Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Rencana Kedua


__ADS_3

Para perwira tinggi prajurit Panjalu dan Lodaya segera mengangguk. Hari ini adalah hari penentuan siapa yang akan menjadi ksatria sejati yang akan pulang membawa kemenangan dari medan laga atau tewas sebagai pecundang yang kalah di medan perang.


Mereka dengan cepat melompat ke atas kuda mereka masing-masing. Lalu bergegas pergi menuju ke arah tempat yang di bagi sejak beberapa hari yang lalu.


Panji Tejo Laksono, Senopati Muda Jarasanda, Tumenggung Ludaka maju ke depan para prajurit Panjalu yang sudah berjajar rapi di bantaran Kali Aksa sebelah barat. Setidaknya ada 30 ribu prajurit yang sudah bersiap untuk mengadu nyawa di belakang mereka. Ratusan umbul umbul berwarna-warni turut di pegang oleh para prajurit, juga bendera beraneka ragam yang menunjukkan tempat asal mereka semakin membuat pemandangan yang mencekam.


Tepat di tengah-tengah, Panji Tejo Laksono menghentikan laju pergerakan kudanya. Matanya terpejam sesaat sebelum mengedarkan pandangannya ke ribuan orang prajurit Panjalu yang sudah siap berperang melawan para prajurit Jenggala. Dengan lantang dia segera berbicara.


"Para prajurit Panjalu semuanya.


Hari ini adalah hari puncak dari segala kerepotan kita selama beberapa hari terakhir. Hari ini pula akan menjadi hari penentuan semua kerja keras kita bersama. Sejarah nanti akan mencatat bahwa kalian semua adalah pahlawan yang menegakkan panji-panji kebesaran Panjalu di Tanah Jawadwipa ini. Nama kalian kelak akan di ingat oleh anak cucu keturunan kita nanti sebagai orang yang tidak memiliki keraguan dalam mempertahankan kedaulatan kerajaan ini.


Dan hari ini pula, kita harus buktikan pada dunia, bahwa prajurit Panjalu pulang dari medan perang dengan membawa kemenangan. Kita usir orang orang Jenggala itu dari bumi Panjalu yang kita cintai ini!", ucapan Panji Tejo Laksono langsung membakar semangat para prajurit Panjalu. Salah seorang diantara mereka langsung berteriak keras.


"Hidup Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono!!


Hidup Gusti Prabu Jayengrana !!


Hidup Panjalu ..!!"


Teriakan keras itu langsung di sambung susul menyusul oleh seluruh prajurit Panjalu dengan penuh semangat. Mereka langsung menggenggam erat gagang senjata mereka masing-masing, terlebih lagi saat melihat rombongan pasukan Jenggala tiba di bantaran timur Kali Aksa.


Dalam pasukan besar Jenggala ini, ada 60 ribu orang prajurit yang ikut serta dalam upaya penaklukan Panjalu. Dipimpin oleh Senopati Badraseta dari Kanjuruhan, di bantu oleh Senopati Mpu Jatra dari Lamajang dan Tumenggung Wanuda dari Pamotan, mereka menyiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi peperangan ini. Mereka sebagian besar merupakan prajurit pejalan kaki dan hanya sekitar 20 ribu orang prajurit saja yang mengendarai kuda. Ini di karenakan medan yang sulit di lereng Gunung Kawi yang membuat mereka tidak bisa bergerak cepat.


Begitu sampai di batas jarak tembak seorang prajurit pemanah, Senopati Badraseta segera mengangkat tangan kanannya. Seorang prajurit penabuh bende pun segera bekerja.


Dhhiieeeennnggggg!!


Tabuhan keras bende perang itu langsung membuat pergerakan prajurit Jenggala terhenti seketika. Semuanya segera bersiap siap mendengarkan perintah selanjutnya.


Dari arah kubu Panjalu, Tumenggung Ludaka segera menyambar sebuah tombak dan mengikat kain putih pada ujung tombak itu. Bersama dengan Panji Tejo Laksono dan Senopati Muda Jarasanda, ketiganya segera menjalankan kuda mereka melintasi Kali Aksa yang tinggal berair setengah dengkul kuda. Luh Jingga dan Dyah Kirana menunggu di barisan terdepan prajurit Panjalu dengan harap-harap cemas pada keselamatan sang pangeran muda.


Dari arah berlawanan, tiga orang perwira tinggi prajurit Jenggala juga menjalankan kuda mereka ke tengah Kali Aksa. Karena sesuai dengan aturan perang yang berlaku di Tanah Jawadwipa masa itu, setiap kerajaan yang berperang diwajibkan untuk bernegosiasi lebih dulu. Jika tidak ada titik temu, maka perang menjadi akhir untuk menyelesaikan masalah.


Tumenggung dari Pamotan, Ki Wanuda memegang bendera putih mengiringi langkah kaki kuda Senopati Badraseta dari Kanjuruhan dan Senopati Mpu Jatra dari Lamajang. Ketiga terus menjalankan kuda mereka perlahan sambil menatap waspada terhadap sekitar tempat itu. Panji Tejo Laksono, Senopati Muda Jarasanda dan Tumenggung Ludaka sudah menunggu mereka di tengah Kali Aksa, pada sebuah endapan pasir yang cukup luas dengan sebuah batu besar seukuran gajah di dekatnya.


"Wong Jenggala,


Aku punya saran untuk kalian. Jangan melanjutkan perjalanan kalian. Pulanglah ke negeri kalian, Panjalu bukan tempat untuk kalian semua. Ini adalah daerah kekuasaan Gusti Prabu Jayengrana", ujar Panji Tejo Laksono begitu mereka telah berhadapan.


"Huhhh... Kami utusan dari Gusti Prabu Samarotsaha dari Kahuripan. Jika kalian ingin tetap damai dan mau menjadi bawahan Jenggala, maka perang ini tidak perlu lagi dilanjutkan.


Minta pada raja mu, Prabu Jayengrana untuk menghadap pada Maharaja Samarotsaha dan berlutut menyembah nya sebagai tanda penyerahan diri, maka Panjalu tidak perlu banjir darah", ucap Senopati Badraseta yang merupakan pimpinan tertinggi dari pasukan Jenggala. Senopati Muda Jarasanda mengepalkan erat genggaman tangannya mendengar ucapan Senopati Badraseta yang merendahkan martabat Prabu Jayengrana. Namun dia tidak berkata sepatah katapun, hanya menahan amarahnya di dalam hati.


"Kalau itu yang kalian inginkan, jawabannya MAAF!! Kami orang-orang Panjalu lebih baik mati berkalang tanah daripada harus takluk pada Prabu Samarotsaha.


Dengan sekuat tenaga, sejengkal Tanah Panjalu akan kami pertahankan meski harus berkorban nyawa!", ucap Panji Tejo Laksono tegas.


"Jumlah pasukan mu tak lebih dari 40 ribu orang prajurit, apa kau yakin bisa mengalahkan prajurit kami yang berjumlah 50 ribu orang ha, bocah bau kencur??!!

__ADS_1


Panjalu benar benar sudah tak punya perwira tinggi lagi ya hingga menyuruh bocah kemarin sore yang belum pernah merasakan kerasnya kehidupan untuk melawan kami? Memalukan!!", maki Senopati Mpu Jatra dari Lamajang sembari melotot ke arah Panji Tejo Laksono.


"Tutup mulut mu, tua bangka!!


Siapapun yang besar mulut, biasanya akan lebih cepat mati duluan di medan laga! Tak peduli tua ataupun muda, asal dapat memimpin pasukan kami dengan layak, maka dia pantas untuk menjadi pimpinan kami", sahut Senopati Muda Jarasanda segera. Darah brangasan nya yang sekian lama terpendam akhirnya tak tahan lagi untuk keluar.


"Kalau begitu, kita tidak bisa sepakat lagi. Wong wong Panjalu, bersiaplah untuk menerima kekalahan kalian.


Ayo kita pergi!", Senopati Badraseta segera memutar arah kuda tunggangan nya dan kembali ke arah barisan prajurit Jenggala. Mpu Jatra dan Tumenggung Wanuda segera mengikuti langkah sang pimpinan. Begitu juga dengan Panji Tejo Laksono dan dua pengiringnya. Mereka bergegas kembali ke arah barisan pertahanan prajurit Panjalu.


Begitu sampai di tempat nya, Senopati Badraseta segera memberikan isyarat kepada para penabuh bende perang.


Dhhiieeeennnggggg!!


Mendengar isyarat dari bende perang, 20 ribu orang prajurit Jenggala langsung bergerak menuju ke arah pasukan pertahanan Panjalu. Beberapa orang perwira menengah memimpin mereka maju ke medan perang. Mereka rupanya menggunakan taktik perang Wyuha Wukir Segara yang mengandalkan jumlah pasukan berjalan kaki untuk maju terlebih dahulu. Sedangkan sebagian kecil prajurit berkuda yang terbagi menjadi dua bagian yang dipimpin oleh Senopati Mpu Jatra di kiri dan Tumenggung Wanuda di sebelah kanan bersiap untuk memukul lawan dengan mengandalkan kecepatan gerak mereka.


Melihat pasukan besar Jenggala mulai bergerak, Panji Tejo Laksono langsung memberikan isyarat kepada dua bagian utama dari taktik perang Wyuha Supit Urang nya untuk bergerak maju.


Thhhuuuuuuuuuuuuutttthhh !!


Bunyi terompet tanduk kerbau terdengar melengking tinggi. Bersamaan dengan itu, pasukan kiri yang berjumlah 10 ribu orang prajurit dipimpin oleh Senopati Muda Jarasanda mulai bergerak maju dengan kuda kuda mereka. Juga Tumenggung Ludaka yang memimpin pasukan Panjalu dengan jumlah yang sama dari arah kanan pun langsung menggebrak kuda nya yang diikuti oleh para prajurit di bawah kepemimpinan nya. Sedangkan dari arah tengah, Tumenggung Manahil dari Gelang-gelang memimpin 10 ribu orang prajurit berjalan kaki langsung melompat turun ke Kali Aksa untuk menghadang laju pergerakan lawan.


Sedangkan Panji Tejo Laksono, Dyah Kirana dan Luh Jingga dengan 5 ribu orang prajurit di belakangnya masih belum bergerak sama sekali dari tempat mereka berada bersama sekitar


Pertempuran sengit pun segera pecah diantara mereka.


Unggul dalam jumlah prajurit, membuat para prajurit Panjalu dengan mudah mendesak para prajurit Jenggala. Satu persatu mayat prajurit Jenggala maupun Panjalu mulai bergelimpangan di tengah Kali Aksa. Air sungai yang bening ini pun dengan cepat berubah warna menjadi merah seperti lautan darah.


Melihat pasukannya berhasil di tahan oleh pasukan Senopati Muda Jarasanda, Senopati Mpu Jatra dari Lamajang mendengus keras lalu menoleh ke arah Senopati Badraseta selaku pimpinan tertinggi prajurit Jenggala.


"Apa akan kau biarkan wong wong Panjalu itu membantai prajurit kita, Senopati Badraseta?!", teriak Mpu Jatra segera. Perwira tinggi prajurit Jenggala dari Lamajang yang berusia hampir 6 dasawarsa ini bukanlah orang yang penyabar.


"Aku pimpinan pasukan ini, Senopati Mpu Jatra. Jangan meremehkan kepemimpinan ku jika tidak ingin beradu ilmu kesaktian dengan ku!!


Aku sudah mengatur pasukan ini selama beberapa purnama jadi kau tidak perlu menggurui ku tentang siasat perang.


Kalau kau ingin maju, maju saja sana!", Senopati Badraseta yang sejak awal kurang suka dengan kehadiran Senopati Mpu Jatra segera memberikan isyarat kepada para penabuh bende perang untuk memukul alat isyarat itu.


Dhhiieeeennnggggg dhhiieeeennnggggg!!


Dua kali pukulan keras bende perang membuat para prajurit berkuda Jenggala langsung bergerak cepat menuju ke arah dua pimpinan kelompok pasukan Jenggala. Kini jumlah pasukan Jenggala menjadi 2 kali lipat dari sebelumnya. Pertempuran kembali menjadi sengit setelah adanya pergerakan prajurit berkuda Jenggala.


Senopati Muda Jarasanda terus mengayunkan Keris Kyai Klotok nya ke arah para prajurit Jenggala yang mencoba untuk menghadangnya. Seorang prajurit Jenggala yang bersenjatakan tombak langsung tersungkur ke dalam air Kali Aksa setelah Keris Kyai Klotok menembus batang leher nya. Tubuh dan pakaian Senopati Muda Jarasanda sudah penuh dengan darah segar yang menyiprat kearah nya. Dia benar-benar menjelma menjadi seorang perwira prajurit yang haus darah di medan pertempuran.


Tangan kanannya menggenggam erat gagang Keris Kyai Klotok yang menjadi senjata andalan nya untuk menghabisi siapa saja yang berani maju ke hadapannya.


Senopati Mpu Jatra yang melihat sosok Senopati Muda Jarasanda sedang mengamuk tak jauh dari nya, langsung mengarahkan kudanya ke arah perwira tinggi prajurit Panjalu bertubuh gempal ini. Begitu sampai di dekat nya, Senopati Mpu Jatra yang memendam amarah pada Senopati Muda Jarasanda langsung melompat ke arah Senopati Muda Jarasanda dengan menggunakan punggung kuda nya sebagai tumpuan. Secepat kilat dia menyabetkan pedang nya ke arah sang perwira tinggi prajurit Panjalu ini.


Shhrreeettthhh !

__ADS_1


Merasakan sambaran angin dingin yang berdesir kencang kearah nya, Senopati Muda Jarasanda segera melirik ke arah samping kiri. Dari sudut ekor matanya, dia melihat perwira tinggi prajurit Jenggala itu mengayunkan pedangnya ke arah leher. Secepat kilat, Senopati Muda Jarasanda merendahkan tubuhnya dan menjatuhkan diri nya di samping kuda tunggangan nya hingga dia lolos dari maut.


"Wong Jenggala!


Selalu bertindak pengecut dengan menyerang dari belakang!", teriak Senopati Muda Jarasanda begitu melihat siapa yang menyerangnya.


"Jangan banyak bicara! Ayo kita mengadu ilmu kepandaian bela diri!!", teriak Senopati Mpu Jatra sembari melompat ke arah Senopati Muda Jarasanda dengan kembali mengayunkan pedangnya.


Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh!!


Kedua orang perwira tua ini terus beradu ilmu kepandaian bela diri yang mereka miliki. Keduanya memiliki pengalaman bertarung yang seimbang, tenaga dalam yang setara dan kelincahan gerak yang sama. Tak terasa sudah puluhan jurus mereka lalui dan keduanya sudah mendapatkan setidaknya dua luka sayatan senjata tajam milik lawan mereka.


Senopati Muda Jarasanda berjumpalitan mundur menghindari sabetan pedang bertubi-tubi dari Senopati Mpu Jatra. Karena kurang hati-hati, kakinya tersandung batu di Kali Aksa hingga dia jatuh terjengkang. Melihat lawannya jatuh, Senopati Mpu Jatra memanfaatkan kesempatan ini dengan cepat melesat ke arah Senopati Muda Jarasanda sembari menghujamkan pedang dengan kedua tangannya ke arah sang perwira tinggi prajurit Panjalu itu.


"Mampus kau!!!"


Senopati Muda Jarasanda segera mengayunkan Keris Kyai Klotok untuk menangkis hujaman pedang Senopati Mpu Jatra.


Thhraaaangggggggg !!


Pedang itu melenceng sejengkal dari leher Senopati Muda Jarasanda. Tangan kiri Senopati Muda Jarasanda yang bebas bergerak dengan di lambari tenaga dalam tingkat tinggi segera menghantam perut Senopati Mpu Jatra yang mengangkangi nya. Itu di luar perkiraan Mpu Jatra.


Dhhaaaassshhh..


Blllaaaaaarrr !!!!


Mpu Jatra terpental ke belakang sambil menjerit keras. Pedangnya terlepas dari genggaman. Senopati Muda Jarasanda segera berdiri dan melesat cepat kearah Senopati Mpu Jatra yang masih belum menjejak tanah. Saat tubuh tua Mpu Jatra hendak jatuh ke tanah, Keris Kyai Klotok di tangan Senopati Muda Jarasanda dengan cepat menghujam keras ke perut perwira tua itu.


Jllleeeeeppppphhh..


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!


Senopati Mpu Jatra menjerit keras untuk kali kedua bersamaan dengan darah segar yang muncrat keluar dari mulut nya. Saat Senopati Muda Jarasanda menarik Keris Kyai Klotok dari perutnya, usus perwira tua asal Kadipaten Lamajang ini ikut terburai keluar. Tak berapa lama kemudian dia tewas mengambang di air Kali Aksa.


Setelah Mpu Jatra tewas, Senopati Muda Jarasanda segera melompat ke atas kuda nya. Panji Tejo Laksono yang melihat itu dari kejauhan, segera menoleh ke arah seorang prajurit peniup terompet tanduk kerbau.


Thhhuuuuuuuuuuuuutttthhh thhhuuuuuuuuuuuuutttthhh!!!


Dua suara lengkingan keras terompet tanduk kerbau, membuat para pemimpin pasukan Panjalu langsung mengerti. Senopati Muda Jarasanda segera menggebrak kuda nya ke arah yang sudah di tentukan sebelumnya begitu pula dengan Tumenggung Ludaka. Bersama dengan Panji Tejo Laksono, mereka memimpin pasukan Panjalu bergerak mundur.


Melihat pergerakan prajurit Panjalu yang bergerak mundur ke arah benteng pertahanan mereka, para prajurit Jenggala yang berasal dari Kadipaten Lamajang langsung mengejar mereka di bawah pimpinan Ki Juru Teki. Mereka ingin membalaskan dendam kematian Senopati Mpu Jatra yang mati di tangan Senopati Muda Jarasanda.


Luh Jingga yang tidak paham siasat perang, langsung bertanya kepada sang suami yang berkuda di sampingnya.


"Kangmas Pangeran, kenapa kita mundur? Sudah jelas kita lebih unggul dari mereka", Luh Jingga terheran heran dengan sikap suaminya ini. Sambil terus memacu kuda nya menuju ke arah benteng pertahanan, Panji Tejo Laksono langsung berkata,


"Kau tenang saja, Dinda Jingga. Ini adalah taktik pertempuran.


Waktunya rencana kedua".

__ADS_1


__ADS_2