
Lin Kai Sang menatap wajah Panji Tejo Laksono sembari menyeringai lebar setelah mendengar pertanyaan dari pemuda tampan itu. Wajah nya yang sama sekali tidak mirip dengan orang orang Tionghoa kebanyakan langsung membuat nya mengerti bahwa orang yang bicara dengan nya bukan berasal dari Tanah Tiongkok walaupun dia berbicara dalam bahasa Tionghoa.
"Orang asing....
Sebaiknya kau serahkan harta benda mu pada ku sebagai pajak melewati tempat ini. Jika kau menolak, akan ku bunuh kalian semua dan akan ku jual dua perempuan cantik itu ke rumah bordil sebagai pelacur hahahaha", Lin Kai Sang langsung tertawa terbahak-bahak yang segera diikuti oleh seluruh anggota Ikatan Sepuluh Cincin yang mengepung rombongan Panji Tejo Laksono.
"Ketua, jangan kau langsung jual itu perempuan cantik ke rumah pelacuran. Biarkan dulu dia bermain dengan ku selama beberapa hari. Setelah aku puas kau boleh jual dia hahahaha ", sahut seorang lelaki bertubuh gendut dengan kepala plontos dan kumis tipis diatas bibir nya. Dia adalah Gu Sheng, salah satu tetua Ikatan Sepuluh Cincin yang terkenal suka main perempuan.
"Perempuan cantik itu mana mau dengan mu, Kakak Gu? Lihat badan mu yang seperti karung beras, tidak pantas untuk mereka.
Ketua, lebih baik kau serahkan perempuan cantik itu untuk ku. Dia pasti tak menolak bersama pria tampan seperti ku ini hehehe", sahut seorang lelaki bertubuh tinggi dengan wajah pucat yang memakai baju hitam dan jubah merah. Dia adalah Zhu En Lai, salah satu dari sepuluh tetua Ikatan Sepuluh Cincin yang memiliki kemampuan beladiri setingkat dengan Gu Sheng.
"En Lai, apa maksud dari ucapan mu itu ha?
Kau ingin berduel dengan ku ha? Ayo maju sekarang, akan ku hancurkan batok kepala mu dengan palu besi ku!", tantang Gu Sheng sembari bersiap untuk bertarung.
"Kau pikir aku takut dengan mu, Gu Sheng?
Mari kita buktikan, palu besi mu atau kipas langit ku yang lebih hebat!", Zhou En Lai langsung mengembangkan kipasnya yang terbuat dari bilah baja tipis. Keributan antara dua petinggi Ikatan Sepuluh Cincin itu langsung membuat Lin Kai Sang murka.
"Kalian bisa diam tidak?!
Apa perlu aku hajar kalian berdua agar bisa akur ha? Membuat ku kesal saja!", bentakan keras dari Lin Kai Sang langsung membuat kedua tetua Ikatan Sepuluh Cincin ini terdiam. Jika kekuatan mereka berdua di gabungkan pun, masih bukan tandingan dari kemampuan beladiri Lin Kai Sang. Menantang Lin Kai Sang sama dengan ingin mati konyol saja. Karena itu, meski memendam kekesalan dalam hati, Gu Sheng dan Zhou En Lai langsung memilih diam saja agar Lin Kai Sang tidak semakin murka.
Setelah keributan antara Gu Sheng dan Zhou En Lai mereda, Lin Kai Sang kembali mengalihkan pandangannya pada Panji Tejo Laksono yang masih diam di tempatnya.
"Jawab sekarang anak muda, jangan menunggu kesabaran ku habis.
Kau serahkan harta benda mu atau mau kami merampas nya? Cepat jawab!", teriak Lin Kai Sang dengan keras.
"Tuan, aku datang jauh jauh kemari hanya ingin lewat tempat ini untuk sampai ke Lin'an. Ini juga atas perintah dari Kaisar Huizong.
Aku minta agar kau tidak mempersulit ku agar aku cepat sampai di Lin'an", ujar Panji Tejo Laksono dengan sopan.
"Banyak mulut !
Anggota Ikatan Sepuluh Cincin, rampas semua harta benda mereka. Jangan sampai ada satupun yang tersisa!", teriak Lin Kai Sang dengan lantang. Mendengar perintah dari Ketua Ikatan Sepuluh Cincin, para anggota kelompok perampok itu segera melompat ke arah para prajurit Panjalu yang mengawal perjalanan Panji Tejo Laksono di Tanah Tiongkok. Pertarungan sengit pun tak bisa di hindari lagi.
Empat orang tetua Ikatan Sepuluh Cincin yang berada di dekat Tumenggung Ludaka dan kawan-kawan nya langsung melompat ke arah empat perwira tinggi prajurit Panjalu itu sembari melayangkan serangan mereka.
Demung Gumbreg dengan cepat mengayunkan pentung sakti andalannya begitu sebuah golok besar dari salah satu tetua Ikatan Sepuluh Cincin terayun ke arah lehernya.
Whhuuuuuuuggggghhh ..
Thrraaaanngggggg !!
__ADS_1
Gumbreg langsung melompat turun dari kudanya setelah sabetan golok besar dari tetua Ikatan Sepuluh Cincin yang bernama Wu Ao ini berhasil dia tangkis.
"Brengsek !
Main serang sembarangan. Untung saja aku waspada. Jika tidak aku pasti tewas di tangan mu, mata laron. Ayo maju sekarang!", tantang Gumbreg sembari memutar-mutar gagang pentung sakti miliknya. Lawan yang tidak mengerti bahasa yang di gunakan Gumbreg hanya garuk-garuk kepala tak bisa mengerti apa maksud omongan Gumbreg.
"Hai orang aneh, kau ini bicara apa ha?
Apa maksud dari kata kata mu tadi? Aku sama sekali tidak mengerti ", hardik Wu Ao dengan logat bahasa Tionghoa yang kental.
"Haish malah sang seng song gak jelas. Wes mboh, aku tidak mengerti omongan mu.
Baiklah kalau begitu, aku tidak perlu menunggu kau menyerang duluan. Biar aku saja yang memulai pertarungan kita", setelah berkata demikian, Demung Gumbreg langsung melesat maju ke arah si pria bertubuh gempal Wu Ao yang bersenjatakan golok besar.
Demung Gumbreg langsung mengayunkan pentung sakti nya ke arah kepala lawan sekuat tenaga. Desiran angin kencang menderu mengikuti hempasan pentung sakti mengincar nyawa.
Whhhuuuggghhhh.. !!
Wu Ao yang tanggap, secepat kilat tebaskan golok besar menyambut serangan sang perwira tinggi prajurit Panjalu. Denting bunyi nyaring terdengar saat dua senjata mereka beradu. Secepat kilat, tangan kiri Demung Gumbreg memutar di samping tubuh gendut nya lalu dengan tenaga dalam tingkat tinggi dia segera menghantamkan tapak tangan yang berhawa panas ini ke arah dada lawan.
Whuuussshh!!
Sadar lawan mengincar dada, Wu Ao langsung berkelit ke samping kanan hingga hantaman tapak tangan kanan Demung Gumbreg hanya menghajar udara kosong. Wu Ao pun langsung menggunakan golok besar nya sebagai tumpuan dan melayangkan tendangan keras kearah perut buncit sang perwira tinggi prajurit Panjalu.
Tubuh gempal Gumbreg hanya bergetar sesaat, dan dengan cepat ia mencekal betis kaki kanan lawannya. Secepat mungkin, Demung Gumbreg mengayunkan pentung sakti ke arah Wu Ao yang tertangkap oleh nya. Wu Ao yang terkejut melihat kejadian itu, hanya bisa menarik golok besarnya lalu dengan cepat menyilangkan senjata andalannya itu ke depan dada untuk melindungi diri dari gebukan pentung sakti Gumbreg karena sudah tidak memiliki pilihan lain selain bertahan.
Bhhhuuuuuuggggh... thhraaaangggggggg!!
Auuuggghhhhh !!
Wu Ao meraung keras saat gebukan pentung sakti Gumbreg menghantam golok besarnya. Kuatnya pengaruh gebukan pentung sakti Gumbreg sanggup membuat bilah golok besar Wu Ao terhempas ke dada sang pemilik senjata hingga membuat salah satu dari sepuluh tetua Ikatan Sepuluh Cincin itu muntah darah setelah di hantam goloknya sendiri. Dia terseret ke belakang hingga 2 tombak jauhnya. Belum sempat dia bangkit dari tempat jatuhnya, Demung Gumbreg sudah muncul di hadapan nya setelah melesat cepat usai menghempaskan tubuhnya. Rupanya Demung Gumbreg tidak ingin membuang waktu dan memberi kesempatan pada Wu Ao untuk bangkit.
"Waktunya kau untuk mampus, rampok!"
Berbarengan dengan ucapan itu, Demung Gumbreg mengayunkan pentung sakti nya ke arah kepala Wu Ao yang sedang duduk di tanah sembari memegangi dadanya yang terasa sesak akibat luka dalam. Pria bertubuh gempal itu hanya bisa pasrah saat pentung sakti Gumbreg telak menghantam kepalanya.
Brraaakkkk ...
Aaaarrrgggggghhhhh !!
Jeritan keras terdengar saat tubuh gempal Wu Ao roboh ke tanah. Salah satu tetua Ikatan Sepuluh Cincin itu tewas dengan isi kepala berhamburan akibat hantaman pentung sakti sang perwira tinggi bertubuh tambun ini. Dia tewas mengenaskan.
Usai berhasil menghabisi nyawa Wu Ao, Demung Gumbreg langsung menoleh ke arah kawannya yang lain. Rakryan Purusoma nampaknya baru saja selesai memenggal kepala seorang anggota Ikatan Sepuluh Cincin yang menghadangnya, Tumenggung Rajegwesi juga nampak berdiri usai menghujamkan keris nya ke perut salah seorang tetua Ikatan Sepuluh Cincin yang dia hadapi sedangkan Tumenggung Ludaka terlihat baru saja menebas leher lawan yang dia hadapi. Ada 4 Tetua Ikatan Sepuluh Cincin yang sudah tewas di tangan para perwira tinggi prajurit Panjalu.
Sementara para perwira tinggi prajurit Panjalu sibuk menghadapi para tetua Ikatan Sepuluh Cincin, Gu Sheng dan Zhou En Lai yang ingin memperebutkan dua perempuan cantik di dalam kereta kuda langsung melesat cepat kearah pintu kanan dan kiri kereta kuda yang di tumpangi oleh Luh Jingga dan Song Zhao Meng. Dengan kasar, dua orang tetua Ikatan Sepuluh Cincin itu langsung membuka pintu kereta kuda dengan cepat. Saat pintu kereta kuda terbuka, mereka langsung menerima tendangan keras dari dalam kereta.
__ADS_1
Bhhhuuuuuuggggh !
Tendangan keras yang tak di nyana itu langsung membuat Gu Sheng dan Zhou En Lai terjengkang ke arah yang berlawanan. Namun dua tetua Ikatan Sepuluh Cincin itu bukannya marah malah tertawa terbahak-bahak sembari bangkit dari tempat jatuhnya.
"Hahahaha kucing liar !
Aku suka dengan yang seperti ini. Pasti akan sangat menggairahkan di ranjang. En Lai, kali ini kita dapat betina garang hahahaha", teriak Gu Sheng sambil mengibas bajunya yang kotor setelah terjatuh ke tanah. Pria bertubuh gendut dengan perut buncit ini menyeringai lebar menatap ke arah pintu kereta kuda dimana Luh Jingga keluar.
"Hahahaha kau benar sekali, Kakak Gu..
Kucing liar seperti ini lebih mampu membuat ku berselera untuk bercinta di banding dengan para betina yang hanya pasrah di tiduri. Malam ini aku akan puas. Ayo kita tangkap mereka, Kakak Gu!", Zhou En Lai langsung melesat cepat kearah Song Zhao Meng sembari membuka kipas besi nya. Secepat kilat dia menghantamkan ujung kipas besi nya pada kepala Song Zhao Meng. Namun putri Kaisar Huizong ini segera berkelit menghindari sembari menghantamkan bahu kiri Zhou En Lai dengan tapak tangan kanan nya yang sedingin es.
Dhhaaaassshhh !!
Aaauuuuggggghhhhh !
Zhou En Lai meraung keras saat menerima hantaman tapak tangan kanan Song Zhao Meng. Pria berwajah pucat itu langsung terjungkal ke tanah dan batuk kecil beberapa kali. Kehebatan Ilmu Bulan Es dari putri Kaisar Huizong ini bahkan membuat jubah merah Zhou En Lai membeku. Ini membuat Zhou En Lai menyadari bahwa lawannya berilmu tinggi.
"Kucing liar, aku terlalu meremehkan mu!
Kali ini akan ku hajar kau agar tunduk di bawah kaki ku", setelah berkata demikian Zhou En Lai menyalurkan tenaga dalam nya pada kipas besi lalu dengan cepat ia mengibaskan kipas besi itu ke arah Song Zhao Meng.
Whuuussshh!
Angin dingin tenaga dalam berdesir kencang mengikuti kibasan kipas besi milik Zhou En Lai. Semakin lama semakin cepat angin yang berhembus dan diantaranya ada angin tipis yang tajam dan mampu melukai tubuh. Song Zhao Meng yang lengah sedikit, merasakan perih saat angin tajam ini menyayat lengan baju kiri atasnya. Murka sudah Song Zhao Meng melihat baju kesayangan nya yang di belikan oleh Panji Tejo Laksono di kota Zhengzhou rusak oleh ulah Zhou En Lai.
"Bajingan terkutuk ! Berani beraninya kau merusak baju pemberian Kakak Thee pada ku. Akan kau bayar ini dengan nyawa mu! ", usai mengucapkan kutuk dan sumpah serapahnya, Song Zhao Meng memusatkan seluruh tenaga dalam nya pada kedua tangan. Matanya langsung berubah warna menjadi putih. Sekejap mata kemudian, udara di sekitar tempat itu menjadi dingin seperti di musim dingin. Zhou En Lai terus mengibaskan kipas besi nya semakin cepat namun itu tidak berpengaruh pada Song Zhao Meng yang mulai mengeluarkan Ilmu Bulan Es nya yang bernama Hawa Bulan Musim Dingin.
Song Zhao Meng segera mengayunkan tangannya ke depan dan hawa dingin yang muncul dari dalam tubuh nya langsung menciptakan es yang menjalar cepat kearah Zhou En Lai. Tetua Ikatan Sepuluh Cincin itu menyadari bahwa dirinya terancam langsung melompat menghindari es yang menjalar ke arahnya.
Whhhuuuggghhhh !!
Tak ingin melepaskan Zhou En Lai begitu saja, Song Zhao Meng memutar pergelangan tangannya hingga es yang tercipta berubah arah dan memburu keberadaan Zhou En Lai. Kemanapun Zhou En Lai menghindar, es Song Zhao Meng terus mengejarnya tanpa henti.
Panji Tejo Laksono yang terus mengamati situasi, langsung menendang sebuah tombak yang menancap di dekatnya yang dengan cepat meluncur ke arah Zhou En Lai. Tetua Ikatan Sepuluh Cincin itu terkejut bukan main melihat serangan tak terduga itu. Dengan cepat ia melompat menghindari tombak yang tertuju pada nya. Dia berhasil lolos namun dia lupa dengan serangan Song Zhao Meng.
Dari arah belakang es Song Zhao Meng langsung membekukan kaki kiri Zhou En Lai. Meski Zhou En Lai sekuat tenaga berusaha untuk melepaskan diri, namun es Song Zhao Meng lebih cepat membekukan seluruh tubuh nya. Beberapa saat kemudian tubuh Zhou En Lai membeku di tempatnya. Dia tewas membeku dalam bongkahan es ciptaan Song Zhao Meng.
Gu Sheng yang melihat kejadian itu langsung melompat mundur beberapa langkah ke belakang setelah palu besi nya beradu dengan pedang Luh Jingga. Dia tak menyangka bahwa Zhou En Lai akan terbunuh semudah itu oleh seorang perempuan cantik.
'Brengsek! Rupanya rombongan ini berisi para pendekar berilmu tinggi. Aku tidak mau mati konyol sia-sia', batin Gu Sheng sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Dia melihat beberapa tetua Ikatan Sepuluh Cincin sudah terbunuh dan yang tersisa tengah sibuk menghadapi para perwira tinggi prajurit Panjalu. Segera dia memikirkan cara untuk melarikan diri dari tempat itu.
Melihat ada celah, Gu Sheng menjejak tanah dengan keras lalu melompat untuk kabur. Namun di saat yang bersamaan, Luh Jingga yang melihat upaya Gu Sheng untuk kabur langsung melesat cepat ke hadapan lelaki yang bertubuh gempal itu sembari berkata,
"Kau mau kemana, gendut?!"
__ADS_1