsung menyambut kedatangan serangan itu dengan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah menyala.


Blllaaammmmmmmm !


Ledakan dahsyat terdengar saat dua ajian tingkat tinggi itu berbenturan. Danapati terlempar jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Putra Resi Danarasa itu muntah darah segar. Sementara itu Panji Tejo Laksono masih berdiri tegak di tempat nya sembari menatap tajam ke arah Danapati yang terkapar di tanah.


"Masih mau di lanjutkan?"

__ADS_1


__ADS_2